Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 13: Babak Pertama Turnamen Sihir Dimulai!


__ADS_3

Pergelaran turnamen sihir diadakan usai pesta kelulusan para senior selesai. Sekaligus menjadi ajang bakat bagi para penyihir muda untuk saling bersaing dan belajar.


“Akhirnya tradisi akademi Hanatarou kembali! Yap, turnamen sihir untuk memperingati hari kelulusan kakak-kakak senior kelas 3 kita yang lulus lebih dulu dari akademi tersayang kita ini! Aku adalah komentator kalian, kepala sekolah kalian yang paling imut sejagad raya, Carnation yang cantik!”


Akademi Hanatarou memang kelewat besar. Akademi ini memiliki stadium raksasa yang dapat menampung lebih dari 5 ribu penonton. Saat ini kondisi stadium sudah penuh. Ditengah-tengah stadium telah berdiri sekumpulan siswi perwakilan masing-masing kelas dari kelas 1 dan 2. Kelas 1 yang terdiri dari 6 kelas, A hingga E, begitu juga dengan kelas 2 yang berjumlah 6 kelas, A hingga E. Tiap perwakilan kelas berjumlah 3 orang.


“Tentunya kalian masih ingat dengan peraturan dan ketentuan turnamen ini. Turnamen sihir ini terdiri dari 3 babak. Pertama adalah uji ketangkasan, kedua adalah uji kemampuan sihir, dan terakhir adalah babak duel satu lawan satu. Setiap tahun kami selaku staff guru dan juga para dewan juri yang tak lain adalah kakak-kakak kelas kalian menyusun jenis ujian yang berbeda-beda. Begitu juga dengan tahun ini. Turnamen ini akan berakhir jika babak ketiga yaitu duel satu lawan satu, tinggal tersisa satu orang peserta. Sudah tidak sabar bukan seperti apa jalannya turnamen ini?”


Suasana stadium kembali riuh dengan sorak sorai para pendukung tim dan suara teriakan gadis gadis yang begitu bersemangat.


“Yo! Kalian sudah siap kan?”


“K-kami masih gugup, sensei~”


Kelas yang dibina Riri adalah kelas 1-E. Ya, kelas yang paling rendah. Diwakili oleh Amaryliss, Elder, dan Iris.


“Apa sihir teleport yang sensei ajarkan itu akan berguna di babak pertama ini? Sensei bilang labirin kan?”


“Ada apa dengan uban hitam dirambutmu itu sensei? Sensei sehat-sehat saja kan?”


Pertanyaan dari Iris dan Elder hanya dibalas dengan cengiran Riri. Lalu dia mengangkat jempolnya dengan percaya diri.


“Percaya deh, selain sihir teleport, kan aku juga sudah memberikan latihan khusus yang waktu itu! Pasti berguna banget!”


“B-berguna darimananya sih…latihan khususmu itu…”


Latihan khusus yang Riri berikan memang cukup melelahkan dan… agak aneh.


***


“B-berkemah?”


“Yup, tetapi hanya hingga sore nanti saat jam pulang sekolah tiba. Dengan kata lain, kalian akan berkemah selama 5 jam, terhitung mulai dari jam 12 tepat siang ini!”


“Sensei, apa maksud latihan khususmu ini sih?”


Amaryliss melipat kedua tangannya didada jengkel. Riri hanya membalasnya dengan senyuman.


“Hehe, tentu saja khusus, karena kalian bukan berkemah di hutan atau apapun, tetapi dimensi yang sudah susah payah kubuat untuk kalian!”


“D-dimensi?”


“Udahlah pokoknya cepet siap-siap! Akan kusiapkan kejutan untuk kalian, kkk~”


Murid-muridnya hanya mengangguk bingung. Setelah semua selesai mempersiapkan semua perlengkapan, Riri mengangkat tangan kanannya.


“Nah bersiaplah masuk kedalam kejutanku! Kalian takkan bisa keluar sebelum menyelesaikan apa yang ada didalamnya! Hohoho~”


Ruangan kelas mereka berubah. Jumlah siswi dikelas itu yang tak lebih dari 20 orang tiba-tiba terpisah seluruhnya. Mereka sudah masuk kedalam dimensi buatan Riri. Dimensi yang terlihat seperti sebuah hutan gelap yang rimbun pepohonan tinggi disekitarnya.


