Hancur Karena Puber Kedua Istriku

Hancur Karena Puber Kedua Istriku
Meninggalnya Ibu Sonia


__ADS_3

Bergegas kedua kakak Sarah yang lain, berboncengan sepeda supaya lebih cepat, menuju rumah Sarah.


Hanya dalam waktu 10 menit saja, mereka telah sampai, karena Yusuf mengendarai motor nya dengan kecepatan penuh. 


Mahmud yang duduk di belakangnya, hanya dapat melantunkan Sholawat, melihat kegilaan adiknya itu menyetir.


Amir yang melihat kedatangan dua adiknya, segera memberi aba-aba,  untuk masuk, dan mendobrak pintu kamar Sarah. 


Hanya dengan sekali tendangan dari Yusuf, pintu itu terbuka seketika.


Galang yang tengah asyik bersenang-senang dengan Sonia, tak dapat lagi berkelit, tanpa sempat mengenakan pakaian nya terlebih dulu,  Yusuf dengan garang segera menghajarnya.


"Kurang ajar!!! Binatang!! Adikku sedang hamil tua, kau enak-enakan disini bersama pelacur!!" teriak Yusuf marah.


Sonia yang tak sempat berpakaian, segera membungkus tubuhnya dengan selimut, dan menangis sambil berteriak-teriak, melihat kekasihnya lagi-lagi di pukuli.


Amir dan Mahmud yang melihat Yusuf begitu kalap menghajar Galang hingga babak belur, segera menghentikan aksi adiknya itu.


"Sudah cukup Yusuf, jangan lagi kau kotori tanganmu dari memukul tubuh kotornya" seru Amir segera memeluk erat tubuh adiknya supaya berhenti.


Karena hanya dengan Amir lah, Yusuf masih mempunyai rasa sungkan dan takut..


Sesungguhnya Amir dan Mahmud takut, jika sampai Galang mati, di tangan adik mereka itu.


Galang tampak terkapar, tubuhnya babak belur.


Mahmud segera menutup tubuh Galang yang telanjang itu, dengan menggunakan sarung.


"Biar aku hajar lagi dia bang!!" seru Yusuf, saat melihat Galang berusaha bangun.


"Cukup!! Istighfar Yusuf, apakah kamu mau menambah kesedihan keluarga kita, dengan membunuh orang dan masuk penjara?!" tanya Amir garang.


Akhirnya Yusuf pun segera keluar dari kamar itu, dan duduk di ruang tamu, untuk menenangkan dirinya, yang temperamental. 


Amir dan Mahmud juga keluar, setelah menyuruh Sonia, untuk segera memakai pakaian nya.


"Kamu punya nomor ponsel Rayyan Mud?" tanya Amir.


"Ada Bang!" jawab Mahmud


"Cepat kau hubungi dia, untuk segera menjemput istrinya" perintah Amir lirih.


"Ya Allah.... " gumamnya sangat sedih.


Melihat rumah tangga adik perempuan- nya, menjadi berantakan seperti ini. 


*********


Rayyan yang saat itu sedang bermain bersama kedua anaknya, dirumah sang Nenek, tampak heran, saat Mahmud, yang sudah sangat lama tidak menghubunginya, tiba-tiba menelepon nya.


"Assalamu'alaikum Pak Rayyan" sapa Mahmud sopan.


"Waalaikumussalam Pak Mahmud, ada apa ini? Kok tumben?" tanya Rayyan, berusaha seramah mungkin.


"Emm, jadi begini pak Rayyan, pak Rayyan, bisa datang kerumah adik kami Sarah, yang ada di perumahan Bintang permata sekarang juga?" tanyanya 


"Ada apa ya, kebetulan saya sedang tidak dirumah, ini" jawab Galang heran.


"Duh ..gimana ngomongnya ya?" ucap Mahmud, tampak canggung. 


"Ada apa Pak Mahmud, katakan saja, Insya Allah kalau saya bisa, akan saya bantu" ucap Rayyan merasa penasaran.


"Jadi begini Pak Rayyan mohon maaf sebelumnya,  benarkah perempuan yang bernama Sonia itu istri Pak Rayyan ya?" tanya Mahmud memastikan.


"Iya, kenapa ya?" 


"Istri Pak Rayyan, barusan tertangkap basah di rumah adik perempuan- kami, sedang berzina dengan Galang, adik ipar kami" jawab Mahmud berhati-hati. 

