
Semenjak di amputasi, Galang hanya berdiam diri di rumah.
Lelaki itu menjadi begitu pendiam, dan sedikit temperamental.
Sonia paham dengan perubahan suaminya itu, dia pasti masih merasa sangat terpukul dengan apa yang telah menimpanya.
Kedua orang tuanya, mulai luluh, dan sering menjenguk kondisi putranya itu.
Mereka menjadi iba, melihat menantu mereka, berjuang sendiri, mencari nafkah.
Hampir setiap hari, Sonia menangis. Bagaimana tidak, sekarang tak ada lagi sandaran untuknya.
Suami yang biasanya selalu dapat ia andalkan, kini seakan tak lagi ia kenali.
Galang tak lagi hangat seperti dulu, setiap hari hanya duduk di kursi belakang rumah, sambil merutuki nasibnya.
Tak jarang, pria yang dulu bertubuh tegap dan gagah itu, membentaknya dan marah-marah, jika sang istri menegur perilaku nya.
Hingga pada suatu hari, Galang meminta istrinya itu, untuk memulangkannya ke rumah orangtuanya.
"Kita bercerai saja Nia, pulang kan aku ke rumah orang tuaku" ucap Galang, dengan dingin.
Tak ada lagi tatapan mesra darinya, yang ada hanya lah pandangan kosong dari lelaki itu.
"Tidak Mas, aku dan Putri masih sangat membutuhkan mu!" jawab Sonia, dengan netra yang mulai basah.
"Aku sudah tidak berguna lagi, sekarang aku hanyalah manusia yang tak beguna !!!!!" pekiknya, kemudian menangis tergugu.
"Maafkan aku, tapi mulai sekarang, kamu bukan lagi istriku" ucap Galang lagi.
Mendengar itu, Sonia hanya dapat menangis, kemudian berlari ke kamarnya.
Dia biarkan suaminya itu, melampiaskan rasa kecewa dan marahnya seorang diri, di halaman belakang rumahnya.
Toh lelaki itu sudah menceraikannya, tak ada lagi yang harus mereka bicarakan.
Tak lama terdengar suara orang mengucap salam dan masuk.
"Nia, kami akan membawa Galang untuk pulang bersama kami, tadi malam, dia meminta kami untuk menjemput nya.
Jika kamu mau, ikutlah pulang bersama kami Nak, kami akan bantu merawat Putri dan juga Galang" ucap wanita yang sudah mulai terlihat sepuh itu, menatap nanar ke arah menantunya.
Sonia tampak mulai menangis, semenjak berpisah dari suaminya, hidupnya kini telah hancur.
Tak ada lagi ketenangan seperti yang dulu pernah ia rasakan.
"Tidak Bu, Mas Galang sudah menceraikan saya, jadi saya tidak bisa ikut." jawab Sonia, kemudian masuk lagi ke kamarnya, tak ingin berbicara terlalu banyak, pada mertuanya itu.
Ibu dari Galang, tampak terkejut mendengar penjelasan dari menantunya.
Segera ia temui Galang, dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Aku tahu siapa istriku Bu, dia tidak akan mampu bertahan, hidup dengan pria cacat sepertiku, sebelum dia pergi meninggalkan ku, lebih baik aku saja yang pergi ibu" ucap Galang, tampak pasrah.
"Kenapa kamu menjadi sok tahu seperti ini Nak?? Lalu bagaimana nasib Putri, cucu kami??" tanya sang Ayah, yang juga ikut, untuk menjemput.
"Biarkan dia bersama ibunya, Nia masih muda, dia bisa menikah lagi dengan seseorang yang dia kehendaki" jawab Galang tetap pada keputusan nya, untuk berpisah.
"Dasar bocah gendeng!!! biar Bapak saja yang bertanya kepada istrimu itu" seru sang Ayah, tampak gemas pada anaknya.
Dia pun kemudian bergegas menuju kamar menantunya, yang terbuka.
Dilihatnya perempuan itu, sedang mengemasi pakaian nya ke dalam koper.
"Nia, kamu mau kemana Nak?" tanya ayah mertuanya.
"Saya akan pulang ke kampung saya sendiri Pak," jawab Sonia.
"Nia, jangan kamu tinggalkan Galang, dia tidak berniat untuk menceraikan mu. Dia hanya sedang putus asa" ujar pria tua itu, menahan menantunya.
"Kami sudah tidak bisa bersama lagi Pak. Percuma saja pernikahan ini di lanjutkan, saya ingin pulang saja. Jadi saya mohon, jangan lagi halangi saya" ucap perempuan itu, bergegas keluar, membawa kopernya ke teras.
