HANDSOME SPOTTED

HANDSOME SPOTTED
CHAPTER 1


__ADS_3


Tap-Tap-Tap.


Suara langkah kaki Ella terdengar cepat.  Cewek itu berlari menyusuri koridor dengan ritme napas dan jantung yang mulai melebihi batas. Kecemasan mulai menggerogoti perasaan cewek itu saat melihat tak ada satu murid pun yang tampak di luar, pertanda jam pelajaran sudah dimulai.


Kelas Ella berada pada lantai atas juga paling ujung. Tentu saja semakin memperlama cewek itu untuk sampai kesana.


Jantung Ella berdenyut cepat begitu ia telah berdiri di hadapan pintu kelasnya.  Pintu itu bak benteng yang terbuat dari baja.  Sampai-sampai membukanya saja terasa begitu berat.  Ella menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar hebat. Dengan takut-takut cewek itu memberanikan diri membuka pintu. Sreeek! Kontan seluruh mata merayap padanya.  Dilihatnya pemandangan lumrah itu, seorang Shiela yang tengah terlambat.  Sudah biasa bahkan terbilang membosankan.  Badan Ella seketika menegang seperti tersengat listrik.  Hanya sorot tajam dari balik kaca mata kolot. 


Kenapa rasanya semengerikan itu?


Guru berkumis tebal itu menghentikan aktivitas menulisnya.  Namanya Pak Yudin,  dia adalah guru tersadis sealam semesta. Hanya dengan wajahnya saja Jin pun tau bahwa auranya lebih menyeramkan dari bangsa mereka. 


Mampus! Cicit Ella pelan saat guru itu memainkan telunjuknya meminta Ella mendekat.  Seakan ada lem banteng yang melekat pada kaki Ella. Sumpah kenapa rasanya berat sekali? Dengan mengerahkan seluruh tenaga, jiwa dan raga Ella menghampiri gurunya yang berbadan lebar. Guru itu bak monster yang siap menelannya kapan saja. Badannya menggumbal dengan kacamata setebal bantal, tangannya yang gemuk-gemuk mirip sosis sedang berkacak pinggang.


Teman-teman di kelas Ella menatap gereget dengan tontonan di depan. Mereka saling menerka-nerka azab apa lagi yang akan diturunkan pada cewek itu?


“God! Semoga Ella gak dikubur hidup-hidup.” doa Anna pada Tuhannya


“Paling juga dimutilasi jadi sepuluh bagian.” celetuk Rara asal.


“Terlambat lagi?” tanya Pak Yudin santai, tapi tatapannya itu loh, tajam mengkilat kayak pisau yang kapan saja bisa memotongnya.


Cewek itu *** jari-jarinya,  tak berani mendongak ke atas ataupun membalas tatapan tersebut.  Terlalu membunuh.


“I-iya pak!” Ella menjawab dengan suara nyaris tak terdengar.  Kakinya gemetaran di tempat. Setakut itukah?  Lantas kenapa ia tidak ada kapok-kapoknya untuk datang terlambat? Atmosfer semakin mencekam ketika Pak Yudin memainkan mistarnya. Ella waspada,  benda itu terlihat bisa kapan saja melayang ke arahnya.


“Sepertinya kamu belum paham bagaimana kerasnya hidup,” Pak Yudin manggut-manggut sendiri.  “Dan sepertinya saya harus mengajarkan itu,” guru itu masih mengetuk-ngetuk penggaris pada tangannya.


“LARI KELILING LAPANGAN SEBANYAK 50 KALI!”


Prang! Suara itu nyaris saja memecahkan kaca-kaca jendela. Teriakannya yang lantang ikut menggetarkan dinding-dinding kelas. Hampir saja para murid dibuat tuli berjamaah jika mereka tidak langsung menutup telinga.


“Tunggu apalagi?  Pergi cepat! Setidaknya itu lebih baik daripada perbuatan kamu yang kriminal. Datang ke sekolah seenak jidat! Memangnya nenek moyang kamu punya hak apa?”


Itu guru mulutnya pedas amat ya?  Kok nyelekit banget sampai ke paru-paru?


Daripada omelan  bertambah, Ella buru-buru berlari keluar. Tapi baru saja akan melangkah,  dari pintu kelas guru itu kembali teriak,  membuat Ella berhenti di tempat.


