
Mike melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, ''Astaga! Jam 5?!'' Cowok berdiri dari duduknya. Ia tertidur di ruangan itu selama empat jam. Mike mematikan radio yang masih berbunyi dan keluar dari ruangan dance. Matanya menyapu seluruh halaman sekolah yang sudah sepi. Tidak ada orang sama sekali kecuali tukang pembersih sekolah yang sibuk menyapu dedaunan kering yang terjatuh dari batangnya.
Mike berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, kenapa Ditto dan yang lain tidak mencarinya? Astaga! Cowok itu menyalakan mesin dan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia merasa sangat pusing dengan kejadian hari ini.
\-**000\-000**\-
Mike terus menyecroll layar handphonennya. Di setiap aplikasi sosial media yang ia punya penuh dengan kabar bahwa ia berpacaran dengan Ella. Ia merasa malu dengan statusnya sekarang. Bagaimana tidak? Dia adalah orang yang membenci cinta, dan sangat tidak ingin berurusan dengan yang namanya cinta. Menurutnya cinta itu tak ada logika. Seperti lagunya Agnez Mo. Karena cinta bisa membuat manusia jadi bertindak bodoh. Maka dari itu Mike sangat tidak ingin bertindak di luar nalarnya. Kembali kepada status Mike, dengan statusnya hari ini tidak membuatnya malu di depan publik, tapi cowok itu malu terhadap dirinya sendiri dan sahabat- sahabatnya. Terutama pada Ella. Entah apa yang dipikirkan Ella saat ini. Cewek yang berusaha mati-matian membawa Mike ke dunia cinta, dan sekarang status ia berpacaran dengan Ella! Dan itu artinya Ella akan merasa berhasil!
Mike mengambil handphonennya di atas meja. Ia membuka kontak dan menekan nama Ditto di sana.
"Halo, To?"
"Lo ke rumah yah, ajak Rara sama yang lain."
"Oke, Mike."
Mike segera mengunci handphonennya. Ia menaruh beberapa lembar uang di atas meja dan pergi keluar dari cafe.
-000-000-
"Eh Mike! Anaknya Buk Mika lakinya Pak Miko! Lu gayanya pake benci-benci cinta! Sekarang ape, nih? Lu pacaran sama nih bocah apaan coba?" cerocos Rara pada Mike.
"Gu-" Belum sempat Mike menyelesaikan kalimatnya, Rara sudah memotongnya.
"Eh singkong basi! jangan banyak bacot lu! secara ya kan? Pacaran itu pasti ada rasa."
"Cinta!" celah Anna.
"Mantap! Jabatan dulu kita." Rara mengacungkan jempol kanannya dan berjabat tangan dengan Anna.
Mike mengacak rambutnya prustasi mendengar mereka berdua yang terus berbicara tanpa memberi kesempatan untuk cowok itu membela diri.
"Gimana kalo gue pacaran sama Ella nggak berdasarkan cinta?"
"Uhuk.. Uhuk." ucapan Mike membuat Ella tersedak air. Ia merasa seperti diberi harapan palsu oleh Mike.
Ternyata benar kata penggemar Mike di luaran sana yang mengatakan bahwa Mike adalah cowok PHP! entah mengapa hati Ella merasa perih.
"Guys gue nggak enak badan, duluan ya guys." Ella beranjak dari sofa dan meninggalkan ke empat sahabatnya.
"Ella!" Panggil Ditto, ia menghela napas panjang dan mengejar Ella yang sudah keluar dari rumah.
Mike memijit pelipisnya, kepalanya terasa sangat pusing melihat respon Ella ketika ia berkata jujur.
-000-000-
Ella mengaduk-aduk minumannya dengan malas. Cewek itu sekarang bersama Ditto di cafe. Karena cowok itu mengejar dan memintanya untuk membicarakan masalah itu secara baik-baik.
"Lo cinta sama dia?" tanya Ditto yang mulai memecahkan keheningan.
"Gue nggak cinta sama dia." balas Ella yang masih mengaduk-aduk minumannya dengan malas.
Ditto menaikkan satu alisnya karena bingung, "Tapi kenapa pas Mike ngomong jujur, lo kek ngerasa tersakiti? harusnya lo nyelow kalau emang lo nggak cinta." Ella menaikkan bola matanya melihat Ditto. Kini cewek itu berhenti melakukan aktivitas aduk- mengaduk dan lebih fokus untuk menjawab pertanyaan Ditto.
