Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah

Hanamizuki, Karena Bunga Tak Hanya Indah
Chapter 23: Sunny Day (II)


__ADS_3

“Pagi, Came-chan.”


“Whoaaa!!”


Spontan Camelyum langsung bangkit dari tempatnya, begitu menyadari dia tidur di tempat yang sama dengan Riri, dengan baju tipis dan rambut yang terurai.


“P-Pagi juga, M-Master!”


“Kenapa pakaianmu seperti itu?”


Riri memandangi Camelyum yang mengenakan gaun tidur alias baju tipis berwarna putih. Wajah Camelyum mendadak memerah seperti tomat, dan jantungnya berdegup kencang.


“…Uh…a-anu…”


“Aku seperti tidur lama sekali. Banyak mimpi-mimpi aneh yang kulihat, apa aku memang tidur selama itu?”


Riri tak memperhatikan wajah Camelyum yang memerah. Dia menaruh lengan kanannya di dahi dan menatap langit-langit kamar. Raut wajahnya masih terlihat lemas.


“Uh…yah…kau selalu bilang kalau kau kurang tidur…Master…”


“Mimpi yang kulihat…aku seperti tidur selama setahun saja…”


“K-kenapa…?”


Dengan pelan Riri bangkit dan mendudukkan tubuhnya. Spontan Camelyum menghampiri dan membantunya duduk.


“Apa tubuhmu bisa digerakkan tanpa ada rasa sakit, Master?”


“Huh? Apa maksudmu?”


“Uh…yah maksudku karena kau memang tidur lama sekali…jadi kupikir kau akan merasakan sakit badan karena terlalu lama berbaring…”


Sebenarnya Camelyum mengingat kata-kata Dianthus tempo hari, dimana Riri takkan bisa bergerak dengan bebas saat bangun karena aliran mananya belum senormal biasanya.


“Berarti aku memang tidur lama sekali ya…berapa lama aku tidur?”


Riri bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar yang berada di depan tempat tidurnya. Rambut peraknya kembali normal, tidak ada uban hitam lagi.


“Eh…rambutku sudah kembali normal…”


Riri menyentuh beberapa helai rambutnya. Dia sedikit menyunggingkan senyumnya.


“Apa ada yang terjadi semalam saat aku tidur?”


Camelyum tak langsung menjawabnya, dia malah memainkan jari-jarinya.


“Huh? Kenapa, Came-chan?”


“Um…tidak ada…tidak ada yang terjadi kok…semuanya baik-baik saja…!”


“Benarkah? Lalu kenapa kita ada di kamar teratas?”


Tentu saja Camelyum bingung menjawabnya. Sebisa mungkin dia ingin merahasiakan semua yang terjadi pada Masternya itu hingga saatnya tiba.


“Karena kupikir Master pasti membutuhkan pemandangan baru, melihat bintang-bintang dari jendela diatas sana sebelum tidur, bukankah itu indah? jadi aku mengajakmu kemari—”


Camelyum langsung menutup mulutnya begitu saja. Wajahnya kembali memerah.


“Kau baik-baik saja Came-chan? Apa kau demam? Wajahmu merah banget lo—”


Kenapa aku tiba-tiba ingat saat bibirku tak sengaja mencium bibir Riri sih!?


“Wah wah, kalian berdua ini seperti pengantin baru saja, pakai pakaian begituan lagi, hihihihi—”


Di ambang pintu terlihat Dianthus yang melipatkan kedua tangannya di dada dan memberi senyum nakal.


“A-apa katamu tadi, Dianthus-san!? Ini tidak seperti yang kau pikirkan!”


Dianthus melangkah masuk ke dalam kamar Riri dengan tatapan yang juga ‘nakal’.


“Benarkah? Lalu bagaimana dengan baju tipis yang kau kenakan? Pas sekali, Riri sedang telanjang dada begitu.”


Saat mendengarnya, Riri terkejut dan langsung menyibak selimutnya. Dia memang bertelanjang dada.


“W-WHOOAA!! S-SEJAK KAPAN AKU GAK PAKAI BAJU BEGINI!? KOK AKU GAK NYADAR SIH!?”


“Ahahaha! Lucunya melihat wajah kalian berdua, membuatku tidak tahan!”


“S-sudah kubilang ini tidak seperti yang kau pikirkan!”


Camelyum buru-buru keluar dari tempat itu meninggalkan Riri yang masih kaget karena dia baru sadar kalau tubuhnya setengah telanjang, dan Dianthus masih cekikikan melihatnya.