"Lalu bagaimana dengan Putri? dia masih membutuhkan kedua orangtuanya" ucap sang ayah lagi.
"Bawalah Putri, jika Bapak memang ingin merawatnya" sahut Sonia, mulai kesal.
Toh selama ini, dia tak terlalu menyayangi putrinya, karena selalu merasa kesal pada sosok ayahnya.
"Kamu yakin Nia?" tanya Ayah dan Ibu Galang, saat Sonia mengatakan itu.
"Bawalah, karena setelah ini, saya akan pergi bekerja ke luar negeri" cetus Sonia lagi, tanpa menatap wajah kedua mertua nya.
Sonia sedang putus asa, dia merasa tak akan sanggup merawat Putri sendirian.
Dia bukanlah tipikal wanita yang bisa hidup sendiri, dia butuh lelaki, yang bisa mengayominya, menjaganya, melindungi nya.
Tapi sekarang? bahkan Galang sudah menceraikannya, karena rasa putus asa yang sama.
Merasa tak berguna, dan tak dapat lagi menjaga dan melindungi istrinya.
"Saya pamit bu, susu Putri masih ada satu dus, diapers dan semua pakaiannya ada di lemari" pamit Sonia, kemudian pergi, setelah mencium putrinya.
Entah apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu, sehingga tega meninggalkan bayinya yang baru satu tahun setengah itu, begitu saja, kepada mertuanya yang sudah renta.
********
["Mas, sampaikan kepada anak-anak, sementara ini aku tidak bisa menemui mereka, aku akan pergi jauh Mas, untuk bekerja. Mas Galang sudah menceraikanku, jadi aku terpaksa pergi. Salam sayang selalu untuk Dea dan Aksa. Sonia"]
__ADS_1
Rayyan tampak mengernyit kan dahinya, membaca pesan dari mantan istrinya itu.
Dia benar-benar tak menyangka, jika nasib Sonia akan menjadi seperti ini.
Ada segelintir sesal dalam hatinya, karena dulu selalu mengabulkan apapun permintaan Sonia, tanpa berpikir panjang.
Andai dia tahu, akan menjadi seperti ini, tentu takkan ia ijinkan, istrinya itu bekerja.
Rayyan tak dapat berbuat apa-apa, karena saat ini, dia sudah ada Faizah, dan calon anak mereka yang ke 2, dari Faizah.
Ia hanya bisa mendoakan, semoga mantan istrinya itu bisa menjadi wanita yang baik, di kemudian hari.
Dan bisa lebih mendekatkan diri, kepada Tuhan yang Maha Esa.
****
Galang tampak terpukul, saat Sonia pergi tanpa membawa putrinya.
Apalagi saat ibunya mengatakan, jika Sonia berniat pergi jauh, dan mengadu nasib ke negeri orang.
Pria yang kini hanya dapat duduk di kursi rodanya itu, kembali terkenang dengan masa-masa, saat dia mendekati Sonia, dan menghancurkan rumah tangganya.
Rasa sesal di hatinya begitu besar..Apalagi Jika sedang teringat dengan mantan istri, dan juga ke empat putra putrinya, Galang hanya dapat menangis sendirian.
******
Sesuai dengan rencana Sonia, wanita itu mendatangi sebuah penyalur tenaga kerja, dia ingin mendaftarkan dirinya, untuk berangkat ke Hongkong..
Dia sudah bertekad bulat, karena tak ada lagi orang yang bisa dia jadikan sebagai sandaran.
Rumah peninggalan ibunya juga sudah ia jual.
Kini uang di tangannya tinggal sedikit lagi, tapi hanya cukup untuk mendaftarkan dirinya, sebagai calon TKW, setelah itu, dia sudah tak punya apa-apa lagi.
Setelah mendaftar, ternyata semua tak sesuai dengan harapan Sonia, dengan alasan harus training terlebih dahulu, dia tidak di berangkat-berangkatkan.
Hingga akhirnya dia malah di tempatkan di sebuah rumah hiburan, oleh agen yang akan memberangkatkan nya itu.
Tak kuat bekerja di tempat seperti itu, Sonia akhirnya kabur.
Benar-benar nasibnya kini tengah berada di titik terendah.
Sonia jadi begitu menyesal, karena hanya mengikuti egonya saja, selama ini.
Setelah dua bulan lebih luntang lantung tak jelas, dia akhirnya menebalkan muka, untuk menemui Rayyan, mantan suaminya.
Dia ingin meminta pertolongan, kepada lelaki yang pernah sangat mencintainya itu.
"Sonia?!" seru Rayyan tampak terkejut, saat pagi-pagi sekali, Sonia sudah berada di pintu gerbangnya.
