
3 tahun telah berlalu, Rayyan menjalani rumah tangganya bersama Faizah, gadis yang selalu sabar, dan tak banyak maunya.
"Sayang, entah mengapa, semenjak menikah dengan mu, hidupku menjadi lebih tenang, rizki kita juga berlipat-lipat" ujar Rayyan, yang tengah sibuk menulis undangan, untuk calon anak keduanya dari Faizah.
mereka akan mengadakan selamatan 4 bulan, untuk kehamilan Faizah.
Dea dan Aksa, tampak tengah bermain di halaman belakang, bersama adik kecil mereka, yang baru berusia 2 tahun.
Mereka tampak tertawa bersama. Bu Fatimah sendiri terlihat sedang menikmati teh nya, sambil mengawasi ke tiga cucunya.
"Itu semua dari Allah Mas, yang terpenting, jangan sampai kita lupa untuk bersyukur dan menyedekahkan sebagian harta kita, kepada yang membutuhkan.
Rayyan tersenyum, mendengar ucapan istrinya itu.
"Oh iya, bagaimana kalau selamatan cabang toko kita yang ke empat, kita ajak anak-anak yatim di panti asuhan, untuk jalan-jalan sayang, kita kemana gitu, sekalian liburan" ujar Rayyan, sambil masih terus menulis undangan.
Usaha Rayyan memang semakin maju, bahkan toko bangunannya kini sudah ada 4,
"Emm, bagaimana kalau Kita ajak mereka ke taman bermain Mas, pasti mereka akan sangat senang" jawab Faizah, tampak antusias.
Melihat ke antusiasan istrinya, Rayyan terkekeh.
"Sepertinya ada yang ngidam ke taman bermain ini??" ucap Rayyan, melirik istrinya, yang kemudian tersipu malu.
"Kenapa tidak bilang, kalau ingin ke taman bermain?" tanya Rayyan, kemudian memeluk istrinya itu.
"Aku takut mengganggu kesibukan Mas Rayyan" jawab Faizah, ter kikik geli, saat suaminya menciuminya, dengan kumis yang sudah mulai tumbuh.
"Mumpung masih pagi, ayo kita jalan bareng anak-anak. Kasihan adek bayi kalau terus di tunda" ujar Rayyan, membuat sang istri terbelalak senang.
"Beneran Mas?" tanya nya.
"Iya donk sayang, nanti kita ajak semuanya, juga Bik Surti, supaya bisa bantu gendong Humaira" ucap Rayyan.
"Makasih ya Mas" ucap sang istri senang. "Lain kali, jika menginginkan sesuatu, katakan saja terus terang, jangan di simpan sendiri yaa? pokoknya selagi Mas mampu, pasti akan Mas penuhi" ucap lelaki berpostur tinggi tegap itu, kembali mencium pipi istrinya.
*******
Sonia terlihat sedang melayani pembeli, sambil menggendong putrinya, yang baru berusia 3 tahun.
Gadis kecil itu, tak mau turun sejak pagi, karena sedang demam.
Galang sendiri hari ini juga sedang masuk kerja, shift siang, sebagai seorang satpam di sebuah pabrik.
Dia terpaksa menerima pekerjaan itu, karena tak ada satu perusahaan pun, yang bersedia mempekerjakannya.
setelah pembeli sepi, Sonia kemudian menutup warungnya itu, karena sudah sangat lelah.
Segera ia bawa putrinya itu ke kamar, dan membaringkan nya.
Peluh tampak membasahi kaus lengan pendeknya, yang ia kenakan.
Setelah memastikan putrinya tertidur, Sonia kemudian ikut berbaring, untuk melepas rasa penatnya, setelah mulai pagi berjualan.
Di ambilnya ponsel, yang sejak pagi tergeletak begitu saja.
Ponsel dengan merk mahal, pemberian mantan suaminya dulu itu, sampai saat ini, masih terus ia gunakan.
Begitu ponsel menyala, ada begitu banyak pesan yang masuk ke aplikasi perpesanan nya.
Salah satunya adalah undangan, dari mantan suaminya, untuk acara 4 bulan kehamilan Faizah, untuk anaknya yang kedua.
Rayyan memang masih tetap menjalin hubungan baik dengan mantan istrinya. Ia tidak memutus tali silaturahim mereka, karena ada anak-anak, yang harus mereka jaga perasaannya.