“Lucunya melihat gadis yang malu-malu kucing begitu…”


“Kau ini…”


“Ah, kau pasti tidak akan mengingatku, Master yang bodoh.”


“Apa katamu tadi!?”


“Sebelum kau ingin mengomeliku, apa kau bisa bergerak? Tidak ada rasa sakit yang terasa?”


“Kenapa kau menanyakan hal yang sama dengan Camelyum?”


“Ah lupakan saja, kau bisa masak kan? Cepat buatkan aku sarapan, aku lelah berjaga semalaman disini.”


Dianthus pun lenyap meninggalkan beberapa kelopak bunga Carnation. Sedangkan Riri masih terdiam sambil mengenakan baju handuknya.


“Sebenarnya apa yang terjadi saat aku tidur? Aneh.”


***


“Maaf banyak merepotkanmu, Dianthus-san...”


“Eh tak perlu membungkuk begitu! Lagipula ini juga perintah Nonaku. Tenang saja!”


“Uh…jika perang perebutan benih terjadi lagi…sebisa mungkin aku tak ingin jadi musuhmu.”


Dianthus sedikit kaget mendengar kata-kata Camelyum, lalu tersenyum.


“Ah kurasa itu gak mungkin, lagipula Mastermu kan putra nonaku, kita gak mungkin jadi musuh...”

__ADS_1


“Ya, aku harap begitu.”


“Tolong katakan pada Mastermu untuk tidak pergi ke akademi dulu hingga Nonaku menghubungimu. Ok? Sampai nanti.”


Seusai sarapan, Camelyum mengantar kepergian Dianthus sampai pintu depan tanpa Riri yang sedang berada di kamar mandi.


“Jangan dulu pergi ke akademi…lagipula ini hari Sabtu sih…tapi…”


“C-Came-chan!!!”


Terkejut mendengar Riri berteriak, Camelyum buru-buru kembali ke dalam.


“A-ada apa Master?!”


“B-bagaimana dengan turnamen sihir itu!? Apa muridku menang!? Apa semuanya berjalan lancar!? Kenapa aku lupa sama sekali soal itu!?”


Camelyum tak langsung menjawab saat mendengar Riri menanyakan itu semua dengan raut wajah super-kaget. Dia lagi-lagi memainkan jari-jarinya.


“Semuanya…berjalan lancar kok…hanya…”


“Hanya apa? Murid-muridku berhasil? Atau gagal? Aku benar-benar gak ingat kejadian setelah itu!”


Tentu saja dia takkan tahu itu semua, karena dark Riri mengacaukan semuanya…


Kali ini Camelyum benar-benar kebingungan menjawabnya, hingga tak lama terdiam, terdengar suara bel pintu.


“Huh? Apa ada orang?”


“B-bagaimana bisa ada orang yang mengetahui lokasi kastilku yang dihalangi segel berlapis begini?”


Riri langsung berlari menghampiri pintu. Camelyum sedikit menghela napas.


“Aku benar-benar tak tahu harus jawab apa…”


“Ya, siapa disana?”


Riri tak langsung membuka pintunya. Dia memastikan dulu siapa yang datang. Namun tak ada jawaban dari balik pintu diluar sana.


“Huh? Gak ada yang jawab…apa aku buka saja ya?”


“Master—”


Riri benar-benar membuka pintu besarnya. Dia langsung dikejutkan dengan pemandangan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.


“Ka-kalian—”


“Selamat pagi, Riri-sama~!”


Yang berada dibalik pintu itu adalah ke-5 muridnya. Mereka mengenakan pakaian maid dengan senyum kaku dan wajah yang memerah karena malu.


“K-k-k-kalian….a-a-a-apa yang…”


“Kami datang kemari untuk melayani Riri-sama seharian penuh~!”


Sahut Iris dengan semangatnya. Sedangkan Alstromeria dan Amaryliss terlihat sangat gugup.


“Riri-san bebas menyuruh kami apa saja kok, mau menyuruh kami membuka bajumu juga boleh~


Kata Typha dengan polosnya dan seketika wajah Riri memerah seperti tomat.


“A-apa yang kalian lakukan dengan baju begitu…?”


Camelyum melihatnya diam-diam dibalik punggung Riri.


“Nona Carnation memerintahkan kami untuk melayani Riri-sensei selama seharian penuh ini! Benar kan?”


