
Kini semua yang ada di ruangan itu, segera menatap ke arah Faizah, yang tampak diam saja, sambil menunduk.
"Di dalam sebuah hadist, diam nya seorang gadis, itu pertanda setuju. Kalau begitu, ya sudah, kita langsung akad saja malam nanti, bagaimana?
Nanti biar penghulu nya segera di hubungi.
Rayyan juga, segera tanyakan kepada calon istrinya, ingin minta apa, sebagai maharnya" ucap salah satu Pamannya, yang sudah berpengalaman.
Akhirnya, setelah berunding, dan menanyakan langsung kepada Faizah, diputuskan, nanti malam setelah sholat Isya, mereka akan melangsungkan akad nikah.
"Kamu ingin minta mahar apa dariku, Za?" tanya Rayyan, yang duduk di seberang Faizah, terpisahkan piring-piring kue, yang di tata dengan apik, di atas permadani berwarna hijau.
Faizah tertunduk, tak berani menjawab.
"Tak usah merasa sungkan kepadaku, sebentar lagi, aku akan menjadi suamimu. Jadi katakanlah, apapun itu, selagi aku mampu, pasti akan aku penuhi" ucap Rayyan.
Setelah beberapa lama hanya berdiam diri, dengan suara pelan, Faizah pun menjawab.
"Terserah pak Rayyan saja, saya tidak tahu harus meminta apa" jawab Faizah.
Rayyan tampak kebingungan, karena Faizah hanya pasrah.
Dia masih ingat, ketika menikah dengan Sonia dulu.
Sonia meminta perhiasan senilai 500gr, dan uang tunai yang lumayan banyak.
Untung saja waktu itu, Ayahnya masih ada, dan Ayahnya lah yang menyediakan semuanya, untuk calon menantunya.
Rayyan kemudian memutuskan untuk menemui ibunya, dan meminta pendapat kepada ibunya itu.
Setelah mendengar penuturan putranya, sang ibu pun menjawab.
"Kamu lebihkan saja, dari yang pernah kamu berikan kepada Sonia dulu. Apalagi sekarang kamu sudah lebih dari cukup Nak, ditambah juga sudah ada Dea dan Aksa.
Bagi seorang gadis seperti Faizah, pasti akan sangat berat, mengemban amanah seperti ini, karena dia sendiri masih belum pernah punya anak " Jawab sang Ibu, terdengar bijak.
Rayyan pun langsung setuju. Dia akan.mempersembahkan mahar terbaiknya, untuk gadis seperti Faizah.
Saat yang di tunggu-tunggu pun tiba. Tak terasa, waktu cepat sekali berlalu.
Setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, yang cukup luas itu.
Faizah sudah di dandani ala kadarnya, oleh Bibi dari Rayyan.
Gadis yang selalu mengenakan masker pada wajah nya itu, tampak tertunduk, dengan berbalut gamis putih yang sangat cantik, yang di beli oleh ibu Rayyan, secara mendadak.
Masker berwarna putih, masih tetap menutupi wajahnya yang sangat cantik.
Rayyan tampak berkali-kali menghela nafasnya, gugup.
Walaupun sudah pernah menikah, tapi dia tetap saja merasa gugup.
Setelah penghulu yang di tunggu-tunggu datang, acara pun segera di mulai.
Dengan penuh khidmat, semuanya mengikuti acara yang sakral itu, walaupun baru di gelar secara sederhana saja.
***
Rayyan tampak sedikit gemetar, tubuhnya terasa dingin, saat tangannya, kini di jabat erat oleh pak penghulu.
Tapi untungnya, dia dapat melafalkan akad nikahnya dengan sangat lancar.
"Bagaimana para saksi??" tanya pak penghulu itu.
"Sah!!!" jawab para hadirin serempak.
"Alhamdulillah...... " pak penghulu pun kemudian melantunkan doa-doa, untuk kelangsungan rumah tangga, kedua mempelai.
Seperti pada pasangan pengantin umumnya, Faizah segera di bawa untuk menemui suaminya, dan mencium tangan sang suami, untuk yang pertama kalinya.
Bu Fatimah dan Mbok Nah, terlihat tak dapat menahan rasa harunya.
Begitupun dengan Rayyan, dan Faizah.
Dengan tangan gemetar, Rayyan meraih kening istri barunya, dan menciumnya lembut.
Dea dan Aksa segera memeluk Ayah dan ibu barunya, dengan sangat senang.
****
Malam sudah semakin larut, para kerabat sudah pulang mulai tadi.
Sedangkan Rayyan, tadi masih menemani Pakdhenya mengobrol.
__ADS_1
Anak-anak juga sudah tertidur, di temani oleh Neneknya.
