Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 2: Lylium


__ADS_3

“Apakah mau hujan?”


Alstromeria melihat ke arah langit-langit. Tepatnya ke arah atap akademi. Terdapat sedikit awan mendung didekatnya. Namun disekitarnya tetap cerah.


“Mungkin sedang ada siswa yang latihan sihir. Tunggu. Kenapa diatap?!”


Dengan sigap Alstromeria berlari. Menuju tangga, tidak. Tetapi lift. Menuju atap. Atap akademi Hanatarou memang besar. Namun itu adalah daerah terlarang karena dianggap berbahaya dan dapat memicu siapapun untuk melakukan tindak bunuh diri.


***


Dasar gadis merepotkan. Si Oreanda itu. Tapi aku yakin dia pasti akan datang lagi.


Dia lenyap berkat kekuatan roh pedang Amaryliss. Sudah kuduga itu roh pedang yang cantik.


“Hei, kau belum jawab pertanyaanku tadi. Kenapa datang kesini?”


Namun kulihat tangan gadis itu bergetar. Kenapa dia tampak terkejut? Apa ini pertama kalinya dia menggunakan kekuatan roh pedangnya?


Setelah itu roh pedangnya menghilang.


“A-aku mencarimu tahu, orang mesum!”


“Mencariku? Sudah kubilang aku gak ada niatan jadi guru.”


“Orang bodoh pasti akan berkata begitu.”


Raut wajah Amaryliss sedikit berubah. Pipinya bersemu merah.


“Aku terkejut waktu kau mengeluarkan sihir Bluebell itu. Demi melindungi seisi akademi agar tidak terkena efek sihir Hemlock tadi.”


Benar juga, aku memang mengeluarkan sihir Bluebell agar sihir Hemlock tidak menyebar ke arah lain.


“Itu hanya gerak refleks. Cepat sana kembali ke kelas—”


“S-sensei!?”


Cih, tubuhku jadi melemah lagi, padahal aku sengaja datang kesini untuk berbaring dan mengembalikan manaku.


“Kau baik-baik saja?”


Pandanganku jadi berbayang. Aku tak bisa melihat wajah si cewek galak itu dengan jelas.


“Cepat sana kembali ke kelas—”


“Haruskah kuberi tahu kalau sihir bunga adalah pelajaran yang paling kutunggu-tunggu di kelas?! Aku ingin menguasainya. Aku ingin mengembalikan kembali reputasi rasku yang sudah dijatuhkan oleh orang-orang diluar sana!”


Aku menyunggingkan senyumku. Sepertinya gadis ini sudah membuka sedikit halamannya.


“Bukannya tadi pagi kau bilang…ingin mendapatkan benih?”


“Aku juga masih menginginkan itu! Aku akan berjuang bersama rasku untuk mendapatkannya!”


“Sepertinya roh pedangmu berhasil membimbingmu ya?”


“Eh?”


Aku masih berlutut dilantai. Perlahan kuangkat tubuhku yang jadi semakin berat.


“Katakan pada semua teman-temanmu di kelas. Aku masih tak memiliki niat jadi seorang guru. Tetapi aku ingin membimbing kalian membalik halaman selanjutnya—”


“S-sensei!?”


***


“Pasti Oreanda muncul.”


“Oreanda?”


“Ya, penyebab awan mendung diatap itu pasti dia. Kau tak menemukan apa-apa setelah mengeceknya kesana, Alstromeria?”


Alstromeria menggeleng. Carnation hanya mengangguk pendek.


“Siapa Oreanda yang tadi Anda sebutkan?”


“Pengguna sihir hitam yang pasti mengincar benih juga. Salah satu anggota fraksi ‘Kuroi Uta’. Dia akan menyingkirkan segalanya yang menghalangi tanpa pandang bulu. Tetapi kenapa dia kemari? Apa yang ditemukannya disini?”


“Permisi, Nona Carnation.”


“Masuklah, Typha-san.”


Seorang gadis bermata perak melangkah masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Dia juga adalah anggota pasukan keamanan seperti Alstromeria.


“Saya menemukan tanda-tanda sihir disekitar gedung akademi.”


“Apakah sihir hitam?”


“Bukan, sihir rantai biru.”


“Rantai biru?”


“Saya juga sempat melihatnya ketika memeriksa atap.”


“Begitu. Perintahkan pasukan keamanan lainnya untuk memperkuat segel pelindung akademi ini. Kalian boleh pergi.”


“Baik, Nona Carnation.”


Setelahnya Alstromeria dan Typha meninggalkan ruangan itu. Carnation menatap ke arah jendela.


“Sihir rantai biru, itu pasti Riri. Apa dia yang bertarung dengan Oreanda?”


