HANDSOME SPOTTED

HANDSOME SPOTTED
CHAPTER 2


__ADS_3


Ella duduk di atas rumah pohon yang tertutup oleh pepohonan yang menjulang tinggi ke atas. Hembus angin menyibakkan rambutnya, sudah menjadi rutinitas nano-nano cekrek berkumpul di sana untuk sekedar duduk-duduk memandang keindahan alam yang menyejukkan mata. Bisa dibilang tempat itu adalah rumah ke dua bagi mereka, Ella  merasa tenang melihat indahnya pepohonan yang berjejer, awan- awan putih yang menggumpal, dan udara yang sejuk. Kadang rintik hujan yang lincah, dan bintang-bintang yang bersinar terang.


“Sumpah ya To, gue heran. Kenapa Mike alergi sama cinta? Gue curiga itu anak punya kelainan. Lo tau sendiri kan dunia ini diciptakan karena cinta,” Ella merungut sebal, berharap Ditto dapat sedikit menghilangkan rasa jengkelnya, “Ini udah yang ke dua puluh kalinya gue beliin novel buat Mike, tapi apa? Dia malah ngebuang pemberian gue  gitu aja.” Tatapan Ella berubah sayu.


Entah karena tabiat cowok yang tak tega melihat cewek bersedih atau karena Ditto memang peduli dengan Ella, yang jelas ia tak bisa melihat sahabatnya itu murung. Ditto merangkul Ella memberikan sedikit ketenangan. Tak ada kata sabar terucap dari Ditto, tapi caranya memperlakukan Ella membuat cewek itu lebih lega dan nyaman.


“Hi,” Mike berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.


Tak ada jawaban dari Ella, hanya sebuah muka datar.


Mike menaiki anak tangga satu persatu. Dedaunan menggesek kulitnya, dan sinar matahari tembus dari celah rambutnya.


“Kenapa lo? Jutek amat,” Mike menggoda seolah tak pernah terjadi apa-apa, dan Ella tetap diam.


“Gue nggak mau ngomong sebelum lo baca itu novel.”


Ditto terkekeh mendengar ucapan Ella. “Lucu banget sih, nggak mau ngomong tapi lo ngomong. Udah jangan pada berantem, mending nanti malem kalian main ke rumah. Gue punya film horor baru.”


Mendengar kata film horor semangat Ella bangkit ia seperti kucing yang diberi umpan  ikan. Apa pun yang berbau horor Ella menyukainya.


“Oke. Nanti malem kita ke rumah lo, To. Dan gue bakal ngajak Anna sama Rara.” seru Ella.


“Jangan ngajak Anna. Entar berisik.” protes Mike.


“Nggak pa-pa Mike, biar seru.” untuk hal ini Ella menepis rasa sebalnya pada Mike. Mungkin ini yang dinamakan sahabat. Tak bisa menyimpan rasa kesal terlalu lama.


-000-000-


Mike melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah jam sembilan malam tapi batang hidung Ella, Anna, dan Rara belum juga muncul. Begitu juga dengan Ditto, dia belum menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Mike beranjak dari sofa dan berjalan keluar rumah. Cowok itu menyipitkan matanya ke arah gerbang, kedua tangannya masuk ke dalam dua saku kantong celananya.


"Mike..." teriak Ella dari kejauhan. Mereka menenteng sebuah kantong plastik berwarna hitam.

__ADS_1


"Astaga, kalian dari mana aja, sih? Kita janjian jam tujuh datengnya jam sembilan? Cewek emang nggak bisa dipercaya tau nggak?"


"Tau tuh beli kaset aja lama banget.” ucap Anna sambil mengunyah permen karet  yang diletupkannya berulang-ulang.


"Kalian ngapain ribut-ribut diluar? Ayo masuk.” ajak Ditto.  Anna, Rara dan Ella pun masuk ke dalam dan duduk di sofa.


"Lo tau Mike, gue bawa banyak kaset buat ditonton malem ini! Ini film keluaran baru! Dan Lo harus liat! " Ungkap Ella dengan semangat.


Mike berdecak dan mengambil kantong plastik yang digenggam oleh Ella. Cowok itu melihat sampul kasetnya terlebih dahulu, sampulnya menggambarkan sepasang kekasih yang bertatapan penuh cinta dan di belakang mereka begitu banyak zombie yang siap memakan mereka hidup-hidup. Spontan Mike kembali memasukkan kaset tersebut ke dalam plastik.


"Kayaknya gue mending tidur dari pada nonton begituan. " Mike membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang kini hanya ditempati olehnya.


"Mike kok gitu sih? Issh! " Ella membuang muka.