"Fix! gue nggak cinta sama dia! mana bisa gue cinta sama sahabat gue sendiri! " jawab Ella.
Ditto tersenyum meremehkan, “Sahabat bisa jadi cinta kali."
Ella menatap Ditto dengan sebal, "Nggak mungkin kan gue cinta sama Mike pas dia bilang kalo dia pacaran sama gue? Kemaren juga gue nggak ada rasa sama dia. Cuma rasa sahabat doang. Masa iya gue cinta sama dia? Cuma gue kayak ngerasa ditipu! dikibul! ngerasa di PHP'in gitu! Gue sebel sama dia tau nggak! " cerocos Ella tanpa jeda.
Ditto menggelengkan kepalanya, "Lo bilang di php-in? berarti lu ngarep dong pacaran sama Mike, ya toh? " Ditto menyipitkan matanya menggoda Ella.
"Masa lo nggak tau maksud gue, sih, To? Bukan itu maksud gue!"
"Iya, gue tau maksud lo. Lu ngerasa dimainin kan sama Mike? iya gue peka kok. Besok kita selesain masalahnya bareng-bareng di sekolah. Lo sama Mike itu sahabatan dari kecil. Masa iya persahabatan kalian hancur cuma gara-gara masalah gini doang?" Ella menganggukkan kepalanya. Betul kata Ditto, bagaimana pun juga Mike adalah sahabatnya. dan ia tak boleh punya perasaan seperti ini.
-000-000-
"Mike lo harus putus sama Ella! "
"Mike lu tega banget selingkuhin gue."
"Mike kita putus aja."
"Mike gue kecewa sama lo."
" Mike gue nggak apa-apa diduain."
Seluruh penggemar Mike berteriak protes ketika melihat pangerannya sudah datang ke sekolah. Mike berjalan di sepanjang koridor diikuti oleh penggemarnya dari belakang. Cowok itu mempercepat langkahnya sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba ia melihat sepasang sepatu tepat di depan sepatunya. Sepatu siapa? Cowok itu menenggakkan kepala dan kaget setelah melihat siapa pemilik sepatu itu. Ternyata Bella.
"Gue nggak bakal tinggal diam! Tunggu tanggal mainnya!" Bella meninggalkan Mike yang terdiam memikirkan sesuatu. Mike bingung dengan perkataan Bella. Apa maksudnya? Cowok itu tidak mempedulikan ucapan Bella dan memilih kembali berjalan menuju kelas. Ada enaknya juga kalo kayak gini, fansnya berkurang dan Bella mulai menjauh darinya.
Mike melihat kelas masih sepi. Hanya ada beberapa anak laki-laki yang sangat tidak mungkin ikut protes seperti yang lain. Mata Mike beralih ke samping kanan melihat Ella yang sudah duduk manis dibangkunya. Cowok itu menaruh tas di kursi. Ia berdehem berniat untuk mencari perhatian Ella tapi tetap saja cewek itu pura-pura tidak menyadari dan malah pergi meninggalkan Mike.
"Mike, ikut gue." Mike terkejut melihat Ditto yang tiba-tiba datang menariknya keluar kelas.
-000-000-
__ADS_1
Mike merasa gugup ketika Ditto mengajaknya ke kantin dan berkumpul bersama ke empat sahabatnya. Termasuk Ella.
"Kalian mau traktir gue?" ucap Mike mengeluarkan suara senetral mungkin. Ia menarik tangannya dari cekalan Ditto dan membenahi seragamnya yang mulai berantakan.
"Hoi tempe basi! Duduk aja! jangan banyak bacot lu! " ucap Rara.
Mike berdecak sebal dan akhirnya ia duduk di samping Ella. Kenapa tempat duduknya harus berdekatan dengan Ella? Sudah tahu ia sedang ada masalah dengan cewek itu.
"Lo ngomong Mike." ucap Anna.
Cowok itu terkejut, untung saja ia tidak tersedak karena coklatnya panas sekali.
"Apa yang harus gue omongin?"
"Lo jelasin ke Ella kenapa lo bilang kalo lo pacaran sama dia." sambar Ditto.
Mike jadi tidak berselera setelah mendengarkan perkataan Ditto. Ia mengambil tissue dan membersihkan mulutnya. Mike terdiam. Dan semua pun ikut terdiam menunggu jawaban dari Mike.
