
Mike datang ke sekolah lebih pagi. Ia menikmati coklat panasnya di kantin tanpa ada suara penganggu. Cowok itu mengeluarkan uang lembar lima ribu dan menaruhnya ke atas meja. Tak lama ia pun pergi meninggalkan kantin dan masuk ke dalam kelas. Mike menyipitkan matanya ketika melihat seorang wanita yang sedang duduk manis di atas bangkunya. Ella? Yah, itu Ella. Mike berjalan cepat menghampiri Ella. Ia takut Ella kembali menjauhinya karena kejadian kemarin ia meninggalkan cewek itu sendirian di toko buku. Dan ini harus diselesaikan!
“La, gue minta maaf kemarin tiba-tiba ninggalin lo gitu aja.”
Ella bergeming tidak menanggapi, seolah Mike adalah makhluk halus yang tidak dapat terlihat dan terdengar suara dan gerakannya. Mike membuang napasnya dengan kasar. Sudah beratus kali bahkan beribu kali ia meminta maaf namun tidak direspon oleh cewek itu.
“La, kalau lo maafin gue, gue bakal baca novel yang lo kasih kemaren sampe abis. Gimana? Mau nggak lo?" tawar Mike.
Ella menatap sahabat yang ada di depannya ini dengan tatapan yang sulit ditebak. Ella berdecak dan tidak mengibakkan perkataan Mike. Cowok itu membuang napasnya dengan kasar. Jika penawaran tadi saja tidak berpengaruh bagi Ella, lalu hal apa lagi yang harus ia lakukan? Mike menjongkok dan meletakkan dagunya di atas meja tepat di depan wajah Ella, “La, lo tatap mata gue." Ella menoleh ke arah Mike. Kontan ia memundurkan posisi wajahnya karena terlalu dekat dengan Mike. Dengan ini Ella menyatakan, ia kembali mengingat kejadian itu lagi!
"Oke, gue mau nanya sama lo Mike. Kenapa lo ninggalin kita di mall? Dan yang paling parah lo ninggalin gue di toko buku kemarin malem tanpa ada penjelasan. Tiba-tiba lo lari gitu aja. Gue manggil lo sampe gue teriak-teriak kayak orang gila. Lo malah pura-pura nggak denger? Gue doain lo supaya bolot beneran. dan gue nggak mau maafin lo titik!"
Wajah Mike memucat ketika mengingat kejadian semalam. Ella merasa bingung sekaligus khawatir melihat perubahan wajah pacar pura-puranya itu.
“Maafin gue, La. Kemarin gue ketemu sama ayah. Tanpa gue jelasin, pasti lo tahu suasana hati gue kayak apa.”Wajah Mike berubah sendu. Mengingat betapa menyakitkannya kejadian itu.
“I-iya udah gue maafin. Lain kali kalau lo emang ada urusan mendadak kasih tau gue dulu. Lo segitunya yah nggak dapet maaf dari gue. Ciye, Mike..." ucap Ella menghibur sambil menoel-noel pipi Mike yang tidak begitu gemuk. Mike tersenyum dan berdiri. Belum sempat ia bernapas lega karena sudah dimaafkan Ella, Mike dikejutkan oleh suara Anna yang melengking bak penyanyi Gita Gutawa. Bahkan melebihi itu, nyaris seperti toa dan suara hantu. Membuat kuping Mike terasa sakit saat mendengarnya.
"Oh my god Mike! Masih ada muka juga lo yah masuk sekolah setelah tau apa yang lo lakuin kemaren malem, hah?!" teriak Anna. Membuat Mike menjauhkan wajahnya sambil meringis.
"Dan gara-gara lu singkong basi, uang jajan gue hari ini berkurang karena harus naik taksi. Sue lu pake ninggalin kita kemaren." protes Rara.
Mike memijat batang hidungnya. 'Andai saja mereka tau...' batin Mike bersuara.
"Nggak usah dengerin mereka Mike. Gue tau kok lo ada urusan mendadak makanya lo ninggalin kita.” ucap Ditto melerai. Untung saja ada Ditto yang selalu bijak dalam segala urusan.
