HANDSOME SPOTTED

HANDSOME SPOTTED
CHAPTER 21


__ADS_3

Tepat pukul 14:00. Bel sekolah SMA Tunas Bangsa berbunyi sebanyak tiga kali.  Pertanda jam pelajaran telah usai.  Para murid berhamburan keluar seperti bebek yang baru saja dikeluarkan dari kandangnya.  Lepas bebas.


Mike berjalan menuju parkiran, cowok itu hendak berniat mengambil motor ninjanya.


"Mike!"


Senyum Mike merekah lebar saat mendengar Ella memanggil namanya. Dan ia sangat bersyukur karena hari ini Ella tidak lagi bersama kecoak bedebah itu.


"Apa Shiella Allycia?" tanya Mike dengan nada menggoda.


Keduanya saling berhadapan, Ella menatap Mike dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Gue mau nanya sama lo!  Ngapain lo kemaren ngebuntutin gue?"


Mike terdiam kemudian mengangkat satu alisnya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh sekolah sambil mengendus seperti mencari bau sesuatu.


"****! ketek lo bau banget, La." Mike mengalihkan pembicaraan.


"Hah? Yang bener?" Ella mengangkat tangannya dan mengendus ketiaknya memastikan apakah benar yang dikatakan oleh Mike.


"Nggak bau. Orang gue udah semprotin seluruh badan gue pake parfum paris,  malah ampe sebotol. Isssh.. Lo boongin gue?" Geram Ella mencubit perut Mike sehingga membuat cowok itu meringis kesakitan.


"Ampe sebotol? Nggak sekalian setengki?"


"Lo nggak usah ngalihin pembicaraan? Sekarang lo ngaku! Kenapa kemaren lo ngebuntutin gue sama Reinan?" tanya Ella lagi.


"Idih! Siapa juga yang ngebuntutin lo? Lagian cuma kebetulan kita ketemu. Orang gue kesitu karena Carissa suka sama tempatnya." Bohong Mike. Ella menggertakan giginya ketika Mike menyebutkan nama wanita genit itu.


"Eh btw, si ****** kecoa yang suka nge-drama sama lo itu kemana? Kok gue nggak nyium bau bangkenya?" Mata Ella membulat sempurna ketika Mike menyebut Reinan '****** kecoa' sangat tidak sopan!


"Eh gue peringatin sama lo yah Mike Angelo. Jangan sekali lagi lo ngatain Rei dengan sebutan ****** kecoa! Lo tuh nggak sopan banget tau nggak?!" Peringat Ella. Mike tertawa getir.


"Lo juga sering ngatain gue,  gue biasa aja. Tapi giliran Rei yang digituin dibilang nggak sopan. Emang siapa dia buat lo?" Mike tersenyum miring.


"Oh gue baru inget, dia pacar lo yah? Iya bener. REINAN KAN PACAR ELLA... " Sindir Mike dengan penuh penekanan ketika mengucapkan kata 'Reinan kan pacar Ella'


"Kalau iya kenapa?" tantang Ella.


Mike tersedak air liurnya. Tangan Mike terkepal saat itu juga.

__ADS_1


Hatinya menjadi panas membara. Rasa ini begitu asing baginya. Rasa yang baru hadir didalam hatinya. Rasa sakit. Yah, seperti yang tertera di cerita buatan Ella rasa ini adalah rasa cemburu. Mike menggelengkan kepalanya cepat-cepat membuang pikiran yang tidak berlogika.


"Udah, mending sekarang lo naik. Gue anterin lo pulang." perintah Mike.


Ella pun menurut.


 


-000-000-


 


Mike memberhentikan motornya didekat rumah pohon yang dikelilingi oleh bukit. Sebenarnya sudah sejak lama tadi Ella ingin bertanya kenapa Mike tidak membawanya pulang? Dan malah membawanya ke arah lain. Tapi Ella mengurungkan niatnya dan membiarkan Mike mengendarai motor sesuka hatinya. Jujur,  Ella ingin Mike membawa ia kemana saja. Karena dengan bersama cowok itu ia merasa senang dan nyaman.


Dan disinilah mereka. Diatas rumah pohon yang dikelilingi lautan pepohonan dan kebun teh. Sebenarnya ini sama saja dengan rumah pohon milik geng nano-nano cekrek. Hanya saja suasana di sini lebih sejuk daripada milik mereka.


Seulas senyum tergambar jelas di wajah Mike, sekarang dia sedang menikmati udara segar sembari menunggu Ella yang masih menaiki anak tangga.


Satu menit.


Dua menit.


Kini Ella dan Mike telah duduk di atas rumah pohon. Kedua kaki mereka dibiarkan turun dan berayun.


Mike mengangguk,  sekilas ia memandangi wajah Ella yang tampak sedang tersenyum sebari melihat pemandangan di depannya.


" La,"


"Kenapa Mike?"


"Gue udah baca novel lo dan gue suka sama ceritanya."


Ella semringah mendengarnya.  Tatapannya ikut berbinar.


"Serius lo udah baca semua?  Ceritanya tentang apa?"


"Kisah nyata,  tentang kita, kan?"


Ella mengangguk senyum.

__ADS_1


"Thank lo udah nulis semua cerita tentang kita,  gue penasaran endingnya bakal gimana."


"Gue belum bisa bikin endingnya.  Karena cuma lo yang bisa nentuin endingnya bakal kayak gimana?"


"Gue mau nanya satu hal sama lo, tapi lo harus jawab jujur."


"Tanya aja.  Selama ini gue selalu jujur sama lo Mike."


"Lo..." ada jeda "Cinta sama gue?"


Mendengar pertanyaan Mike, Ella terdiam.


Satu detik


Dua detik.


Dengan jantung yang berdenyut kencang Mike menunggu jawaban Ella.


"Gue...  Gue...  Gue... " Ella terbata-bata.


"Gue apa,  La?"


"Gue laper banget Mike, sumpah! Di sini nggak ada makanan apa?"


            Mike menghembus napas kasar, "Lo belum jawab pertanyaan gue."


"Emang harus gue jawab? Terus kalau lo tau jawaban gue, lo mau apa?"


"Gue mau menentunkan ending untuk cerita kita."


            Sejenak Ella terdiam menatap cowok yang juga terdiam menatap matanya.


"Lo tau? Gue pernah baca buku, katanya, satu hal yang paling berbahaya bagi persahabatan adalah  ketika kita meminta lebih dari  sahabat. Ketika kita mulai memainkan hati. Gue takut Mike, gue takut sama jawaban gue sendiri."


            "Kenapa lo mesti takut?"


            "Nggak ada yang tau kapan cinta pastinya datang.  Tapi kita selalu tau kapan kita harus memulai."


"Tapi lo bisa memulainya. Sekarang lo tinggal pilih,  lo mau memulainya atau enggak?"

__ADS_1


Ella tersenyum,  "Mike, orang bilang cinta itu sesederhana hujan yang jatuh ke bumi,  meski terhempas ia akan tetap jatuh. Begitu juga dengan sebuah ikatan cinta. Kalau kita ditakdirkan untuk bersama dan saling mencintai. Ia akan tetap jatuh pada pilihan orang yang ingin ia cintai."


Nggak ada yang tahu rencana Tuhan. Seperti sore ini,  Mike merasa senang bisa menghabiskan waktu dengan Ella.  Meski ia sendiri belum sepenuhnya memahami perkataan Ella.  Tapi ia sadar bahwa cinta memang harus ditumbuhkan,  bukan dicari.


__ADS_2