Mike menghela napas panjang dan mulai menceritakan kenapa ia melakukan semua ini. "Sorry yah La, gue ngelakuin ini supaya fans gue nyerah. Terutama Bella. Dan terbukti ada hasilnya, kok. See? Fans gue udah mulai berkurang, Bella juga tadi biasa aja sama gue. Jadi gue harap kalian khususnya lo La, mau nerusin rencana ini." ungkap Mike di akhir kalimatnya.
Ditto memberi kode pada Ella. Semua orang tidak mengerti ada apa antara Ditto dan Ella. Ella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kita bakal maafin lo dan nerusin rencananya kalo lo baca novel cinta."
Tubuh Mike menegang seketika. Sedangkan teman temannya menyetujui ucapan Ella. Apa ada yang bisa menolong Mike di sini?
"Ini dia novelnya." Ella menyodorkan novel berwarna hitam putih, sampulnya tidak memiliki gambar pasangan romantis, namun dari cover-nya terlihat judul 'Boy” tidak terlihat seperti novel cinta tapi kita tidak tahu isinya. Banyak buku yang Mike lihat seperti novel ini. Tampak luar menyenangkan, tampak dalam menyakitkan. Mike mengambil novel yang diberikan Ella dengan tangan yang gemetar.
"Oke. Gue akan baca novel ini." ucap Mike dengan muka yang di buat santai. Tapi sebenarnya gemetaran di tempat karena menyetujui permintaan itu.
"Janji sampe abis? baca dengan teliti, baca di setiap katanya?" Tanya Ella memastikan.
"Iya gue janji demi kalian semua." Janji Mike terucap sudah.
Kita lihat saja, apakah Mike benar-benar akan membaca novel itu?
-000-000-
Pintu tertutup. Udara dingin karena pendingin ruangan yang tak pernah dimatikan oleh sang empunya, membuatnya merasa seluruh masalah yang dihadapinya di sekolah tadi berangsur-angsur menghilang.
Mike menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan satu sentakan. Cowok itu memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, cowok bermata hitam pekat itu beranjak dari kasur. Ia memalingkan wajahnya ke samping kiri. Astaga! Setelah mengingat apa yang ada di dalam tas tersebut membuat pusing serasa kembali mengganduli kepalanya. Ia mencengkram kedua tali tasnya dan melepaskan tas hitam itu dari pundaknya. Dengan satu gerak ringan ia membuka resletting tasnya dan memasukkan tangan kanannya untuk mengambil sebuah benda yang sangat ia benci. Apa lagi kalau bukan novel!
Mike kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia mengalasi kepalanya dengan bantal. Cowok itu meneliti novel terlebih dahulu dengan melihat sampul belakang yang biasanya terdapat sinopsis yang memberikan kisi-kisi dari dalam cerita. Hanya satu kata saja sudah membuat tubuhnya melemas. Sudah ia duga, ini terlalu... CINTA!
Mike menaruh novel tersebut di atas nakas tepat di samping kasur. Ia menghembuskan napas dengan kasar. Pendingin ruangan ini membuat hidungnya menjadi kering. Sudah cukup hari ini ia menderita karena masalahnya yang tak pernah usai. Mike memejamkan matanya, sekarang ingatannya melayang kembali pada kejadian pagi tadi ketika dirinya harus menjelaskan seluruh kesalah pahaman. Dan alhasil ia harus membaca novel sialan itu. Astaga! Andaikan waktu bisa terulang kembali. Pasti ia akan mencegah semua itu terjadi. Sayangnya tidak bisa. Bayangkan ia harus membaca setiap sudut isi bacaan novel ini. Mike mengerang, mereka sungguh keterlaluan, ia tidak ingin memikirkan semua yang terjadi hari ini Mike meraih earphone dan memasangkannya ke kedua telinga. Perlahan mata bulatnya terpejam.
But its the only thing that i know...
When its get heard.
' Tok... Tok... '
Sayup-sayup suara ketukan pintu terdengar di telinga Mike. Astaga apa lagi ini? Baru saja ia ingin tidur, tapi malah diganggu oleh manusia sialan yang mengetuk pintu kamarnya.
Dengan kesal cowok berkulit putih itu beranjak dari kasur dan berjalan membuka pintu.
