HANDSOME SPOTTED

HANDSOME SPOTTED
CHAPTER 25


__ADS_3

BRUUUUMMM. Mike menggas habis motornya, cowok itu menggila di jalanan.


BULSHIT! teriakannya samar-samar di antara ribuan deruman kendaraan. Hatinya pecah berkeping-keping. Perih, itulah yang ia rasakan. Penglihatannya kabur oleh genangan air mata. Ya tuhan! kenapa sakitnya sehebat ini. Kepala Mike terasa sangat berat. Kejadian sepuluh tahun silam kembali membayang dimatanya.


Eerrrggh! cowok itu meronta sakit.  Tiba-tiba saja motor ninja yang ia naiki berhenti mendadak. "****!  Kenapa di saat seperti ini motor gue malah mogok?! Bensinnya abis lagi!  Damn!" Mike memukul keras ban motor belakangnya. Cowok itu melepas helm,  matanya menyapu jalanan, rentetan klakson protes dari kendaraan-kendaraan lain tak di hiraukan.


Spontan badan cowok itu bergetar hebat saat melihat kobaran-kobaran api di sampingnya. Sirine-sirine Mobil pemadam kebakaran terasa mengiang-ngiang di mana-mana.


“MIKE?!” Jashon berteriak dari dalam mobilnya. Apa anak itu gila? Ia bisa mati. Dan lihat mobil truk yang jaraknya tinggal beberapa meter darinya. Tidak, tidak. Kenapa jalan mobil itu oleng? Apakah remnya blong?.


“BLONG?” Jashon terbelalak. Dasar anak bodoh. Tidak ada waktu lagi. Jashon harus menerobos atau putranya akan mati.


Jashon menancap gas dan melaju melindungi motor Mike yang berada di belakanganya.


Tiiitttt... BRUK!


Bunyi hantaman dua mobil itu sukses mengalih perhatian Mike. Masih setengah sadar Mike  melihat kejadian yang berada satu meter di depannya. Cowok itu berjalan lemas begitu melihat nomer plat mobil di hadapannya. D 4N93L0.  "Itu kan mobil ayah?" batin Mike, “A... yah.” Lutut cowok itu melemas, siapapun tolong bantu. Ia sama sekali tidak bisa bergerak.  Dadanya seakan dihantam ribuan batu. Air mata Mike memanas. Jashon menyelamatkannya!


“TIDAK!” teriakan Mike melolong antara keributan orang-orang.


-000-000-


Tidak mungkin, apakah ini salahnya?  Ya, ini salahnya. Mike mematung di depan pintu ruangan IGD. Sesak, bahkan kini Mike lupa bagaimana caranya bernapas. 'Selamatkan dia Tuhan... ' Hati kecil Mike berteriak. Inikah yang di sebut penyesalan selalu di akhir? Mike benar-benar menyesal. Kejadian ini seakan menamparnya keras-keras. Tanganya gemetar melihat panggilan telepon dari Julian. Ia tadi memang sempat menghubungi Juli memberi tahu tentang ayahnya. Namun kerongkongannya terasa kaku, seakan ribuan duri tajam menyangkut ditenggorakannya.


“Mike, ayah kenapa? Ada apa? Lo kenapa? Jawab gue Mike!” suara Juli terdengar parau, ia merasa ada yang menganjal di hatinya.


“Kak, lebih baik lo kerumah sakit sekarang.” dengan penuh usaha, Mike berbicara. Ia menutup sambungan telepon ,dan terduduk lemas. Sekarang ia tak tahan lagi. Mike benar-benar menangis.


-000-000-


“Mike, ayah nggak apa-apakan?” napas Julian terlihat memburu. Bibirnya mengigil ketakutan. Ia sama sekali tak sanggup dengan semua ini.

__ADS_1


“Ma... maafin gue.” isak Mike dengan suara serak, jelas sekali ia habis menangis. Melihat itu Juli tak sanggup menahan rasa. Ia pun merasakan sakit yang luar biasa. Cewek itu terkulai lemas dibahu adiknya.


Deraian demi deraian mengalir terus sepanjang waktu penanganan operasi sang ayah. Mereka berdua hanya mampu berdoa meminta pertolongan tuhan.


 


-000-000-


Ella berlari cepat menyusuri koridor. Napasnya tersengal, semua ini serasa mustahil baginya. Kenapa musibah semudah itu menimpa. Ia yakin Mike sekarang sedang terpukul berat.  Ella menjambak rambutnya. Tidakkah ia bisa berjalan lebih cepat dari ini? Ia benar-benar harus menemui Mike sekarang.


“Mike!” Ella langsung menyambar mendekati Mike. Lihatlah betapa menyedihkan cowok itu. Walaupun Mike terdiam tapi Ella yakin cowok itu habis menangis. Ia tak bisa menyangkal dengan mata yang sembab seperti itu.


“Om Janshon baik-baik aja, kan?" tanya Ella tak yakin. Mendengar itu Mike langsung tergeming, ia dengan kesusahan menelan salivanya.


Ella menepuk pelan bahu Mike. Dengan berat hati ia berusaha meyakinkan dengan tersenyum, “Gue yakin semuanya bakal baik-baik aja, lo tenang ya.”


