
"Jadi Mas Rayyan ingin tahu tentang Faizah?" tanya mbok Nah tersenyum.
"Iya Mbok, saya hanya heran saja, kenapa gadis semuda dan secantik dia, mau bekerja sebagai pembantu?" tanya Rayyan pagi itu, saat menghadang mbok Nah, yang sedang belanja sayuran, di ujung gang pagi itu.
"Ceritanya agak panjang Mas Rayyan, Simbok ceritakan intinya saja ya?" ucap mbok Nah.
"Iya Mbok, terserah mbok Nah saja" jawab Rayyan, kemudian memesan dua mangkuk bubur.
"Wah, kok malah jadi merepotkan?" ujar mbok Nah, merasa tak enak.
"Gak lah Mbok, cuma bubur ini" jawab Rayyan, terkekeh.
Sambil makan bubur, mbok Nah kemudian menceritakan tentang Faizah, yang ternyata seorang yatim piatu.
Gadis itu kabur dari Bibinya, yang berusaha menjodohkannya, kepada seorang lintah darat, karena terbelit hutang yang begitu besar.
Faizah yang berusaha kabur ke kota, akhirnya bertemu dengan mbok Nah, yang masih kerabat jauhnya, dari pihak ibu.
Mbok Nah kemudian menyembunyikan Faizah di rumahnya.
Yang kemudian akhirnya membawa Faizah ke kota, dan menjadi asisten rumah tangga di rumah Rayyan.
"Kasihan gadis itu Mas Rayyan, sebenarnya Faizah masih mondok di sebuah pondok pesantren, ketika kedua orangtuanya meninggal.
Tapi, dia tak bisa lagi kembali ke pesantren, karena tak ada yang membiayai.
Hartanya habis, di jual oleh Bibinya yang maruk itu, pokoknya kasihan nasib nya si Faizah" ungkap mbok Nah, dengan wajah yang sangat prihatin.
Rayyan tampak tak terpercaya setelah mendengar cerita mbok Nah barusan.
"Terus wajah Faizah, kenapa seperti bukan orang pribumi ya Mbok?" tanya Rayyan lagi, masih penasaran.
"Eh, Mas Rayyan sudah lihat wajah Faizah?" tanya Mbok Nah, menatap mata majikannya.
"Iya mbok, gak sengaja" jawab Rayyan.
"Iya Mas Rayyan, Ayah Faizah itu orang Turki, majikannya ibu si Faizah, ketika jadi TKW dulu.
Jadi sebenarnya, Faizah itu juga punya keluarga di Turki sana" ungkap Mbok Nah, menjawab rasa penasaran Rayyan.
"Karena alasan kecantikan nya itu juga, Faizah selalu menutupi wajahnya, dengan masker.
Karena dulu, dia sempat hampir di perkosa katanya" ucap Mbok Nah, menceritakan seluruh yang dia ketahui, tentang Faizah.
"Pantas saja Mbok, wajahnya sangat lain, sikapnya pun sangat tertutup" ucap Rayyan mengangguk.
"Mas Rayyan naksir Faizah ya??" tiba-tiba mbok Nah berkata seperti itu, membuat Rayyan, jadi tersedak seketika.
"Memangnya, kalau saya beneran naksir dia, Faizahnya bakalan mau sama saya Mbok?" tanya Rayyan, tampak serius.
Mbok Nah tampak menatap wajah putra majikannya itu.
"Mas Rayyan serius? " tanya mbok Nah, tampak tak percaya.
"Saya melihat, Faizah sangat dekat, dan sayang pada kedua anak saya" ucap Rayyan, tampak menghela nafasnya.
"Mbok tahukan, mereka masih sangat membutuhkan sosok seorang ibu" ucap Rayyan lagi.
Mbok Nah tampak tersenyum lebar.
"Ya Allah, jujur saya sangat senang mendengar ini Mas Rayyan.
Saya itu sudah menganggap Faizah, seperti anak saya sendiri. Sebenarnya saya juga sedang bingung, dengan nasib Faizah ke depannya.
Tidak mungkin kan, Faizah akan terus menjadi pembantu. Dan lagi, saya juga merasa tidak rela, jika kelak, Faizah mendapatkan suami yang tidak bertanggung jawab.
