
Camelyum melakukan sihir teleport. Hanya sekitar beberapa meter lagi tiba didepan rumah—kastil—Riri.
“Sepertinya aku juga perlu mengisi ulang manaku…aku tidak bisa teleport sampai ke dalam kamar Master… luka saat melakukan buster pada bocah bernama Azalea itu masih tersisa…”
Camelyum melihat gerbang besar dipandangannya yang berjarak sekitar 300 meter lagi darinya.
“Riri, kau masih sadar kan? Riri?!”
Camelyum menggoyangkan sedikit tubuh Masternya yang dipeganginya dengan susah payah. Namun tidak ada respon darinya.
“Bertahanlah sedikit lagi, R-Riri—”
“Ah, kakak-kakak yang disana lama sekali.”
DEGG!
Mendengar suara asing disekitarnya, Camelyum langsung berubah ke mode tempur. Dia menyenderkan tubuh Riri didekat pohon dibelakangnya dan menyelubunginya dengan cahaya, lalu mengeluarkan pedang hitam dan putihnya.
“Keluarlah! Siapa kau!?”
Tanpa menunggu lama, si pemilik suara muncul, dan dia adalah seorang anak kecil.
“Kau!? A-Azalea!?”
“Ya~kita bertemu lagi ya? Dan…huh? Kenapa dengan kakak disana? Sedang tidur ya?”
Camelyum menghalangi pandangan anak itu dari Riri. Menatapnya penuh amarah.
“Riri sudah menyerangmu dengan buster hingga menguras banyak mananya, tetapi kenapa kau masih hidup!?”
“Ooh…yang itu…cukup sakit tahu, seperti dicakar kucing.”
“Apa!?”
“Aku kan tidak seperti Ixora-nii yang langsung tumbang saat dicakar kucing begitu.”
“Ixora…? Si merah itu!”
“Nah kau pasti sudah tahu kan kedatanganku kemari? Tentu saja untuk membalaskan dendam pada Riri Hanamizuki yang sudah membuat naga indahku terbelah dua!”
Azalea menyiapkan anak panahnya untuk menyerang Camelyum, dengan cepat Camelyum menangkis semua serangannya.
“Aku tidak punya waktu meladenimu!”
“Tapi aku punya!”
Bagaikan memiliki 1000 pasang tangan, Azalea terus menembakkan anak panahnya tanpa henti, dengan kecepatan yang mengerikan. Camelyum mulai sedikit kewalahan menangkisnya hingga beberapa anak panah itu berhasil melukai tubuhnya.
“Benar yang Riri katakan…kau gesit juga bocah!”
“Hmm, jangan sebut aku bocah, kakak yang manis!”
Lebih parahnya lagi, Azalea memunculkan jutaan anak panah dengan sihirnya. Dia memandang jahat pada Camelyum.
“Kau pasti sudah capek menangkis seranganku kan? Kenapa tidak kabur saja dan tinggalkan Mastermu yang lemah itu?”
Dia pasti ingin memisahkanku dan Riri yang sedang tidak bisa bergerak!
“M-mana mungkin kutinggalkan partner berhargaku agar terjebak dalam trikmu!?”
“Kelihatannya kau sudah cukup menyadari apa yang ingin kulakukan ya? Roh bunga dari Riri Hanamizuki yang terkenal itu?”
Aku juga kehabisan mana karena menangkis serangan bertubi-tubi anak panah itu… aku tak bisa bergerak bebas dengan kondisi seperti ini…ditambah lagi…
“Master…”
“Akan kuhitung satu sampai tiga sebelum ajal menghampiri kalian ya? Ah tidak, aku tak boleh membuat Riri-nii mati, pertama-tama kau saja dulu ya, kakak manis~”
“Hei…kau pikir karena Masterku tidak bisa bergerak, kau takkan mendapat cakaran kucing lagi?”
“Apa katamu?!”
“Ini akan lebih mengerikan dari cakaran kucing yang kau rasakan tempo hari, Azalea.”
“Berisik! Serangan 10 juta anak panahku ini akan lebih dulu mencabikmu!”
Camelyum menoleh sesaat ke arah Riri yang masih tak bisa bergerak. Dia tersenyum.
“Riri, aku sangat senang kita bisa menjadi partner yang cocok di perang perebutan benih kali ini.”
“CABIK DIA WAHAI CLEORODENDRUM!!”
“Bersatulah, wahai Camellia hitam, wahai Lily putih, dan jadilah bentuk baru demi melindungi Mastermu.”
