
Rayyan yang juga terkejut, segera mengendalikan situasi.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu ada disini" ucap Rayyan, kemudian buru-buru keluar dari kamar itu, dengan perasaan tak karuan.
Faizah sendiri juga masih terlihat gugup, dan kaget.
Gadis dengan wajah khas timur tengah itu, segera mengenakan kerudung dan maskernya kembali.
Hatinya masih terasa berdebar keras, karena rasa kagetnya tadi.
Rayyan tampak termangu di kamarnya. Dia masih belum mempercayai, dengan apa yang dia lihat barusan.
Faizah yang selalu mengenakan pakaian serba longgar dan polos itu, ternyata mempunyai wajah yang begitu cantik.
Tapi kenapa Faizah selalu menutupi kecantikannya dengan terus mengenakan masker?
Tak ingin kah dia, menunjukkan kecantikannya yang begitu alami itu ke semua orang?? Seperti yang biasa di lakukan oleh perempuan-perempuan di luaran sana? ?
Pikiran Rayyan terus berkecamuk, dia jadi merasa aneh, kenapa gadis secantik Faizah, lebih memilih menjadi seorang asisten rumah tangga?
Padahal wajahnya begitu cantik..
Setelah melihat wajah Faizah yang tanpa masker seperti biasanya itu, Rayyan jadi tak dapat memicingkan matanya.
Entah kenapa, wajah Faizah tadi, jadi tak dapat menghilang dari pelupuk matanya.
"Astaghfirullah" ucapnya lirih, sembari mengusap wajahnya kasar.
'Ternyata benar kata pepatah, jika mata adalah anak panah nya syetan'
Nyatanya, setelah melihat wajah cantik Faizah, Rayyan jadi tak dapat memejamkan mata.
"Siapa sebenarnya gadis itu? dia tidak seperti gadis-gadis pada umumnya" bisik Rayyan.
"Lebih baik, besok aku tanyakan saja pada Mbok Nah. Aku jadi penasaran pada gadis itu" gumam Rayyan, tersenyum-senyum sendiri, masih terbayang wajah Faizah, yang terkejut tadi.
Keesokan harinya, seperti biasa, Faizah sudah terlihat repot membantu bu Fatimah, menyiapkan sarapan untuk semua orang.
Apalagi mbok Nah hari ini ijin, karena ada acara di kampung, jadi selama satu minggu ini, Faizah akan mengerjakan semuanya sendiri.
Walaupun sebenarnya, bu Fatimah, ibu Rayyan memasak sendiri, namun untuk pekerjaan yang lain, Faizah lah yang mengerjakan.
Rayyan yang baru keluar dari kamarnya, tampak iba melihat Faizah, yang sedang mengelap keringatnya, yang menetes dari dahinya, ketika sedang mengepel, di sambi mencuci pakaian, yang masih di giling.
Gadis itu terlihat sangat cekatan dalam mengerjakan tugasnya.
Aksa dan Dea yang baru bangun, segera berteriak memanggil Faizah.
Melihat situasi itu, Rayyan akhirnya menghampiri kedua anaknya itu.
"Mandi sama Papa yuk, setelah itu, ikut Papa jalan-jalan" rayu Rayyan, supaya kedua anaknya mau.
"Horee!!" seru keduanya girang.
"Tapi ajak mbak Faizah juga ya Pah!!" seru keduanya lagi, membuat Faizah datang tergopoh, menghampiri mereka.
"Biar sama saya saja, Za" ucap Rayyan..
Faizah pun mengangguk patuh, dan kembali ke belakang.
"Mbak Faizah!!" panggil Dea, menghentikan gadis berkerudung lebar itu, dan segera menoleh.
"Setelah ini, ikut jalan-jalan bareng kami ya!!" seru gadis cilik itu, dengan mata berbinar.
Rayyan tampak terkejut, mendengar ajakan putrinya, pada Faizah.
__ADS_1
Faizah menatap ke arah Rayyan, yang tampak kebingungan.
"Mbak Faizah buruan mandi!" seru Aksa.
"Bersiaplah Za, nanti ibu juga ikut kok" ucap Rayyan akhirnya.
Faizah hanya mengangguk, lalu pergi.
"Anak-anak, emangnya mbak Faizah gak pernah ngomong ya kalau dirumah, Papa kok gak pernah denger suaranya" tanya Rayyan, merasa penasaran, dengan suara gadis itu.
"Papa gimana sih, kan Dea kemarin udah cerita, kalau mbak Faizah suka mendongeng.
Memangnya, kalau mendongeng itu, bisa gak pake suara??" tanya Dea keheranan.
"Bukan begitu maksud Papa sayang, hanya saja, Papa memang beneran, gak pernah dengar suaranya mbak Faizah" jawab sang Papa, menjelaskan.
"Aneh, padahal mbak Faizah, kalau sama kita suka ngajakin ngomong tuh Pah" ucap Dea, menanggapi penuturan sang ayah.
"Mungkin mbak Faizah malu sama Papa" celetuk Aksa.
Rayyan termangu sejenak, kemudian segera mengajak kedua anaknya mandi.
"Memangnya kita mau jalan-jalan ke mana sih Pa? Mama gak ikut ya?" tanya Dea.
"Mama sibuk sayang, kita akan jalan-jalan ke kebun binatang, mau??" tanya Rayyan, sambil menyabuni tubuh Aksa.
"Asyikk, mau Pa, sudah lama sekali, tidak pernah ke kebun binatang" sambut keduanya senang.
********
Galang yang sudah sembuh dari luka-lukanya, akibat pukulan dari abang-abang Sarah, tampak termangu di rumah kedua orangtuanya.