Ella melihat Julian dari balik kaca kecil yang menempel di pintu, “Lo beneran gak mau masuk? Lo gak mau liat keadaan om Jashon?”


Kali ini Ella benar-benar tak tahu harus berbuat apa, ia rasa cukup dirinya di samping Mike, maka hal itu akan membuat Mike tidak merasa sendiri. Karena ia tahu, ucapan saja tak cukup untuk mengobati hati yang luka.


 Mike menoleh kearah Ella. Satu orang lagi yang membuat dirinya merasa bersalah. Entah perintah darimana tiba-tiba saja cowok itu memeluk  Ella dalam dekapannya. Ia mewakilkan segala permintaan maaf dalam dirinya. Memang tak ada patah kata yang keluar. Namun cara Mike memperlakukannya Ella yakin cowok itu sangat merasa bersalah dan sedang meminta maaf.


 


-000-000-


 


Mike sadar tidak ada yang namanya kesempatan kedua. Tapi bolehkah ia diberikan kesempatan untuk meminta maaf. Oh tidak, bagai ada kilatan samurai yang menghancurkan sisa-sisa kekuatannya. Mike benar-benar tidak sanggup. Seketika bayangan-bayangan menyedihkan sang ayah bersamanya. Bukankah ia sangat bangsat? Beraninya ia menistakan ayah kandungnya sendiri.


Mike memejamkan mata, memutar masa-masa indahnya saat bersama sang Ayah. kejadian yang sudah berlangsung sangat lamanya. Bahkan Mike lupa kapan kejadian itu terjadi. Yang jelas Mike semakin merindukan sang ayah.  Ingin sekali ia mendekap tubuh itu, betapa menginginkannya ia. Namun pantaskah diri hina ini?

__ADS_1


Tidak tidak Mike di selimuti emosi. Ia sama sekali tidak bisa bersikap rasional. Ia menyalahkan diri seakan kejadian ini adalah seluruhnya disebabkan olehnya.


"A...  ayah." untuk yang pertama kalinya Mike kembali memanggilan Jashon dengan sebutan 'ayah'.  Cowok itu meremas jemari sang ayah yang terbedaya dihadapannya.


"Ayah bangun.  Mike mohon.  Mike minta maaf atas semua kesalahan yang pernah Mike lakukan. Mike janji nggak akan bikin ayah sedih lagi.  Ayah harus sadar. Kita mulai semuanya dari awal." bagaimana pun seorang lelaki tetaplah butuh menangis ketika semua kekuatan tak mampu lagi ia keluarkan. Hanya dengan menangis Mike merasakan ketulusan hatinya mencintai sang ayah kembali.  Kini cowok itu mencium kening sang ayah. Ia merasa sangat bersalah, tapi ia sadar terlalu larut dalam kesedihan hanya akan membuat semuanya semakin memburuk. Mulai detik ini, ia berjanji akan memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Kesalahan fatal yang memberikan penyesalan berujung.


Walau sejujurnya, hati yang sudah terkoyak tak mungkin utuh lagi. Tapi setidaknya, ia harus melakukan sesuatu agar sebuah hati bisa bertahan. Mike menghela napas. Ia merasakan sakit yang teramat dalam jiwanya. Tapi ia harus berdoa untuk kesembuhan sang ayah.Karena itulah satu-satunya cara agar menjadikan keadaan lebih baik.


 


-000-000-


 


"AYAH?!” seketika dada Carissa bergetar hebat. Seperti ada sesuatu yang mengacak bagian dalam tubuhnya.


“PUAS LO SEKARANG?! LIAT! LIAT APA YANG UDAH LO PERBUAT! TERNYATA LO LEBIH BIADAB DARI BAJINGAN!” Carissa mengamuk, melihat Mike membuat jiwanya terbakar, benar-benar sangat panas.


Tangan cewek itu tidak berhenti memukuli Mike, yang Carissa tau semua ini adalah salah cowok itu.


“Maafin gue.” sekian lama membisu akhirnya Mike memberanikan diri untuk membuka suara.


Namun hal itu bukanlah mukzizat yang dapat menyembuhkan sang ayah. Carissa tak butuh itu. Yang ia mau adalah kembali pada rangkulan hangat ayahnya.


“Pergi lo sekarang!" Carissa terdengar serak, ia tidak ingin Mike mengacaukan suasana yang sangat buruk ini.


Julian tidak bisa tinggal diam dengan pertengakaran dua adiknya ini. Dengan sebisa mungkin ia ingin bersikap bijaksana walau keadaannya kini terpuruk melebihi apapun. 


“Carissa, kamu tenang ya. Ayah pasti sembuh. Kakak yakin ayah kuat. Kalian harus bisa bersikap baik dan mendoakan untuk kesembuhan ayah. Karena itu satu-satunya cara agar ayah cepat sadar.”


Mike benar-benar menyesal. Cowok itu menangis hebat atas perbuatannya selama ini. Carissa benar dia memang lebih biadap dari apapun. Dia hina, kehadirannya disini hanya akan mengotori semuanya.

__ADS_1


__ADS_2