Hancur Karena Puber Kedua Istriku

Hancur Karena Puber Kedua Istriku
Mengembalikan Sonia


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Rayyan langsung masuk dan menyuruh Faizah untuk memasukkan semua pakaian dan barang-barang istrinya ke koper besar, dan beberapa kardus.


Faizah segera melaksanakan perintah itu, tanpa berani bertanya. Walaupun sebenarnya hatinya bertanya-tanya, kenapa semua barang milik Nyonya nya di suruh dikeluar kan?


Rayyan juga mengeluarkan semua perhiasan milik istrinya itu, lebih tepatnya mantan istri.


Dia tak mau, masih ada yang tersisa di rumahnya ini, barang-barang milik Sonia.


Tak lama, Sonia datang dan menangis di kaki Rayyan memohon ampun.


Dia tak ingin di ceraikan, dia sangat takut, jika ibunya akan marah padanya, karena Rayyan adalah menantu kesayangannya. 


Merasa tak enak, Faizah yang baru saja menyelesaikan pekerjaan nya, segera beringsut dari dalam kamar, dan keluar. 


"Ampun Pah..Mamah janji, tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi" ratap Sonia.


Rayyan hanya bergeming, tak menjawab apapun. Dia masih benar-benar kecewa atas perbuatan istrinya itu. 


"Katakan padaku dengan jujur Sonia, kau sudah pernah tidur dengan lelaki itu ??" tanya Rayyan dingin.


Sonia tampak menelan ludahnya, dia teringat kembali dengan peristiwa di tempat wisata di daerah pegunungan itu.


Karena terlena dengan sentuhan dan rayuan dari Galang, dirinya rela melepas kehormatannya sebagai seorang istri,  bahkan tak hanya sekali, dia sudah melakukannya sebanyak dua kali, secara sadar, tanpa paksaan lagi dari Galang. 


"Kenapa diam?" tanya Rayyan menatap Sonia yang menunduk, tak mau mengangkat kepala nya.


"Cepat masuk ke mobil mu! Aku akan mengantarmu pulang ke rumah ibu!" ucap Rayyan, kemudian melangkah keluar dari kamar.


"Bawa anak-anak ke kamar, ajak main mereka disana" perintah nya pada Faizah, yang sedang menemani anak-anak main di ruang tengah. 


"Kunci pintunya! Jangan kau buka sebelum aku berangkat" 


Faizah mengangguk, dan segera mengajak anak-anak, masuk ke kamar.


Rayyan kembali melongok ke kamarnya, karena Sonia tak kunjung keluar.


"Cepat lah, aku tak punya banyak waktu lagi Sonia" ucap Rayyan ketus.


Dengan langkah gontai, Sonia pun kemudian mengikuti langkah Rayyan keluar.


"Bolehkah aku menemui anak-anak?" tanya Sonia dengan penuh harap.


"Jangan sekarang! Kau boleh menemui mereka, setelah kita resmi bercerai" jawab Rayyan dingin.


Sonia yang sudah sangat hafal dengan watak suaminya, tak dapat membantah lagi, walau pun sebenarnya Rayyan sangat penyayang dan dingin, namun dia juga bisa sangat tegas dan keras kepala. 


Sonia hanya bisa berharap,  suami nya masih mau rujuk kembali, suatu hari nanti. 


**********


Sepanjang perjalanan, Rayyan hanya diam, tak mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


Mobil Sonia dia suruh bawakan Slamet, untuk mengantarkan nya, ke rumah mertuanya. 


Tak lama berselang, merekapun sampai di rumah ibu mertuanya. 


Bu Sari terlihat sedang duduk-duduk di teras, bersama beberapa saudaranya, yang memang tinggal saling berdekatan, dan satu halaman.


Melihat mobil menantunya datang, bu Sari mengembangkan senyumnya.


Dia senang, karena anak dan menantunya datang mengunjungi.


"Alhamdulillah,  akhirnya kalian datang juga berkunjung" sambut bu Sari memeluk putri dan menantunya itu.


Tapi betapa kagetnya dia, ketika melihat pak Slamet menurunkan banyak barang dari mobil, dan menaruhnya di teras. 


"Loh, ada apa ini?" tanya bu Sari keheranan, "Kalian berencana menginap lama di sini?" tanya nya lagi.


Rayyan tersenyum getir, "Mari kita masuk bu, kita bicarakan di dalam" ucap Rayyan, kemudian membimbing tangan mertuanya masuk.


Beberapa kerabat yang sedang duduk-duduk pun merasa penasaran, dan segera ikut duduk di ruang tamu.


"Rayyan mohon maaf sebelumnya,  terutama kepada ibu, karena Rayyan tak bisa menjadi menantu yang baik" ucapnya menahan rasa sesak di dada.


Bu Sari tampak keheranan, karena mendengar menantunya itu berkata seperti itu. Sedangkan Sonia wajah nya tampak sembab dan pucat. 


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya bu Sari mulai terlihat gelisah. 


