
"Ceritakan pada ibu Nak, apa yang telah terjadi?" tanya ibu Rayyan, dengan wajah yang mulai sembab.
Rayyan belum mau menjawab, dia masih tergugu menangis seperti anak kecil, di pangkuan ibunya.
Bu Fatimah yang melihat putranya begitu rapuh, tak kuasa menahan air matanya. Hingga tiba-tiba, ada orang mengucap salam di depan.
"Assalamu'alaikum!!"
Bu Fatimah segera mengusap air matanya, "Ada tamu Nak, biar ibu lihat dulu, siapa yang datang" ucapnya, kemudian Rayyan pun bangun dan menuju kamar mandi.
"Waalaikumussalam.." jawab bu Fatimah, segera membuka kan pintu.
"Buk.." sapa Ferdi dan Lely, segera mencium tangan bu Fatimah.
"Loh, ini kan Om dan Tantenya Sonia ya?" tanya Bu Fatimah mengernyitkan dahinya.
"Iya bu, Rayyan ada disini ya bu?" tanya mereka kemudian.
Bu Fatimah hanya dapat mengangguk pelan.
"Ya sudah, ayo silahkan masuk dulu" ajak bu Fatimah.
Mereka pun kemudian masuk, dan segera duduk di ruang tamu, yang terlihat sejuk karena banyak tanaman hias di dalam nya.
"Biar ibu panggil dulu Rayyan nya yaa" pamit bu Fatimah, segera masuk kedalam.
"Rayyan," panggil wanita paruh baya itu, melongok kan kepalanya ke kamar, yang biasa ditempati oleh putranya itu.
Rayyan yang sedang duduk di pinggiran ranjang, segera menoleh pada sang ibu.
"Ada Om dan Tante Sonia di depan" ucap Bu Fatimah, memberi tahu.
Rayyan hanya diam, tak menyahut, dan tetap pada posisinya semula.
"Temuilah Nak, selesaikan dengan baik-baik" nasihat sang ibu, dengan suara serak.
Rayyan tampak mendesah pelan, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Bu Fatimah segera ke dapur, "Mbok, bikinkan teh dua ya, bawa ke depan" perintahnya kepada mbok Nah, yang sedang membersihkan dapur.
"Nggih bu" jawabnya, dan segera melakukan, apa yang di perintah kan oleh majikannya.
Bu Fatimah, lantas segera kembali ke depan, untuk menemani putranya.
Rayyan tampak duduk berhadapan dengan keluarga Sonia.
"Tolong jelaskan kepada kami Rayyan, kenapa tiba-tiba, kamu mengembalikan dan menceraikan Sonia begitu saja?" tanya Lely, yang terlihat sudah tak sabar, untuk mengetahui duduk persoalan nya.
"Apakah Om danTante tidak menanyakannya pada Sonia?" tanya Rayyan balik.
"Dia tidak mau buka mulut sama sekali Ray, dia bahkan mengunci pintu kamar nya" keluh Ferdi, terlihat kesal.
"Jadi tolong katakan kepada kami Ray, supaya kami bisa bersikap, dan ibu juga tak bertanya-tanya terus" tutur Lely menambahkan.
Bu Fatimah tampak menatap wajah putranya itu, dan mengangguk, meminta putranya itu, untuk bercerita.
"Sebenarnya, ini juga salah ku, kenapa waktu itu, aku mengizinkan Sonia untuk bekerja" ucap Rayyan mengawali penjelasannya.
__ADS_1
"Dan kini, semuanya sudah terlambat, Sonia telah berselingkuh dengan teman kerjanya" ungkap Rayyan, dengan suara yang berat.
Semuanya tampak terkejut, tapi mereka hanya bisa diam.
"Jadi, aku pikir, tak ada lagi gunanya melanjutkan rumah tangga ini, jika salah satu sudah tak lagi sejalan" ucap Rayyan lagi, sembari meraup wajahnya kasar.
"Tapi Ray, tak bisakah kamu memaafkan Sonia kembali? Jika kalian berpisah, apa kata anak-anak, nantinya?" ucap Lely, berharap keponakan nya bisa berdamai.
Rayyan menggeleng keras, "Maaf, aku tidak bisa lagi" jawab Rayyan tegas.
"Tapi kenapa Ray? Mungkin mereka waktu itu sedang khilaf, dan tak bermaksud untuk berselingkuh" ucap Lely, masih berusaha membujuk.
"Atau jangan-jangan, kamu juga sudah ada wanita lain? Makanya kamu begitu ngotot untuk menceraikan Sonia?
Walaupun Sonia berselingkuh, tapi Tante yakin, mereka tak kan berani berbuat terlalu jauh.
Mungkin mereka hanya sedang merasa jenuh, dan mencari hiburan!" ucap Lely berspekulasi.
"Iya Nak, apa yang di katakan Tante mu itu benar, apalagi ada Dea dan Aksa diantara kalian. Mereka pasti akan sangat sedih, melihat kedua orangtuanya berpisah seperti ini " nasihat bu Fatimah, juga tak setuju anaknya berpisah.
Rayyan tampak menatap nanar, ke Om dan Tantenya itu.
"Tadi pagi, aku sudah memergoki mereka berdua, sedang berzina di sebuah cottage pinggir pantai, di perbatasan kota!
Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, jika Sonia tengah memadu kasih, di sebuah kamar tanpa busana bersama lelaki lain!!
