HANDSOME SPOTTED

HANDSOME SPOTTED
CHAPTER 23


__ADS_3

“Yang piket besok jangan lupa sapu lantai sampe kinclong! terus pel sampai nggak ada satu debu pun yang tersisa! And satu lagi, kaca harus di lap! Kalo gak muka kalian yang gue lap!” Ketua kelas seenak jidat kasih perintah dan setelah itu pulang ninggalin  piket kelas yang fix di jadiin pembantu!


Anna merutuk sebal, "Punya ketua kelas bawel banget sih! Ketua kelas atau majikan?! Kita udah kayak TKW diperintah seenaknya!"


Sarpo bawelnya  memang nggak ketulungan. Padahal di hari lain cowok laknat itu membiarkan mereka piket sekenanya.


“Udah Na, nggak usah cemberut gitu. Lo tau kan yang ngajar besok Bu Novita? Wanita pecinta kebersihan. Debu satu aja diurusin. Wajarlah Sarpo kayak gitu.”


Anna pun melanjutkan tugas bersih-bersihnya. Komentar Ella cukup membuat Anna bergedik ngeri mengingat bagaimana guru bersuara cempreng itu ngomel-ngomel. Dua jam pelajaran bukannya ngajar malah dihabisin buat ceramah gara-gara kotoran jejak sepatu, rasanya urat telinga mereka hampir saja putus mendengar ultimatum guru yang satu itu. Dan semenjak itu setiap hari Senin mereka belajar nggak pake sepatu. Anti mainstream sekali kan?.


Urusan lantai sudah selesai. Sekarang Ella meraih cling anti kuman dan menyemprotkannya ke kaca. Lagi fokus-fokusnya ngelap. Tiba-tiba seorang cowok tinggi, putih, dan berlesung pipi berdiri di sampingnya ikut membantu membersihkan kaca.


“Mike, ngapain lo di sini? Lo kan piketnya hari kamis.”


“Hati nurani gue bilang buat bantuin elo. Karena gue tau badan pendek lo itu nggak bakalan  bisa mengusai semua kaca.” jawab cowok itu santai.


“Nyebelin! Ngebantuin nggak pake penistaan bisa nggak sih?” Ella merutuk sebal. Ya walau jujur dari lubuk hatinya yang terdalam dan hampir tenggelam sebenarnya dia seneng banget di bantuin.


‘Ukhhhmmm... ’ Sindiran manis Anna sukses  membuat Ella nggak enak hati. Masalahnya  Anna  jomblo, jadi dia suka envy kalau liat orang lagi berduaan.


Pletak! Cewek itu lupa kalau dia juga jomblo.


“La, nanti pulang lo bareng gue ya!”  Mike meminta dengan nada memerintah. Tapi sedetik kemudian.


Drrttt...drrrtttt. Ponsel Ella bergetar-getar, menunda jawaban ajakan Mike. Mata cewek itu melebar melihat nama yang tertera di layar.


“Kak Julian? Tumben telepon? Ada apa ya?” batin Ella.  Ella  menjauhkan posisinya dari Mike dan menjawab panggilan itu.


“Halo, kak.”


“La, kakak minta tolong. Nanti malam kamu ajak  Mike ke Cafe, ya.”


“Malam ini, Kak? Di cafe mana Kak?”


“Cafe kita. Tapi jangan sampai Mike tau. Cuma kamu yang bisa kakak harapin sekarang. Kakak pengen kamu bantuin kakak untuk memperbaiki hubungan Mike dengan ayahnya.”


"Oke, Kak. Aku akan bantu sebisanya.”


Tutt.. Sambungan telepon terputus. Ella menatap Mike khawatir. Cowok itu masih asyik dengan kegiatan lap-mengelapnya.


 


-000-000-


 


Ella menelentangkan badannya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar. Namun pikirannya melayang jauh.


“Gue harus gimana?” cewek itu sepertinya sedang berpikir keras.


Tok-tok Suara ketukan pintu memecahkan kebisuan. Ella yang sedang bergelut dengan pemikirannya akhirnya terbangun


“Iya Mah, kenapa?”


Ella membuka pintu dengan muka malas.


