
"Selamat pagi sayang" ucap Rayyan, pada kekasih halalnya, yang baru saja terbangun subuh itu.
Rayyan tampak sudah rapi, dengan sarung dan baju kokonya. Kopiah berwarna hitam, juga sudah bertengger rapi di kepalanya, membuat ayah dua anak itu, terlihat semakin gagah dan tampan.
Faizah kemudian duduk, sambil mengeratkan selimut, yang menutupi tubuhnya.
Tadi malam dia terlalu lelah, akibat ulah suaminya yang terlihat begitu ganas, tadi malam.
Jadi begitu selesai, dia sampai tak sempat bersih-bersih dan langsung tertidur begitu saja.
Rayyan tak tega membangunkan istrinya, apalagi ketika dia melihat, darah mengalir cukup banyak dari liang kewanitaannya.
Jadi Rayyan dengan sangat berhati-hati, membersihkan milik istrinya, yang masih terlihat sangat polos itu, menggunakan tisu basah, dan membiarkannya tetap tertidur.
Rayyan begitu bahagia pagi ini.
Rasa-rasanya, bunga-bunga sedang bermekaran di hatinya, yang selama ini terasa kosong dan gersang, setelah pengkhianatan istrinya.
"Jam berapa Mas?" tanya Faizah kemudian mengenakan gaunnya, untuk pergi ke kamar mandi.
Untung saja, kamar yang dia tempati saat ini, memiliki kamar mandi dalam, jadi dia tak akan terlalu malu, kepada Ibu mertuanya, dan juga Mbok Nah.
"Lima menit lagi, masuk waktu subuh, sayang" jawab Rayyan, membantu istrinya untuk berdiri.
"Aah, awww" pekik Faizah lirih.
"Kenapa sayang?" tanya Rayyan, segera memeriksa tubuh istrinya.
"Perih Mas" jawab Faizah meringis.
Rayyan tampak menatap istrinya dengan rasa bersalah.
"Maafkan Mas ya, gara-gara aku, kamu jadi sakit begini. Ayok, Mas bantu ke kamar mandi" ucap Rayyan, segera membopong tubuh istrinya, begitu saja, dan membawanya masuk ke kamar mandi.
"Turunin Mas" rengek Faizah, tampak malu, saat Rayyan terus menatap wajahnya, dan tak kunjung menurunkannya.
"Mau Mas bantu mandi?" tanya Rayyan.
"Gak mau Mas, aku bisa mandi sendiri" Faizah tampak meronta, minta di turunkan.
"Baiklah, Mas tinggal dulu ya, nanti kita sholat sama-sama" ucap Rayyan, mencium pipi istrinya.
Dengan cepat, Faizah segera mandi, untuk menghilangkan hadast besarnya.
Masih terbayang dalam benaknya, tentang kegiatan barunya, tadi malam.
Faizah tak dapat menyembunyikan senyumnya, saat mengingat, betapa suaminya, memperlakukannya, bagaikan Ratu, tadi malam.
****
"Masih sakit?" tanya Rayyan, memandang istrinya, setelah sholat dan berdoa tadi.
"Sedikit, tapi kalau pakai jalan, rasanya gak nyaman banget Mas" jawab Faizah.
Rayyan tersenyum, kemudian membawa istrinya itu, ke dalam pelukannya.
"Namanya juga masih baru sayang, itu karena selaput dara kamu sudah robek, jadi ada luka disitu.
Tapi kamu jangan khawatir, nanti juga akan sembuh sendiri kok" ucap nya memenangkan istrinya itu.
Rayyan sangat maklum, dengan ketidak tahuan, dan kepolosan istrinya.
Faizah sekarang ini baru berusia 19 tahun. Sedangkan dirinya sendiri, sudah 35 tahun, perbedaan usia yang sangat jauh.
"Maafkan Mas ya, sudah melukaimu" ucap Rayyan.
Faizah segera menggeleng, dan tersenyum tipis.
"Itu sudah kewajiban ku sebagai istri Mas" jawab Faizah.
"Kalau kamu masih capek, tiduran aja dulu" ucap Rayyan.
"Tapi, gak enak lah Mas, sama Ibu, dan Simbok" jawab Faizah.
"Mereka pasti maklum, kita kan pengantin baru, wajar kalau di kamar terus" jawab Rayyan, mencubit hidung bangir istrinya.