Lalu apakah aku bisa menerima kembali, perempuan seperti dia sebagai istri, dan ibu untuk anak-anakku??!!" seru Rayyan, dengan nafas tersengal.
Semua yang ada di ruangan itu terbelalak, tak percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh Rayyan.
"Kamu jangan mengada-ada Ray, Sonia tak mungkin berbuat seperti itu" ucap Lely dan Ferdi tak percaya.
"Keponakan kami tak mungkin berbuat sejauh itu" ucap mereka terlihat shock.
"Ini, kalian lihat sendiri jika tidak percaya, bahkan Sonia melakukan hal itu, tidak hanya sekali!" ucap Rayyan, kemudian menunjukan video perselingkuhan istrinya, kepada mereka.
Setelah melihat video itu, Lely dan Ferdi tampak sangat geram, sekaligus malu.
"Maafkan keponakan kami Ray, kami minta maaf " ucapnya dengan mulut yang bergetar.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Assalamu'alaikum " pamit keduanya, dengan terburu-buru.
"Waalaikumussalam"....
*************
"Iya sayang, kamu tenang ya, Mas janji akan segera menikahimu" ucap Galang melalui telepon seluler nya.
Sarah sang istri, yang sudah mulai curiga dengan gelagat sang suami akhir-akhir ini, tampak bersembunyi dibalik pintu, menguping pembicaraan suaminya itu.
"Iya sayang, kamu yang sabar ya" ucapnya lagi, sedikit berbisik.
Setelah Galang menutup telepon nya, Sarah segera berpura-pura duduk di ruang tamu, sambil membaca sebuah majalah.
"Baru pulang Mas?" sapa Sarah, begitu Galang masuk kedalam.
"Eh, iiiya dek" jawabnya terlihat gugup, tak menyangka jika sang istri ada disana.
__ADS_1
Sarah segera mendekati suaminya itu, dan menatap tajam wajahnya.
"Kenapa dengan mukamu Mas? Kok lebam-lebam gitu?" tanya Sarah penasaran..
"Ooh, ini tadi aku di keroyok preman sayang" jawab Galang beralasan.
Sarah tampak mengelus perutnya yang sudah membuncit besar
"Ya sudah, istirahat lah Mas" ucap Sarah tampak dingin.
'Aku harus bisa mencari tahu, siapa wanita yang sudah berani mengganggu rumah tanggaku' batin Sarah, kemudian mengikuti suaminya, masuk ke kamar.
Karena malam sudah larut, Galang langsung tertidur, setelah menyambungkan ponselnya pada kabel charger.
Hal itu tak di sia-siakan oleh Sarah, dia segera membuka ponsel suaminya, karena kebetulan, dia sudah tahu kata sandinya.
Segera di periksanya riwayat panggilan masuk dan keluar, aplikasi hijau juga tak luput dari perhatian nya.
Hinggga kemudian dia menemukan riwayat perpesanan suaminya, yang terlihat begitu mesra.
Sarah segera mencatat nomor perempuan itu, ke ponselnya sendiri.
Sarah juga tampak terbelalak, saat melihat sebuah foto yang sangat mesra, antara suaminya, dengan seorang perempuan- muda, yang terlihat cantik.
Sarah mengepal kan tanganya.
"Jadi ini, hasil dia bekerja di luaran sana?" geram Sarah, sembari memandang lekat wajah suaminya, yang sedang tertidur.
'Aku biayai hidupnya selama ini, aku modali penampilan nya, supaya selalu terlihat bergaya, tapi ternyata seperti ini kelakuan nya, dibelakangku??" geram Sarah terlihat sangat marah.
Segera ia usap perutnya, yang tiba-tiba terasa kram. Sarah segera duduk, dan mengambil nafas dalam-dalam, untuk mengurangi rasa nyeri yang menjalar pada perutnya.
"Kuatkan ibu Nak" bisiknya, sambil terus, mengelus perutnya.
"Aku harus bertindak cepat, sudah sejauh mana hubungan mereka?" ucap Sarah bermonolog.
'Sebaiknya aku minta bantuan seseorang, rasanya tidak mungkin, di kondisiku yang seperti ini, menyelidiki mereka...
Tapi jika membaca percakapan mereka, aku yakin, hubungan mereka sudah sangat jauh'
Sarah kemudian segera mengambil ponselnya sendiri, dan menghubungi seseorang, untuk dia mintai pertolongan mengumpulkan bukti.
"Tunggu kejutan dariku Mas, kau sudah berani mempermainkan aku, maka nikmatilah nanti, konsekuensinya " bisik Sarah, menatap wajah suaminya yang tertidur.
Sarah kemudian memilih keluar dari kamar, dan menuju kamar ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.
Sarah menatap sendu wajah putra putri nya itu,
"Bagaimana nanti jika kami berpisah? Tapi aku juga tak mungkin membiarkan, jika anak-anakku mempunyai Ayah yang berbuat zina, jika seandainya itu benar" bisik Sarah.
Kalau untuk urusan materi, Sarah tak kan khawatir, dia mempunyai beberapa usaha yang kini sedang di jalankan nya.
Apalagi, usahanya sekarang, sedang berkembang dengan sangat pesat. Gaji dari suaminya yang tak seberapa itu, ia tak pernah memintanya.
Justru sang suami, yang sering meminta uang kepada nya, untuk membeli barang-barang, demi menunjang penampilan, dalam karier nya.
"Aku ingin tahu, sejauh mana kamu bisa bertahan, tanpa aku Mas" ucap Sarah tersenyum getir.
__ADS_1
Bersambung