Tiba-tiba saja seluruh penghuni kelas menjadi riuh ketika seseorang lelaki tampan layaknya pria Yunani memasukki kelas mereka. Bau khas permen karet menguar dari badan cowok itu. Cara berpakaiannya yang rapi membuat seluruh perempuan lupa jika mereka masih menginjak bumi. Bahkan seluruh kaum pria pun terkagum melihat teman baru mereka. Terkecuali dengan Mike. Cowok itu berdecak sebal ketika menyaksikan respon dari teman-temannya. ‘Apa cowok itu akan merebut ketenarannya?’ tanya Mike dalam hati.
"Nak, mari tunjukkan siapa dirimu?"
"Take me out kali pake tunjukkan diri segala." protes Mike tanpa menatap teman barunya. Ella yang mendengar spontan memukul pelan punggung Mike yang ada di depannya.
"Mike! kamu keluar kelas sampai pelajaran bapak selesai!" Perintah Pak Kenan dengan tatapan tak bisa membantah. Mike menggeram kesal dan pergi meninggalkan kelas. Tidak lupa ia memberi tatapan membunuh kepada cowok yang membuatnya dihukum seperti ini. Namun cowok itu? Hanya memberikan senyum menjijikkannya.
-000-000-

Mike selalu pergi ke ruangan dance jika dihukum oleh guru. Cowok itu melihat kaset yang tertumpuk di atas meja. Baru saja ia akan menyetel musik tiba-tiba suara decitan hasil pergeseran antara pintu dan lantai mengusik Mike dari kefokusannya. Cowok itu menoleh dan ternyata yang datang adalah Kak Nathan, pelatih dance di SMA Tunas Bangsa.
"Ngapain Mike?" tanya Nathan.
"Biasa, di hukum guru. Daripada uring-uringan mending gue nge-dance." Mike tersenyum seraya duduk di bangku yang diikuti oleh Kak Nathan.
"O-ya Mike, bulan depan bakal ada festival dance antar sekolah. Tapi kali ini beda, lo harus berpasangan sama cewek. Karena temanya first love."
Mike terdiam mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Kak Nathan. Cewek? Cinta? Astaga!
"Mike lo sehat, kan? " tanya Nathan seraya mengibas-ibaskan tangannya di depan muka Mike. Mike tersadar dan mengangguk tersenyum.
"Yaudah Mike, gue duluan ya." pamit Nathan. Setelah Mike merasa ruangan sudah menjadi sepi. Cowok itu menggerang dan mengacak rambutnya dengan kasar dan penuh amarah. Entah kenapa beberapa hari belakangan ini hidupnya seperti sedang diuji. Ya Tuhan!.
Mike melirik jam sport yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam setengah sepuluh lewat dan Ella belum menjemputnya sampai sekarang? Kemana cewek itu? Biasanya ia akan menjemput Mike jika temannya sedang dihukum. Tapi sekarang? Astaga! Mike berjalan cepat. Ketika sampai di luar, seluruh koridor bahkan lapangan dipenuhi oleh manusia. Mata cowok itu terus berputar mencari Ella yang sampai saat ini belum ada kabar. Namun tiba-tiba saja Bella menghampirinya. Ia ingin pergi menghindar tapi cewek itu malah menahan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Mike kesal.
"Lo udah putus sama Ella?"
"Nggak." jawab Mike cepat.
__ADS_1
Bella menyeringai, “Berarti lo diselingkuhin sama Ella, lo liat aja, pujaan hati lo lagi di kantin bareng sama anak baru. Ganteng lagi. Pantesan Ella berpaling." ucap Bella mengompor.
Mike mengepal kedua tangannya dan menggertakkan giginya. Ia berjalan meninggalkan Bella menuju kantin.
Ternyata Bella benar. Ella sedang berduaan dengan anak baru sialan itu! apa itu? mereka tertawa bersama? Astaga! Tapi, apa peduli Mike? Kenapa ia marah seperti ini? Ada apa dengannya? Mike mencoba mengatur napas untuk tidak terlihat marah. Ia berniat berjalan meninggalkan kantin. Tapi tunggu, Ella adalah pacarnya saat ini. Yah meskipun pura-pura tapi Ella tetap pacarnya. Dan sebagai pacar, Mike punya hak untuk marah kepada pacarnya yang selingkuh. Ini bisa menjadi alasan.