"Masuklah Nia, ada istriku di dalam" ajak Rayyan, kepada mantan istrinya itu.
Sonia akhirnya masuk ke rumah megah milik Rayyan.
Matanya tampak nanar menatap sekeliling rumah, yang terlihat sejuk dan indah.
"Sebentar, aku panggilkan Faizah dulu" ucap Rayyan, kemudian masuk ke dalam.
Tak lama, Faizah keluar sambil menggendong bayinya.
"Mbak Sonia" sapa Faizah, kemudian menyalaminya.
"Dea dan Aksa di mana?" tanya Sonia, tampak berkaca-kaca.
"Ada, tadi mereka masih mandi" jawab Faizah mengulas senyum.
"Mbak Sonia apa kabar?" tanyanya lagi.
"Kabarku tidak baik, 4mungkin ini karena dosa-dosaku yang sudah sangat banyak, jadi Tuhan murka kepadaku" jawab Sonia lirih.
"Perbanyak ibadah saja Mbak, Allah itu maha pengampun, asal Mbak Sonia mau sungguh-sungguh memohon ampun" ucap Faizah, yang sudah tahu, bahwa mantan istri suaminya itu, telah meninggalkan bayinya, bersama keluarga suaminya.
"Aku sangat ingin berubah, tapi apakah benar, jika dosaku akan di ampuni? Sedangkan dosaku begitu banyak.
"Lebih baik sekarang mbak kembalilah kepada suami Mbak, dia sangat berharap agar Mbak bisa pulang" ucap Faizah, karena seminggu lalu sempat berkunjung ke rumah mertua Sonia, untuk menjenguk bayinya.
"Apakah mereka akan menerima ku?" tanyanya ragu.
"Insya Allah mbak, puteri Mbak sangat membutuhkan ibunya" jawab Faizah, yang merasa trenyuh, karena meurut mertua Sonia, bayinya selalu rewel.
"Ya Nia, kamu tidak perlu nemikirkan yang lain-lainnya, Insya Allah, aku dan Faizah, akan membantumu" ucap Rayyan..
"Maksud Mas Rayyan apa?" tanya Sonia tak mengerti.
"Kami baru saja membuka toko bangunan yang ke lima, di dekat rumah mertuamu, tidak jauh lah, kalau suami mu mau, biar dia ikut membantu di sana" ucap Rayyan.
Sonia tampak menangis, mendengar penuturan mantan suaminya itu.
"Kenapa Mas begitu baik kepadaku? padahal aku sudah mengkhianati Mas dulu" ucap Sonia sesenggukan.
"Walau bagaimana pun, kamu pernah hadir dan berjasa padaku Sonia, karena mu, aku punya Dea dan Aksa. Lagipula aku sekarang juga sudah ada Faizah, yang sangat aku cintai...
Jadi tak ada dendam lagi di hatiku untuk kalian berdua" ucap Rayyan, sembari merangkul Faizah, yang tampak terharu, dengan sikap sang suami.
"Mamaa!!!" seru Dea dan Aksa, yang segera memeluk tubuh Mamanya itu.
"Mama kemana saja? kenapa lama tidak datang kesini?" tanya keduanya.
__ADS_1
"Maafkan Mama sayang, yang penting sekarang Mama sudah disini kan??" tanya Sonia.
Mereka kemudian tertawa bersama, sambil berpelukan.
Setelah cukup lama melepas rindu pada kedua anaknya, Sonia berniat pamit, karena dia sudah sangat merindukan Putri, dan juga ingin minta maaf pada Galang.
"Makanlah dulu disini Mbak, aku sudah masak banyak hari ini" ajak Faizah.
Merasa tak enak untuk menolak, Sonia pun mengiyakan, sedangkan Rayyan, sudah berangkat ke toko, untuk memantau toko-toko nya.
"Zah, aku ingin seperti kamu, bisa menutup aurat, dan berhijab" ucap Sonia, mengutarakan keinginannya.
"Subhanaallah Mbak, Alhamdulillah jika Mbak Sonia mau menutup aurat, karena sejatinya menutup aurat itu bukanlah pilihan Mbak, tapi kewajiban.
Kalau gitu, ayo Mbak, kebetulan kemarin baru datang stok dagangan aku, yang belum aku bawa ke butik, mungkin ada beberapa yang cocok untuk Mbak" seru Faizah, ikut senang dengan perubahan mantan istri suaminya itu.
"Kamu begitu baik Faizah, aku sangat malu dengan mu. Kamu memang lebih cocok menjadi pendamping Mas Rayyan, daripada aku" ucap Sonia tulus.