***


Semua orang bertarung.


Mereka mengeluarkan roh bunga terkuatnya.


Saling membunuh. Tanpa belas kasihan.


Hanya memegang prinsip : ‘yang lemah akan kalah’.


Mereka terus bertarung. Demi mencapai tujuannya.


Benih.


“BENIH SUDAH DIDEPAN MATA! AYO SERBU!”


Apanya…yang sudah didepan mata? Aku hanya melihat orang-orang yang terbunuh sia-sia.


APANYA YANG DIDEPAN MATA?!


“Uwahh!”


Lagi-lagi mimpi aneh. Ada dimana ini?


“R-Riri sensei?”


Seorang gadis berambut pirang menghampiriku, dia memandangku cemas.


“A-Apa Anda baik-baik saja?”


“Ah, kenapa aku ada disini? Seingatku aku—”

__ADS_1


“Sensei tertidur disini seharian, sensei yakin baik-baik saja?”


“A-apa? Seharian?”


“Amary-chan yang memberitahuku…”


Ah, sial. Pasti karena pertarungan dengan Oreanda waktu itu.


“Namanya Amaryliss ya? Dan kau, siapa namamu?”


“N-namaku E-Elder, sensei. Aku mewakili Amary-chan meminta maaf atas semua sikapnya padamu.”


Elder membungkukkan badan didepanku.


“Tidak-tidak jangan membungkuk begitu! Kau sama sekali gak ada hubungannya dengan semua ini…”


“K-kalau begitu biar aku panggil Amary-chan kesini!”


“Oi!”


Gadis itu pergi begitu saja. Apa manaku terkuras sebanyak itu hingga aku tertidur seharian?


Si Oreanda itu. Awas saja dia.


Tetapi apa maksudnya dia ingin membawaku? Aku masih tak mengerti.


“Sensei…”


Elder kembali lagi, dan kali ini dia bersama si cewek galak bermata hijau itu.


“Amary-chan mencemaskanmu sejak tadi, dia mondar mandir terus dan—”


“D-Diamlah Elder-chan!!”


Aku tersenyum ke arah mereka. Sepertinya Elder berbeda dengan semua gadis-gadis dikelas itu. Si galak itu juga. Tatapan garangnya berubah 180 derajat.


“Pulanglah. Hari sudah petang.”


“E-eh?”


“Kau sudah menyampaikan pesanku tadi, cewek galak?”


Dia terkejut. “A-aku tak punya alasan melaksanakan perintahmu, tahu!”


Aku terkikik. Dia terlihat marah dengan wajah yang merona merah. Dasar cewek tsundere.


“Besok aku akan datang di pelajaran sihir bunga berikutnya. Jadi kalian pulanglah dan persiapkan diri kalian. Karena aku adalah seorang pemburu yang haus darah~”


“Sudah kuduga kau memang gak ada niatan jadi guru! Elder-chan ayo kita pulang!”


Kedua gadis itu pun pergi. Aku hanya tersenyum memandangi punggung mereka yang meninggalkanku di ruangan ini.


Kurasa tubuhku mendorongku untuk membimbing mereka membalik halaman barunya. Walau niatku ini tetap masih asal-asalan.


Sambil aku mencari jawaban atas diriku sendiri.


Jika mereka bertanya apakah aku juga menginginkan benih?


Ya. Aku juga menginginkannya. Tapi untuk apa? Aku sendiri pun belum menemukan tujuanku yang jelas.


Setidaknya para generasi muda takkan kubiarkan salah jalan.


Karena terpuruk dalam suatu pilihan akan membuatmu terus merasa menyesal.


“Astaga. Kenapa aku baru menyadarinya? Aku kan datang begitu saja ke kota ini TANPA TEMPAT TINGGAL!”


Apa si orang aneh itu masih disini? Dia yang seenaknya memaksaku kesini tapi tak memberiku tempat tinggal? Awas saja dia!


***


“Cih! Aku hanya lengah! Di pertemuanku dengan Riri berikutnya aku pasti akan membawanya kesini!”


“Kau sombong sekali, Oreanda. Padahal sudah kalah telak begitu.”


“Apa katamu Foxglove!?”


Seorang gadis berdada besar menatap jahat pada Oreanda yang tengah berlutut dihadapan tuannya. Bukan menatap jahat, lebih tepatnya menatap meremehkan.


“Bukannya kau ingin membuktikan kalau semua pria itu lemah? Mana buktinya?”


“Berisik! Sudah kubilang aku hanya lengah! Lain kali pasti—”


“Tidak. Kali ini giliranku. Di akademi itu banyak mainan yang menarik. Fufufu.”


“Kalau begitu, giliran selanjutnya adalah kau, Foxglove. Tipu mereka dengan kecantikan dan keanggunanmu.”