__ADS_1


"Astaghfirullah.. " ucap Rayyan, kembali hatinya terluka, walaupun dia sudah menjatuhkan talak pada istrinya itu.


"Baiklah pak Mahmud, setelah ini, saya akan suruh keluarganya, untuk menjemput Sonia" ucap Rayyan lemas.


Barulah ia tahu, jika ternyata, selingkuhan istrinya, adalah adik ipar Mahmud, pelanggan tetap, tokonya dulu.


*******


"Dasar anak tak tahu di untung!!" cerca paman dan bibi Sonia.


Mereka segera meluncur, setelah mendapatkan telepon dari Rayyan, yang mengabarkan tentang Sonia, yang tertangkap basah, sedang berzina di rumah selingkuhan nya.


Mereka amat sangat malu, ketika bertemu dengan keluarga Sarah.


"Tolong, maafkan kelakuan keponakan kami ini. Sebenarnya Sonia baru saja di cerai oleh suaminya, karena ketahuan berselingkuh.


Tapi kami sungguh tak menyangka, jika Sonia akan nekat, melakukannya di rumah adik kalian" ungkap Ferdi tampak sangat geram sekaligus malu. 


Kakak-kakak Sonia hanya diam, tak menjawab. 


"Bawalah dia pergi dari sini, kami sangat muak melihatnya " usir Amir, geram melihat Sonia.


Sedangkan Galang, dia segera dibawa ke rumah sakit oleh Satpam di rumah itu, untuk di obati luka nya.


"Bik, tolong kamu kemasi semua barang-barang milik pak Galang, masukkkan kedalam koper, kalau tidak muat, masukkan juga dalam kantong atau kardus" perintah Amir pada pembantu Sarah, yang baru saja datang dari belanja.


Amir sangat tahu sejarah rumah ini, Sarah yang mulai masih gadis, sudah tekun berbisnis, mulai dari berjualan online menjualkan milik orang,  hingga kini akhirnya mempunyai brand sendiri, dan terus berkembang.


Kemudian hasil tabungannya, ia belikan rumah, di kompleks perumahan mewah ini.


Sedangkan Galang, lelaki itu seakan numpang hidup saja pada Sarah.


Awalnya seluruh keluarga tak setuju, ketika Sarah datang, bersama Galang kerumah, dan meminta restu. 


Apalagi Abinya, yang sangat tidak menyukai Galang waktu itu, karena dari keluarga yang tidak jelas. 


Karena ketika di tanya tentang ayahnya,  Galang mengatakan sudah meninggal, ternyata ketika di telusuri lagi, ayah Galang masih ada, dan mempunyai keluarga lain.


Namun Sarah yang baru mengenal cinta, seakan tak peduli lagi dengan pilihannya. Dia tetap bersikukuh, mempertahankan cintanya, walau di tentang oleh keluarga. 


Galang memang sangat pandai bergaul, dan merayu, sikapnya yang loyal dan ramah kepada siapapun,  akhirnya membuatnya di terima, di tengah keluarga besar Sarah. 


************


Amir kemudian memerintahkan Satpam untuk menggembok rumah itu, dan memulangkan pembantunya lebih awal.


Dia menyuruh si Satpam, untuk tidak membukakan pintu kepada Galang, ataupun orang-orang yang tidak di ijinkan oleh Sarah. 


Mereka bertiga pun kemudian pulang,  dengan membawa berita yang tidak menyenangkan untuk Sarah, dan kedua orangtuanya. 


"Biarkan Sarah disini saja, sampai anak yang ada dalam kandungan nya beranjak besar.


Segera hubungi pengacara keluarga kita, untuk mendaftarkan perceraian Sarah dan Galang" perintah Pak Rahmat kepada putranyanya.


Pak Rahmat dan Umi Asiyah tampak tepekur,  di ruang tengah, memikirkan nasib yang menimpa putri mereka.


"Semoga Sarah kuat menjalani ini ya Mi" ucap Pak Rahmat, terlihat sedih.


"Iya Bi, kita harus dukung dia, apalagi, sarah sedang hamil besar seperti itu" jawab Umi Asiya tak kalah sedih.


Sarah yang mendengar perbincangan mereka dari balik pintu kamarnya,  hanya dapat menangis, menyesali keputusannya dulu, yang tak mendengarkan nasihat kedua orangtuanya. 


********


"Dasar memalukan!!" bentak Ferdi dan Lely kepada Sonia, begitu sampai di rumah. 


Ibu Sonia, yang mendengar itu, juga tak kalah marah.

