
Sonia terlihat begitu terpukul, saat melihat jenazah ibunya mulai di kafani.
Dia terus saja menangis, sambil memohon ampun kepada sang ibu, yang kini sudah terbujur kaku, tak bergerak lagi.
Rayyan dan keluarganya, segera mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Sonia.
Kemudian mereka semua duduk di dekat jenazah, untuk ikut membacakan yasin dan tahlil.
Bahu Sonia tampak berguncang hebat, saat sang ibu, kini mulai di masukkan ke dalam keranda, untuk segera di sholatkan.
Rayyan yang melihat itu, sebenarnya sungguh tak tega, ingin sekali dia memeluk dan menenangkannya, seperti yang biasa dia lakukan, ketika isterinya itu bersedih.
Namun lagi-lagi, kelebat memori sang istri yang tertangkap berselingkuh, membuatnya tak bergeming di tempat duduknya.
Rayyan dan keluarga, ikut mengiringi jenazah hingga ke makam, Rayyan bahkan ikut memikul keranda mantan ibu mertuanya itu.
Walau bagaimana pun, baginya, bu Sari adalah sosok ibu mertua yang sangat baik. Bu Sari begitu menyayanginya dan anak-anak.
Seringkali bu Sari lebih membelanya, ketika sedang berseteru dengan sang istri.
'Maafkan aku bu, karena tak bisa menjadi suami yang baik, untuk putri ibu' bisik Rayyan dalam hatinya.
Setelah acara pemakaman selesai, Rayyan kembali ke rumah mantan istrinya, untuk berpamitan terlebih dahulu.
Sonia yang melihat sosok Rayyan, segera berlari, dan memeluk kaki suaminya erat.
"Ampuni aku Mas!!, tolong terima aku kembali, jangan Mas ceraikan aku..huhuhu... " tangis Sonia pecah.
Kedua anak nya yang melihat ibunya seperti itu, tampak terheran-heran.
"Mama kenapa menangis, ayo ikut pulang bareng kita" ucap Dea dan Aksa, ikut berjongkok di sebelah Mamanya.
Bu Fatimah yang melihat itu, tak kuasa menahan tangis nya.
"Dea, Aksa, ayo kita masuk ke mobil dulu Nak, biarkan Mama Papa kalian, berbicara dulu" ajak bu Fatimah, kepada kedua cucunya itu.
"Ibu, tolong terima Nia lagi bu, bujuk Mas Rayyan, supaya memaafkan aku" hiba Sonia, kemudian memegangi ujung gamis, yang dikenakan oleh ibu mertuanya itu.
"Maafkan ibu Nia, ibu tidak mau ikut campur urusan kalian berdua, sekali lagi, maafkan ibu" ucap bu Fatimah, kemudian bergegas pergi, menggandeng kedua cucunya, yang masih terus menatap iba sang Mama.
"Lepaskan aku Nia, aku sudah memaafkanmu. Tapi maaf, aku tidak bisa, jika harus kembali lagi kepadamu.
Hatiku terlanjur sakit, bahkan mungkin sudah hancur ber keping-keping, karena perbuatan mu itu.
Jadi maafkan aku, kita akan segera bertemu lagi di pengadilan" ucap Rayyan, kemudian melepas pegangan Sonia, dari kedua kakinya, dan pergi dari situ dengan langkah tergesa.
"Mas!! Mas Rayyan!! Jangan tinggalkan aku Mas!" pekik Sonia, menangis tersedu.
Orang-orang yang melihat itu, dan mengetahui kejadian yang sebenarnya, tampak mencibir, dan menggunjing Sonua, karena telah berbuat hal yang tidak baik.
"Kasihan bu Sari, dia pasti begitu tertekan dengan perilaku anaknya, sampai akhirnya meninggal secara mendadak seperti ini" ujar salah satu warga, sambil menggunjingkan perilaku Sonia.
Tante Lely segera membawa Sonia ke kamarnya, karena malu mendengar gunjingan para warga..
*****
"Nak, jadi bagaimana nasib rumah tangga mu setelah ini?" tanya bu Fatimah pada putranya.
"Aku akan segera mendaftarkan nya ke pengadilan bu" jawab Rayyan, masih terlihat sedih.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak? Mereka masih sangat membutuhkan sosok ibunya" ucap bu Fatimah sendu.