“Tentu saja tuanku. Fufufu.”


***


Wahai roh pedang yang agung. Hapuskanlah seluruh kejahatan yang ada di dunia ini. Bawalah keadilan, kembalikanlah kedamaian, bawalah kebahagiaan!


Sebilah pedang perak keemasan berkilat. lalu berubah wujud menjadi seorang gadis berambut pirang nan cantik. Bertarung dengan musuh yang ada dihadapannya. Demi mendapatkan sang benih yang semakin dekat.


“Mundurlah! Kembali jadi roh bunga, biar aku yang melawannya!”


Gadis berambut pirang itu kembali menjadi sebilah pedang. Lalu seorang pria dengan jubah hitam mengambilnya. Menggenggamnya. Membunuh semua orang yang ada dihadapannya dengan kejam. Tanpa ampun.


“Akulah yang akan mendapatkan benih itu. Akan kukembalikan kejayaan umat manusia di dunia ini.”


“Hyaahh!!!”


Cahaya matahari membuat Riri membuka matanya. Lagi-lagi dia bermimpi aneh.


“Apa sih itu? Mimpi yang aneh.”


“Hei anak muda! Mau sampai kapan kau tidur disitu?! Cepat pergilah atau kau akan kena flu!”


Riri benar-benar gagal menemukan tempat tinggal, jadi dia dengan terpaksa tidur di sebuah kursi taman.


“Hah…kehidupan macam apa ini…”


Kota yang Riri datang adalah sebuah kota bernama Laurel. Kota yang berada di kaki gunung. Kota yang luas yang terkenal dengan sebutan ‘kota terindah’ karena diapit oleh 2 gunung yang menjulang tinggi. Ciri khas kota ini adalah akademi Hanatarou yang merupakan bangunan tertinggi disana.


“Katakan pada semua teman-temanmu di kelas. Aku masih tak memiliki niat jadi seorang guru. Tetapi aku ingin membimbing kalian membalik halaman selanjutnya—”


Aku sudah bilang begitu, maka akulah yang harus bertanggung jawab. Aku ini benar-benar bodoh.


Hari masih pukul 7.30 pagi. Suasana di kota Laurel sudah padat. Khususnya di area pasar. Banyak orang-orang yang saling berlalu lalang melakukan berbagai kegiatannya masing-masing.


“Kota ini terlihat normal…hanya akademi itu saja yang aneh. Mau bagaimanapun, aku harus mengubah akademi aneh itu jadi akademi pedang seperti pada umumnya. Lalu aku bisa kembali hidup damai.”


“Aww!”


Seorang gadis menabrak Riri hingga terjatuh, buku-buku yang dia bawa semuanya berserakan.


“Kau tidak apa-apa? Hati-hati dong kalau jalan—”


Riri terkejut ketika melihat wajah gadis itu.


“Kau ini salah satu siswi dikelas sihir kan?”

__ADS_1


“Kebetulan sekali aku bertemu denganmu disini, Riri-sensei. Aku sudah dengar apa yang dikatakan Amary-chan kemarin. Jadi mulai hari ini kau akan mengajar sihir bunga dikelas kami kan?”


Aih, apa semua anak di kelas itu semuanya benar-benar gak ada sopan-sopannya? Tadi dia memanggilku sensei, lalu ujung-ujungnya “kau”.


“Haah…jadi si galak itu sudah mengumumkannya ya? Katanya gak punya alasan menuruti perintahku.”


Setelah mengembalikan buku-buku yang terjatuh ditanah ke tangan gadis itu, Riri melangkah meninggalkannya.


“Tunggu! Riri-sensei!!”


“Apa?”


“Aku menantangmu bertarung sebelum kuterima jadi guru sihir bunga di akademi Hanatarou!”


Teriakan gadis itu menarik perhatian beberapa orang disekelilingnya. Beberapa dari mereka melirik aneh ke arah Riri.


“Bertarung apa sih? Aku gak punya alasan bertarung denganmu—”


“Kalau begitu biar aku yang mulai duluan!”


Gadis itu mengeluarkan roh pedangnya, sebilang pedang berwarna ungu bercorak kuning dan mengeluarkan cahaya menyilaukan.


“Roh bunga Iris ya?”


Aku memang harus menanggung semua resikonya jadi pengajar magang disana. Aku harus bersiap-siap untuk mati berulang kali, dan diserang secara tiba-tiba oleh para harimau liar itu.


Sepertinya kehidupanku yang baru telah dimulai.


TAPP!!!


Sialnya, aku yang masih belum punya roh pedang bisa apa menghadang mereka? Aku hanya bisa mengandalkan kedua tangan kosongku.