“SHIELA!”


Cewek itu berbalik badan,  mau apa lagi guru menyebalkan itu?


“Kamu lupa pemanasannya!  Jalan jongkok dimulai dari sekarang!”


Damn!  Lengkap sudah penderitaannya pagi ini,  apakah hanya ia yang merasa bahwa ini sebuah penindasan? Demi gedung pencakar langit.  Ella ingin sekali terjun dari sana mengakhiri hidup bersama dunia yang keji ini.


Dengan hati penuh dongkolan Ella pun melaksanakan hukuman nista tersebut.


-000-000-


“Dasar gajah guling gak punya hati!” Ella mengumpat sesukanya. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa kesal yang di lebih-lebihkan tersebut.


Bayangkan! Jalan jongkok dari lantai tiga sampai lapangan? Ide gila macam apa itu?! Tolong seseorang beritahu Yudin Handoko, jika ingin bengkak tidak usah ngajak-ngajak. Lihat saja, bahkan Ella bingung membedakan mana yang betis dan mana yang paha. Keduanya kelihatan sama besar.


Hosh-Hosh-Hosh. Ella mengatur napasnya yang mulai melambat, ia mengistirahatkan sejenak tubuh sebelum melaksanakan hukuman selanjutnya.


“Liat aja! Kalo gue mati hari ini, gue bakal gentayangin guru satu itu.” Ella menyusun dendam tertentu. Ia seperti punya kesan mendalam. Bagaimana tidak? Guru itu satu-satunya manusia terkejam di sekolah ini, manusia yang tidak memakai logika menghukum gadis manis dengan hukuman layaknya penghuni neraka.


“Ajal plis jangan dateng dulu.” Ella berlari-lari kecil, badan mungilnya sudah sempoyongan. Ini sudah ke dua puluh putaran cewek itu mengelilingi lapangan, keringatnya banjir membasahi seluruh tubuh. Kakinya, jangan di tanya. Ella sendiri ragu apakah kedua tungkai itu masih melekat di tubuhnya apa tidak.

__ADS_1


Ella merasa matanya berkunang-kunang, kakinya benar-benar lemas. Badannya berasa seperti remukkan mie instan. Dan seketika semuanya berubah gelap.


Beruntung seseorang melihat itu, dengan kecemasan yang terlihat jelas orang tersebut berlari ke arah Ella. Dan, Bruk! Badan mungil itu berhasil diselamatkan.


-000-000-


Bau ini? Tidak, Ella benar-benar membencinya. Dibuka kedua kelopak matanya, cewek itu melihat sekeliling. Putih?! Mulai dari dinding, kasur, seprai, bahkan gorden. Apakah ini UKS?


“Apaan nih?!” Ella menepis minyak angin dekat wajahnya.


“Bangun juga lo kebo! Gue kira lo mati!”


“Gue pikir lo yang bakal matiin gue pake minyak jahanam itu.”


Mike mengedikkan kedua bahunya. Suka hati dialah, ditolongin tuh bersyukur, malah menjudge.


“Masuk kelas sana. Pak Yudin gak sebaik itu ngebiarin lo molor najis di sini.” Itu pesan terakhir Mike sebelum punggung cowok itu meninggalkan ruangan.


Cih cowok itu, lihat saja Ella bakal buat perhitungan. Hidupnya benar-benar flat. Sedari Ella mengenal manusia tersebut, belum pernah ia melihat Mike benar-benar menikmati hidup.


“He was chance!” batin cewek itu dengan senyum yang tersungging.


-000-000-


Ini istirahat dan Ella baru bisa melangkah bebas ke kelas karena guru buas itu sudah benar-benar angkat kaki.


“Belum mati lo?” tanya Rara.


Ella menoyor kepala sahabatnya itu yang melontarkan pertanyaan tak senonoh tersebut.


“Rese! Tanyain tuh gue cape apa enggak? Laper apa enggak? Mau makan apa? Manusia kan lo?”


Mules ladenin ocehan mereka, tanpa perasaan  Ella menarik kerah kedua sahabatnya itu menuju tempat persinggahan ternikmat. Kantin!