Mike terperanjat di tempat. Tubuhnya menegang seperti dikomando. Bayangan kejadian sepuluh tahun yang lalu kembali berputar di kepalanya.
"NGAPAIN LO KESINI?! BELUM PUAS NGEHANCURIN HIDUP GUE? PERGI! SEBELUM GUE BENAR-BENAR MUAK!” Mike murka. Kedua tangannya mengepal seperti akan meninju. Wajahnya merah padam, kilatan matanya penuh kebencian. Ia tak habis pikir kenapa Julian membiarkan penjahat itu masuk.
"Maaf jika kehadiran saya mengganggu. Saya tahu ini sulit untukmu Mike. Tapi bolehkah saya memelukmu? Saya rindu sekali Mike." Tatapan Jashon berubah sayu, tapi terlihat jelas ia sangat menyesali segalanya. Bahkan ia telah mengutuk dirinya melebihi Mike.
"PERGI!" teriak Mike sambil mengunci rapat pintu kamarnya.
Jashon sadar tindakannya malah semakin membuat Mike murka, ia tahu yang diharapkannya adalah suatu hal gila. Sangat mustahil berharap maaf pada Mike.
‘Sial! Kenapa bajingan itu datang lagi' Mike menatap nanar ke arah jendela, sudah dipastikan cowok itu tidak akan senang dengan kehadiran Ayahnya. Dada Mike terasa sesak, bibirnya tiba-tiba gemetar.
"Kamu harus bisa belajar memaafkan, Mike." teguran halus itu seolah mengingatkan dirinya. Pikiran cowok itu dipenuhi bayangan kelam. Dunia kembali menyadarkan Mike, di mana kehancuran menghabiskan segala asa yang ia miliki. Hidup Mike digerogoti ke putus asaan. Di saat ia butuh kebahagiaan, butuh bimbingan dan kasih sayang seorang ibu. Manusia biadab itu malah merenggut segalanya. Bagaimana mungkin dengan mudah ia bisa memaafkan dan melupakan kejadian itu. Ini benar-benar gila! Seharusnya jeruji besi itu dapat menghukumnya! Atau paling tidak membuatnya sengsara! Tapi kenapa dia bisa terlihat bahagia. Dasar bajingan" Mike keluar dari kamarnya dan berjalan tanpa arah dengan kecepatan maksimum. Mike telah dibutakan oleh kebencian. Hatinya diselimuti rasa dendam.
Mike masih ingat betul bagaimana Jashon meninggalkan sang Ibu saat peristiwa kebakaran itu terjadi. Dan ia hanya bisa menyaksikan tanpa mengerti apa yang harus ia lakukan. Mike kecil masih terlalu bodoh untuk mencerna segalanya. Mike bahkan mengutuk dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa. Mike benci pada dirinya karena tidak dapat menolong sang Ibu.
Mike menaiki anak tangga satu-persatu. Dedaunan menggesek kulitnya dan rintik hujan membasahi rambutnya.
"Mike..."
Ella tertegun memandangi punggung pria di hadapannya, ia tak yakin itu Mike, tapi perasaannya mengatakan bahwa itu Mike, aneh memang.
Kenapa? Kenapa dia tidak menoleh? apakah benar cowok itu bukan Mike? Tapi nggak mungkin orang lain karena tempat ini adalah hak cipta milik geng nano-nano cekrek. Ayah Ella-lah yang mendirikan rumah pohon sebagai hadiah ulang tahun Ella. Dan dari postur tubuhnya hanya Mike yang memiliki tubuh tinggi tegap seperti itu. Nggak mungkin itu Ditto dengan tubuh cungkring bak tengkorak hidup.
"Mike..." kali ini Ella memanggil lebih kencang dengan keberanian mengikuti Mike naik ke atas.
"Lo kenapa, Mike? Kalau ada masalah cerita ke gue, siapa tahu perasaan lo bisa lebih ringan."
Mike hanya melirih sekilas tanpa mau menjawab. Mata Mike memanas, beruntung kegelapan malam bisa menyembunyikan bendungan air matanya.
"Ella, kenapa dia natap gue kayak gitu? Gue nggak peduli, gue nggak butuh dikasihani. Apakah gue hanya bertahan dalam arti kasihan? Hidup gue memang menyedihkan, hari-hari gue dipenuhi warna kelabu. Langit cerah sekali pun nggak bisa mengubah keadaan gue. Bahkan jika pelangi pun ikut berkabung. Baiklah ini bodoh, kenapa gue harus percaya, toh akhirnya ia akan sama seperti mereka, mencibir dan bahagia atas penderitaan yang gue rasain." Batin Mike.