“Roh bunga Iris, jadi namamu Iris kan? Roh bungamu juga tak kalah cantik dengan milik si galak itu.”


“Tentu saja roh bungaku yang paling cantik! Roh bunga Amaryliss tidak ada apa-apanya!!”


KLANGG!


Aku hanya terus mengandalkan seni bela diriku menahan tarian indah pedang Iris. Aku sama sekali gak ada ide melawannya.


“Riri-sensei! Kau berniat menyerangku atau tidak!?”


“Aku sama sekali gak punya alasan menyerangmu, nona kecil. ”


Tarian Iris berhenti. Mereka saling berhadapan.


“Kalau begitu sensei, apa kau ingin alasan untuk menyerangku?”


“Ya ampun, perlukah seserius itu, nona kecil?”


“Tentu saja harus serius! Sejak awal aku tak pernah menyukai laki-laki! Apalagi yang terlihat payah seperti kau!”


Riri hanya tersenyum kaku.


“Aku ingin melawanmu dengan serius! Cepat keluarkan roh pedangmu sensei!”


“Tidak, tidak ada alasan untukku melawanmu—”


“KALAU BEGITU TAKKAN KUBIARKAN KAU MEREBUT SANG BENIH!!”


Apa katanya?


SYAATSS!


Pedang Iris berhasil menggores sedikit pipi kiri Riri. Ia tersenyum.


“Huh…kau sungguh serius ya? Kau juga sangat menginginkan benih?”


“Itu adalah tujuan yang telah diturunkan keluargaku dari generasi ke generasi, maka aku sebagai keturunan ras Iris, pasti akan mendapatkannya!”


Lagi-lagi Iris menyerangnya, dan Riri menahannya dengan satu tangan.


“Kalau keluargamu memang bertujuan untuk mendapatkan benih, apa yang sudah mereka dapatkan sejauh ini? Apa mereka sudah pernah melihat seperti apa sosok benih itu?”


Serangan Iris sedikit meregang.


“Bisakah kau jawab pertanyaanku Iris-san?”


“Keluargaku…keluargaku telah berjuang sekuat tenaga…demi mendapatkan benih…maka aku pun bertujuan sama…aku akan melanjutkan apa yang belum didapatkan keluargaku!”


“Meskipun mereka jadi korban?”


Iris menguatkan lagi serangan pedangnya yang masih tertahan oleh tangan Riri.


“Untuk apa berkorban demi sesuatu yang tidak ada? Gadis kecil, pemikiranmu masih sangat sempit. Kau belum pernah tahu apa arti dari ‘korban’ yang sesungguhnya.”


“A-apa?!”


Riri mendorong kuat serangan pedang Iris hingga menjauh. Sampai saat ini Riri masih belum mengeluarkan sihir apapun. Kecuali sihir perpindahan dimensi yang dilakukannya sebelum Iris memulai serangannya.


Riri memandang Iris yang masih memasang kuda-kudanya. Sambil tetap menggenggam kuat roh pedangnya.


Iris merasa agak takut ketika melihat tatapan Riri yang berubah. Pria itu menatapnya tajam.


“Nona kecil. Kuberi satu peringatan untukmu.”


...****************...


“H-harus kuakui kalau Riri-sensei bisa diandalkan!”


“Sudah kubilang kan? Riri-sensei pasti bukan orang jahat…”


“Tetap saja aku gak mau menerima kehadirannya disini begitu saja!”


Amaryliss menggigit rotinya dengan sebal. Elder yang melihatnya hanya tertawa.


“Tetapi sihir pertahanan yang tadi beliau ajarkan benar-benar membantu. Itu bisa menjadi penopang kita jika ada musuh yang menyerang secara tiba-tiba.”


“Sihir pertahanan Lilac ya…”


“Apa kau paham sihir yang tadi diajarkan itu, Amary-chan?”


“Tetapi…dia hanya mengajarkan sihir pertahanan…bukan sihir menyerang…”


“Kurasa hanya dengan melihat roh pedang yang kita semua keluarkan ketika Riri-sensei pertama kali datang kesini, beliau sudah paham dengan kemampuan kita.”


“M-mana mungkin hanya dengan melihat saja dia bisa paham semua?!”


“Kurasa kemampuan analisa Riri-sensei memang hebat.”


“I-Iris?”


Seorang gadis berambut biru langit ikut bergabung dengan Amaryliss dan Elder. Wajahnya terlihat lesu.


“Apa terjadi sesuatu, Iris-chan? Ada apa dengan wajahmu?”


“Sebenarnya…tadi pagi aku menantang Riri-sensei bertarung.”


“Eeh?! Kenapa?!”


“Dia menyadarkanku…akan sesuatu.”

__ADS_1


__ADS_2