SYAATSS SYAATTSS SYATSS SYATSS!
Ketika 10 juta anak panah itu ditembakkan, kedua pedang Camelyum bersatu, dan menjadikannya sebuah perisai raksasa, menahan serangannya. Camelyum menahan gagang perisai yang merupakan perpaduan dari pedang hitam dan putih miliknya, menjadi satu senjata yang baru.
“HANA NO UTA!!!”
“JANGAN KALAH! 10 JUTA ANAK PANAHKU YANG TERBAIK!!”
Saling serang dan menahan, kekuatan mereka hampir seimbang. Namun Camelyum tetap tidak mau kalah.
“HEAAAAAAAHHHH!!!!!”
Perisai cahaya berkilauan itu semakin membesar hingga membuat anak panah yang mengenainya terpantul satu sama lain.
“Sialan! Tidak mungkin! Tidak mungkin!”
“BERNYANYILAH LEBIH NYARING LAGI!! PERISAI HANA NO UTA!!”
Semakin dan semakin besar, perisai cahaya itu semakin mendekati Azalea dan hampir menelannya.
“SIALAN!! MANA MUNGKIN AKU DIKALAHKAN OLEH SAMPAH SEPERTI INI!!!???”
Perisai cahaya benar-benar menelan Azalea hingga lenyap tanpa bekas, tembakan dari 10 juta anak panahnya pun langsung lenyap begitu saja bersamaan dengan perisai cahaya.
“Kau tidak akan pernah menang, Masterku adalah yang terbaik. Tidak akan pernah ada yang bisa mengalahkannya.”
Pedang hitam dan putih kembali ke tangan Camelyum, dia lalu mematikan mode tempurnya dan kembali menghampiri Riri.
“Riri! Kau masih…”
Camelyum masih belum merasakan respon dari Masternya. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah kembali memapahnya dan berjalan.
“Aku tidak punya cukup mana lagi untuk melakukan teleport…Master…tolong sadarlah…”
***
__ADS_1
“Inilah saat yang ditunggu-tunggu! Babak kedua turnamen sihir akan segera dimulai! Saat ini peserta yang tersisa hanyalah kelas 2 A, C, dan D, serta kelas 1 A,B, dan yang tidak bisa dipercaya, tahun ini kelas E lolos ke babak ini! Apakah kehadiran seorang guru magang ke kelasnya membuat mereka bangkit dari keterpurukan?!”
Seluruh penonton bersorak sorai, hari masih pagi tetapi suasana sudah semakin panas. Apalagi saat para peserta memasuki arena turnamen.
“N-Nona Carnation, kenapa kau sampai berkata seperti itu mengenai Riri-sama?”
Alstromeria berbisik pelan pada Carnation yang sedang tenggelam dalam keseruannya menjadi komentator turnamen. Kepala sekolah akademi Hanatarou itu hanya membalasnya dengan senyuman. Dia menaruh mikrofonnya dimeja.
“Karena aku bersyukur, tidak salah membawanya kemari dan bergabung dengan akademi ini. Kau pun merasa begitu kan?”
Alstromeria tak langsung menyahutnya, namun Typha menyenggol pinggulnya pelan.
“Alstro-san menganggap Riri-san sangat mirip dengan mendiang kakaknya dulu, semua kehebatan yang Riri-san sembunyikan, mirip seperti cara kakak Alstro-san menyembunyikannya. Dia menyembunyikannya dalam wajahnya yang selalu ceria. Itu yang membuat Riri-san sangat mirip dengan kakak Alstro-san yang sangat dihormatinya sebagai bagian dari keluarga yang sama, keluarga Lily.”
“Typha!”
Carnation memberikan senyuman pada mereka berdua.
“Aku juga yakin kalau anak nakal itu pasti akan memberikan perubahan besar di akademi ini. Yah kembalilah bertugas! Aku akan kembali menjadi komentator yang cantik dan imut~”
Alstromeria dan Typha memberikan salam hormat pada kepala sekolah akademi Hanatarou yang sudah menjabat selama 5 tahun ini disana.
***
“Babak kedua ini tes sihir bunga kan? Seperti apa babak ini?”
“Aku bahkan gak bisa mengerti dengan apa yang Riri-sensei ajarkan pada kita kemarin!”
Iris, Elder dan Amaryliss terlihat gugup sambil melihat sekeliling mereka yang dipenuhi dengan ribuan penonton. Namun tidak dengan lawan mereka, kelas A dan B, serta kakak kelas mereka.