Kata Elder dan dibalas dengan anggukan pelan oleh semuanya, kecuali anggukan Iris dan Typha yang paling semangat.


“Ini pasti…mimpi terindah dalam hidupku~”


BRUUKK


“UWAAHH! RIRI-SENSEI!!”


***


“Sensei? Tidak apa-apa kan? Sensei?”


“Waah! Kenapa kalian mengerubungiku!?”


“Karena sensei tadi tiba-tiba pingsan…”


Aku memang sedang tidak bermimpi. Mereka memang pakai baju maid. Baju maid!


“Kau tidak apa-apa Master?”


“C-Camelyum!? K-kok kau tidak hilang!? Aku kan sudah bilang jangan ada orang lain yang melihatmu!?”


“Tidak apa-apa Riri-sensei, kami sudah mengenal Camelyum-san, tapi maaf, agak rumit menceritakannya.”


Kata Elder sambil tersenyum. Aku jadi semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidur sih?


“Kalian ini kenapa pakai baju begitu sih!? Kalau ada yang nyulik gimana!?”


Seruku spontan. Walau mereka terlihat sangat manis dengan pakaian maid itu.


“Nona Carnation bilang ini akan menghibur Riri-san, jadi kami diminta memakai ini olehnya.”


Typha menjawabnya dengan polos. Rambut panjangnya diikat dua dan digulung hingga membentuk bola. Dia sangat lucu.


“Uh…wanita itu benar-benar…”


“T-tidak apa-apa Riri-sensei! K-kami juga memang ingin menemanimu kok!”


Kata Iris dengan wajah yang memerah. Dia memakai pita di kedua rambutnya yang juga dikuncir dua. Dia lebih manis begini.


“T-tapi apa alasan kalian pakai baju begini?! Kenapa harus menuruti permintaan aneh si wanita itu segala sih?!”


Seruku lagi. Soalnya ini sama saja dia membongkar aibku yang suka dengan gadis maid. Atau Mahou Shoujo. Ahh, kenapa dia tak meminta mereka mengenakan kostum Mahou Shoujo saja? Aahhh apa yang kau pikirkan sih Riri Hanamizuki!?


“Master, kau yakin tidak apa-apa? Wajahmu memerah lagi—”

__ADS_1


Aku terkejut saat Camelyum mendekatkan wajahnya didepanku. Ahh aku jadi memikirkan yang tidak-tidak!


“R-Riri-sensei…a-apa sudah sarapan? P-perlukah kami membuatkannya untukmu…?”


“Tidak! Aku yang akan membuat sarapan untuk Riri-sensei!”


Amaryliss dan Iris tetap saja bertengkar walau sedang berpakaian manis begini.


Astaga, aku hampir lupa satu hal.


“K-kalian…jangan bilang kalau kalian ingin menghiburku karena aku gagal membuat kalian menang di turnamen sihir kemarin? Apa kalian kalah? Apa kalian memaksa menghibur diri dengan berpakaian maid seperti ini? Tidak tidak, kalian tidak salah, akulah yang harusnya menghibur kalian, tolong jangan merasa putus asa lagi!”


Aku menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya didepan ke-5 gadis ini. Aku pasti gagal membuat mereka menang, dan mereka ingin menghibur diri dengan menemaniku agar aku tidak berhenti mengajar mereka. Padahal aku memang tidak berbakat dalam mengajar.


“R-Riri-sama, tolong angkat kepalamu…! K-kelas E tidak gagal kok…!”


“Benarkah? Jadi apa kalian menang? Kalian menang kan?!”


“Anu…sensei…”


“Sebenarnya kami…”


Ingatlah untuk jangan dulu bercerita apa-apa soal kejadian tempo hari pada Riri. jika dia menanyakan tentang hasil turnamen sihir, katakan saja kalian berhasil.


“Untuk pertama kalinya, kami berhasil menjadi juara turnamen sihir berkat bimbinganmu, terima kasih banyak, Riri-sensei!”


Dengan lantang Amaryliss meneruskan kata-kata Elder yang terpotong dan membungkukkan badannya, diikuti dengan yang lainnya. Melihat itu aku jadi agak terkejut. Benarkah mereka berhasil karena aku?


“Ahem, ternyata aku memang memberi banyak perubahan pada kelas kalian ya! Ahahaha!”


