HANDSOME SPOTTED

HANDSOME SPOTTED
CHAPTER 24


__ADS_3

“MIKE...  MAAFIN GUE... ” Ella berteriak dari atas rumah pohon melepas semua beban yang memberatkan perasaanya. Bodoh! Untuk mengatakan yang sejujurnya saja Ella tidak mampu. Seharusnya ia menyusun rencana dengan tepat. Gara-gara dia keadaan Mike bertambah buruk dan dirinya masuk ke dalam daftar hitam cowok itu


“Mike harusnya lo tau, banyak orang yang sayang sama lo. Gue maupun bokap lo itu nggak seburuk yang lo pikir. Gue gak mau lo kayak gini.” Ella meratap dalam kesendirian.  Bolehkah ia terjun kebawah untuk memastikan apakah Mike benar-benar tidak peduli padanya? Ella di ambang keputusasaan. Ia tidak tahu cara apa yang bisa membuat Mike kembali dan memaafkannya. Tangan Ella tanpa sadar mengukir batang pohon di depannya. MIKE LOVE ELLA.


-000-000-


Anna, Rara dan Ditto merapat ke bangku Ella. Dari raut wajah cewek itu sepertinya ada yang tidak beres dengan Ella. Mereka butuh penjelasan!


“La, heran deh gue. Lu sama Mike kenapa, sih?  Seharian mendadak bisu. Di ajak ngobrol, gue malah dicuekin. Gue kan jadi kek setan gentayangan, ada tapi nggak di anggap.” ucap Rara


“Tau nih, Mike juga daritadi ngelamun, diem, nyeremin ihh. Kalau dia tiba-tiba kesurupan gimana?” Anna menimpali.


Ella menghela napas pasrah, ia memijit pangkal hidungnya, ‘ini salah.’


Ella memutar badan melihat Mike sekilas. Tiba-tiba saja ia merasa aura cowok itu berubah seram. Tatapan tajam itu sungguh memilukan hati, bahkan Ella nggak berani berkata-kata.


“La, coba lo yang ajak ngomong deh. Biasanya kalau sama lo kan dia luluh.” Ditto kini ikut angkat suara, cowok itu pun menyerah karena Mike sudah mengabaikannya.


“Gue yang udah buat masalah berarti gue yang  harus nyelesain.” batin Ella ikut menyemangati. Ia mendekati Mike perlahan. Rasanya jarak satu meter itu berubah menjadi berkilo kilo meter.


“Mau apa lo?!” Mike menyadari kehadiran Ella yang tiba-tiba.Sakit! Bahkan sekarang Mike tidak sudi memandang wajahnya.


“Mike, Gu... gu... gue minta ma... af Mike.” Ella tergugup.


Mike mendecak kesal. Mendengar suaranya saja membuat jantungnya bergerak tak karuan. Perasaanya berantakan, seberantakan hidupnya.Mike mendorong kursi kebelakang dan keluar dari kelas. Cowok itu tak mengacuhkan permohonan maaf dari Ella.


Masa bodoh dengan ujian praktek hari ini. Masa bodoh dengan guru yang tak punya nurani. Yang terpenting sekarang Mike ingin menjauh dari Ella, sejauh yang ia bisa.


 


-000-000


Tak-tak-tak. Bunyi sepatu Mike menghentak  di aula. Mike tertidur di aula yang biasa dipakai anak dance untuk beristirahat. Cowok itu memasang earphone lalu memejamkan mata. Melupakan sejenak dunia yang keji ini.


-000-000-


 


Hancur? Tentu saja. Kecewa? Apalagi. Bagaimana bisa dia mencintai saudara kandungnya sendiri. Sayang sekali, di tengah cintanya yang sudah tergali dalam, kini Carissa harus segera mengubur rasa tersebut. Cewek itu mengutuk diri, apa ini hukuman hidupnya? Apakah dosanya begitu parah sehingga tuhan mengujinya dengan ujian yang sangat sulit. Bahkan Carissa hampir menganggap tidak bisa menerima ujian itu, menghapus rasa tidak semudah membalikkan telapak tangan, bahkan walaupun telah terhapus paling tidak jejaknya masih ada. Dan jejak itulah yang membuat Carissa terombang-ambing dalam ombak kehidupan.


“Mike, apa lo bisa nerima gue sebagai saudara lo?” Batin Carissa bersuara saat matanya tak berhenti berkedip memandang wajah teduh dihadapannya. Sedari tadi Carissa memang menguntit cowok itu, mulai dari Mike menjadi manusia bisu di kelas hingga, langkah cowok itu membawanya ke dalam aula sekolah.