"Dengan terpaksa, saya kembalikan Sonia kepada ibu, karena saya sudah tak bisa lagi, membimbingnya sebagai suami" ucap Rayyan dengan suara bergetar. 


Bagai tersambar petir di siang bolong, bu Sari tampak tak percaya dan menangis, atas ucapan menantunya itu.


"Tapi apa salah Sonia nak Rayyan?" tanya bu Sari tak terima.


"Ibu bisa tanyakan sendiri kepada putri ibu, apa kesalahan nya, karena tugas saya sudah selesai, saya mohon pamit" Rayyan pun kemudian berpamitan dengan di iringi pandangan penuh tanda tanya, oleh semua orang yang ada di ruangan itu..


Tanpa menoleh lagi, Rayyan segera melesatkan mobilnya, untuk pulang ke rumah.


Setelah kepergian Rayyan, bu Sari dan seluruh keluarga Sonia, segera mencecar Sonia dengan berbagai pertanyaan.


Perempuan yang masih mengenakan seragam dinasnya itu,  hanya dapat menangis sesenggukan, dan segera berlari ke kamarnya, dan menguncinya dari dalam.


Paman dan Bibi Sonia merasa curiga, dengan tingkah Sonia.


"Mbak, sepertinya Sonia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal" ucap Ferdi, adik dari bu Sari.


"Iya, kita sangat tahu dengan Rayyan selama ini, dia bahkan sangat jarang sekali marah, dan selalu menuruti kemauan Sonia. Tapi kenapa tiba-tiba dia seperti ini? Rasanya sungguh tak mungkin jika Rayyan mempunyai perempuan lain" timpal Lely, adik dari Ferdi. 


Bu Sari tampak tepekur, dia masih begitu shock dengan kejadian ini. Selama ini dia sangat menyayangi Rayyan, karena menantunya itu juga begitu mengasihinya, layaknya ibu kandungnya sendiri.


Bahkan setiap bulan, Rayyan juga memberikan jatah belanja kepadanya. 


"Ya Allah,  ada apa sebenarnya ini?" bu Sari menangis terisak...

__ADS_1


"Biar Ferdi ke sana mbak, untuk bertanya langsung pada Rayyan,  karena Sonia juga tampaknya belum bisa kita tanyai" usul Ferdi, yang segera di amini oleh saudara yang lain nya.


"Baiklah, pergilah Fer, tanya kan padanya, apa sebenarnya yang sudah terjadi?" jawab Bu Sari menyusut air matanya.


Tanpa menunggu lagi, Ferdi dan Lely pun kemudian berboncengan naik sepeda motor, menuju rumah Rayyan. 


Satu jam kemudian, merekapun sampai, tapi rumah Rayyan, terlihat sepi.


Berkali-kali mereka mengucap salam, namun tak kunjung ada jawaban.


"Mereka kemana ya Mas?" tanya Selly pada kakaknya itu.


"Entahlah, tapi sepertinya mereka semua tak ada" jawab Ferdi mencoba mengintip lewat kaca jendela.


"Atau jangan-jangan mereka pergi ke rumah ibu nya ya?" cetus Selly .


"Bisa jadi, sebaiknya kita periksa kesana sekarang" ajak Ferdi segera menstater motor nya.


**********


Setelah kepulangan nya dari rumah Sonia tadi, Rayyan memang segera mengajak kedua anaknya pulang kerumah ibunya.


Dia berencana menginap lama, di rumah sang ibu.


Bu Fatimah begitu terkejut dengan kedatangan Rayyan dan dua cucunya, yang membawa begitu banyak pakaian dalam tas.


"Loh, ada apa ini?  Kok bawa barang banyak banget? " sambut bu Fatimah, yang merasakan gelagat tak menyenangkan dari putranya itu. 


"Iya Eyang, kata Papa, kita mau nginap lama di rumah Eyang" jawab Dea tampak senang.


"Terus Mamah kok tidak ikut?" tanya bu Fatimah merasa curiga. 


"Mamah kan harus kerja Eyang" jawab Aksa dengan memanyunkan mulutnya.


"Zah..bawa anak-anak ke kamar ya?" pinta Rayyan, yang segera di angguki oleh Faizah.


Rayyan segera duduk di ruang tamu, di ikuti oleh ibunya.


"Ada apa sebenarnya nak?" tanya bu Siti yang duduk di sebelah putranya itu.


Rayyan segera membenamkan wajahnya, ke pangkuan ibunya, dan menangis tersedu disana.. 


Bu Fatimah terlihat kaget, dan segera mengelus kepala putranya itu. 


'Tak biasanya dia seperti ini, ada apa sebenarnya?' Batin bu Fatimah. 


"Ceritakan kepada ibu, supaya hatimu menjadi lega" ucap bu Fatimah lirih.


Melihat putranya yang begitu rapuh, hatinya menjadi sakit, sangat sakit, karena selama ini, putranya tak pernah bersikap seperti ini. 


"Apakah ini tentang Sonia?" tanya bu Fatimah, yang kemudian segera di angguki oleh Rayyan... 

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2