“Dia mulai lagi…”


“Riri-san, apa yang bisa kulakukan untukmu? Apa perlu kubantu untuk mandi dan menggosok punggungmu? Typha-chan dengan senang hati melakukannya”


“EEEEHHHHH!!!???”


Spontan ke-4 gadis lain yang mendengarnya terkejut. Typha yang polos itu, baru pertama kalinya berkata seperti itu, aku sampai bergidik.


“A-aku…ganti pakaian saja dulu ya…”


Kataku sambil melambai pelan, melihat bajuku masih mode tidur. Jika memang ke-5 maid ini akan menemaniku, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini! Carnation-senpai, walaupun mereka gak pakai kostum Mahou Shoujo, aku ucapkan terima kasih! Nanti akan kubelikan lagi cake strawberry yang banyak untukmu!


***


“Nah tolong ya!”


“Riri-sensei itu benar-benar membuat kita bekerja…”


Riri meminta Elder dan Typha membersihkan rak-rak buku yang berantakan, lalu Alstromeria membereskan ruang peralatan, sementara Amaryliss dan Iris harus berbelanja bahan makanan untuk makan siang.


“Sensei! Kenapa aku harus pergi dengannya aku gak mau!”


“Siapa juga yang mau pergi denganmu!? Hmph!”


Riri tidak cukup mengetahui kalau Iris dan Amaryliss akhir-akhir ini memang tidak akur. Dia melihat pemandangan itu dengan tertawa.


“Hahaha, kalian gak akur ya, yosh, berarti kalian cocok banget.”


“COCOK APANYA!!??”


“Kalian maid yang dikirim Carnation-ne—maksudku senpai untuk melayaniku kan? Kalau begitu lakukan sajalah! Belilah bahan makanan yang sudah kutuliskan ini ya!”


Riri memberikan secarik kertas pada mereka berdua dan berlalu. Ketika Amaryliss dan Iris melihat isi dari kertas itu, mereka agak kaget.


“Daun peterseli…keju parmesan…daun kemangi…i-ini semua bahan-bahan yang belum pernah aku lihat sebelumnya…”


“Hohoho! Berarti kau tidak bisa masak ya! Aku saja yang pergi belanja, kau duduk saja disana!”


“Apa katamu!? Sembarangan sekali! Aku yang akan belanja!”


“Aku!”


“Aku saja!”


Amaryliss dan Iris benar-benar pergi dengan gaya berjalan yang saling bersungut-sungutan, Riri yang melihatnya dari jauh tertawa.


“Mereka itu ternyata gak akur ya…kenapa aku baru menyadarinya…”


Riri mengalihkan pandangannya pada pintu kamarnya yang ada di lantai satu. Kamar yang biasa dipakainya.


“Yosh, aku juga mau bersih-bersih ka—”


“Master! B-biar aku saja yang melakukannya! Master sebaiknya tidak perlu bersusah payah! I-ini kan hari minggu, jadi bersantailah!”


Dengan cepat Camelyum langsung menahannya membuka pintu kamar Riri di lantai 1. Sejauh ini Riri belum tahu kerusakan yang terjadi di dalam kamar ini ketika Kuroi Uta Gladiolus menyerang.


“Tapi aku gak bisa diam saja…”


“Tidak apa-apa Master! Kau duduk saja yang tenang! Biar aku yang membereskannya!”


Walaupun sedikit bingung, Riri pun beranjak dari sana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menaiki tangga. Camelyum menghela napas lega.


“Ada apa Camelyum-san?”


Camelyum terkejut saat Elder tiba-tiba berada didekatnya.


“Uh yah…Master tidak boleh tahu apa yang terjadi di kamar ini—”


“Ada apa? Apa ada jejak Kuroi Uta disana?”


“K-kau juga tahu tentang Kuroi Uta?!”


“Carnation-san sudah memberi tahu banyak hal mengenai kejadian aneh belakangan ini, maka kami juga harus siap jika suatu waktu mereka akan menyerang Riri-sensei lagi, ataupun menyerang akademi.”


“Menyembunyikan sesuatu terlalu lama memang tidak bagus ya…”


“Huh? Came-chan, Elder-chan, kalian sedang membicarakan apa?”


“Ah t-tidak tidak apa-apa! Elder-san hanya menanyakan sesuatu tentang buku-buku di rakmu!”


Seru Camelyum cepat, Elder pun langsung mengangguk-angguk. Riri yang tampaknya tidak begitu peduli, kembali meneruskan langkahnya naik ke lantai 2.

__ADS_1


__ADS_2