"Mau apa lo? Pergi! Nggak usah pura-pura peduli." Mike mulai kehilangan akal sehat, dan Mike membentaknya.
__ADS_1
Terkejut, tentu saja. Mike tak pernah sekasar ini pada Ella.
"Mike gue salah apa? Maafin gue kalau selama ini gue salah."
"Lo nggak bakal ngerti! Percuma gue cerita! lo nggak bakal bisa ngerasain apa yang gue rasain. Gue benci! Kenapa dunia terlalu nggak adil. Buat apa ada cinta jika akhirnya harus saling membenci? Apa ini yang lo bilang cinta itu indah? Di mata gue cinta itu seperti neraka. Cinta telah merenggut kebahagiaan gue. Kenapa pria itu mencintai Bunda jika akhirnya ia malah membuat hancur segalanya." Mike tertunduk lemas. Membayangkan kejadian itu membuat ia muak.
Ella tak berusaha angkat bicara, ia hanya ingin Mike melepaskan semua, semua masalah yang memberatkan pikirannya. Entah apa yang Ella rasakan, cewek itu spontan memeluk Mike.
"Kalau lo mau nangis, nggak usah malu. Karena cowok juga manusia. Mereka pasti butuh sesuatu untuk meringankan masalah. Gue akan selalu ada buat lo Mike, dan gue akan selalu peduli sama lo."
Mike mencerna kata itu lekat-lekat. Ternyata Ella tak seperti dugaannya. Ia pikir cewek itu akan sama seperti orang lain, Ella berbeda. Namun, dari semua ucapannya entah kenapa rasanya seperti ada sedikit beban yang hilang.
Ingin sekali rasanya Mike membalas pelukan Ella dan membiarkan rasa sakit itu hilang. Tapi ia hanya mampu merasakan kehangatan yang Ella berikan.
-000-000-
Apa ini? Kenapa suasana kelas mendadak berubah seperti kuburan? Tunggu, sepertinya kita tau jawabannya. Siapa lagi kalau bukan karena Ella. Tiada angin tiada hujan cewek itu tiba-tiba berubah bak manusia vampir, sangat dingin. Bahkan Anna yang sempat mengajaknya bercanda pun ia abaikan. Otomatis nyai lampir di kelas berkurang satu. Lupakan soal itu, ada hal yang lebih penting dari ini, Mike tidak masuk kelas. Tentu saja membuat Ella khawatir, pikirannya dipenuhi oleh Mike. Bahkan ia tak peduli saat Pak Yudin menegurnya. Yang Ella khawatirkan hanya Mike.
"Mike... Apa lo baik-baik aja,"
-000-000-
Teeett... teeett.. teett..
Bunyi bel terdengar nyaring, sungguh jika ada hal yang lebih bahagia, pastilah lepas dari cengkeraman pak Yudin. Astaga selain Killer guru itu juga ternyata guru Matematika, suatu pelajaran paling mengerikan di mata para murid.
"Ella, tunggu." Ella tersentak kaget saat tiba-tiba tangan Rara telah menggenggam tangannya.
"Lu denger gue baik-baik, lu kenapa? Please yah. Kita ini sahabat. Jadi gue harap lu nggak nyembunyiin masalah apa pun dari kita."
"Gue nggak apa-apa, kok."
"Gue tau La, lu pasti bohong. Nggak mungkin lu nggak apa-apa tapi seharian kayak puteri es."
"Gue... Gue cuma khawatir sama Mike."
"Mike, kenapa? Yaelah Ella. Mike cuma demam, segitunya." Ditto mulai bertindak menyebalkan .
"Bukan gitu. Umm... gue," Ella berpikir ragu. Sebaiknya kejadian semalam tak usah ia ceritakan. "Gue.. cuma khawatir. Mike nggak biasanya sakit. Kalo nanti tiba-tiba mati gimana? Misi gue kan belum berhasil bikin dia baca novel cinta."
"Kalau gitu, yuklah kita ke rumahnya." Anna merangkul Ella tiba-tiba diikuti oleh Rara dan Ditto.