“Hei, kutekankan satu hal pada kalian ya, anak kelas rendah! Kalian itu cuma beruntung bisa lolos ke babak ini! Pasti guru kalian itu mengajarkan trik sihir curang agar bisa lolos di babak labirin kemarin kan? Ayo mengaku saja!”
“Benar pasti begitu! Semua laki-laki kan memang licik!”
“Menyerah sajalah! Kalian takkan bisa mengungguli kami di tes sihir bunga ini! Kami lebih berilmu daripada kalian rendahan!”
Mendengar ocehan dari lawannya, Iris memberikan tatapan tajam pada mereka. Namun dia malah mendapat tertawaan ejek.
“Heh! Tatapan macam apa itu? Kau takut ya? Ahahaha!”
“Berisik—”
Amaryliss maju selangkah didepan Iris, memandang sebal pada lawan-lawannya.
“Mau apa kau mantan tuan putri? Mencoba melawan kami?”
“Terserah kau mau menghinaku mantan putri atau apapun itu…”
“A-Amary-chan sudah…”
Elder mencoba menghentikan percakapan yang mulai tidak enak ini, dia memegang bahu Amaryliss.
“Wajar kan…jika memiliki sifat yang pelit ilmu. Karena manusia pada dasarnya memang serakah.”
“Orang-orang yang serakah ilmu dan pelit berbagi pada orang-orang yang rendahan, memang menyebalkan.”
“Apa!?”
“Tetapi jika kau menghina guru kami lagi… kau akan kukalahkan hingga tak sanggup mengangkat wajahmu lagi di akademi ini.”
“Apa katamu….!!!!???”
“Sst, hentikan, turnamen akan segera dimulai. Kau akan menyesal berani mengatakan itu pada kami yang akan menjadi pemenang, dasar rendahan!”
Riri-sensei, kami pasti menang. Pasti.
Amaryliss menarik napas panjangnya, Iris menyenggol lengannya pelan.
“Apa sih?”
“Untuk sekali ini saja, aku suka kata-katamu tadi, Amaryliss-chan.”
“Hah?”
“Babak kedua ini menguji kemampuan sihir bunga melalui kisah fiksi yang jawabannya berhubungan dengan kemampuan sihir bunga yang dimiliki peserta. Kami akan memberikan suatu kisah fiksi dan akan kami akhiri dengan pertanyaan. Jawabannya berhubungan dengan jenis sihir bunga yang cocok dan masuk akal serta sesuai dengan kisah fiksi yang kami buat. Kami akan memberikan kisah fiksi ini sebanyak 3 kali, satu kisah berdurasi 5 menit untuk menjawabnya. Jika menjawab 3 kali salah maka peserta akan dianggap gugur. Siapa yang mendapat poin terbanyak dialah yang akan maju ke babak final. Dengan kata lain, babak kedua ini adalah kerjasama tim untuk menemukan jawaban yang tepat. Apa kalian semua sudah mengerti?”
“Anu…Nona Carnation, kenapa harus kisah fiksi, bukan kisah nyata atau berdasarkan pengalaman yang sudah pernah terjadi?”
Pertanyaan dari salah satu peserta membuat Carnation semakin semangat.
“Babak kedua kali ini adalah ideku. Di babak kedua kalian akan dilatih dalam berimajinasi dan memutuskan sesuatu secara tim. Sehingga kalian bisa menerapkannya dalam kisah asli. Apa itu sudah cukup jelas?”
Semua peserta saling mengangguk singkat.
“Kerja sama tim…ya…”
“Iris, takkan kubiarkan kau menghalangi jalanku, biar aku dan Elder saja yang menjawabnya.”
“Apa katamu!? Kan sudah jelas kalau babak ini harus mengandalkan kerja sama!”
“K-kalian berdua sudah…”
“Sudah siap diposisi kalian masing-masing?”
Di babak kedua ini, semua peserta duduk diatas kursi dan didepan mereka ada meja dan tombol ditengahnya. Dibelakang mereka ada timer jam pasir yang berdurasi 10 menit, yang tak lain adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjawab 1 pertanyaan. Didepan peserta ada satu meja panjang yang diduduki oleh beberapa guru serta 2 perwakilan anak kelas 3 yang akan memberikan pertanyaannya.
“Kita mulai babak kedua turnamen sihir akademi Hanatarou!”
***
Lantai yang basah, uap panas dimana-mana.
Aku begitu menikmati ini. Apakah ini yang namanya kenikmatan tiada henti?
“Yang Mulia, Daffodil hendak menemui Anda.”