"Mbak bisa saja, ayo Mbak"
*******
Singkat cerita, Sonia pun akhirnya pulang, diantar oleh sopir Faizah, dengan mengenakan gamis yang diberikan oleh istri, dari mantan suaminya.
Faizah juga membawakan beberapa setel lagi, untuk di gunakan sehari-hari..
Sesampainya di depan rumah mertuanya, Sonia tampak tak dapat menyembunyikan kegelisahan nya.
Dia takut, Galang dan mertuanya, tak akan mau menerimanya, setelah hampir 5 bulan lamanya, dia pergi meninggalkan mereka..
Seorang gadis kecil, tampak bermain sendirian di teras rumah mertuanya itu.
"Putri??" Sonia tampak tak dapat membendung air matanya, saat melihat gadis kecilnya, tampak tumbuh dengan baik, bersama neneknya.
"Sonia??!" seorang wanita yang sudah terlihat cukup renta, tampak terkejut, saat melihat Sonia, yang sudah ada di halaman nya.
Sonia segera memeluk mertuanya itu.
"Maafkan Nia bu, karena sudah meninggalkan anak dan cucu ibu" ucap nya sambil menangis.
Wanita tua itu juga tampak tak dapat menyembunyikan air matanya.
"Kemana saja?" tanyanya dengan bibir bergetar..
"Maafkan keegoisan Nia bu" ucap Sonia lagi..
"Sudahlah, yang terpenting, sekarang Putri sudah berkumpul lagi bersama ibunya" ucap ibu mertuanya itu, sembari menyusut air mata bahagia nya.
"Putri..ini Ibu kamu Nak" ucap sang Nenek, kepada cucunya, yang tengah asik bermain.
"Ibu?" dengan suara cadelnya, Putri tampak memperhatikan wajah wanita di depannya, yang segera menggendong dan menciuminya..
Putri tampak tertawa senang, dia merasa begitu nyaman, berada dalam gendongan sang ibu..
"Mas Galang bagaimana kabarnya bu?" tanya Sonia dengan suara parau..
"Galang, dia dan ayahnya sedang di sawah. Dia sekarang ikut membantu mengolah sawah, setelah sekian lama terpuruk.
Baru dua minggu ini, dia mau berubah, dan ikut membantu kami Nak" ucap sang Ibu..
"Tolong, kamu kembalilah padanya, hampir setiap hari, dia selalu mencari kabar keberadaanmu" ucap sang Ibu, membuat hati Sonia trenyuh.
Tak lama, Galang sudah datang bersama ayahnya, dengan mengendarai sepeda motor, yang di khususkan untuk penyandang disabilitas.
"Nia??!" serunya tampak tak percaya, dengan perubahan pada istrinya itu.
Sonia yang kini telah mengenakan kerudung, dan menutup aurat nya.
"Mas" Sonia kemudian menghampiri suaminya itu.
"Aku ingin rujuk dengan mu" ucapnya, yang segera di sambut dengan pelukan oleh lelaki yang kini terlihat kurus itu..
"Terimakasih Nia, terimakasih masih memberi kesempatan kepadaku untuk berubah menjadi lebih baik..." ucap Galang, dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
Kedua orang tuanya, tampak terharu dengan pemandangan di depannya.
"Terimakasih Ya Allah, Engkau tunjukkan kepada anak-anak kami, jalan yang lebih baik" ucap mereka.
"Aku akan mencoba menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita Nia....
Tolong dukung aku" ucap Galang, yang segera di angguki oleh sang istri..
"Sama-sama ya Mas, kita sama-sama cari ridlo-Nya, supaya dosa-dosa kita, bisa di ampuni" jawab Sonia, menangis haru.
The end.
Tak selalu orang yang sudah melakukan dosa, akan terus terperosok dalam lembah dosa yang sama.
Karma memang ada, tapi itu juga atas seizin-Nya...
Siapapun yang dikehendaki Nya, untuk bisa berubah, dan mendapatkan hidayah, maka tak ada hal, yang tidak mungkin.
Allah akan mengampuni semua dosa yang kita perbuat, asal kita mau bertobat dengan sungguh-sungguh, dan berjanji untuk tidak akan pernah lagi, mengulanginya.
Kecuali dosa Syirik ya...
Author ucapkan terimakasih, kepada semua pembaca, yang sudah memberikan dukungannya, sehingga cerita receh ini, bisa di tulis sampai tamat.
__ADS_1
Mohon maaf, apabila cerita ini, tak sesuai dengan keinginan kalian dalam ending nya..🤗🤗
Salam sayang selalu untuk kalian semua 😘