-000-000-
"Gila lu yah, setengah jam kita berdiri di sini. Lo malah diem aja, lu pikir kita patung pajangan. Aje gile, tawarin makan kek! Laper tau nggak." Rara meracau tak karuan, suasana ini membuatnya tak nyaman. Dan ia melihat Mike seperti bukan yang ia kenal.
"Sorry guys, gue nggak maksud ngacangin kalian."
"Santai aja kali Mike. Kita juga kesini nggak maksud ganggu kok, ya tapi kayaknya bocah satu ini nggak tau diri. Malah nanyain makanan." Ditto menatap tajam, memberi peringatan pada Rara agar tak bertingkah aneh.
"Tau Rara, gue tabok juga lo!" Anna ikut membenari Ditto.
"Mike, cepet sembuh deh lo. Liat tuh si Ella, udah gila dia mikirin lo seharian." ucap Ditto.
Mike melirik cewek itu, baiklah hentikan untuk berduka cita, keadaan ini malah membuat Mike semakin kosong. Lupakan perasaan itu. Di hadapannya banyak orang yang menyayangi ia dengan tulus.
"Udah nebak gue, Ella mana tahan kehilangan gue. Pasti uring-uringan kan lo nggak ada gue?" Mike tersenyum, mencoba mencairkan suasana. Dan Ella ikut senang melihat Mike kembali ceria.
"Omong-omong kak Juli kemana, Mike? Kok nggak ada?" Anna penasaran.
"Oh, Julian kabur ke Newyork. Udah bosen kali dia ngurusin gue. Dua minggu nggak balik-balik. Awas aja kalau pulang, siap-siap gue bogem!" Mike mulai nanar.
"Selow aja sih Mike. Kak Juli kerja kan buat lo juga." sambar Ella.
Mike memutar bola matanya malas.
"O-ya Mike, sumpah gue hampir lupa ngasih pengumuman. Lo pasti nggak tau info ini."
"Nggak usah berbelit-belit, info apaan?" Mike sedikit penasaran, cara Ditto memberi informasi seolah hal itu melebihi segalanya.
"Pak Yudin ngasih tugas segudang, dan lo tau betapa sulitnya Matematika itu? berhubung lo nggak sekolah kita mau berbaik hati nih ngajarin."
Semua setuju dengan usul Ditto, walau sebenarnya nanti malah Mike yang akan mengajari mereka, terutama pada Ditto yang otaknya mampet kayak saluran air.
"Yaudah kita balik ya Mike udah sore, biasa anak emak, seharian nggak pulang disangka ilang. Nanti malem kita ngumpul ya di rumahnya Ditto ngerjain PR Matematika. Lo bisa, kan?" Ucap Ella.
Mike mengangguk, rumah Ditto tidak terlalu jauh. Jadi ia tidak terlalu keberatan. Dan rumah Ditto memang tempat yang pas. Selain adem, entah kenapa Mike merasa nyaman. Kehangatan yang diberikan keluarga Ditto membuat Mike merasa mempunyai keluarga kedua. Selain itu, mereka juga bisa menikmati kue gratis.
-000-000-
Ditto menopang dagu, sesekali mengacak rambutnya. Bisa-bisa ia penuaan dini, Matematika membuatnya untuk menguras otak. Sudah, Ditto sudah berusaha berpikir keras. Tapi otaknya entah kenapa selalu mintul jika di 1qhadapkan dengan pelajaran ini. Bahkan Anna dan Rara sampai menggerogoti pulpen, Saking rumitnya. Dito mengguling -gulingkan badan berharap terselip sedikit pencerahan. Kelihatannya hanya Ella yang dapat mengerti dengan apa yang Mike jelaskan.
Satu jam
Dua jam
Mereka belum menuntaskan semua tugas. Tunggu siapakah yang disalahkan dalam hal ini? Mereka yang terlalu malas? Atau pak Yudin yang tak punya hati memberi seratus soal pilihan ganda. Padahal menurut perhitungan guru matematika . Tugas hanya boleh diberikan sebanyak sepuluh soal, karena jika terlalu banyak akan mendatangkan efek samping, kekacauan otak. Benarkah?
Baiklah. Tak peduli dengan riset bodoh itu. Yang jelas mereka harus menyelesaikan tugasnya. Salah atau benar, yang penting dikerjakan. itu pesan Pak Yudin saat memberikan tugas soal.
__ADS_1