"Rayyan!!" panggil bu Fatimah, mengetuk pintu kamar anaknya.
Seketika wajah Faizah memucat, mendengar panggilan bu Fatimah, terhadap suaminya.
"Mas" Faizah segera melepaskan diri, dari pelukan suaminya.
__ADS_1
"Iya Bu" Rayyan kemudian merapikan pakaiannya yang berantakan, dan segera membukakan pintu.
"Sudah siang lo ini, ajak Faizah untuk sarapan" perintah sang Ibu, membuat Rayyan nyengir, merasa malu.
"Iiiya bu" jawab Rayyan.
"Sayang, ayo kita sarapan dulu" ajak Rayyan, membantu istrinya bangun.
"Aku malu untuk keluar Mas" ucap sang istri, menggeleng.
"Kenapa malu sih, sekarang kamu itu istri aku, anak ibu juga" ucap Rayyan.
Merasa tak enak, akhirnya Faizah pun keluar, dengan langkah yang tertatih.
Dari meja makan, bu Fatimah dan mbok Nah tampak memperhatikan keduanya.
Melihat menantu barunya tampak kesulitan berjalan, bu Fatimah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Duduk sini Nak" panggil bu Fatimah, kepada menantu barunya itu.
"Emm, saya makan di belakang seperti biasanya saja bu" jawab Faizah, tak nyaman.
"Lohh, kamu sekarang sudah menjadi istri Rayyan, jadi harus duduk bareng disini, temani suamimu makan" ucap bu Fatimah lembut
"Iya Nduk, duduklah disini" timpal mbok Nah, tersenyum.
Rayyan segera menarikkan kursi untuk istrinya, duduk di dekat nya.
"Anak-anak mana Bu? Kok nggak ada?" tanya Rayyan celingukan.
"Mereka sudah sarapan tadi, sekarang lagi main di kamarnya, kemarin dapat banyak mainan dari Budhe kamu" jawab bu Fatimah.
"Ayo Zah, tidak usah merasa sungkan seperti itu, sekarang ibu adalah ibumu juga" ujar bu Fatimah, mengelus lembut tangan menantu barunya.
"Terimakasih Bu" jawab Faizah sopan.
Mereka pun kemudian makan tanpa bercakap-cakap lagi, karena memang mereka tak terbiasa makan, sambil berbicara.
"Rayyan, setelah ini, ajak istrimu untuk imunisasi, sebagai syarat untuk mendaftarkan pernikahan" ucap bu Fatimah, begitu selesai, dengan sarapan nya.
Rayyan tampak mengernyitkan dahinya.
"Imunisasi?" tanya Rayyan, tampak bingung.
Rayyan tampak terkesiap, kemudian menatap istrinya.
Faizah tampak menunduk malu, karena mereka sudah melakukan perkawinan itu tadi malam.
Bu Fatimah kemudian menatap putranya itu.
"Jangan bilang, kamu sudah memerawaninya?" bisik bu Fatimah, di dekat telinga putranya itu.
Rayyan hanya dapat meneguk ludahnya, dan mengangguk pelan.
"Ya ampun, gak sabaran banget kamu Ray.." seru sang ibu dengan suara yang di pelankan.
Rayyan hanya dapat nyengir, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah, nanti tetap bawa istrimu ke dokter, untuk suntik **" ucap bu Fatimah, yang segera di angguki oleh Rayyan.
"Anak-anak tidak usah di bawa, setelah suntik nanti, kamu urus juga, untuk pendaftaran pernikahan kalian"
"Iya bu" jawab Rayyan.
Faizah yang sudah selesai, kemudian bangkit dari duduknya, hendak membawa piring-piring kotor dan mencucinya di belakang.
"Jangan Nduk, biar Mbok saja. Kamu siap-siap aja, untuk pergi ke dokter" ucap Mbok Nah, mengambil alih piring-piring itu.
"Tapi Mbok," Faizah merasa tak enak, jika tak membantu Mbok Nah.
"Udah gak apa-apa, besok-besok aja kalo mau bantu" ucap Mbok Nah, tersenyum.
Mau tak mau, akhirnya Faizah pun segera mengikuti suaminya, menuju kamar, untuk bersiap.
"Sayang, maafkan Mas ya. Sampai lupa, kamu belum imunisasi, malah sudah Mas duluin" ucap Rayyan, merangkul istrinya.
"Iya Mas, tidak apa-apa " jawab Faizah.
