
"Sarah?? Kok tumben pulang bawa barang banyak banget? " tanya Umi Sarah, tampak heran melihat putri bungsunya itu.
Abi Sarah, yang baru saja selesai melaksanakan sholat duha, juga tampak heran, melihat kedatangan putrinya kali ini.
Sarah yang tak segera menjawab, dan langsung mencium tangan kedua orangtuanya itu, lalu menyuruh pembantunya, untuk memasukkan barang bawaan nya ke kamar.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan putri kesayangannya, Abi Rahmat, segera mengajak putrinya duduk.
"Ayok duduk dulu sama Abi disini" ajaknya, menuju sofa di ruang tengah.
Sedangkan anak-anak Sarah, setelah salim dengan kakek neneknya, mereka segera bermain di halaman belakang, yang mempunyai banyak permainan, seperti ayunan, perosotan dan lain-lainnya.
Karena Pak Rahmat dan bu Asiyah memang sengaja menyediakan itu, supaya cucu-cucunya merasa betah, jika sedang bermain kerumah.
"Ada apa Nak? Kenapa wajah kamu sembab seperti itu?" tanya Pak Rahmat, menelisik wajah putri kesayangannya itu.
Umi Asiyah, yang kemudian datang, membawakan teh hangat untuk putrinya dan juga suaminya, ikut duduk, berkumpul bersama mereka.
"Ada apa sih Bi?" tanya umi Asiyah, melihat wajah suaminya yang terlihat tegang, kemudian duduk disamping putrinya.
Sarah yang tengah hamil tua itu, akhirnya tak dapat lagi menahan tangisnya, dia segera menangis di pelukan Uminya, yang tampak keheranan dengan tingkah putrinya itu.
Umi Asiyah segera mengelus punggung Sarah, untuk menenangkan nya.
Sedangkan Pak Rahmat, hanya diam, membiarkan putrinya itu, melampiaskan tangisnya terlebih dahulu, supaya lebih tenang dan lega.
Setelah beberapa lama menangis, Sarah pun mulai tanang.
"Sarah ingin segera berpisah dengan Mas Galang Abi, Umi" ucapnya, di selingi isak tangis nya.
Pak Rahmat dan sang istri, tampak sangat terkejut, saat mendengar ucapan putri mereka itu.
"Tapi kenapa Nak? Ada masalah apa?" tanya mereka tampak terkejut dan sedih.
Bagaimana tidak sedih, melihat putri yang mereka sayangi,dengan perut yang sudah membesar seperti itu, tiba-tiba menangis dan ingin bercerai dari suaminya.
"Mas Galang telah berselingkuh Abi" adunya, sambil menyusut air matanya, yang terus saja mengalir.
"Jangan gegabah Nak, kamu selidiki dulu kebenarannya.
Apalagi sekarang kamu sedang mengandung, dan juga ada anak-anak yang masih membutuhkan sosok Ayahnya" nasihat Pak Rahmat, memandang iba putrinya.
"Memang mereka membutuhkan seorang Ayah Abi, tapi bukan ayah yang suka berzina" ucap Sarah, bagai gelegar petir di siang bolong.
Pak Ramat dan Umi Asiyah tampak terbelalak, mereka begitu terkejut, mendengar penuturan putrinya itu.
"Istighfar Nak, jangan sembarangan menuduh, jika tak ada buktinya, bisa-bisa jatuhnya malah fitnah" nasihat Pak Rahmat, mengusap wajahnya kasar.
Umi Asiya yang mendengar itu, juga mengangguk, sependapat dengan penuturan sang suami.
"Sarah tidak fitnah Bi, Sarah ada buktinya" ucap Sarah, kemudian segera mengeluarkan ponselnya.
"Ini buktinya Bi" ucap Sarah, menyerahkan ponsel, yang sedang memutar video mesum suaminya, bersama Sonia.
Baru melihat sekilas, Pak Rahmat langsung beristighfar berulang kali, dan segera menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan putrinya.
__ADS_1
"Bagaimana Bi?"tanya Umi Asiyah, menatap wajah suaminya.
Lelaki yang di panggil Abi itu, seketika wajahnya mengeras, dan merah padam.
"Cepat telpon Amir, Machmud, dan Yusuf Mi, suruh mereka datang kemari sekarang juga" perintah pak Rahmat, pada istrinya.
Pak Rahmat kemudian segera menuju ruang kerjanya, karena dia suka menulis buku-buku yang membahas tentang agama disitu.
Sarah yang sudah cukup lelah dengan kejadian ini, kemudian menuju kamarnya, dan beristirahat.
Jarak satu jam kemudian, ketiga kakak lelaki Sarah, sudah berdatangan.
Mereka tampak khawatir, saat tiba-tiba, Abi mereka memanggil untuk segera datang ke rumah.
Pak Rahmat segera menyuruh mereka, untuk berkumpul di ruang tengah.
Sarah juga di panggil, untuk ikut duduk disitu.
"Jadi ada yang ingin Abi sampaikan kepada kalian bertiga.
Tadi pagi-pagi, adik perempuan kalian, datang ke rumah dan menangis, ingin berpisah dari suaminya" ucap pak Rahmat, menghela nafas nya pelan.
