
Mike memandangi punggung Ella yang selangkah di depannya. Hatinya perih, perasaan bersalah lambat laun menyelimutinya. “Ella!” Kontan Mike menarik cewek itu ke dalam pelukannya.
Ella mematung dengan napas terisak. Dekapan Mike membuat dada Ella semakin sesak. Ia ingin membuang jauh rasa nyaman itu. Mike semakin membuat Ella larut dalam dunia merah jambu. Jika tak ada kepastian kenapa memberi harapan? Tindakan Mike menenggelamkan Ella dalam jurang tajam, dan hal itu membuat Ella semakin sakit.
“Gue minta maaf udah bikin lo nunggu. Gue janji mulai hari ini nggak akan ngebiarin lo nunggu lagi.” ucap Mike lembut dengan tatapan hangat. Cowok itu melepas jaketnya dan memindah alihkan bidadari di sebelahnya.
Ella tergeming dalam genggaman Mike. Cowok itu membawa Ella ke pintu kiri mobilnya, entah kenapa Ella menurut dan tak ada tindakan berontak sedikit pun.
000-000
Tak ada hal yang lebih hangat dari rasa nyaman, juga tak ada hal yang lebih menyakitkan dari kenyamanan yang tak seharusnya ada.
Ingin rasanya Ella mengubur rasa itu dalam-dalam. Tapi Mike terus menggalinya, mengakibatkan Ella yang menanggung perihnya ke tidak pastian.
"Kenapa lo masih peduli sama gue?” Tenggorokan Ella tercekat saat mengeluarkan kata itu.
Mike tersenyum lembut. “Karena lo berarti.”
Jawaban Mike singkat namun penuh arti, rasanya seperti di buang ke kota mati kemudian di selamatkan oleh seorang pangeran. Sakit! Namun menyenangkan.
“Gue boleh minta satu hal?” tanya cowok itu serius, “Gue tau kedengarannya aneh dan konyol. Jujur gue nggak suka lo deket-deket Rei.” cowok itu menatap Ella sekilas.
“Kenapa? lo cemburu?” tanya Ella polos, cewek itu teringat omongan Anna kemarin siang.
Mike kehilangan kata-katanya. Sekarang juga ia berharap bumi menenggelamkannya agar tak berhadapan dengan pertanyaan horor itu.
“Karena lo sahabat gue dari kecil. Gue khawatir Rei punya niatan lain buat deketin lo dan gue nggak suka.” Mike berusaha senetral mungkin.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlangsung cepat, Ella tak ingin mengakhiri waktu bersama Mike. Namun keadaanlah yang membuatnya harus turun.
'Kenapa rumah gue nggak lebih jauh dari ini?' cewek itu mulai berpikir ngawur.
Mike membukakan pintu mobilnya untuk Ella. Kemudian cowok itu memberikan tersenyum manis.
"Lo istirahat, terus ganti baju. Gue nggak mau sampai lo sakit. "
Beberapa detik Ella terdiam memandangi Mike, cewek itu seperti ingin mengatakan sesuatu namun rasanya seperti tercekat. Seolah ada batu besar yang menyangkut di tenggorokannya.
"Ya udah kalau gitu gue pamit ya, La. Night." Mike mengerlingkan mata kananya sambil melangkahkan kaki menuju mobilnya.
Namun baru saja Mike berjalan beberapa langkah, Ella berteriak memanggil. "Mike...," Mike menoleh, Ella pun berjalan ke arah cowok itu, “Gue cuma mau bilang, sampai kapan pun kita nggak akan pernah putus. Karena dalam hubungan persahabatan itu nggak ada kata putus." ucap Ella.
Kemudian, secara tiba-tiba Ella mencium pipi kanan Mike. Membuat Mike terdiam ambigu. Rasanya sedikit terkejut, seperti ada desiran panas yang mengaliri seluruh tubuhnya.