"Kalian kan tau seorang Mike nggak suka film beginian. apalagi ada gambar orang saling tatap tatapan lagi. Geli banget gue ngeliatnya.”


"Taraaa... ini dia kue ala chef  Ditto dan Ibu.”


"Emmm...  ini enak banget sumpah lo harus cobain, Ra." ucap Ella mengunyah kue dengan lahap.


Mike menyetujui ucapan Ella dengan mengacungkan jempol kirinya ke arah Ella sedangkan tangan kanannya memegang dua potong kue dan mulutnya penuh dengan kue yang belum dihabiskannya.


“Gila! Kuenya habis gara-gara kalian berdua! Masa tinggal satu potong doang? Kan gue sama Anna belum kebagian.” Rara melipat kedua tangannya ke depan dada.


"Tenang,  gue udah siapin khusus buat Anna. "


"Uhuk... Uhuk.., " Mike tersedak mendengar ucapan Ditto. Ella langsung memberi segelas air putih pada Mike yang belum habis diatas meja dan membantu Mike untuk meminumnya.


"Thanks, La" Mike tersenyum pada Ella dan Ella membalasnya.


"Ciyeee, khusus. Emang sekhusus apa si, To? " Goda Ella. Ditto hanya tersenyum kecil sedangkan Anna malah balik sebal mendengar semua ucapan mereka. Ditto memberi satu potong kue terakhir untuk Rara dan kembali ke dapur entah untuk mengambil apa. Setelah keluar dari dapur Ditto membawa kue yang aromanya lebih sedap dari kue sebelumnya.


“Wah... itu buat gue ya, To? " Mike sudah memasang kuda-kuda untuk berlari mengembat kue yang dibawa Ditto. Ditto menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


“Itu pasti buat Anna, peak! " Rara menyikut lengan Mike. Dan Mike langsung duduk dengan wajah kecewa.


Ditto memberikan kue itu ke Anna. Tapi Anna hanya melihatnya sekilas dan langsung memberikannya ke Mike.


"Nggak jadi deh, Na. Gue udah kenyang. Lo aja  yang makan. lagian kasian Ditto udah bikinin khusus buat lo tapi lo malah kasih ke gue. "


Anna berdecak sebal dan mengambil alih kue itu dari tangan Mike, "Kue ini tuh ngingetin gue sama Ayah tau nggak? Makanya gue nggak mau makan. Udah dua minggu Ayah nggak pulang! Dan gue kangen banget. Rasanya gue pengin peluk dan cium Ayah sekarang." Anna meringis.


Mendengar ucapan Anna, Mike bergeming. Sosok  "Ayah" bagi Mike terasa asing. Mengingat itu, tetiba ia merasakan gemuruh di dalam jiwanya. Seperti ada sambaran petir yang menyala-nyala. Ucapan Anna mengingatkan ia dengan seseorang.  Seseorang yang paling ia benci di dalam hidupnya.


“Berisik banget, sih lo, Na. Habisin tuh kuenya. Nggak usah lebay! Tuh kue enak banget! So, nggak usah lo ratapi kayak gitu. O-ya mana kaset lo, To.  Gue enek sama kaset yang di bawa sama mereka bertiga. " Mike mengalihkan pembicaraan Anna.


Ditto terkekeh pelan mendengar ucapan Mike, "Lo yakin mau nonton kaset gue? " Ditto menaik turunkan alisnya. Dan Ella tau apa maksud Ditto.


"Terserah lo. Yang pasti kasetnya Ditto nggak seru! nggak ada romantis-romantisnya! " Tambah Ella.


"Iya gue yakin To, kita nonton kaset lo aja, "


"Eh Mike, kalo lo udah milih kasetnya  Ditto keputusannya nggak boleh dicabut loh." Ucap Anna dengan senyum yang mencurigakan.


Mike memelas, "Iya dah gue pilih kasetnya Ditto,"


"Oke, gue ambilin kasetnya. " Ditto berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil kaset. Setelah kembali Ditto melemparkan kasetnya pada Mike.


"Tonton nih pilihan lo! " Semuanya tertawa melihat Mike.


Mike melihat gambar sampul kasetnya. ‘Ini lebih parah dari kaset si Ella! Astaga gue kena jebak!’ rutuk Mike dalam hati.


"Gue cabut omongan gue tadi! Kita nonton kasetnya Ella aja. " Mike melemparkan kasetnya kemeja dan membuang muka.


"Mike lo nggak bisa gitu dong! ini udah kesepakatan kita! lo sendiri kan yang milih dan lo harus terima! " protes Ella kepada Mike.


Mike menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya dengan malas.

__ADS_1


__ADS_2