“Ada Mike tuh di bawah nyariin kamu.” Mamah Ella tersenyum simpul kemudian berbalik ke dapur. Dilihat dari penampilan Mamanya yang memakai celemek, sepertinya sedang memasak.P bergegas menuruni anak tangga menghampiri Mike. Cewek itu mendapatkan Mike yang menggunakan setelan baju trining dengan earphone yang ia pasangkan di atas kepalanya.


"La, jogging yuk!”


Ella ternganga melihat Mike yang  tiba-tiba mengajaknya untuk berjogging.


“Buruaan ganti baju! Masih sore udah pake baju tidur! Nanti gue traktir jajan, deh.”


“Serius?” Ella terlonjak senang mendengar kata traktir. Karena apa? Karena dia suka yang namanya gratisan.


“Iya cepet!  Banyak nanya ya ni bocah! Buruan sebelum gue berubah pikiran.” nada Mike kini terdengar jutek.


 Baiklah, sebelum kesempatannya hilang, Ella pun mengambil langkah seribu menuju kamar untuk berganti pakaian.


 


-000-000-

__ADS_1


 


Mike berlari-lari kecil. Sedangkan Ella napasnya sudah tersengal-sengal. Sudah yang ketiga kalinya mereka mengelilingi komplek.


“Mike,  gue capek!”


Mereka berhenti di depan taman. Mike melirik Ella yang sudah kebanjiran keringat. Cowok itu merangkul Ella dan mengajak duduk di pinggir taman diantara para pedagang  kaki lima.


“Tunggu di sini bentar.” Mike menghampiri penjual minuman dan membeli dua botol air mineral. Cowok itu pun memberikan satu botol minumanannya untuk Ella.


“Mana traktirannya? Gue laper, Mike.”


“Itu udah gue traktir Minum.” Mike mencoba menguji kesabaran cewek itu. Ya tapi soal janji Ella gak bisa sabar ya? Alhasil Mike mendapat satu pukulan di lengannya.


“Nggak... Nggak.. Gue nggak terima.”


“Nggak terima ya udah.” Mike memasang wajah sok cool. Inget sok cool, bukan so cool.


“Mike, fix gue ngambek dan bakal mogok ngomong sama lo dua tahun.”


Mike tertawa kecil melihat ekspresi lucu dari Ella, “Nggak usah moyong gitu bisa gak mbak?” goda Mike sambil mencubit gemas pipi cewek itu.


“Mike! ,bisa nggak sih lo nggak nyubit pipi gue mulu. Entar pipi gue tambah chubby!” omel Ella.


“Iya... Sayang!”


Deg! Apa apa? Tadi Mike ngomong apa? Sayanv? Kok rasanya Ella kayak mau terbang gitu ya?


“Ya udah ayo.” Mike menarik lembut tangan Ella.


“No... No... No. Gue lagi nggak mau jajan sate. Gue pengen sushi tuna.”


Mike menjitak pelan kepala cewek itu. Kenapa ia bisa berubah mengesalkan. “Dikasih hati minta cinta.” ****! Pepatah apaan itu?


“Bodo amat!” balas Ella dengan muka ngambeknya.


“Ya udah jam delapan stand by di rumah. Nanti gue jemput.” Mike mengacak rambut cewek itu. Dan seketika wajah Ella berubah cerah bersinar bak matahari yang baru terbit dari ufuk timur.


 


-000-000-


 


Titttt....  Bunyi klakson mobil berbunyi. Pertanda Mike sudah datang. Ella bergegas merapikan penampilannya lalu menghampiri Mike dengan senyum termanisnya.


"Kita berngkat sekarang?"tanya Ella.


Mike tersenyum begitu melihat Ella dengan penampilannya.  Hal yang bisa membuat cowok itu merasa bahagia adalah ketika bisa melihat Ella tersenyum. Rasanya seperti ada beban yang hilang.


"Berangkat tuan Putri. " ungkap Mike dengan nada menggoda. Cowok itu membukakan pintu dan mempersilahkan Ella masuk.


Ella berbunga-bunga memandangi Mike. Ternyata cowok itu punya sisi romantis juga.


“Kayaknya ada yang mendadak kenyang mandangin gue.”


Ya...  Ella ketahuan curi pandang. Muka cewek itu mendadak bermetamorfosis seperti kepiting rebus.


 


-000-000-


 


Ella mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang pas. Cewek itu pun memilih duduk di dekat taman yang dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang berwarna-warni.