-000-000-


Sebelum sampai tempat tujuan mereka bertiga kudu lewatin aula dulu, begitulah rutenya. Melihat ruangan tersebut terbuka, hasrat penasaran Ella kambuh. Biasanya tempat itu diisi oleh anak-anak dancer! Mantap soul! Pasti Prince Nathan di sana. Ella yakin gak usah di persen keyakinan cewek itu kuat. Bahkan ia bisa merasakan aura kak Nathan dari balik pintu sini. Ella mengajak kedua sahabatnya untuk mendekat. Bunyi alunan musik mulai terdengar, meski masih samar.


Yash! Ella benar, di ujung sana berkumpul sekelompok cowok sedang menari kontemporer. Ella mengintip dari balik pintu, ia melihat seorang cowok bertubuh tinggi, berkulit putih, model rambutnya bead-head, cowok itu sedang menari diiringi alunan musik R&B dari Justine Bieber dan Sean Kingston yang berjudul Ennie Mennie. Gerak tubuhnya liar, lengan dan kakinya ditekankan dengan sangat energik. Seolah memberikan efek semangat bagi yang melihatnya.



Ya, dia adalah Mike! Si cowok tanpa micin, si cowok hidup hambar. Sahabatnya dari zaman bocah. Yang jalan kehidupannya lurus-lurus terus kayak badan Anna.


Ella tercengang sampai ia lupa mengatup bibirnya yang menganga lebar. Sampai kapan pun, Ella tak pernah bosan melihat Mike menari. Meski tarian itu telah di ulang ribuan kali.  Mike seperti memiliki sihir yang mampu menghipnotis siapa pun yang melihatnya, seolah mengerti akan maksud tarian itu.


  Ella mengembang senyum saat melirik Kak Nathan, sesekali ia menatap takjub ke arah Mike! Ya jangan salah, Mikelah makhluk terkeren di ruangan ini. Ella suka melihat dance, tapi tidak untuk melakukannya. Mengingatnya tiba-tiba membuat tatapan cewek itu sayup.


-000-000-


“Sumpah ya,  dance lo keren parah Mike!” Ella menusukkan pena ke arah punggung cowok di depannya.


“Woy Mblo! Iyain gue ih.” pekik Ella kesal sambil mengerucutkan bibir kesal.


Anna yang duduk di sebelah Ella merasa terusik dengan keberisikan Ella, Anna sedang fokus pada bacaannya, iya Anna kalau baca novel berasa pengen nampol siapa saja jika merasa terganggu.


“Lo ngatain orang jomblo, emang lo punya pacar?” tanya Ditto yang duduk di sebelah Mike. Cowok berkupluk itu asik mengunyah permen karetnya. Sambil tangan kanannya memegang handphone yang sedang memainkan game bernama COC tersebut. Ahh nikmatnya hidup. Untung Ditto duduk di barisan belakang.


“Mike!” Ella kini mengerang, bahkan ia sudah berani melepas earphone di telinga cowok itu.


“Apaan sih!” tatap cowok itu sebal, dan Ella membalasnya dengan senyum nakal.

__ADS_1


“Liat nih, bentar ya.” Ella merogoh sesuatu dalam tasnya.


Taraaa... Benda pink itu pun menyumbul dari mulut tas Ella.


“Look!” Ella meminta Mike untuk membaca judul besar buku itu.


“Kau harus mengenal cinta.” kata-kata itu tercetak tebal pada halaman paling depan.


“Najis!” respon Mike.


“Jijik ya?” bela Ditto,


"Dasar cowok! Kapan gak beda pendapatnya sih?"


Anna yang melihat benda apa yang di pegang Ella langsung teriak heboh. “Eanjir itu buku dapet dari mana? Belum pernah baca gue. Pinjem La.”


Rara yang duduk paling depan, dekat meja guru penasaran keributan apa yang terjadi dan dia pun ikut nimbrung ke belakang.


“No... Buku ini tuh gue beli khusus teruntuk sahabatku Mike.”


Ella sendiri menyesal mengeluarkan kalimat lebay itu, tapi masa bodolah Mike juga gak peduli ini.


“Mike ayolah Mike, lo kudu baca ini novel, biar lo bisa dapet pacar.” Kali ini Ella memukuli tangan Mike dengan penggaris.