Faizah tampak bingung sendiri di kamar suaminya.
Dia sudah mulai tadi, melepas pakaiannya, dan menggantinya dengan baju tidur, sebuah piyama yang terbuat dari kain sutera yang sangat lembut.
Entah kapan Rayyan melakukannya, namun pria yang masih berusia 35 tahun itu, telah memenuhi lemari di kamarnya, dengan pakaian baru, untuk sang istri.
Faizah masih tetap mengenakan hijabnya, namun sudah melepas penutup wajahnya.
Hatinya begitu tak karuan, dengan status barunya, yang kini telah ia sandang.
Untuk menutupi rasa gugupnya, Faizah mengambil sebuah novel, yang tergeletak di meja kamar Rayyan.
Tak lama, terdengar suara pintu kamarnya di buka dengan pelan.
Tak tahu harus berbuat apa, Faizah tetap duduk di kursi sofa, yang ada di kamar itu, sambil membaca buku.
"Assalamu'alaikum" ucap Rayyan, menyapa sang istri.
"Wa'alaikumussalam" jawab gadis cantik nan ayu itu, lirih.
Dengan langkah ragu, Rayyan kemudian mendekati istrinya, dan duduk di sebelahnya.
Di tatapnya wajah cantik istrinya itu, yang kini membuatnya seakan tergila-gila, karena wajah yang begitu sempurna itu.
Di pandangi seperti itu, membuat Faizah, semakin menunduk.
Gemas dengan tingkah sang istri yang begitu pemalu, Rayyan meraih dagu sang istri, dan menatap bola matanya.
"Apakah kamu merasa gugup Za?" tanya Rayyan, dengan suaranya yang serak, karena tiba-tiba, tenggorokannya terasa begitu kering...
Faizah tampak menunduk, tak berani menatap wajah suaminya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk melayaniku Za, sekarang tidurlah" ucap Rayyan, yang melihat Faizah tampak ketakutan.
Rayyan segera beranjak, setelah mencium kening istrinya lembut.
"Sudah malam, tidurlah Za" ucap Rayyan lagi, ketika melihat Faizah hanya diam, tak bergeming dari tempatnya.
Rayyan pun kemudian mematikan lampu utama, dan hanya menyisakan lampu tidur, yang membuat suasana kamar menjadi temaram.
Dengan perlahan, Faizah menaiki tempat tidur, dan segera membaringkan tubuhnya, membelakangi sang suami.
Faizah tampak salah tingkah, kemudian duduk lagi.
"Bukalah, jangan khawatir, aku tidak akan berbuat macam-macam, selama kamu tidak mengijinkannya" ucap Rayyan, menatap sendu, wajah Faizah.
Faizah akhirnya membuka kerudungnya.
Rayyan tampak terkesiap, saat melihat kecantikan Faizah menjadi semakin bertambah, dengan rambut kecoklatannya, yang bergelombang.
"Subhanaallah" ucap Rayyan, kemudian membelai wajah istri barunya itu.
"Kenapa kamu begitu cantik Za? aku sungguh beruntung, karena bisa memilikimu, yang senantiasa selalu menjaga diri" ucap Rayyan, sangat senang.
"Emm, jadi pak Rayyan, tidak masalah jika saya tetap mengenakan masker atau cadar?" tanya Faizah, mulai berani menatap wajah suaminya.
"Jangan panggil Pak, panggil Mas, atau Abang juga boleh" ujar Rayyan, tampak keberatan dengan panggilan sapaan istrinya itu.
"Eh iya, maaf Mas" ralat Faizah, tampak sedikit canggung.
Rayyan kemudian membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Mulai sekarang, jangan pernah merasa canggung lagi kepadaku Zah, anggap aku seperti temanmu sendiri" Rayyan menciumi puncak kepala istrinya, yang beraroma wangi bunga itu.
"Insya Allah" jawab Faizah.
"Emm, bagaimana kalau malam ini kita bercerita saja. Mas ingin mendengar tentang perjalanan hidupmu selama ini" ujar Rayyan.
"Tapi tidak ada yang menarik dari kisah hidupku Mas" jawab Faizah.
"Tidak apa, Mas hanya ingin tahu tentang kamu, keluargamu, kesukaanmu, makanan favoritmu, cita-cita, dan lain-lain " ujar Rayyan lagi, masih tetap memeluk tubuh mungil Faizah, dan mengelus rambut kepalanya.
Faizah merasa begitu nyaman dan damai, ada dalam pelukan suaminya itu.
Selama ini, tak pernah dia merasakan perasaan setenang, dan senyaman ini.
'Inikah rasanya di cintai dan disayangi?' bisik Faizah dalam hatinya.
Faizah pun kemudian menceritakan tentang hidupnya selama ini kepada sang suami.