"Wah... Enak yah baca buku bareng, sampe nggak sadar kalau gue lumutan nunggu di ruangan dance."
"Eh Mike, sini duduk. gue lupa jemput lo tadi Mike. Abisnya temen baru kita asik banget. Lo tau, ternyata Reinan suka banget baca novel."
"Apa lo bilang tadi? Temen kita? temen lo aja kali gue enggak."
Ella berdecak sebal sedangkan Reinan hanya tersenyum sopan.
Mike memilih duduk dan memesan satu gelas coklat panas, “Jadi, nama lo siapa?" tanya Mike.
Ella yang tadinya menunduk, spontan menenggakkan kepalanya tersenyum semringah. “Namanya Reinan lo bisa panggil dia, Rei." jawab Ella memperkenalkan cowok yang berada di sampingnya itu kepada Mike.
"Yang gue tanya ni banci, bukan elo!"
"Mulut lo nggak sopan banget deh Mike! Lo kali yang banci!" protes Ella yang hanya diabaikan oleh Mike.
"Nama lo Reinan doang?" Mike bertanya lagi.
"Nama gue Reinan Calvin Faw." Kali ini Rei yang menjawab pertanyaan Mike. Mike menganggukkan kepalanya sambil menyesap coklat panasnya. "Nama yang indah." jawab Mike.
"Suka baca novel?"
"Suka." Rei menjawab.
"Hobi yang indah. Suka sama Ella?"
"Iya.”
Spontan Mike tersadar, "Apa? lo suka sama Ella?!" tanya Mike, kali ini dengan tatapan membunuh. Rasanya Ella mau tertawa sepuas-puasnya melihat perubahan ekspresi Mike yang berubah cepat.
"No, no, no. Lo nggak boleh suka sama pacar orang. Minggir lo." Mike berdiri dan menyuruh Rei menggeser bangkunya sedikit dan membiarkan Mike duduk di sebelah Ella.
Ella mengerutkan keningnya. Mike terlihat aneh sekali. "Mike lo apaan, sih? gila lo yah. Minggir sana biar Rei duduk deket gue. Tadi kita belum kelar ngobrolin tentang novel."
Mike merasa seperti terbuang. Ia berdiri dan meninggalkan Ella dan Rei begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pun.
-000-000-
"Mike gue nebeng lah, Mike. Lo kok gini, sih? biasanya juga lo nebengin gue." Ella terus saja menarik-narik tangan Mike untuk meminta cowok itu mengantarnya pulang. Namun cowok itu hanya diam dan tidak bersuara. Mungkin karena efek kesal akibat di abaikan oleh Ella dan Rei di kantin tadi.
"Ngapain nebeng sama gue? Nebeng sana sama pacar lo si Reinan itu." sindir Mike.
Ella melipat kedua tangannya di depan dada, "Oke!" Geram Ella sambil membuang napas dengan kasar.
Tetiba sebuah motor ninja berwarna hitam berhenti tepat disamping Ella.
“Hai Shiella Alycia. Lo mau pulang bareng gue nggak? Kebetulan hari ini gue mau ke toko buku. Kali aja lo mau ikut gue." tawar Rei yang ternyata pemilik motor tersebut. "Hmm.. Boleh juga. Oke kalau gitu gue ikut lo aja, Rei."
What the ****?! Ella jalan sama cowok lain?
"Eh, apaan nih? Ella turun lo. Cepet naik ke motor gue sekarang."
Ella tidak mengibakkan Mike. Ia naik ke atas jok motor Rei sambil menjulurkan lidahnya. Motor Rei berjalan meninggalkan Mike di belakang. Mike menggerang kesal, cowok itu langsung meng-gas motornya dengan kuat.
-000-000-
__ADS_1
Mike membuntuti motor Reinan yang begitu lambat melebihi siput. Bahkan kini motor mereka beriringan.
"Kampret ni anak! Modusnya terangan amat, sengaja banget pengin ngabisin waktu lebih lama sama Ella."