"Ya sudah, bersiap lah sekarang, kamu pakai baju yang sudah Mas belikan ya" ucap Rayyan, mencium pipi istrinya.
********
__ADS_1
"Mas, jangan cuma tidur terus, tolong bantu aku siapkan dagangan untuk hari ini!" pinta Sonia, kepada suaminya yang masih tertidur, sampai sesiang ini.
Galang tampak mengucek matanya, sambil menguap lebar.
"Iya Nia, tadi aku ngantuk banget, karena tadi malam gak bisa tidur gara-gara di ajak ronda" jawab Galang.
Sudah 1 bulan ini, Sonia dan Galang hidup bersama, membeli sebuah rumah sederhana, hasil dari penjualan rumah milik Sonia, yang ditinggalkan oleh ibunya.
Sonia langsung membuka usaha rumah makan kecil-kecilan di depan rumah nya, yang lumayan lebar.
Kebetulan rumah tempatnya sekarang, juga ramai.
Tak mau istrinya terus mengomel, Galang kemudian segera bangun, dan membantu istrinya, memindahkan makanan-makanan yang sudah matang, untuk di bawa ke warung.
Sonia yang tengah hamil 6 bulan, sudah tak kuat lagi jika harus bekerja terlalu berat.
Jadi sementara ini, Galang sendirilah yang membantu istrinya di warung.
Karena mereka juga belum mampu, jika harus membayar orang untuk membantu.
Sonia dan Galang, yang dulunya terbiasa hidup enak dan nyaman, kini harus merasakan pahitnya merintis kehidupan mulai dari nol.
Jika sedang merasa lelah, Sonia sering menangis seorang diri, merindukan kehidupannya yang dulu.
Juga merindukan mantan suami dan juga anak-anaknya.
Tapi dia bisa apa? semua adalah kesalahannya sendiri, yang begitu mudah terbujuk rayu, laki-laki lain, yang kini nasibnya juga sama dengan dirinya.
Di penuhi rasa penyesalan, yang tak berkesudahan.
"Nia, ada pembeli di depan!" seru Galang, yang sedang memasang selang gas, pada kompornya.
Nia segera bergegas ke depan, untuk melayani pelanggannya.
******
"Kamu tidak mau menikah lagi Sarah?" tanya sang Ayah, kepada putrinya, yang sedang memangku putri kecilnya, untuk berjemur.
"Nggak lah Abi, Sarah merasa lebih nyaman seperti ini. Sarah ingin fokus membesarkan anak-anak dan mengurus bisnis Sarah saja" jawab perempuan yang sudah berusia 38 tahun itu, tersenyum tipis.
Umi Sarah, yang baru saja duduk untuk ikut bergabung, tampak menghela nafasnya.
"Tak semua lelaki itu jahat seperti mantan suamimu Nak, jika memang kelak ada lelaki yang cocok dan baik, ya menikah saja, supaya hidupmu tak terlalu nelangsa" ucap sang ibu.
Sarah tertawa kecil.
"Doakan saja yang terbaik untuk Sarah Umi" jawab Sarah kemudian.
*****
Rayyan tampak menyetir mobilnya dengan hati-hati, dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.
"Kita jalan-jalan dulu saja ya, sayang" ucap Rayyan, mencium jemari tangan istrinya.
Berusaha bersikap romantis, dan hangat kepada istrinya.
Dia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Karena dulu, Sonia sering protes jika dirinya tak romantis dan dingin.
Faizah hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
Dia merasa begitu nyaman, di perlakukan sedemikian rupa, oleh suaminya.
"Mau kemana Mas?" tanya Faizah.
"Emm, kamu pengennya kemana?" tanya Rayyan.
Faizah tampak berpikir.
"Sebenarnya, dari dulu aku belum pernah pergi ke tempat-tempat hiburan.
Karena Ayah dan Ibu, dulu tak pernah sempat, dan tak terlalu suka" jawab Faizah
Rayyan menoleh,
"Bagaimana kalau kita Dufan, kamu mau? Mumpung masih pagi. Lain waktu kita ajak Dea dan Aksa juga" ajak Rayyan.
Faizah tampak berbinar mendengarnya.
"Iya Mas, tahu begitu, tadi kita ajak mereka" ucap Faizah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, masih banyak waktu yang lain" ucap Rayyan, kembali mencium jemari tangan istrinya.
Bersambung