“Sushi tuna sama stroberi yogurt dessertnya ya, mbak. Oiya Mike lo pesen apa?”


“Sama aja.”


Ella mengangguk dan memesan makanan tadi dua porsi. Cewek itu menatap Mike lagi, kini tatapan mereka beradu, kilat-kilat cinta mulai terpancar. Lensa indah milik Ella membuat Mike ingin terus memandangi cewek itu lagi dan lagi. Sepertinya ada aura merah jambu di sini. Mike kelihatannya  mulai menyukai Ella. Atau jangan- jangan dia udah jatuh cinta sama Ella? Hanya saja ia masih sangat egois untuk mengakui rasa itu. Saat masing-masing masih terpaku dengan kebisuan,  tiba-tiba saja Julian, Jashon dan Carissa muncul di  hadapan Mike.  Mereka tersenyum pada dua orang di meja berkain merah muda itu. Kontan Mike terkejut bukan main begitu melihat kehadiran Jashon dan Carissa.


“Carissa? Lo ngapain di sini?"

__ADS_1


"Kakak yang undang Carissa ke sini, La. Kamu tenang aja,  ya." jawab Julian.


"Ehmm.. Ya udah Kak Juli, Om, ayo duduk.”


Mike menatap tajam pada Ella yang mempersilahkan pria itu untuk duduk. 'Maksudnya apa mereka semua berkumpul di sini?! Ada yang nggak beres!' batin Mike.


“Untuk apa anda kesini?!” sembur Mike tanpa basa-basi.


“Mike, gue yang ngundang mereka kesini.” Ella berkata takut-takut. Khawatir Mike akan tiba-tiba meledak. Mike memanas begitu mendengar perkataan Ella.


“Everything will be okay. Believe me please.” Ella menggenggam lembut tangan cowok itu. Tatapannya tulus membuat Mike sedikit luluh.


“Mike, bagaimana kabar kamu? ” Jashon membuka suara.


Mike bungkam. Jujur, sebenarnya dari lubuk hatinya yang terdalam ia sangat merindukan suara itu. Hanya saja Mike terlalu sombong untuk mengakuinya.


"Mike, ayah mau kamu tau segalanya sekarang.”


"Ayah? Ini maksudnya apa, Yah? Carissa nggak ngerti?"  Carissa menatap Mike bingung.


Kemudian, ''Apa yang perlu saya tau?! Saya rasa semuanya sudah cukup jelas!" Jawab Mike dengan penekanan di setiap katanya.


 Mike benci ayah biadap seperti Jashon yang membiarkan ibunya terbakar hidup-hidup. Karena pria itu tidak bisa menyelamatkan malaikatnya dari kobaran api.


“Kamu pantas membenci ayah sebagai pendusta. Tapi bukan sebagai pembunuh Mike.”


Tadi itu apa? Apa maksud kata-kata yang memilukan hati tersebut?


“Nggak usah basa basi! To the point aja bisa?!” bentak Mike.


“Ayah rindu kamu, Mike.” ucap Jashon lirih.


Mike benci kata-kata itu! Sungguh! rasanya sakit! Jantungnya seperti dicabik-cabik.


Brak! Mike menggebrak meja lalu berdiri dari duduknya, “Gue bilang gak usah basa-basi! Buang-buang waktu gue tau gak!”


“Mike!” seru Julian. Ia tidak suka dengan sikap Mike membentak ayahnya seperti itu.


Semua orang yang ada di sana menegang. Seperti akan ada perunjukan gulat dan tinju. Terutama Carissa. Cewek itu masih belum  sepenuhnya mencerna semua yang Jashon katakan.


Ella mengusap bahu cowok di sebelahnya dan memintanya Mike untuk tetap duduk tenang. “Mike, lo harus tenang.”  Mike menatap Ella. Errghhh! lagi-lagi tatapan itu! Tatapan yang membuat Mike tak bisa berkutik.


“Maafin ayah,” suara Jashon kini terdengar parau.


“Selama ini ayah sudah bohongin kamu.” genangan air mata terlihat dari mata pria itu.


****! Kata-katanya semakin membuat Mike menusuk! perasaan Mike  bergemuruh, dadanya sesak, rasa marah dan sedih menyelimuti jiwa cowok itu. Ia tidak mengerti apa yang di katakan Jashon.


