
Kehebohan memenuhi isi ruangan, gemuruh suara yang diciptakan oleh kelas X1 IPA 2 membuat kelas lebih layak disebut pasar. Murid-murid tampak berlalu-lalang, ada yang kurang kerjaan muter-muter, ada juga yang berkumpul membuat sebuah lingkaran, mereka mendengar dengan saksama gosip ter-hot hari ini. Ya, sepertinya hobi ini mungkin sudah melekat dijiwa para wanita. Bagi yang rajin mereka tetap mengerjakan tugas yang diberikan. Tak heran memang! Saat seorang guru keluar karena ada keperluan mendadak, di situ-lah surga untuk para murid berandal. Rasanya seperti mendapat durian runtuh. Mereka menikmati kesempatan emas, kecuali dengan Mike Angelo. Walau dilihat sekilas, tetap saja terlihat menyedihkan. Mukanya kusut, lebih kusut dari pakaian yang belum disetrika.
"Mike. Jangan biarkan wajah berharga itu jadi hancur." Nano-nano cekrek muncul bagai jelangkung.
Anna mulai dramatis, ia menatap Mike dengan wajah di buat-buat, "Sahabatku, anda kenapa?"
"Hooh Mike, lu mirip Sitohang kalo kek gini." sambar Rara.
Mike menghembus napas kasar, "Gue lagi bingung." cowok itu mulai prustasi.
"Ow baby, pusing kenapa sayang?" jawab Anna sok imut. Namun Mike hanya melirik dengan tatapan jijik, plis bisakah untuk tidak mengeluarkan kata mengerikan itu?
Anna tertawa menyeringai melihat sahabat-sahabatnya dengan wajah beragam bentuk. Terlebih Rara, sepertinya cewek itu syok tak percaya mendengar ucapan yang menggelikan dari mulut Anna.
"Lo sebenernya kenapa Mike?" tanya Dito.
“Gue gegana sumpah! Ella baru sehari nggak sekolah tapi kenapa berasa kek sebulan, ya? Pasti kakinya masih sakit gara-gara kemarin. Padahal gue pengin ngajak dia duet dance buat lomba festival."
"Oh.. jadi lo pengen ngajak Ella duet dance?" ucap Anna, Dito, Dan Rara serempak sampai mereka tersadar ada suatu kejanggalan.
"Apa?! Duet dance?! Emang Ella bisa apa?" Anna, Dito, dan Rara berteriak serempak. Sampai Mike menjauhkan wajahnya sambil meringis.
Anna terlihat kaget seakan kepandaian Ella menari adalah hal mustahil.
"Nggak nyangka kan lo? Sumpah demi apa pun Ella tuh keren banget. Gue juga heran kenapa dia nyembunyiin bakatnya."
"Belum liat aja gue udah terpana." ucap Dito berbinar penuh kesungguhan.
"Sayang banget, lo juga sih Mike! Kaki Ella sakit kan gara-gara lo juga." Anna menyikut lengan Mike.
"Yah terus gue harus gimana sekarang? Ella juga susah banget buat di ajak kompromi." Mike di ambang ke putus asaan.
Tiba-tiba Rara menjentikkan jari, ia seperti mendapat ide yang akan menyelamatkan Mike dari kegalauannya.
"Apa?" Mike penasaran.
"Pulang sekolah kita ke rumah Ella." ucap Rara menyeringai.
-000-000-
Ella menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya bergantian. Tatapan Anna, Rara Ditto, dan Mike tampak kontradiksi. Seperti ada rencana terselubung yang akan menenggelamkannya.
Tiktok-tiktok. Hanya dentingan jam dinding yang mengiringi suasana canggung ini.
"Kalian kenapa, sih ? Kok aneh gitu." Ella berterus terang.
"La, kaki lo udah sembuh?" tanya Dito.
"Sekarang udah mendingan, kayaknya besok gue sekolah."