__ADS_1
Satu bulan sekali, Rayyan akan mengantar Aksa dan Dea, untuk menemui Mama mereka.
Rayyan sebenarnya begitu prihatin dengan kehidupan Sonia sekarang ini, yang harus bekerja keras, demi rumah tangganya.
Tak jarang, Rayyan masih memberikan sedikit bantuan kepada mantan istrinya. Tapi tentu saja, semua itu atas persetujuan Faizah, istrinya sekarang.
Faizah justru mendukung sikap sang suami. Dia selalu ikut, ketika suaminya mengantarkan uang, dan juga anak-anak untuk menemui Mamanya.
Sonia tampak mendengus kesal, melihat undangan dari mantan suaminya.
Hingga saat ini, ia masih merasa penuh sesal, karena telah mengkhianati suaminya, dulu.
Pernah beberapa kali, Sonia memohon kepada Rayyan, untuk menjadikannya sebagai yang kedua, asalkan bisa kembali bersama lagi.
Tapi tentu saja, Rayyan menolaknya, karena sudah ada Faizah, yang selalu mendampinginya.
Di saat ia sedang sibuk, mengingat masa lalunya, bersama sang mantan suami, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Dengan keluarga dari Bapak Galang?" sapa seseorang, dari seberang telepon.
"Iya, saya sendiri" jawab Sonia, tampak mengernyit.
"Maaf Ibu, dengan berat hati kami kabarkan berita ini kepada Ibu, langsung saja, saat ini Bapak Galang, sedang mengalami kritis di rumah sakit, karena mengalami cedera berat" ucap lelaki itu.
Sonia begitu terkejut mendengar kabar itu.
"Bagaimana bisa Pak? apa yang telah terjadi kepada suami saya?" tanya nya tampak panik.
"Suami ibu tadi mengalami kecelakaan, saat sedang bertugas, jadi kalau bisa, Ibu segera kemari saja" ucap lelaki itu, kemudian menutup sambungan telepon nya, setelah memberi tahu, lokasi rumah sakit, dan ruangan nya.
Setelah menitipkan putrinya, kepada tetangga yang biasa membantunya, Sonia pun segera menuju rumah sakit.
"Apa yang terjadi Mas!!" seru Sonia, begitu sampai di ruangan, tempat suami nya di rawat.
"Mohon maaf Bu, Pak Galang harus di amputasi kakinya, karena mengalami cedera berat. Mau tak mau, dokter harus mengamputasinya, supaya lukanya tidak semakin parah" ujar orang yang menjaga Galang.
Betapa setelah ini, beban hidupnya akan bertambah berat.
Perempuan yang sekarang terlihat lebih kurus, dengan daster lengan pendeknya itu, tampak menangis sesenggukan, di samping sang suami, yang masih belum sadar.
"Untuk masalah biaya rumah sakit, Ibu tidak perlu khawatir, karena pihak pabrik, sudah mengcover nya" ucap pria itu lagi, yang ternyata adalah utusan dari pabrik, untuk mengurus suaminya.
"Sekarang saya pamit dulu Bu, kalau ada apa-apa, hubungi saja no ini" ujarnya, kemudian menyerahkan sebuah kartu nama.
Sonia hanya mengangguk, kemudian duduk di samping sang suami, yang masih belum sadarkan diri itu.
Dipandanginya dengan rasa iba, wajah sang suami, yang penuh dengan perban di bagian kaki, dan juga beberapa tangan dan kepala nya itu.
Tak lama kemudian, Galang sudah sadar.
"Aku dimana Nia?" ujarnya, begitu melihat wajah sang istri, yang sedang duduk menunggui nya.
"Kamu ada di rumah sakit Mas" jawab Sonia, tampak menahan tangis nya.
"Aww, sakit sekali rasanya kakiku Nia!" ujar lelaki bertubuh besar itu, mencoba meraba kakinya, yang terasa panas terbakar.
" Aaaaapa ini, Nia, kenapa dengan kakiku Nia!!" seru Galang terlihat panik, saat menyadari, kaki sebelah kirinya, sudah tidak ada mulai dari batas lututnya.
Sonia tak menjawab, justru malah menangis sesenggukan.