"Heh, bangke kecoa! Berhenti lo!"
Akhirnya Mike mencegat motor Rei dan menarik tangan Ella kasar memintanya tuk turun.
"Mike lepasin, sakit tau."
"Hati gue lebih sakit dari ini."
"Jadi ceritanya lo cemburu?"
Jleb, Mike terdiam kaku. Mengingat bahwa mereka hanyalah pacar bohongan, "Gue harus jawab apa?" wajah Mike memerah semerah tomat busuk yang apabila sekali tekan langsung hancur.
"Ya! Gue cemburu. nggak salah kan? Gue pacar lo Ella. Mikir kek, di mana harga diri gue sebagai cowok ngeliat pacarnya boncengan sama cowok laen. Dan lo bangke! Jangan macem-macem sama gue kalau belum siap buat kehilangan idung."
Ck, Ella mentara percaya atau tidak. Bukankah ini terlalu berlebihan?
"Mike sampe segitunya. Padahal kan gue cuma pacar boongan." Ella membatin, sepertinya cukup sudah pembalasan ini. Ya Ella memang jengkel karena Mike sempat menolak permintaannya. Apalagi melihat wajah Mike yang sangat cocok buat di bejek-bejek kayak rujak beubeuk.
"Mike!" Ella menatap tajam memintanya tuk menghentikan ini semua, dan tanpa terkaan Ella menghampiri Rei tuk pergi, “Makasih tumpangannya Rei. Gue rasa sampe sini aja." ucap Ella menyisakan senyum manis.
"Seriusan?"
"Apaan lo bangke! Dia lebih milih gue, pergi lo sono."
"Mike." Ella menatap tajam lagi.
"Iya gue serius. Tapi Lain kali gue mau kok jalan bareng lo. Oke deh, Bye!"
Rei akhirinya menurut, motornya melaju membelah jalanan.
-000-000-
Ella mengoceh di antara kebisingan lautan kendaraan. Tak habis pikir apakah manusia satu ini masih waras?
"Mike gue rasa lo rada aneh yah sekarang? Lo cinta sama gue Mike? Ngaku lo?" Ella mendekatkan wajahnya ke arah samping wajah cowok itu.
Mike bungkam, tapi jujur perasaannya tiba-tiba berubah. Ada desiran panas yang mengalir di sepanjang pembuluh darahnya.
"Kalau gue peluk gini dag-dig-dug nggak lo Mike?" Ella menurunkan pegangannya ke arah perut Mike, cewek itu sengaja mempererat pelukan membuat dada Mike sesak. Bisa-bisa jantung Mike meledak dan meloncat keluar. Astaga! Perasaan apa ini?
Ella tertawa menyeringai melihat ekspresi Mike yang berubah memerah seperti udang rebus. Dasar cowok! Ngaku gitu aja susah.
Namun Ella merasa puas telah menangkap basah wajah Mike yang tersipu malu. Rasanya lebih nikmat dari semangkuk mie ayam.
Dua puluh menit Ella memeluk cowok itu sampai ia tidak sadar kendaraan yang ia naiki telah berhenti tepat di depan rumahnya.
“Udah nyampe, nih. Lo mau meluk gue sampai kapan?
"Udah sampe, ya? Tapi kok gue nggak mau lepas ya Mike? gimana nih?"
"Jangan jadi murahan gitu lah, La."
Persetan nih anak, bukannya dia yang ngotot mengantar Ella pulang? Dasar! baru digoda segitu aja sudah kewalahan. Ella melepas pelukannya kasar.
"Oke. Thanks. Bye!"
Mike menatap dirinya dari balik spion. Lihatlah wajah memalukan ini. Apa sebenarnya yang ia perbuat. Cih! Harga diri membuat ia melewatkan segalanya.
__ADS_1
Ggrrr.. Mikir apa sih Mike!
Cowok itu mengacak rambut. Sepertinya sedang ada pertarungan argumen dalam otaknya. Sebelum semuanya semakin gila, lebih baik ia meninggalkan tempat ini, Mike menoleh sekali lagi ke arah Ella. Namun Sayang cewek itu tak berbalik arah. Lupakan Mike!