“D-dimensi macam apa sih ini…”


Amaryliss berjalan pelan menuju sebuah sungai. Betapa kagetnya ketika melihat bayangan dirinya di pantulan air sungai itu.


“A-apa itu? Apa itu aku?”


“Ya, itu adalah kau.”


Amaryliss terkejut ketika bayangannya di pantulan air sungai itu melompat, lalu berdiri didepannya.


“A-apa-apaan sih ini?! Apa ini sihir ruang dan waktu yang menciptakan imajinasi mengerikan?! Kau ini apa!?”


Bayangan Amaryliss didepannya hanya memiliki warna putih dan hitam. Sorot matanya pun lebih tajam.


“Dengan melihatnya saja, kau tahu kan? Aku adalah kau, dalam dunia yang lain.”


“A-apa?”


“Nah, permainannya baru saja dimulai.”


“S-sensei!? Kau ada disini kan?! Apa maksud permainanmu ini sih!?”


Teriak Amaryliss jengkel. Sayangnya disekitarnya sepi, tak ada siapapun.


“Kenapa kau mencari yang tidak ada? Bukankah ada aku disini?”


Tanpa sepengetahuan Amaryliss, bayangan hitam putih itu tiba-tiba berdiri dibelakangnya dan menyentuh pipi Amaryliss.


“Tidak!! Kau ini apa sih!?”


Amaryliss buru-buru melompat menjauhinya. Bayangannya hanya tersenyum meremehkan.


“Kau itu manusia kan?”


“Hah?”


“Manusia memiliki sisi gelap dan terang. Warna hitam dan putih, yin dan yang. Aku adalah sisi gelapmu, Amaryliss-chan.”


“K-kau bilang…sisi gelapku?”


“Kau tak mau aku kalahkan bukan?”


“A-apa katamu?!”


“Kalau kau kalah dariku, maka kau akan menanggung malu seumur hidupmu karena kalah dari diri sendiri.”


Amaryliss mengepalkan tangannya.


“Wahai roh bungaku Amaryliss yang cantik! Perlihatkan wujudmu!”


Muncul seorang gadis kecil didepan Amaryliss, wajahnya mirip dengannya, yang membedakan hanyalah tinggi badan dan rambutnya yang lebih pendek.


“Pagi~ onee-chan...”


Gadis itu menyapa bayangan Amaryliss yang ada didepannya dengan muka polos.


“Ama-chan! Aku disini tahu!”


“Terus yang didepan itu siapa?”


“P-pokoknya kita harus kalahkan dia! Kerahkan seluruh kemampuanmu!”


Sama dengan Amaryliss, bayangannya juga mempunyai roh bunga yang sama persis, hanya warna yang membedakannya.


“Kalau jadinya begini, untuk apa bawa alat kemah segala? Riri-sensei bodoh!”


Ketika waktu telah menunjukkan pukul 6 sore, dimensi buatan Riri menghilang.


“Hoam…sudah selesai ya?”


Riri melihat raut wajah murid-muridnya yang terlihat lelah sambil mengucek-ngucek matanya, peralatan kemah masih ada di punggung mereka.


“Gimana, seru kan?”


“SERU APANYA SIH?! TERUS BUAT APA MENYURUH KAMI MEMBAWA ALAT KEMAH!? KENAPA SENSEI SENDIRI MALAH TIDUR!?”


Riri hanya nyengir ketika semua muridnya protes.


“Ehem, jadi, sudah kalah belum?”


“K-kalah?”


“Kalau sudah, berarti kalian paham kan?”


Seketika seisi kelas jadi hening.


“Kenapa…sensei meminta kami mengalahkan…bayangan kami sendiri…? Itu terlalu mustahil.”


Semua siswi yang mendengar kata-kata Iris mengangguk pelan. Riri hanya melipatkan kedua tangannya didada sambil menggerak-gerakkan telunjuk kanannya.


“Setidaknya kalian sudah memahami kenapa aku memberikan latihan seperti ini.”


Sorot mata Riri berubah jadi serius. Murid-muridnya agak terkejut melihatnya.


“Aku merasa idealismE kalian yang membenci laki-laki sudah mulai berkurang. Buktinya kalian mau-mau saja kan dapat latihan dariku ini?”


Riri kembali nyengir nakal.


“I-itu—”


“Yap, cukup latihan hari ini, sampai jumpa besok!”