Tapi kalau memang mas Rayyan, ingin menjadikan Faizah sebagai seorang istri, saya akan sangat mendukung Mas.
Karena saya tahu, Mas Rayyan, dan Ibuk, adalah orang-orang yang baik" ujar Mbok Nah, tampak menyusut air matanya, yang mulai memenuhi kelopak matanya, karena rasa haru.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau begitu. Tinggal saya nanti akan minta restu pada Ibu.
Jika Ibu merestui, baru saya akan bilang langsung pada Faizah.
Jadi saya harap, Mbok jangan katakan dulu, ini kepada Faizah ya Mbok.
Karena walau bagaimanapun, restu dari ibu, itu yang paling utama, bagi saya" ucap Rayyan.
"Baik Mas Rayyan, Mbok tidak akan beritahu siapapun dulu" jawab Mbok Nah, tersenyum.
****
"Sekarang aku harus bagaimana Mas?" tanya Sonia terlihat mengusap air matanya.
Galang tampak mendengus, kemudian meraup wajahnya kasar.
"Aku tetap akan menikahimu Sonia. Tapi aku tidak janji, bisa membahagiakan mu seperti dulu, karena aku sekarang sudah tidak memiliki apa-apa lagi" ucap Galang, menatap wajah Sonia.
"Aku tidak perduli Mas, aku memiliki sedikit tabungan. Setelah kita menikah nanti, bagaimana kalau kita cari kontrakan, dan membuka usaha kecil-kecilan.
Karena aku tidak mau jika harus tinggal bersama kedua orangtuamu, yang pasti akan sangat membenciku" ucap Sonia.
"Aku juga tidak mau tinggal disini, karena keluargaku, sudah membenciku" ucap Sonia
Galang tampak menimbang-nimbang perkataan Sonia barusan.
"Tapi usaha apa Nia, aku tidak mempunyai keahlian" ucap Galang.
"Kita buka usaha warung makan saja Mas, paling tidak, aku cukup pandai memasak" jawab Sonia.
"Aku berencana menjual rumah ini, sebagai modal kita Mas" ucap Sonia lagi.
"Baiklah Nia, kita tunggu sampai sidang perceraian mu selesai ya, setelah itu, aku akan segera menikahimu" ucap Galang.
"Tapi apa kamu yakin? Kalau yang kamu kandung itu adalah anakku?" tanya Galang, tampak ragu.
Galang kemudian terdiam. Tak mampu berkata-kata lagi.
Karena dia sadar, rumah tangga perempuan di hadapan nya itu rusak, karena ulah nya.
"Sekarang aku pamit pulang dulu Nia" pamit Galang, segera bangun, dan mencium pipi kekasihnya itu.
"Jangan pikirkan yang lain Nia, aku akan selalu ada untuk mu" ucap Galang, masih sempat menggombal, pada kekasihnya.
Om dan Tante Sonia, yang tengah duduk di luar rumahnya, yang berdampingan dengan rumah Sonia, tampak memandang sinis, ke arah Galang, yang mencoba untuk menyapa.
Merasa tak di hiraukan Galang pun segera menaiki motornya, yang tadi dia pinjam, kepada Ayahnya.
"Dasar pasangan tidak tahu malu!" ketus Lely, merasa kesal sekali.
Sonia tak menggubris ucapan Tantenya itu, dan segera menutup pintu rumahnya.
"Sudah, biarkan saja mereka berdua" ucap Om dari Sonia.
*******
"Bagaimana menurut Ibu?" tanya Rayyan, meminta pendapat ibunya, setelah tadi mengungkapkan keinginannya, untuk meminang Faizah.
"Apakah ini tidak terlalu cepat Rayyan?" tanya bu Fatimah, ibu Rayyan.
"Makanya Rayyan minta pendapat Ibu" jawab Rayyan.
"Karena jujur, Rayyan tak bisa jika mengurus Dea dan Aksa sendiri bu" ucap Rayyan lagi.
"Kebetulan, keduanya sangat dekat pada Faizah, dan Rayyan lihat, Faizah bisa memberikan perubahan positif pada keduanya" tambahnya lagi.
Karena semenjak kehadiran Faizah, kedua anaknya, kini jadi pandai mengaji, dan sudah mulai belajar sholat.