__ADS_1


Sambil menangis pilu, sang ibu memarahinya.


"Kenapa kamu jadi berubah seperti ini Nak??" tanyanya sesenggukan.


"Betapa malunya Ayah kamu di atas sana, jika melihatmu seperti ini!!" tangis nya pilu.


Sonia hanya terdiam, dan menundukan wajahnya. 


"Ibu tak tahu lagi, harus berkata apa kepadamu Nia!!!


Jika seperti ini terus, lebih baik ibu mati saja!!! Mungkin dengan kematian ibu, bisa membuatmu berubah menjadi lebih baik!!!" ucapnya lagi, sambil memegangi dadanya yang terasa seperti terbakar, dan sangat sakit.


Wajah bu Sari tiba-tiba pucat, dan nafasnya tercekat, hingga kemudian roboh, sehingga membuat orang-orang yang ada disana panik.


"Ya Allah mbakk! !" pekik Ferdi dan Lely,  segera menolong Kakak tertua mereka itu.


Sonia tampak termangu ditempat nya, melihat kondisi ibunya yang sudah roboh.


"Kak, denyut nadi mbak Sari sudah tidak ada!" seru Lely pada Ferdi panik.


Ferdi segera memeriksa detak jantung kakaknya,  dan pernafasannya.


Air mata, seketika mengalir dari pelupuk matanya, "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun" ucapnya kemudian menangis.


Sonia yang mendengar itu, segera berlari ke tempat ibunya berada. 


"Tidak!! Ibu, jangan pergi bu, biarkan Nia saja yang pergi.." pekiknya, sambil mengguncang-guncang tubuh ibunya.


"Hentikan Nia, jangan sakiti ibumu lagi!" teriak Ferdi marah, kemudian membopong tubuh kakaknya ke kamar tidur.


"Lely, cepat panggil para tetangga, untuk membantu merawat jenazah mbak Sari" perintahnya, sambil terus menangis terisak.


*********


'Ya Allah, apalagi yang telah di perbuat Sonia kali ini??' batin Rayyan tampak mendesah pelan. 


Walau bagaimanapun perangai istrinya itu, di lubuk hatinya yang terdalam, dia masih sangat mencintainya. 


Namun ketika mengingat tubuh polos nya, dinikmati oleh lelaki lain, sungguh hal itu membuat hatinya begitu sakit, sehingga rasanya rongga pernafasannya, menjadi begitu sesak, harga dirinya seakan di injak-injak, oleh istrinya itu. 


"Nak, tadi bu Asiyah telepon ibu, katanya istri kamu,  telah menghancurkan rumah tangga putrinya.


Padahal putri bu Asiyah sekarang sedang hamil anak ke empatnya" ucap bu Fatimah, sambil menatap jauh, ke luar jendela. 


Rayyan mengusap wajahnya kasar.. 


"Barusan Kakak dari pihak wanitanya juga menelepon Rayyan bu, mereka bilang, pagi ini Sonia tertangkap basah, sedang berzina di rumah lelaki itu" ungkap Rayyan dengan wajah sendu.


"Astaghfirullah,  terus bagaimana sekarang?" tanya bu Fatimah.


"Rayyan tidak tahu, tadi Rayyan langsung telepon Paman dan Bibi Sonia, supaya segera menjemputnya" ucapnya. 


"Papa!!!! Ada telepon" teriak Dea, kemudian menyerahkan ponsel Rayyan, ke tangan Papanya.


"Tante Lely bu" ucap Rayyan memberitahu sang ibu.


"Angkat saja Nak, siapa tahu ada yang penting" suruh sang ibu, ketika melihat keengganan di wajah putranya 


"Waalaikumussalam" jawab Rayyan begitu mengangkat telepon nya.


"Apa?? Innalillahi wa innailaihi roji'un" ucap Rayyan dengan wajah yang sangat sedih, hingga matanya juga terlihat berkaca-kaca.


"Baik Tante, Rayyan dan ibu akan segera kesana" ucap Rayyan, dengan bibir yang bergetar.


"Ada apa Nak?" tanya bu Fatimah terlihat tak sabar.


"Ibu Sonia barusan meninggal bu" jawab Rayyan sedih..

__ADS_1


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..,  ya sudah, kita segera kesana, bawa anak-anak juga, supaya bisa memberikan penghormatan pada Neneknya, untuk yang terakhir kali" ucap bu Fatimah, segera bergegas masuk, untuk bersiap.


Bersambung... 


__ADS_2