__ADS_1


Carissa memandang lagi dan lagi wajah tenang Mike yang sedang tertidur. Ingin sekali ia menyentuhnya, di saat jemarinya yang mulai bergerak di arena pipi,Mike terbangun menerima tangan halus yang membelai wajahnya.


Mata Mike membulat sempurna mendapati sosok Carissa. Dan Carissa pun perlahan menegang perbuatannya ketahuan.


“Lo, ngapain di sini?!” ujar Mike, Carissa tertunduk takut. Cewek itu meremas jarinya gelisah. Lidahnya mendadak terkunci. Mengatakan satu kata pun rasanya entah kenapa terlalu berat.


“Kuping lo masih di pake kan? Gue tanya kenapa lo di sini!!” Mike kini benar- benar membentaknya. Cowok itu tidak terima akan keberadaan Carissa, hatinya belum sepenuhnya terbuka untuk merangkul cewek itu sebagai saudara.


Mike benci dengan kenyataan ini. Bencinya pada sang Ayah melebihi buih di lautan. Dan bagaikan virus kebencian itu menyebar tak peduli arah.


Mike murka melihat Carissa yang tak juga buka suara. Cowok itu menghentakkan kaki dan pergi menjauhi Carissa. Bisakah ia hidup tenang sekali saja!


-000-000-


Sekarang jam istirahat. Biasanya Nano-Nano cekrek nongkrong di kantin sekedar makan, atau nyempitin tempat dengan numpang duduk doang.


And see? Lima bangku yang sudah di cap untuk Nano-nano cekrek kosong satu. Kenapa rasanya hampa sekali? Ya tuhan!


“Sampai sekarang gue bingung, sebenernya masalah kalian itu apa sih?” cerocos Anna, kejanggalan itu membuat hatinya resah, ia harus tahu ada apa dengan kedua sahabatnya ini? Jangan sampai karena masalah kecil persahabatan mereka akhirnya pecah. makanya ia harus mencegah sebelum semuanya benar-benar hancur.


“Iya La, lu cerita ke kita. Gak baik nyimpen masalah sendiri. Kayak lu kalau mules gak boleh ditahan atau lu bakal kesakitan.”


Tak!


“Lo mending diem. Awalnya kata-kata lo keren. Ya awalnya doang, tapi ujungnya gak nyambung.” ucap Anna. Ia menyalahkan hak azazi Rara dalam berpendapat. Ya sudahlah, satu lawan dua, kalah udah.


Suasana kembali serius, kini Ditto si master bijaksana angkat bicara. Sebenarnya dia sudah lelah pada Mike yang mengacuhkan kepedulian sahabatnya itu akan dirinya. Dan melalui Ella siapa tahu dia bisa membantu memecahkan masalah.


"Sebenernya guys...  " Ella mulai membuka suara. Nano-nano cekrek menatap lekat-lekat gerak bibir Ella. "Sebenarnya kenapa Ella?  Ayo dong cerita!" ucap Anna gemas.


"Sebenernya Mike marah sama gue gara-gara gue ikut campur urusan keluarganya. Dan kalian tau?  Ternyata Carissa itu saudara kembarnya Mike.  Pantes aja Mike perhatian sama Carissa, itu karena mereka punya kontak batin sebagai saudara."


"APA?!" Anna dan Rara berteriak serempak. Mustahil! Mereka tak percaya dengan semua ini, Carissa saudara kembar Mike? Bagaimana bisa?


"Bagaimana pun masalah kalian harus segera di selesaikan." ujar Ditto.


Anna mengelus-elus pundak Ella memberi  ketenangan. Mereka Ikut prihatin akan kesalahpahaman ini. Mike harus segera sadar sebelum semuanya memburuk.


 


-000-000-

__ADS_1


 


Jam pelajaran berikutnya adalah Biologi, anak kelas X IPA 2 memasuki labotarium. Ya, tempat ini memang seperti markas bagi mereka Dan pratikum adalah makanan sehari-harinya. Nasib sial! Kenapa hari ini mereka disatukan? Mike, Ella, Reinan, dan Carissa terdapat dalam satu kelompok yang sama.


Jantung Ella berdegup-degup aneh antara bahagia dan takut. Berkebalikan dengan Mike, ia merasa sekelompok dengan cewek itu adalah musibah. Hatinya belum terbuka untuk memaafkan, Mike masih merasa kesal pada Ella.


Masing-masing mengeluarkan hewan percobaannya untuk penelitian. Jelas sekali wajah-wajah ngeri para murid perempuan saat melihat hewan amfibi itu di belah-belah. Ada yang sampai memekik tertahan. Dari puluhan murid diantara mereka  hanya Rara yang biasa aja. Katanya katak itu mainan dia di rumah. Parahnya itu amfibi yang masih hidup di elus-elus Rara kayak ngelus kucing, amazing sekali bukan?