***


“Lihat saja, kalau kami kalah karena latihanmu yang tak berguna itu, aku akan membuat perhitungan denganmu sekali lagi!”


Amaryliss menunjuk Riri dengan berani. Riri hanya membalasnya dengan cengiran.


“Haha, boleh juga. Tapi aku yakin kalian pasti akan berhasil di turnamen pertama ini!”


“Eh?”


“Kepada semua peserta, harap segera memasuki arena!”


Namun Elder masih merasakan aura tidak enak disekitarnya. Rasa ketidakpercayaan diri yang masih terasa.


“Ayo cepat bergegaslah!”

__ADS_1


Kata Riri kepada ke-3 muridnya yang terlihat masih ragu. Melihat itu tiba-tiba Riri menepuk punggung mereka.


“Aww!! Apa yang kau lakukan sensei!?”


“Kalian pasti bisa! Kelas 1-E sudah bukan kelas yang dulu lagi!”


Kata-kata Riri membuat Amaryliss, Elder dan Iris tercengang, apalagi sorot mata Riri memandang mereka dengan penuh percaya diri.


“I-iya… benar…kita…kita harus berjuang!”


Melihat Elder yang mulai bangkit dari keraguannya, tampaknya merembet ke Amaryliss dan juga Iris. Mereka ber-3 saling mengangguk.


Mereka ber-3 bergegas menuju arena. Riri merasakan semangat mereka bangkit walaupun belum sepenuhnya.


“Sepertinya kau benar-benar cocok jadi guru ya, Riri-kun!”


“W-whoaa! Carnation-ne—eh senpai!”


Riri terlonjak saat Carnation tiba-tiba berada di belakangnya tanpa hawa kehadiran.


“Hee mau memanggilku nee-san? Boleh saja! Aku kangen panggilan imut Riri-kun padaku!”


“A-apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau ini komentator turnamen ini?”


“Kau sendiri kenapa ada disini? Tadi aku hampir mengumumkan kalau kau tak bisa hadir!”


“Hee kau sudah tahu kan kalau kelebihanku ini adalah selalu siap di hari yang penting?”


“I-iya sih tapi kenapa rambut perakmu jadi menghitam begitu?”


Riri menyentuh rambutnya. “Senpai lupa? Dulu saat aku sedang banyak tugas mengajar, uban hitam ini membuat semua rambut perakku tertutupi! Setelah itu hilang sendiri dan—”


Tiba-tiba tubuh Riri oleng, namun dengan sigap Camelyum yang muncul dalam bentuk manusia segera menahannya.


“Master!”


“Tuh kan, apa kubilang!”


Riri hanya nyengir sembari mengangkat tangan kanannya.


“Tak apa, tak apa kok, aku hanya sedikit pusing saja tadi.”


“Benarkah?”


Riri kembali berdiri tegak dan mengangguk.


“Lagipula aku gak mau mematahkan semangat anak-anak kelas 1-E.”


“Riri, Camelyum-chan sudah bercerita padaku kalau kau memiliki satu jurus pamungkas, tetapi hanya bisa dipakai sekali karena menguras banyak mana. Jadi itu penyebab kau tertidur selama 3 hari waktu itu?”


Riri menegakkan lehernya. “H-habisnya kau sendiri tahu kan kalau aku ini payah dalam sihir—”


“Tetap saja tak boleh memaksakan diri begitu! Kau punya Camelyum untuk jadi partnermu kan? Jadi kalian berdua haruslah bekerja sama! Kau tidak perlu berusaha sendiri kan?”


Riri hanya membalasnya dengan cengiran.


“Iya iya deh... aku mau melihat sehebat apa sih turnamen ini, sampai nanti—”


Riri berjalan meninggalkan Carnation dan Camelyum kembali ke kalung Riri. Carnation hanya menghela napas pasrah.


“Anak itu dari dulu memang keras kepala…”


***


“Seperti yang sudah diumumkan sebelumnya, babak pertama adalah uji ketangkasan. Untuk uji ketangkasan ini, stadium istimewa milik akademi Hanatarou telah menyiapkan sebuah labirin raksasa yang akan dilewati setiap peserta!”


Ditengah-tengah stadium berdiri labirin raksasa berwarna hijau dengan bunga-bunga yang beraneka ragam disetiap dinding rumputnya. Dari atas lebih terlihat indah.