Pria yang tengah menenggelamkan tubuhnya di bathub besar dengan segelas wine di cangkir bening di tangannya, memberikan jawaban pada pelayannya dengan anggukan singkat.
“Suruh dia masuk.”
Sayangnya pelayannya takkan bisa melihat wajahnya yang memberikan persetujuan, karena bathub raksasa itu tertutupi oleh tirai tinggi. Yang bisa dia lihat hanyalah siluetnya.
“Salam Yang Mulia, maafkan saya mengganggu waktu berharga Anda.”
Sosok dengan pakaian dan rambut berwarna keemasan itu memberikan salam hormat didepan bathub raksasa bertirai tinggi dengan sopannya. Namun siluet didalamnya tidak terlihat meresponnya, hanya mengangkat sedikit gelas wine di tangan kanannya.
“Berharga hmm?”
“Ya, Yang Mulia, ada hal yang harus Anda ketahui.”
__ADS_1
“Sebelum itu, bagaimana caraku berterima kasih padamu, wahai Daffodil pengikut setiaku?”
“Maaf?”
Siluet itu meletakkan gelas winenya dan berdiri dari tempatnya, namun Daffodil tetap tak bisa melihat dengan jelas seperti apa rupa tuannya. Tirai raksasa yang menghalanginya memiliki warna yang gelap.
“Karena kaulah, aku semakin menikmati segalanya yang ada didalam tubuh ini, semuanya bagai tunduk kepadaku, menuruti segalanya apa yang kuinginkan.”
Daffodil tersenyum penuh kemenangan, lalu kembali memberikan bungkuk hormat.
“Saya merasa belum banyak melakukan apa-apa untuk Anda, Yang Muliaku yang Agung.”
“Apa maksudmu? Sekarang tubuhku terasa lebih kuat, seakan-akan dapat menghancurkan batu hanya dengan menatapnya saja.”
“Saya…masih belum layak mendapatkan pujian dari Anda…Yang Mulia…karena saya masih belum mengabulkan keinginan Anda untuk menyeret pria brengsek itu kesini.”
“Cepat atau lambat, aku akan menelannya, dan menjadikan tubuhku abadi. Tidak ada hal lain yang lebih berharga selain melahap segalanya dalam tubuh ini!”
“Maafkan saya, Yang Mulia, saya mendengar peringkat ke-8 Azalea gagal membawanya, Camelyum memang cukup tangguh—”
“Kuakui, itu memang benar.”
Siluet hitam itu kembali menenggelamkan tubuhnya dalam bathub.
“Bocah itu menyimpan banyak misteri dibalik roh bunganya yang berjumlah 2. Andaikata roh bungaku sudah sempurna, maka roh bungaku lebih baik darinya…roh bungaku takkan terkalahkan! Daffodil, teruskan, lakukan apa yang harus kau lakukan! Buat bocah itu menyesal karena membunuh Azaleaku!”
“Jangan khawatir, Yang Mulia, semua sudah dalam kendali tangan saya, Anda hanya tinggal merasakan hasilnya seperti kenikmatan Anda disini!”
Daffodil memberikan bungkuk hormat untuk terakhir kalinya lalu pamit pergi dari sana. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum kemenangan.
“Menjadi orang yang paling disukai Yang Mulia, kau sungguh besar kepala ya, Daffodil-kun?”
Tanpa hawa kehadiran, tiba-tiba seorang wanita berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam namun menggairahkan, dia menyeruputkan lidahnya.
“Heh, itu karena kinerjaku lebih membuahkan hasil dibandingkan kau, Gladiolus. Wajar jika Yang Mulia menyukaiku.”
Angka 4 yang berada di belakang telinganya terlihat ketika wanita itu menyibakkan rambut oranyenya. Dia menunjuk hidung Daffodil dengan kuku jari tangannya yang tajam.
“Aku akan berada di atas langit saat kau masih berada diatas awan, Daffodil-kun, fufufu.”
Wanita itu menghilang dalam kabut begitu saja, Daffodil mendecih kesal.
“Gladiolus si wanita gila…apa yang kau rencanakan?”
***
“Waktu berdiskusi habis! Apa jawaban kalian?”
Hampir setengah jam lamanya, kisah pertama dan kedua terselesaikan, peserta yang tersisa tinggal kelas 1 A dan E yang masih saling bertarung memikirkan jawaban.
“Pertanyaan yang ini lebih sulit…”
Carnation yang hanya berperan sebagai komentator dan pengawas di menara atas stadium, memperhatikan semua peserta yang berada di arena turnamen. Namun pandangannya hanya tertuju pada kelas 1-E saja.