Mike melirik dan menghadap ke belakang, ia melihat tampang Ella memasang wajah pupy eyes. Heran apa maksudnya? Cewek itu terlalu berlebihan mengurusi hidupnya. Mike itu benci! Selamanya! Jadi please gak usah usaha apa pun buat bikin Mike mengenal kata mengerikan itu.


“Lo bilang apa? Kalau gue baca novel cinta gue bakal dapet pacar? Lo  yakin sama omongan lo tadi, La?"


Mike berdiri dari duduknya dan memberikan tatapan tajam ke arah Ella, dilihatnya Ella menundukkan kepala sambil sedikit menaikkan bola matanya ke atas memastikan apa yang akan dilakukan Mike selanjutnya.


“Ya-Iya! Gue yakin! “ ucap Ella gugup sembari mencondongkan dadanya ke depan agar ia terlihat berani menghadapi Mike.


Mike tersenyum mengerikan dan mendekati Ella secara perlahan. Murid-murid mulai memperhatikan. Mereka penasaran, adegan apa yang akan terjadi pada Ella dan Mike.


Siap-siap aja, bisa jadi setelah ini nama mereka berdua terpampang di mading dengan judul berbau mesum.


Ella tersudut didinding yang terkunci diantara dua tangan Mike yang berada di sisi kanan dan kirinya. Cewek itu menahan napas sambil memejamkan matanya  karena takut.


“Lo pikir baik-baik perkataan lo tadi.”


Ella membuka satu matanya, dilihatnya Mike sudah tidak menguncinya lagi. Malah  Mike sekarang sedang mondar mandir tak karuan di hadapannya.


“Gue udah mikir, Mike. Yakin gue!”


Mike kembali menatap Ella namun tidak untuk mendekatinya seperti tadi.


“Lo yang doyan baca novel aja masih jomblo sampe sekarang! Bodoh banget sih lo. “ Mike terkekeh pelan.


Ella sadar, ucapan Mike ada benarnya juga. “Kalau memang baca novel bikin orang bisa  langsung dapet pacar? Kenapa gue masih jomblo sampe sekarang? Oke, kau bodoh sekali Ella,” rutuk Ella dalam hati menyalahkan dirinya.


Mike mengambil novel cinta yang dihempaskannya ke sembarang tempat tadi dan memberikannya kepada Ella lagi, “Ambil ini. Lo kasih Anna aja yang lebih suka baca novel. Dan gue nggak mau tau besok gue harus denger kabar kalo Anna udah jadian.” Mike melangkahkan kakinya meninggalkan Ella, namun satu lagi yang belum sempat ia peringatkan pada Ella, ia menghentikan langkahnya dan memutar arah tubuhnya ke belakang. “Oya, dan lo jangan nyuruh gue buat baca novel cinta lagi. Jangan kan baca, pegang tuh novel aja gue udah jijik tau nggak?” Mike kembali memutar arah tubuhnya dan melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda.


“Mike! Kalau lo nggak mau nerima novel ini, persahabatan kita selesai!” ucap Ella dengan penuh amarah. Ia berjalan lurus menyisakan Mike dengan buku yang ia letakkan di lantai. Beberapa detik Mike terdiam memandangi buku itu,  “Aaarrgh bulshit!” Mike mengambil novel itu dengan terpaksa. Spontan langkah Ella terhenti begitu melihat Mike mengambil buku tersebut.


Ada perasaan senang yang menyelimuti perasaan cewek itu. Tapi eh tapi, baru juga seneng tiba-tiba saja Mike memberikan buku tersebut kepada Anna.  Seketika raut wajah Ella berubah merah padam.


“Gak usah sok gak terima gitu. Buku itu udah jadi milik gue, kan elo yang ngasi, jadi terserah gue mau di apain itu buku.”


Plok! Rara tiba-tiba menepuk dahi Ella sambil nyengir kuda.


“Hahahaha kasian deh Ella. Kek kebaikan sepihak gitu ya. Air susu dibalas dengan air pipis. Hahaha kecut.” dengan polosnya Rara tertawa garing, bahkan hanya dia yang menertawai tragedi itu. Yang lain? Lebih milih diam. Takut Ella emosi, seramnya kalau dia emosi sealam semesta bisa hancur.

__ADS_1


__ADS_2