Itu alasan utama Rayyan, tertarik pada sosok Faizah.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu istikharah lah dulu Rayyan, jangan grusa-grusu seperti dulu lagi" nasihat sang Ibu, mengingatkan putranya.
Memang dulu Rayyan ketika di jodohkan kepada Sonia, Rayyan langsung meng iyakan begitu saja.
"Baiklah Ibu, Rayyan akan istikharah dulu, selama satu minggu ini. Semoga ada isyarat baik nantinya" jawab Rayyan.
*****
Seperti yang sudah di sarankan oleh sang ibu, Rayyan memilih pulang ke rumahnya sendiri, dan menitipkan anak-anak kepada ibunya, bersama Faizah disana.
Rayyan ingin fokus menyelesaikan perceraiannya, dan juga beristikharah, untuk pilihannya, yang ingin meminang Faizah.
Jujur, Rayyan yang sebenarnya mempunyai nafsu yang cukup tinggi, merasa tak sanggup, jika terus hidup sendiri tanpa istri, seperti ini.
Apalagi sebelum kejadian terungkapnya perselingkuhan istrinya, Sonia selalu saja menolak keinginannya, dengan berbagai macam alasan.
Rayyan yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma agama, tak ada keinginan sama sekali, untuk mencari pelampiasan, di luaran sana.
*******
Waktu terus berlalu, tak terasa, 4 bulan telah berlalu.
Proses persidangan cerai telah di putuskan, hak asuh anak jatuh pada Rayyan, karena Sonia terbukti bersalah, telah berselingkuh, dan tak pantas untuk mengasuh kedua anaknya.
Sonia berkali-kali meminta maaf pada mantan suaminya.
Rayyan berlapang dada, dan telah memaafkan.
Dia juga tak akan melarang, mantan istrinya untuk menyambangi kedua anaknya.
Begitupun dengan Galang, proses perceraiannya bahkan lebih dulu selesai, karena keluarga mantan istrinya bergerak dengan cepat.
Galang bahkan tidak mendapatkan apapun dari harta milik sang istri.
Dia juga tak di perbolehkan menemui anak-anak nya sendiri.
Galang tak dapat berbuat apa-apa, karena ini adalah murni kesalahan nya sendiri.
*****
Faizah tampak duduk menunduk di ruang tamu bu Fatimah.
Disana telah duduk Rayyan, bu Fatimah, Mbok Nah, anak-anak, dan juga beberapa kerabat Rayyan yang lainnya.
Ya, hari itu Rayyan resmi meminang Faizah, setelah selama 3 bulan lamanya, melakukan pendekatan.
Ketika 3 bulan yang lalu, Rayyan menyatakan perasaannya, dan keinginannya kepada gadis itu, setelah melakukan istikharah, Faizah tak segera menjawab.
Baru seminggu yang lalu, Faizah menjawab permintaan Rayyan, dan menyanggupinya, setelah berkali-kali berfikir, berdoa, dan melihat keseharian Rayyan.
Mbok Nah juga selalu membujuk Faizah, agar mau menerima Rayyan, karena Mbok Nah sudah sangat mengenal sifat dan watak putra majikan nya itu.
"Terimakasih Za, sudah mau menerima saya sebagai calon suami kamu, dan anak-anak, sebagai anak kamu" ucap Rayyan kala itu, dengan hati yang membuncah bahagia.
Faizah hanya mengangguk, tak berani menatap wajah calon suami nya.
"Jadi kapan kita resmikan hubungan mereka Mbak?" tanya Paman Rayyan, yang ikut hadir siang itu.
"Sebaiknya secepatnya saja, kalau perlukita sah kan dulu, baru setelah itu kita resmikan, dan adakan tasyakuran" saran salah satu Budhe Rayyan.
Semuanya tampak mengangguk setuju.
"Ibu setuju Rayyan, sebaiknya kalian akad dulu saja, supaya tidak timbul fitnah, karena kalian sering bertemu" ucap bu Fatimah, menatap wajah putranya, yang tampak bersemu, karena malu.
"Saya sih mau saja Bu, tapi bagaimana dengan Faizah?" ucap Rayyan, menoleh ke arah Faizah.
........
Bersambung
__ADS_1