Ella menatap Mike yang serius dengan hewannya. Mendapat tugas untuk membuat laporan tentu di butuhkan kefokusan, tapi ada Mike di sini membuatnya tidak bisa melaksanakan syarat itu.


“La, liat deh.” Reinan mengajak cewek itu mendekati mikroskop.


 “Kenapa Rei?”


Reinan menunjuk kaca lensa benda hitam itu, ia ingin memperlihatkan satu keganjilan, “Bantuin gue nyari objek bakterinya dong. Gue gak nemu.”


Ella mengambil alih Mikroskop di depan Reinan kemudian tertawa geli, “Lo pakenya terbalik,  Rei.”


Mendengar itu Reinan garuk-garuk kepala malu. Cowok itu semakin modus mengajak Ella membantu tugasnya. Pura-pura bego ternyata ada untungnya. Jadi puas deketin Ella. Cewek itu jeli banget, kayak yang sudah ahli. Sesekali cowok itu mengajak Ella bercanda. Mereka menjadikan katak sebagai bahan permainan.


“Reinan ih bau... itu muka kodoknya horor banget.” Semakin Ella ketakutan semakin seru Reinan mengganggu.


“BISA SERIUS GAK!” Mike meledak, perasaan panasnya sudah sampai di ujung kepala. Ia ingin berusaha tidak peduli. Tapi hatinya seakan membutakan, ia tidak terima Reinan memanfaatkan kesempatan.


“La, lo bantuin Carissa kalau mau tugas kita cepat selesai.” Ella terlonjak senang, akhirnya sekian lama Mike mau juga buka suara untuknya.


“Sip!” cewek itu mengacungkan jempol okay dengan muka ceria. Walaupun Mike bicara formal yang jelas Ella bahagia. Cewek itu modus nanya-nanya tentang pratikum, dan Mike merasa menyesal telah peduli pada Ella.


“Mike, lo  makin keren ya semenjak jauhin gue. Mungkin ini yang di maksud orang-orang, pacar kalau udah jadi mantan makin cakep.”  Ella menyingkirkan rasa malu. Mungkin dia lelah terlalu lama sendiri. Mike hanya melirik, tidak apa-apa. Setidaknya cowok itu masih merespon ucapan Ella. Dan Ella semakin berisik sejak diberi kesempatan bicara.


"Lo bisa diem nggak sih? Suara lo tuh bikin kuping gue sakit tau gak?" Mike mulai kesal.  Cowok itu memutuskan untuk menjauh dari Ella.


"Mike!" Ella mencekal tangan cowok itu. Ia tidak peduli dengan lapangan yang masih ramai oleh siswa berlalu lalang, yang terpenting baginya ia kembali mendapatkan sosok Mike yang dulu.


“Please kali ini lo dengerin gue,” beberapa detik Mike mematung, pandanganya beralih ke jemari Ella yang mengenggam tanganya. Ada rasa denyutan aneh di sana.


“Buka mata lo lebar-lebar Mike. Gak selamanya yang lo anggap buruk itu benar-benar buruk. Setelah malam akan ada pagi, itu artinya dunia gak akan selalu gelap. Terkadang kegelapan juga punya makna, artinya lo harus segera bangkit dari sana agar lo bisa menikmati indahnya mentari,”


Mike tergeming, semua perkataan cewek itu adalah benar. Tapi mungkinkah kebenaran itu mencairkan hati Mike yang mulai membatu?


“Gue gak suka liat lo kayak gini,  can chance it?”  Emosi Ella begitu bergemuruh. Hingga Mike melihat air mata Ella yang terjatuh dihadapannya.

__ADS_1


Mike masih membisu mendengarkan keluhan yang terdengar seperti isakan itu. Rasanya hangat, namun menyakitkan. Bisakah... bisakah ia melupakan kebenciannya untuk menghapus air mata kesedihan itu? Sungguh! Mike tidak suka melihat Ella menangis karena dirinya.


"Please lo jangan nangis di depan gue. Gue bener-bener nggak bisa, La.  Tolong ngertiin gue,  gue butuh sendiri. Hati itu bukan barang yang bisa lo taro di mana aja dan lo rubah gitu aja.  Gue bener-bener lagi butuh ketenangan. So, gue minta mulai sekarang lo jangan ganggu gue dan ikut campur lagi urusan gue." ujar Mike, dengan berat hati ia meninggalkan Ella. Dan dengan sikapnya yang seperti itu dadanya semakin sesak saja.


__ADS_2