"Meskipun membutuhkan ibu, tapi bukan seorang ibu yang suka berzina seperti Sonia" jawab Rayyan dingin.
Bu Fatimah hanya dapat mendesah pelan, melihat putranya itu.
__ADS_1
Rayyan kemudian masuk, tak mau melanjutkan percakapan nya, dan menuju kamar anak-anak, untuk melihat keadaannya.
Anak-anak tampak tertidur dengan pulas, bersama Faizah, yang juga teridur di sebelah mereka.
Rayyan mengurungkan niatnya untuk masuk, begitu melihat Faizah yang juga tertidur di situ.
Ia pun kemudian segera kembali menuju kekamarnya, untuk mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya, yang lelah.
*****
"Papa, Mama kenapa tidak ikutan kita disini? Dea kangen sama Mamah" ucap Dea pagi itu, saat mereka sarapan bersama.
"Aksa juga kangen Mamah""ucap si kecil, mengikuti ucapan sang Kakak.
"Mamah masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi kalian sabar yaa" ucap Rayyan, dengan hati yang teriris.
"Untung kita ada Tante Faizah, yang pinter mendongeng dan memasak" ucap Aksa sambil memakan ayam goreng kesukaan nya.
Mendengar itu, Rayyan tampak tertarik.
"Oh ya? Memang nya Tante Faizah mendongeng apa?" tanya Rayyan penasaran.
Rasanya aneh, mendengar Aksa berkata, jika Faizah pandai mendongeng. Sedangkan selama ini, dia hampir tak pernah mendengar suara gadis itu berbicara.
"Macam-macam Pah, tadi malam mbak Faizah bercerita tentang ibundanya Nabi Muhammad, ternyata nbi Muhammad itu mulai kecil sudah tidak punya Ayah dan ibu, Aksa jadi sedih dengernya...
Aksa jadi takut, kalau tidak punya Ayah dan ibu" ucap anak berusia 5 tahun itu polos.
Lagi-lagi Rayyan menghela nafas nya pelan.
"Tapi kan walaupun nabi Muhammad tidak punya Ayah dan Ibu, tapi nabi Muhammad akhirnya jadi orang yang hebat, dek" sela Dea kemudian meminum susu hangat nya.
"Terus, kata mbak Faizah, kita harus mencintai nabi Muhammad, karena nabi Muhammad itu, sudah mengajari kita, menjadi orang yang baik" lanjut Dea lagi.
"Papah, kata mbak Faizah, mbak Faizah itu punya cita-cita lo" tutur Aksa.
"Apa cita-citanya?" tanya Rayyan.
"Katanya, kepengen banget bawa Ayah dan ibunya, ke rumahnya nabi Muhammad" ucap Aksa dengan gayanya yang lucu.
"Memangnya rumah Nabi Muhammad itu jauh ya Pah?" sambung Dea.
"Ya jauh nak, kita harus naik pesawat, jika ingin kesana" tutur Rayyan.
"Pantas saja, mbak Faizah walaupun tidak sampai lulus sekolah, sudah bekerja cari uang. Ternyata biar bisa bawa Ayah dan ibunya ke rumah nabi Muhammad" ujar Dea lagi, manggut-manggut.
"Ayah, Aksa juga mau, kerumah nabi Muhammad, Ayah kan uangnya banyak!" seru Dea girang.
Tess....hati Rayyan seakan tercubit keras, mendengar penuturan anak-anak nya itu.
Sampai saat ini, dia bahkan belum ada keinginan untuk melaksanakan ibadah yang menjadi rukun islam ke lima itu.
'Ya Allah, padahal aku sangat mampu untuk itu, tapi kenapa aku bahkan tak terbersit untuk melakukan nya' batin Rayyan, merasa menyesal.
Bahkan ibunya, juga belum melakukannya.
Ibunya memang sudah mendaftar, tapi belum juga berangkat, karena kendala pandemi.
"Papah kok malah melamun, ntar kesambet loh" seru Dea, mengagetkan ayahnya.
"Eh, siapa yang bilang kayak gitu?" tanya Rayyan, entah mengapa, dia merasa jika anak-anaknya menjadi lebih dewasa sekarang.
"Kata Mbak Faizah!" jawab mereka kompak.