"Bunda Merlina itu bukan ibu kandung kamu. Dia hanya adik dari mendiang ibu kamu. Maafin ayah yang gak pernah jujur sama kamu, Mike. Ibu kamu sebenarnya sudah meninggal setelah dia melahirkan kamu dan Carissa. Semenjak peristiwa kebakaran itu, nenek tidak mengizinkan ayah untuk mebawa kamu dan Juli. Nenek hanya membiarkan ayah untuk membawa Carissa, karena nenek sangat menyayangi kamu. Saat itu kamu sangat terpukul dengan kepergian Merlina. Rasa sedih ayah melebihi rasa kecewa kamu, Mike. Tapi ayah berjuang untuk bisa menghidupi kalian. Meskipun kamu membenci ayah, tapi ayah tidak pernah berhenti untuk menyayangi kamu. Bahkan setelah kematian nenek pun ayah memberikan apa pun untuk kamu melalui Julian.” ungkap Jashon.  Setelah sekian lama akhirnya rahasia itu bisa ia ungkapkan. Bahkan ia rela jika Mike  membunuhnya detik ini juga.


"Jadi?  Mike kakak kandung aku,  yah?" Carissa menatap Mike tak percaya.


Jashon mengangguk,  ia memeluk Carissa dengan air matanya yang berlinang. "Iya,  dia kakak kamu.  Maafin ayah,  karena baru menceritakannya sekarang."


Jari-jemari Mike mulai mengepal. Rasanya ingin sekali ia meninju wajah Jashon. Ternyata dia lebih biadap dari yang ia kira.


“Carissa adalah adik kandung saya?! Dan anda menyembunyikan semua ini hingga bertahun-tahun?! Apakah anda masih pantas untuk saya panggil ayah?! Saya tidak pernah merasa mempunyai ayah pembohong seperti anda!  Dan lo, Kak.  Bisa-bisanya lo bekerja sama dengan manusia biadap kayak dia?!"


“MIKE CUKUP!” bentak  Julian, ia tidak kuat dengan keadaan ini. Hatinya ngilu. Bahkan Ella sudah meneteskan air mata melihat teriakan dan cacian dari Mike.


"Mike... “ Ella menggenggam tangan Mike lembut.


"LEPASIN! LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR!” Mike menepis tangan Ella yang mencegat dirinya untuk pergi.


“Mike... Mike tunggu.” Ella mengejar langkah Mike yang berjalan cepat. Seharusnya ia tau semuanya akan seperti ini. Dan sekarang keadaan bertambah rumit.


 


-000-000-


Mike duduk di sebuah desa kecil yang entah di mana ia pun tidak tahu.  Cowok itu disuguhi pemandangan anak-anak bermain bersama orang tua mereka di sekitaran gubuk. Melihat semua itu, rasanya seperti sedang mencabik-cabik jantung dengan tangannya sendiri. Sakit sekali. Maka cowok itu pun memutuskan akan menikmati rasa sakit itu sampai ia benar-benar bisa menerima semuanya.


Mike mengambil kertas dari dalam tasnya.  Cowok itu menulis sepucuk surat untuk Merlina juga Ibunya.

__ADS_1


"Bunda,  andai saja waktu bisa berputar,  rasanya ingin sekali saya kembali ke masa itu.  Masa di mana bisa melihat bunda tersenyum,  memberikan rengkuhan dan pelukan hangat. Kalian berdua akan tetap menjadi orang yang paling saya sayangi. Bunda,  meskipun saya dilahirkan dari ibu yang berbeda, tapi rasa sayang saya sampai saat ini tidak pernah berubah.  Karena bundalah satu-satunya orang yang menghapus air mata saya ketika sedih,  membelai rambut saya ketika saya gelisah, saya tidak akan pernah bisa menghapus semua kenangan manis yang pernah bunda berikan.  Rasanya terlalu sakit untuk saya melupakan kejadian mengerikan itu.  Bisakah saya membuka ruang hati untuk memafkan dia?  Orang yang bertahun - tahun membuat saya kehilangan arah.  Kehilangan kasih sayang dan orang tua.” Surat itu Mike lipat menjadi perahu yang ia labuhkan di sungai disamping gubuk.


__ADS_2