Galang terpaksa pulang, karena rumah yang selama ini dia tempati, bersama istri dan anak-anaknya, di gembok dari luar.
Ia tak dapat berbuat apa-apa, karena memang rumah itu, adalah milik Sarah.
"Makanya, sudah enak hidup bareng anak sama istri, kenapa masih main perempuan, di luaran sana!!" maki bu Resti kesal.
"Kalau sudah seperti ini, siapa yang susah?? bukan cuma kamu saja! Ayah dan Ibumu ini juga susah, ngerti!!" umpat sang ibu lagi.
Galang hanya diam, sambil memandang ke arah halaman rumah orangtuanya yang lebar.
Anak-anak kecil, tampak asyik bermain di halaman itu.
Dia jadi teringat ke tiga putranya, dan calon bayi, yang sekarang masih ada di dalam perut Sarah.
Di pandanginya lagi, surat gugatan perceraian, yang baru dia terima tadi.
Secepat itu, Abang-abang Sarah bergerak, tanpa menunggu waktu lama, dia sudah menerima surat itu.
Keluarga Sarah, memang keluarga terpandang. Mempunyai banyak relasi dan kenalan dimana-mana.
Bahkan dirinya bisa cepat, menjadi seorang ASN, itu juga karena campur tangan dari Abang Sarah yang tertua.
Kali ini Galang sudah pasrah, jika setelah ini, dia akan di pecat secara tidak hormat, oleh pihak kantor.
Pagi tadi dia juga menerima kabar, jika Sarah sudah dibawa ke rumah sakit, untuk persiapan melahirkan.
Galang begitu sedih, karena dia tidak di perbolehkan hadir, ke rumah sakit, untuk menemani Sarah melahirkan anaknya yang ke empat, yang di prediksi oleh dokter, berjenis kelamin perempuan.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, supaya rumah tangga ku, baik-baik saja??" keluh Galang, meratap pilu.
Tak lama, ponsel yang sedang ia pegang itu, tiba-tiba berbunyi.
"Sonia??" gumam Galang, kemudian segera menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Ya Sonia?" jawab Galang, tampak tak bersemangat.
"Jadi kita sudah di pecat ya?" ucap Galang lagi.
"Kamu hamil??" tanya Galang lagi, tampak kaget.
"Iya, baiklah, sore nanti aku akan menemui keluargamu" jawab Galang, kemudian menutup teleponnya.
"Siapa Lang?" tanya bu Resti, yang tak sengaja mendengar percakapan anaknya.
Galang tak menjawab. Lelaki itu malah segera menyalakan sebatang rokok, dan segera mengisapnya.
Bu Resti, tampak semakin kesal melihat ulah anak semata wayangnya itu.
"Pasti perempuan itu ya!!" tebak sang ibu ketus.
"Dia hamil bu" jawab Galang, tanpa menatap wajah sang ibu.
"Galang akan segera menikahinya, dan membawanya kemari" ucap Galang, tanpa meminta persetujuan ibunya.
Sang Ayah yang baru datang dari ladang, sama sekali tak mau menatap wajah putra nya itu.
Pak Romli begitu kecewa kepadanya, anak yang selama ini dia banggakan, tiba-tiba saja kini seakan melemparkan kotoran, ke wajahnya.
Banyak sebagian dari para tetangga, yang sudah mendengar kabar memalukan itu.
Membuat Pak Romli dan Bu Resti, sangat malu.
Keluarga Galang yang cukup terpandang di desanya itu, kini tengah menjadi buah bibir, dan sorotan, dari warga.
Bu Resti kemudian menyusul suaminya, masuk ke kamar, dia merasa malas, berlama-lama, berhadapan dengan putranya.
*******
"Kalian saja yang berangkat, Ibu dirumah saja, karena kebetulan ibu sudah ada janji dengan bu Rt, untuk berangkat ke pengajian, di tetangga desa, bareng" ucap bu Fatimah, menolak permintaan anak dan cucunya.
"Faizah ajak saja, supaya bisa jaga Aksa dan Dea" ucapnya lagi.
Rayyan pun akhirnya berangkat tanpa bersama sang ibu.
Faizah yang mengenakan pakaian biru dongker, di padukan dengan kerudung yang senada, tampak sudah siap.
Tak lupa, masker selalu terpasang di wajahnya, hingga menyisakan dua matanya saja.
"Ayo" ajak Rayyan, segera menyuruh anak-anaknya masuk.
Sepanjang perjalanan, anak-anak tampak ramai berceloteh, bersama Faizah.
Baru kali ini, Rayyan dapat mendengarkan suara Faizah, yang terdengar sangat lembut itu.
Beberapa kali, Rayyan mencuri pandang ke belakang, memerhatikan dua anaknya, yang terlihat sangat ceria, ketika bersama Faizah.
Tak lama, mereka pun telah sampai di parkiran kebun binatang terbesar di kota itu.
"Ayok turun" ajak Rayyan, mengajak semua nya, untuk turun.
Saat Rayyan ingin mengambil alih Raksa yang terlihat tak mau turun dari gendongan Faizah, secara tak sengaja, tangan mereka saling bersinggungan, membuat Faizah terkaget, dan segera menarik tangannya.
"Maaf" ucap Raksa, merasa tak enak.
Faizah hanya menunduk, tak menjawab permintaan maaf majikannya itu.
Rayyan kini menjadi semakin penasaran, tentang siapa sebenarnya Faizah, karena gadis itu, begitu menjaga dirinya, dan sangat pendiam.
'Besok aku harus tanyakan pada mbok Nah, tentang Faizah' gumam Rayyan, sembari melangkah menuju loket pembayaran.
__ADS_1
********
Bersambung