Faizah yang sedang mencuci piring, sampai menoleh, saat namanya tiba-tiba di sebut.
__ADS_1
Rayyan melirik Faizah, yang ternyata juga sedang menoleh ke arah mereka, sehingga tanpa sengaja, pandangan mereka pun bertabrakan.
Faizah segera mengalihkan pandangan nya, dan meneruskan pekerjaan nya kembali.
'Ya Allah, ternyata Faizah telah mengajarkan banyak hal, kepada anak-anakku' batin Rayyan, mengulum senyumnya.
**********
Rayyan kini telah resmi melayangkan surat perceraian nya, kepada Sonia.
Sebagai harta gono-gini, dan rasa terimakasih nya kepada Sonia, karena telah memberinya dua anak kepadanya, Rayyan, akan memberikan rumah yang selama ini merekatinggali, kepada Sonia.
Jadi hanya rumah itu saja yang diberikan oleh nya, beserta dengan mobil, yang biasa Sonia gunakan.
Biarlah, setelah ini, dia akan tinggal dulu di rumah ibunya, lagipula, ibunya juga hanya tinggal seorang diri di rumah itu.
Dulu Sonia nenentang keras, ketika dia ingin mengajaknya tinggal bersama sang ibu.
Sonia beralasan, ingin hidup mandiri saja, dan mengatur rumah tangga nya seorang diri.
'Sonia...andai kau tak berkhianat, tentu kita masih hidup bahagia bersama' batin Rayyan perih....
********
Hari ini Rayyan akan pergi ke luar kota, karena ada urusan pekerjaan.
"Titip anak-anak Zah, mungkin saya akan pergi selama 3 hari, selama saya tidak ada, jangan perbolehkan, Mamanya anak-anak, memvawa mereka pergi dari rumah ini, tanpa seizinku" ucap Rayyan pagi iti kepada Faizah.
Seperti biasa, Faizah hanya akan mengangguk, tanpa mengatakan apapun.
Dan tentu saja, masih tetap dengan maskernya, yang selalu menutupi, sebagian wajahnya.
"Titip anak-anak ya bu" ucap Rayyan, berpamitan pada sang ibu.
"Tentu saja Nak, kamu hati-hati disana, selalu kirim kabar, kalau ada apa-apa" ucap sang ibu, dengan pandangan yang sendu.
Karena bu Fatimah tahu, luka hati yang di alami oleh putranya, masih menganga lebar, oleh karena itulah, Rayyan, ingin menyendiri dulu, ke tempat lain, dengan alasan pergi ke luar kota.
Bu Fatimah, sudah paham itu, jadi dia tak banyak bertanya, pada putranyanya itu.
*********
Selama Rayyan tak ada, beberapa kali, Sonia datang mengunjungi anak-anaknya.
Sempat dia meminta izin kepada mantan mertuanya, untuk membawa anak-anak jalan-jalan.
Tapi tentu saja, bu Fatimah tak mengijinkan, dia takut, Sonia akan membawa kabur kedua cucunya.
Malam itu Rayyan pulang, tanpa memberikan kabar.
Malam sudah sangat larut, saat pak Min membukakan nya pintu gerbang.
Setelah membersihkan tubuhnya, Rayyan segera menuju kamar anak-anak, karena ibunya juga sudah tidur.
Betapa terkejutnya Rayyan, saat mendapati seorang gadis dengan wajah yang sangat cantik, dengan rambut panjangnya, yang tergerai, tengah tidur di samping anak-anaknya.
'Ya Allah, siapa gadis cantik ini?' batin Rayyan, sembari mengamati wajahnya, yang tengah terlelap, hidungnya yang bangir, kelopak matanya yang lebar, dengan bulu mata yang begitu cantik, bibirnya yang merah merona alami, tanpa polesan.
'Ya Allah, mungkinkah ini adalah Faizah?' batin Rayyan, begitu terkesima, dengan wajah gadis di hadapannya itu.
Saat dirinya tengah mengamati wajah gadis itu, tiba-tiba saja gadis yang ternyata adalah Faizah itu, membuka matanya lebar.
Keduanya tampak sama-sama terkejut...
"Pak Rayyan" ucap Faizah, segera memasang kerudungnya dengan cepat.
__ADS_1
****bersambung ****