Elder, Amaryliss, dan Iris berdiri didepan lorong garis start. Diikuti dengan peserta lain di sisi kiri dan kanannya. Di belakang mereka ada Alstromeria dan Typha yang bertugas mengamati jalannya babak pertama ini.


“Hei bukankah itu anak-anak kelas E?”


“Kenapa mereka ikutan?”


“Percaya diri sekali mereka?”


“Bukankah mereka sudah tahu bakal kalah?”


Amaryliss hanya diam mendengar bisikan-bisikan lawannya dari kelas lain. Elder yang ada disampingnya memegang tangannya.


“Kali ini kita pasti bisa, Riri-sensei sudah percaya pada kita.”


Amaryliss dan Iris mengangguk. Mereka saling menatap ke depan dengan berani.


“Aturan babak pertama ini adalah, kalian harus menemukan jalan keluar labirin ini. Sayangnya itu tidak mudah, karena kami menyiapkan sihir jebakan didalamnya. Berhati-hatilah, didalam sini akan banyak hal yang tak terduga akan terjadi lo…jadi bersiap-siaplah!”


“Uh…perkataan Nona Carnation kok menakutkan ya…”


“Tentu saja babak ini diberi tenggat waktu. Waktunya 90 menit ya! Dimulai dari sekarang!”


Suara tembakan pistol tanda pertandingan dimulai dan saweran bunga sakura pun menandai dimulainya pertandingan ini. Semua peserta pun berlarian memasuki Lorong.


“Kalian pasti bisa, aku yakin.”


Riri yang menyaksikan ke-3 siswinya mulai memasuki lorong dari stadium paling atas, tempat berkumpulnya para staff guru dan keamanan, dan juga ruangan para dewan juri alias anak-anak kelas 3.


“Oh, jadi kau wali kelas 1-E yang magang itu?”


Beberapa siswi kelas 3 melirik Riri dengan tatapan tidak suka. Namun Riri membalasnya dengan sikap sopan, dia membungkukkan badannya dan memberi salam.


“Salam kenal ya para alumni. Aku Riri Hanamizuki, guru magang di kelas E—”


“Tidak usah memperkenalkan diri, lagipula kami takkan melihatmu lagi setelah turnamen ini selesai.”


Kata salah satu siswi disana dengan ketus. Riri yang masih membungkuk hanya tersenyum.


“Kalian ini masih berstatus siswi, tidak sopan mengatai seorang guru seperti itu.”


Riri mengangkat wajahnya dan memasang wajah sebal.


“A-apa katamu?!”


“Sst, tidak ada keributan selama turnamen berlangsung.”


Tiba-tiba dihadapan Riri muncul gadis kecil yang menghalangi Riri dengan pedangnya dan memasang wajah sebal pada siswi kelas 3 itu.


“D-dia yang mulai duluan! Siapa suruh sih ada lelaki di akademi khusus perempuan ini?”


Siswi itu pun kembali duduk ditempatnya dan melirik sebal ke arah Riri yang melambai-lambai dan tersenyum (penuh kemenangan).


“Mereka memang menyebalkan ya Typha-chan—”


“Siswi kelas 3 memang begitu Riri-san, saat mereka tahu kau akan menjadi guru disini, mereka terlihat tidak suka.”


“Tapi apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau mengawasi jalannya pertandingan ini bersama Alstromeria?”


“Aku hanya berjalan-jalan sebentar. Terlalu lama berdiri itu membosankan.”


***


Labirin hijau yang dipenuhi bunga-bunga tadi berubah menjadi diselimuti kabut dan gelap. Semua peserta pun terpisah. Tujuannya hanya satu, menemukan jalan keluar.


“Sihir macam apa yang akan keluar…?”


Sudah 30 menit berlalu semenjak dimulainya babak pertama. Amaryliss berjalan dilorong-lorong labirin itu dengan pelan. Terdapat banyak belokan didepannya. Tentu saja ini yang pertama kalinya bagi kelas 1-E mengikuti turnamen lagi setelah sekian lama tidak ikut serta karena ‘selalu kalah’.


“Apa aku harus coba sihir teleport itu…? Tapi apa yang harus kubayangkan untuk menggunakannya?”


Amaryliss menginjak sesuatu. Sebuah kelopak bunga berwarna biru. Bunga Iris.


“Huh? Apa tadi si dada besar itu lewat kesini?”