"Bagus." Anna tersenyum puas.
"La, lu tau kan festival dance bulan depan?" Rara menuju topik utama.
"Tau.”
"Lu tau kan lu punya bakat?"
"Apa?" Cewek itu terlihat kaget, namun kemudian ia menatap Mike dan paham di mana sumber pembocoran rahasia itu.
"Lu nggak boleh melewatkan kesempatan ini. Lu tau kan Carissa anak SMA Venus? Dia itu musuh bebuyutan sekolah kita! Dan kalau sampai Mike kalah, lo tau apa akibatnya? Kita bakal di cap sebagai pecundang." ucap Rara berapi-api.
"Bener banget tuh, tahun lalu aja dia sampai minta taruhan sama Mike. Untung aja Mike menang, jadi hukuman buat jadi babunya si Carissa selama sebulan itu nggak terealisasi. So, gue minta lo terima tawaran Mike." Anna penuh semangat, bahkan air liurnya ikutan muncrat.
"Dan lo Mike, gue punya satu syarat buat lo."
"Syarat apaan lagi, nih?" jawab Mike penasaran.
"Kalau lo menang, lo harus nembak Ella dan kudu jadi pacar beneran."
Spontan Ella terbelalak. Ide macam apa itu? Sangat gila!
"Lo bercanda apa? Mending gue baca novel daripada kek gitu."
__ADS_1
Tusukan apa itu? Kenapa dada Ella terasa sakit. "Seriusan lo Mike? Bagus kalau gitu! Karena cuma itu satu-satunya cara supaya gue mau duet bareng lo. Dan novel kali ini beda."
"Beda apanya?" ujar Mike sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Novel yang bakalan lo baca adalah murni buatan gue."
Mike mengatup kedua bibirnya yang sempat menganga kaget. Seriuskah? Apa Ella gila? Ternyata dia benar-benar pecinta buku menjijikkan tersebut?! Sampai ia bisa berpikiran ikut menciptakan sebuah cerita. Mike yakin novel kali ini tak kalah mengerikan dari sebelumnya. Bahkan melebihi segalanya. Astaga! Mike kembali di jebak.
"Oke, gue setuju baca novel lo." Mike menatap Ella tajam.
"Oke." Ella menyeringai.
"Yeay.. Akhirnya Ella mau juga ikut lomba dance. Harus di rayain, nih guys. Gimana kalau weekend ini kita jalan-jalan. Keliling Jakarta! Setuju nggak?” ucap Anna bersemangat.
"Setuju..." Dito, dan Rara berteriak serempak.
-000-000-
Tok-tok-tok.
Pandangan Mike beralih fokus. Ia menatap pintu dan tivi secara bergantian. Bimbang antara ingin membukakan atau tidak.
"Hufft...dasar tukang galon!" Mike menghela napas kasar setelah mendengar ketukan semakin nyaring, dengan langkah malas ia membuka pintu.
Mata Mike terbelalak, ia kaget karena tamu tersebut bukan si tukang galon yang ia pikirkan.
"Masih inget pulang lo?" tanya Mike jutek, tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia bahagia.
"Apa sih dek, jangan cemberut gitu. Nih gue punya oleh-oleh."
"Sorry, gue anti sogokan. Lagian lo keterlaluan tau nggak! Gue sebulanan merana, sepi, sendirian. Tega emang lo, bisa-bisanya bersenang-senang di atas penderitaan gue."
Mike terus mengomel sembari membuka bingkisan hadiah dari sang kakak.
"Gimana? Lo suka, kan?"
Mike bungkam menatap sepatu dan kamera di hadapannya. "Gila! Ini limited edition. Dari dulu gue emang pengen nih sepatu. Kok lo bisa?"
"Iya. Thanks, Juli jelek." Mike masih memasang wajah datar. Karena menurutnya Julian masih dalam posisi bersalah, telah membiarkan Mike terlunta-lunta selama sebulan.