-000-000-
Aroma coklat panas menguar di seisi ruangan. Ella hanya memandangi tanpa berniat untuk menyentuhnya. Bayang-bayang adegan romantis membekas di ingatan cewek itu. Di dalam rumahnya Ella terduduk, ia meraih pulpen dan membuat guratan-guratan di atas kertas putih
Setiap peristiwa yang ia lalui bersama Mike bagaikan inspirasi. Seperih apa pun momen itu pada ujungnya ia kembali pada Mike. Ella beralih fokus ke arah gerombolan hujan yang tak ingin berhenti menonjolkan kemampuannya. Tanah-tanah mulai terbendung air. Ella paham seburuk apa pun masalah yang ia hadapi setidaknya masih ada secercah harapan.
-000-000-
Tatapan mata Ella melebar saat dirinya melihat Reinan berjalan cepat menghampirinya. Untuk apa cowok itu menghampirinya? Shit! Jangan sampai terlihat oleh Mike atau akan terjadi bencana.
Reinan tersenyum simpul dan duduk berhadapan dengan Ella. Cewek itu menggigit bibir bawahnya, kemudian dia tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya ke arah Reinan.
__ADS_1
"Lo ngapain di sini?" tanya Ella dengan nada gugup.
"Gue laper pengen makan, soalnya tadi pagi gue berangkat buru-buru jadi nggak sempet sarapan deh. Omong-omong muka lo kayak nggak sehat gitu? Ada apa nih?"
Ella menghela napas panjang. Kenapa cowok terkutuk ini selalu ingin tau tentang dirinya?
"Gue nggak pa-pa kok, Rei. Cuma semalem gue tidur ke maleman gara-gara kebanyakan baca novel." jelas Ella berbohong.
"Ella, kalau baca novel itu ada jadwalnya. Bisa pagi, siang, atau pas jam kosong, kalau malem waktunya istirahat. Lo nggak boleh menyita waktu istirahat lo buat baca novel. Nanti lo sakit, gue yang sedih."
Ella tersenyum getir. Reinan terlalu berlebihan. Ini yang membuat Ella menjadi bosan atas sikap cowok itu. Berbeda dengan Mike yang bersikap biasa saja namun selalu membuat Ella ingin bersama cowok itu.
"Eh, mana pacar pura-pura lo, La? biasanya lo berduaan mulu sama dia?" tanya Reinan yang tanpa mereka sadari didengar oleh Mike yang hendak masuk kantin. Dan satu lagi, Mike melihat Reinan dan Ella duduk berdua sambil mengobrol ria. Emosi cowok itu tiba-tiba naik, kedua tangannya mengepal membentuk sebuah genggaman dan siap melayang ke pipi Reinan.
"Ngapain kalian berdua di sini?" ungkap Mike dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Ella menggigit bibir bawahnya, sedangkan Reinan sudah berdiri menghadap Mike dengan muka tanpa bersalah. Mike mengangkat tangannya hendak memukul Reinan tapi diurungkannya niat itu, mengingat Reinan sudah tahu rahasia besar ia dan Ella membuat cowok itu malu untuk bertindak lebih.
"Ya kita laper, makanya kita kesini. Lo kok kayak nggak setuju gitu Mike? Bukannya lo cuma pacar pura- puranya Ella, yah?" tanya Reinan.
Mike hanya bisa menatap Ella dan Reinan dengan pandangan yang tidak bisa di artikan, lalu pergi dari kantin dengan rasa campur aduk. Antara kesal dan kecewa.
"Lo tuh apa-apa-an sih Rei?" ucap Ella dengan tatapan tajam.
"Apanya yang apaan? Gue ngomong bener kan? kalo dia cuma pacar pura- pura lo?" ucap Reinan dengan penuh penekanan yang membuat Ella menganga tak percaya.
"Mike emang pacar pura-pura gue, tapi perasaan gue ke Mike bukan pura-pura! Jadi lo nggak berhak ngomong ke Mike kayak tadi!" Ella berbalik dan pergi dari kantin.
__ADS_1