"Nia, kenapa dengan kakiku Nia!!!" teriak Galang lagi, merasa begitu marah dan terpukul, saat dia kemudian ingat, bahwa siang tadi, dia kecelakaan, ketika hendak mengantarkan surat, yang di berikan oleh Bosnya, kepada salah satu perusahaan milik pabrik, tempat dia bekerja.
*************
__ADS_1
"Mbak Sonia kenapa tidak datang, ke acara kita ya Mas?" tanya Faizah, kepada sang suami, begitu acara telah selesai.
Acara selamatan itu, berjalan dengan lancar, hampir semua undangan datang, mengikuti prosesi pengajian, yang di adakan.
"Mungkin dia sedang sibuk, sayang" jawab Rayyan, sambil beristirahat di kamar, bersama istrinya.
"Tidak biasanya Mas, biasanya dia begitu antusias, selalu hadir, pada acara yang selalu kita adakan" ucap Faizah lagi.
"Mungkin dia sedang sibuk sayang, atau bisa saja lupa" ujar Rayyan, juga merasa sedikit aneh.
Karena biasanya, mantan istrinya itu, tak pernah melewatkan momen-momen, supaya bisa bertemu dengan kedua anaknya.
Bahkan pesan yang dia kirimkan, juga tidak di balas, oleh mantan istrinya itu.
"Apa Izza telpon aja ya Mas, tadi Dea dan Aksa, menanyakannya" ujar Faizah, menatap wajah sang suami.
"Terserah kamu sayang""jawab Rayyan.
****
"Ya Allah, jadi suami Mbak Sonia sekarang sedang di rawat di rumah sakit?" seru Faizah, begitu terkejut, saat mendengar jawaban Sonia dari seberang telepon.
"Di rumah sakit mana Mbak, biar kami kesana, untuk menjenguk" tanya Faizah.
"Baik Mbak, Insya Allah kami kesana ya" ujar Faizah, sambil menatap wajah suaminya.
"Ada apa?" tanya Rayyan, tampak mengernyit.
"Eem, suami Mbak Sonia, mengalami kecelakaan, dan sekarang ada di rumah sakit" jawab Faizah.
"Kita jenguk mereka ya Mas" ucap Faizah lagi, saat melihat suaminya hanya diam saja, tak merespon.
Rayyan tampak menghembuskan nafas nya pelan.
Selama ini, memang istrinya lah, yang bisa membuatnya memaafkan kesalahan mantan istrinya itu.
Faizah selalu mengingatkan dirinya, untuk berbuat baik kepada mantan istrinya.
"Biar bagaimanapun, Mbak Sonia sudah berjasa kepada mu Mas, dia sudah memberikan Mas anak, Dea dan Aksa" ucapnya lembut, saat Faizah, menyuruhnya menyisihkan sedikit rizki nya, untuk Sonia.
"Di rumah sakit mana mereka?" tanya Rayyan kemudian.
"Rumah sakit umum Mas" jawab Faizah.
*********
"Jadi sekarang suamimu hanya punya satu kaki Sonia?" tanya Rayyan, menatap iba, pada Galang, yang tengah tertidur, setelah tadi di berikan obat penenang, oleh dokter.
"Iya Mas" jawab Sonia, masih menangis, dengan tersedu.
Rayyan tampak trenyuh, melihat mantan istrinya itu menangis seperti itu.
Faizah memeluk Sonia, dan menghiburnya.
"Ada Allah yang akan menjaga dan membantu Mbak, banyak-banyak lah bertawakal kepada Nya" ucap Faizah.
"Terimakasih Mas, Izza, karena sudah menjenguk suamiku" jawabnya.
"Sama-sama Mbak, jika ada yang bisa kami bantu, Mbak bilang saja. Insya Allah kami akan bantu" ucap Faizah lagi, membuat Sonia merasa bersalah, karena selama ini, dia sudah diam-diam, meminta Rayyan, untuk rujuk, walaupun harus menjadikan nya, sebagai yang kedua.
"Terimakasih Za, terimakasih" ucap Sonia, sambil sesekali melirik ke arah mantan suaminya.
'Pantas saja Mas Rayyan begitu mencintaimu Za...' bisiknya dalam hati, sambil memeluk istri dari mantan nya itu....
__ADS_1
Bersambung
Satu part lagi tamat.