Kakak-kakak Sarah tampak saling berpandangan satu sama lain, kemudian menatap Sarah, penuh tanya.
"Ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba ingin berpisah?" tanya Amir, selaku anak tertua, memandang Sarah.
"Galang sudah berani berzina, itu yang di katakan oleh adikmu" jawab Pak Rahmat, terdengar lirih.
Ketiga kakak Sarah seketika membelalakkan matanya, tak percaya.
"Iya dek, takutnya suamimu diam-diam telah menikah lagi, tanpa memberitahu mu" ucap Amir lagi.
"Maka dari itu, Abi ingin kalian selidiki hal ini. Tolong kalian semua cari tahu, supaya Abi bisa menentukan sikap, untuk masalah bukti, kalian bisa melihatnya di ponsel Sarah" ucap pak Rahmat terlihat begitu kecewa, dengan kelakuan menantunya.
"Jika memang benar begitu, biar aku hajar saja si Galang kurang ajar itu!!!" geram Yusuf, yang merupakan seorang kolonel muda TNI itu geram.
"Sabar dek, coba sekarang Kakak lihat ponselnya, takutnya itu hanya editan, untuk menghancurkan rumah tangga kalian" ujar Amir, meminta ponsel Sarah.
Sarah yang semenjak tadi hanya diam saja, segera menyerahkan ponselnya, kepada kakak tertuanya itu.
Begitu ketiganya, melihat isi video itu, mereka semua seketika juga ber istighfar.
"Astaghfirullah, ini sih bukan editan Bang!" seru Yusuf, kepada kedua kakaknya.
"Ini asli" ucapnya lagi.
Kedua kakaknya tampak mengangguk setuju.
"Tunggu Bang, coba diputar ulang, sepertinya aku tidak asing dengan perempuan itu" seru Mahmud .
Amir segera memutarnya lagi, "Astaghfirullah, ini kan istrinya Rayyan Bang!!" seru Mahmud tampak terkejut.
"Rayyan?" tanya mereka serentak.
"Iya, ini istrinya Rayyan, yang punya toko besar di dekat gang masuk rumah kita!" seru Mahmud lagi.
__ADS_1
"Maksud kamu, toko Barokah itu?" tanya bu Asiyah, yang kini juga tampak tak percaya.
"Iya Mi, ibunya Rayyan kan teman Umi pengajian kan?" tanya Mahmud lagi.
Umi Asiyah tampak mengangguk, "Ya Allah" ucap nya tampak sangat shock.
"Siapa diantara kalian yang mengenal Rayyan" tanya Pak Rahmat, kepada ketiga anak lelakinya itu.
"Mahmud kenal bi, Mahmud kan sering ambil barang dari dia, jadi Mahmud juga tahu rumahnya" jawab Mahmud .
"Umi juga pernah dua kali, datang kerumah ibunya, rumahnya tak terlalu jauh dari sini" ucap Umi Asiyah menimpali.
"Ya sudah, lalu bagaimana sekarang bi?" tanya Amir meminta pendapat Abinya.
"Amir, coba sekarang kamu kerumah Sarah dulu, tanyai Galang dengan baik-baik, benar tidak dia sudah berzina, Abi ingin tahu jawabannya" perintah Pak Rahmat, kepada putra sulungnya.
Amir pun kemudian mengangguk setuju. "Kita tunggu dulu jawaban dari Galang, Abi benar-banar ingin tahu jawabannya"
Tanpa membuang waktu, Amir segera menuju rumah Sarah, yang hanya sekitar 20 menit saja, jika bersepeda motor.
Sesampainya dirumah Sarah, Amir segera masuk pintu gerbang, yang tak di jaga siang itu.
"Pada kemana satpamnya?" tanya Amir seorang diri.
Amir kemudian masuk melalui pintu belakang, seperti biasanya, ketika dia berkunjung.
Suasana rumah begitu sepi, hanya ada suara televisi, yang tak ada penontonnya.
"Sepi banget" gumam Amir.
Saat melewat kamar sang adik, hati Amir serasa berhenti berdetak, saat sayup-sayup terdengar erangan dari dalam.
Dengan tanpa menimbulkan suara, Amir berusaha membuka pintu kamar itu.
'Duh, dikunci' batinnya kesal.
Tak kehabisan akal, Amir segera keluar, menuju samping rumah, untuk menuju jendela kamar adiknya itu.
Amir segera melangkah dengan sangat hati-hati, mengintip dari jendela, yang terbuka sedikit itu.
Jendela yang menghadap langsung ke tempat tidur, memudahkan Amir untuk melihatnya.
Dan betapa terkejutnya kakak tertua Sarah itu, saat melihat pemandangan yang membuat nya, benar-benar sangat marah.
Galang adik iparnya itu, tampak tengah menindih perempuan lain dikamar adiknya, tanpa mengenakan busana sama sekali.
Dengan tangan gemetar, Amir segera menelepon kedua adiknya, supaya segera datang kerumah Sarah.
Takut Galang nanti berkelit, diam-diam, Amir segera merekam perbuatan durjana adik iparnya itu, dengan sangat emosi.
"Tunggu Galang, akan kami berikan kejutan yang tak terlupakan setelah ini!" ucapnya geram...
Bersambung.
__ADS_1