Hampir sama dengan yang di ceritakan oleh Mbok Nah, Rayyan mendengar cerita Faizah dengan seksama.
__ADS_1
"Jadi kamu punya keluarga di Turki?" tanya Rayyan, kepada istrinya itu.
Faizah mengangguk.
"Ayah sengaja pergi dari keluarganya, karena mereka tidak menyetujui pernikahan Ayah dengan Ibu" ungkap Faizah.
"Tapi dulu, adik dari Ayah, pernah datang ke rumah, dan membujuk Ayah agar mau pulang, dan membawa kami ke sana.
Tapi sebelum Ayah melakukan itu, Ayah dan Ibu, keburu meninggal karena kecelakaan " tuturnya, tampak mulai berkaca-kaca.
Rayyan segera mengeratkan pelukannya.
"Apakah mereka tahu, tentang kematian Ayah?" tanya Rayyan.
Faizah menggeleng.
"Atau mungkin kamu tahu, di daerah Turki bagian mana, keluarga besar Ayah tinggal?" tanya Rayyan lagi.
"Ada Mas, dulu Paman sempat memberikan sebuah alamat dan nomor telepon, tapi saya takut untuk menelepon keluarga Ayah" ucap Faizah.
"Kenapa takut?" tanya Rayyan.
"Takut mereka tidak akan mau menerima dan berlaku buruk kepada saya" jawab Faizah.
"Baiklah, kapan-kapan, Mas akan mengantarmu, untuk mencari tahu" ucap Rayyan.
"Benarkah? " tanya gadis berwajah ayu itu, senang.
"Tentu saja, sekarang apapun permasalahanmu, juga akan menjadi permasalahan ku sayang" ucap Rayyan, mencium pipi istrinya.
Faizah tampak malu, menerima ciuman dari suaminya.
"Apakah dulu kamu pernah punya pacar?" tanya Rayyan, mengusap lembut dan sedikit memijit punggung istrinya, supaya merasa lebih rileks lagi kepadanya.
"Tidak pernah" jawab gadis itu menggeleng, dengan matanya yang ber kedip-kedip, membuat Rayyan tampak gemas.
"Dulu pernah ada laki-laki yang mendekati, dan dia adalah anak dari kepala desa. Karena dia lah, saya jadi trauma. Dia hampir saja memperkosa saya, menjebak saya di kelas yang sudah mulai sepi.
Untung Allah masih melindungi saya, belum sempat dia menyentuh saya, pak Kepala sekolah datang, dan membawanya ke kantor polisi " ungkap Faizah lagi, dengan wajah yang sedikit ketakutan.
"Jadi semenjak itu, kamu menutup wajahmu?" tanya Rayyan.
"Iya Mas" jawab Faizah mengangguk.
"Mulai sekarang, Mas lah yang akan menjagamu. Tidak akan Mas biarkan, orang lain menyakitimu" ucap Rayyan menatap wajah istrinya sendu.
Faizah tampak terharu, dan terpaku begitu saja, saat Rayyan mulai mendekatkan wajahnya, dan mengecup lembut ranum bibirnya.
Dia hanya dapat terpejam, dan membiarkan suaminya melakukan itu.
Dia merasakan desiran aneh, saat suaminya itu, terus saja menyesap bibirnya, yang selama ini belum pernah tersentuh sekalipun oleh lelaki lain.
Nafasnya mulai tersengal, dan mulai sedikit berani membalas kecupan suaminya itu.
Bahkan kini kedua tangannya, sudah memeluk dengan erat, tubuh tegap suaminya.
Merasa mendapatkan sinyal positif dari sang istri, Rayyan mulai berani melakukan lebih...
Hingga akhirnya, Faizah hanya dapat pasrah, saat sang suami mulai mengambil sesuatu, yang selama ini selalu dia jaga dengan baik.
"Bilang saja kalau sakit ya" bisik Rayyan, di telinga istrinya, yang sudah terlihat pasrah dalam kungkungannya.
Faizah hanya dapat menggigit bibirnya, saat Rayyan mulai melancarkan aksi nya.
Sudut netranya tampak basah, saat suaminya berhasil menembus apa yang selama ini dia jaga dan rawat dengan baik.
Rayyan segera mencium bibir sang istri lembut, agar rasa sakit pada istrinya, bisa teralihkan.
"Terimakasih Za, aku tak akan pernah bisa melupakan malam bersejarah kita ini.
Mulai malam ini, kamu seutuhnya sudah menjadi milikku sayang" ucap Rayyan, kemudian mengeratkan pelukannya, dan menyeka air mata istrinya, yang mulai menggenang.
-
-
-
-
-
Bersambung
__ADS_1