BRAAKK!


“S-suara apa itu?”


Mendengar suara keras tak jauh darinya, Amaryliss berlarian mencari sumber suara.


“Bertahanlah nona Iris!”


“Kenapa? Mengaku kalah? Jangan harap kalau Riri Hanamizuki akan datang kesini dan menolongmu lagi!”


Itu memang Iris, yang sedang bertarung dengan salah satu anggota Kuroi Uta, Foxglove.


“A-apa itu? S-siapa dia?!”


“K-kau?! Jangan diam saja, bantu aku!”


“Hah?”


“Kena kau!”


Serangan foxglove mengarah ke Amaryliss yang sama sekali belum siap.


TAKK!!


Serangan meriam yang dilontarkan Foxglove berhasil ditepis roh bunga milik Iris.

__ADS_1


“Kau ini kenapa malah diam sih?! Cepat keluarkan roh bungamu, bodoh!”


“A-apa katamu?! Seenaknya saja mengataiku bodoh! Lagipula dia itu siapa? Peserta juga?”


“Sudah selesai bicaranya nona-nona?”


Foxglove menembakkan kembali meriamnya bertubi-tubi pada Iris dan Amaryliss yang berlarian.


“Kalau gak dilawan dia bakal nembak terus! Kita kan harus menemukan pintu keluar dari sini!”


“Iya aku tahu!”


TAKK !! TAKK !!


“Wahai roh bunga Amaryliss! Keluarkanlah kecantikanmu!!”


Roh bunga Amaryliss pun muncul dan mengeluarkan tembakan api dengan cepat kearah Foxglove.


“Sementara itu bisa membuatnya kewalahan! Sekarang beritahu dulu padaku itu apa?!”


“Bocah tengik! Aku bisa temukan kalian dimanapun!!”


Amaryliss dan Iris bersembunyi di lorong agak jauh dari lokasi Foxglove yang sedang melenyapkan api yang membakarnya karena serangan Amaryliss tadi.


“Dia orang aneh yang pernah menyerangku tempo hari! Dan yang mengalahkannya…”


“Kau kan?! Bagaimana cara mengalahkannya?”


“T-tidak…Riri-sensei yang melakukannya…”


“Hah?!”


“Bocah tengik! Kubunuh kau!”


“Gawat!!”


Amaryliss dan Iris berlari lagi setelah mendengar suara tembakan meriam dari kejauhan.


“Hei! Kalau cuma lari percuma saja! Bagaimana dia bisa muncul begitu saja dan bagaimana cara Riri-sensei mengalahkannya?!”


“I-itu…aku tidak sengaja memikirkan sosok orang itu ketika Riri-sensei mengalahkannya… tetapi aku tak tahu kenapa dia tiba-tiba muncul!”


“Jangan-jangan ini salah satu sihir jebakan labirin ini?”


“Sihir halusinasi?”


“Ya!”


Amaryliss dan Iris berhenti berlari. Mereka berhadapan kembali dengan Foxglove.


“Nah kenapa berhenti? Sudah mengaku kalah ya?”


***


“Waktu yang tersisa tinggal 20 menit! Sudah ada perwakilan dari kelas 2 A, C, dan D yang berhasil keluar! Bagaimana dengan sisanya?”


Para penonton pun tak bisa melihat dengan jelas bagaimana para peserta bertarung mencari jalan keluar, karena labirin tertutupi kabut tebal.


“Jadi ini memang sengaja ya… ide siapa sih ujian pertama labirin begini?”


“Itu salah satu ide dari siswi kelas 3, katanya dia terinspirasi dari novelnya Harry Potter.”


Riri menepuk dahinya. “Imajinasimu luar biasa siapapun kau nona!”


Riri masih berdiri disamping para juri, yaitu anak-anak kelas 3. Salah satu dari mereka yang memegang novel Harry Potter tertunduk malu.


“Lihat, pasti anak kelas 1-E gagal lagi, waktunya tinggal 20 menit lagi, pasti gak akan sempat cari jalan keluar! Kita sudah bikin labirinnya sesulit dan semenarik mungkin untuk dilewati kan?”


“Benar benar!”


Riri yang mendengarnya jadi sebal.


“Bisa gak sih kalian diam? Kalian pikir anak muridku akan gagal?! Lihat saja, kalau mereka berhasil, tarik kembali kata-katamu itu!”