“Aku penasaran…apa yang Riri berikan pada mereka ya?”
“Ya? Maksud Anda Riri-sama?”
“Buktinya dia bisa membangkitkan semangat mereka sampai lolos babak pertama kemarin. Apa yang dia lakukan?”
“Jangan seperti itu jawabannya! Pasti salah!”
“Yang salah itu kau! Aku yang lebih tepat!”
“Berisik! Biar aku yang menekan tombolnya dan menjawab! Kalau kau yang jawab, pasti salah!”
Elder yang hanya bisa menjadi penengah pertengkaran Amaryliss dan Iris, mulai merasa khawatir. Sedangkan semua juri sudah menunggu jawaban para peserta.
Kisah fiksi terakhir berbunyi: ‘kau berada dalam suatu keadaan dimana sekarang posisimu adalah seorang pengembara yang sebenarnya seorang pengamat pemerintahan. Kau mengunjungi sebuah desa yang terdiri dari 4 kubu. Mereka semua tidak bisa bersatu karena berbeda keyakinan. Tiba-tiba kau terseret dalam masalah mereka karena ada orang tak bertanggung jawab yang menuduhmu melakukan pembunuhan terhadap salah satu warga yang berada di kubu tersebut. Dengan posisimu yang seorang pengamat pemerintahan, apa kau akan menyatukan ke-4 kubu itu dan melepas tuduhan atau hanya membebaskan diri dari tuduhan palsu? Ke-4 kubu itu menginginkanmu untuk dihukum karena tuduhan itu. Sihir bunga apakah yang akan kau gunakan di keadaan seperti ini?’
Kisah yang cukup alot untuk siswi perempuan seperti mereka. Kecuali jika dia memang menganggap dirinya ‘berilmu’.
“Kami kelas A akan menjawab duluan!”
Salah satu peserta dari kelas A mengangkat tangannya. Semua perhatian langsung tertuju pada mereka.
“Baik, apa jawaban kalian?”
“Kami berunding dan memutuskan, kami akan membuktikan tuduhan palsu itu dan memberi tahu identitas sebenarnya bahwa kami adalah pengamat pemerintahan, sehingga mereka tidak bisa seenaknya menuduh pembunuhan pada kami. Jika mereka menentang, kami akan menggunakan sihir Epiphyllum, sihir pengembali waktu dan menghapus ingatan mereka tentang kami.”
Suasana cukup tenang sejenak. Para juri pun mulai berunding untuk memutuskan jawaban yang tepat.
“Kami simpan jawaban kelas A, bagaimana dengan kelas E?”
“Saya, saya akan menjawab!”
Peserta lain mengangkat tangannya, dan ternyata itu adalah Elder. Dia memperlihatkan raut wajahnya yang serius.
“E-Elder-chan!”
“Tunggu! Kita belum sepakat!”
Sikut Iris dan Amaryliss, namun Elder tidak menyahut keduanya.
“Ya, Elder dari kelas E, apa jawabanmu?”
Elder menghela napas pendek, dia menoleh sejenak pada lawan-lawannya yang memandang sinis kearahnya. Dia juga menoleh pada Iris dan Amaryliss yang melihatnya khawatir.
Elder mengangkat sedikit wajahnya, pandangannya tertuju pada menara puncak stadium, tempat dimana para siswi alumni dan staff guru menyaksikan semuanya.
Riri-sensei? Dimana dia?
“Elder? Silakan bicara.”
“T-tunggu s-sebentar...”
Tiba-tiba Elder menjadi gugup dan menoleh pada Iris dan Amaryliss.
“T-tadinya…kalau… kalau aku melihat…R-Riri-sensei diatas sana…k-kupikir aku bisa…menjawabnya dengan b-baik…t-tapi…aku…aku jadi gugup…karena Riri-sensei tak ada…d-disana!”
Amaryliss dan Iris ikut melihat ke atas bersamaan. Mata mereka tidak menemukan gurunya di menara staff guru dan alumni kelas 3. Mereka hanya melihat Carnation dari kejauhan.
“Tapi kau yakin kalau perjalanan kemarin bisa dihubungkan dengan pertanyaan ini?”
“…Aku berpikir begitu…”
“Saya akan menjawab menggantikan Elder, para dewan juri.”
Amaryliss mengangkat tangannya dengan percaya diri, walaupun Iris disampingnya tampak tidak yakin.
__ADS_1
“Ya, Amaryliss, silakan jawabanmu.”
“Jawaban kami adalah…”