“Apa katamu?!”


“Maaf, tidak ada keributan disini.”


Lagi-lagi Typha melerainya dengan tubuh mungilnya.


“Aku sangat terbantu kau ada disini, Typha-chan.”


“Serahkan padaku, Riri-san.”


Melihat Typha dan Riri tampak akrab, siswi kelas 3 yang selalu ribut dengannya sebal.


“Hei Typha-san! Kenapa kau sok dekat sekali sih dengan pria itu?!”


“Karena aku suka pada Riri-san.”


Riri langsung terlonjak kaget. “W-woi, k-kau ngomong apa sih Typha?!”


Typha hanya mengedip-ngedip polos. “Aku serius.”


Riri tersenyum kaku. “K-kita lanjutkan saja nontonnya…”


***


“Kemana lagi aku harus berbelok? Waktunya semakin menipis…”


Didepan Elder lagi-lagi belokan dan belokan.


“Gi-gimana ini? Pasti aku salah belok lagi!”


“Percaya deh, selain sihir teleport kan aku juga sudah memberikan latihan khusus yang waktu itu! Pasti berguna banget!”


“Sihir teleport…tapi bagaimana? Bahkan aku tak tahu seperti apa pintu keluar labirin ini jika mau menggunakannya!”


Tiba-tiba Elder terhenti. Dia melihat telapak tangannya. Ketika menggenggam tangan Amaryliss yang ragu-ragu.


“Amary-chan—”


“E-Elder-chan!?”


Tiba-tiba saja Elder sudah berada di tengah-tengah Amaryliss dan Iris yang sedang menghadapi Foxglove.


“Hwaaa! A-apa itu?!”


“Elder-chan! Kau pakai teleport ya!”


“K-kurasa begitu—”


“Baguslah ada kau disini! Roh bungamu bisa melenyapkan halusinasi kan? Ayo cepat keluarkan!”


Pinta Amaryliss, tanpa sempat bertanya Elder langsung mengeluarkannya.


“Wahai roh bunga cantikku, Sambucus nigra yang indah dan anggun, keluarkanlah wujudmu, dan perlihatkanlah keindahanmu!”


Muncul sesosok manusia bertubuh tinggi dengan rambut pirang. Membawa sebuah pedang panjang yang ramping. Roh bunga Elder.


“Salam nona-nona, dan—eh!? K-kenapa aku muncul ditempat seperti ini?!”


“S-sudahlah Sam-kun! Cepat keluarkan kekuatanmu dan hancurkan halusinasi didepan sana itu!”


“B-baiklah Elder-sama!”


Pria itu menyiapkan kuda-kuda dengan pedang panjang rampingnya, dan berlari kearah Foxglove yang siap menyerang meriam kembali.


SRATTSSSS!!!!


Benar saja, Foxglove lenyap seketika setelah pedang ramping Elder menebasnya.


“Benar kan, hanya halusina—”


“Elder-chan! Roh bungamu tampan sekali!”


“A-anu…”


Iris tampak berbinar-binar melihat roh bunga Elder yang berwujud pria berambut pirang dan bertubuh tinggi. Elder memang jarang sekali mengeluarkan roh bunganya disekolah.


“Dengerin aku dong hei dada besar!”


Sungut Amaryliss jengkel. Dia melihat jam tangannya, tinggal 10 menit lagi sebelum babak pertama selesai.


“H-hei! Kita harus segera temukan pintu keluarnya! Waktu yang tersisa tinggal sedikit!”


“T-tapi kemana lagi kita harus pergi?”


“Ehem~”


Sambucus berdehem dengan suara beratnya. “Elder-sama, aku terkejut karena Anda memanggilku ditempat aneh begini, rupanya kalian sedang ujian ya?”


“S-Sam-kun! Gunakan kemampuanmu untuk mencari jalan yang benar! Ayolah!”


“He? Bukankah itu curang? Ini kan labirin? Gak asik dong kalau aku bantu—”


“Sampai setengah jalan saja deh! Aku mohon!”

__ADS_1


Elder menggosok-gosokkan kedua tangannya memohon. Sambucus menarik napasnya.


“Aah aku memang tak tega menolak permintaan nonaku. Baiklah Elder-sama, aku hanya akan memberi secuil petunjuk, selanjutnya silakan cari jalan keluarnya!"


__ADS_2