"By the way, gimana pemotretan lo sukses? Udah ketemu JB belum lo?"
"Ya kali, emang kalau ke Newyork dah pasti ketemu artis holywood gitu? Orang gue sibuk banget. Nggak sempet nyari orang."
Mike meleos masuk kamar setelah tau topiknya tak seseru yang di bayangkan.
"Nggak sopan bener lo ya!" Julian mengacak rambut Mike.
"Heh ngapain masuk kamar cowok."
"Gue mau nanya kabar adik ipar gue. Gimana lo sama Ella? Katanya kalian pacaran boongan? Awas lo jangan kebanyakan berpura-pura sebelum nyesel."
"Sejak kapan lo ikut campur urusan gue?"
"Sejak tadi gue nanya ke elo, nggak tau kenapa gue keinget kalian. Semenjak lo sahabatan sama Ella lo banyak berubah tau, Dek. Waktu itu aja gue liat di kamar lo ada banyak novel cinta."
Mike merona, layaknya yang sedang tertangkap basah.
“Jangan salah paham. Kondisinya nggak sesederhana itu."
"Whatever. Satu pesan gue. Jangan menyia-nyiakan kesempatan." ucap Julian sebari mencium pipi adik kesayangannya itu.
"Ergghh... Geli gue. Ngapain sih lu pake cium-cium gue segala! Bikin gue merinding aja, sih!” Ucap Mike kesal.
"Bodo. Gue kangen sama lo dek." Julian meleos keluar dari kamar Mike.
“Aarrggghh... Juli ****! Ngeselin! Mending nggak usah pulang aja lo!" Mike merutuk sebisanya. Yah walau hanya bisa marah di belakang Juli, karena kalau di depan bisa habis si Mike. Kan sayang muka limited dia bisa hancur. Lagian Julian punya kekuatan ekstra untuk ukuran seorang perempuan. Bahkan Mike hampir tidak pernah menang melawan pertempuran dengan Juli. Apalagi jika adu mulut.
-000-000-
Seperti rencana kemarin, Anna dan ke empat sahabatnya sudah berkumpul di rumah Ella. Sambil leyeh-leyeh mereka pun duduk di depan teras.
"Jadi kita mau kemana dulu, nih?" ucap Rara membuka pembicaraan. Dalam urusan hangout dan jalan-jalan cewek yang satu itu memang nggak sabaran. Berbeda dengan Ella dan Mike yang terlihat santai.
__ADS_1
Mike tampak asik dengan kamera barunya. Sesekali cowok itu memotret Ella yang sedang sibuk membolak-balik lembaran novel. Apalagi kalau bukan novel ‘Love story' Kisah cinta romantis, yang dramatis dan juga kadang bikin cewek itu menjerit histeris. Bukan karena apa-apa, tapi efek ending novel yang gereget-lah yang membuat Ella meracau tak karuan.
"Woy... Kalian kok malah pada asik sendiri, sih? Jadi sebenernya kita mau kemana, nih?" sentak Rara.
"Iya, nih. Mumpung masih pagi, mending kita cabut sekarang, deh." jawab Anna melipir masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Ditto, Mike, dan juga Ella.
"Oke, cabut guys." Rara bersemangat.
"Tunggu, kita mau kemana dulu? Ditto mengernyit bingung.
"Gimana kalau ke Ragunan?" jawab Anna.
"Ngapain ke Ragunan? Males gue ketemu sama temen-temennya Mike." Ella berkomentar, masih dengan keasyikannya membaca novel.
"Enak aja lo! Itu bukan temen gue! Tapi saudara gue!" Mike protes.
"Ngaku juga lo akhirnya, kalau lo keturunan makhluk primata. Ya udah cabut Na, kita ke Ragunan. Gue kasian sama Mike, dia udah lama nggak silaturahmi sama saudaranya." Ella menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Oh gitu... jadi ceritanya lo ngelucu?" Mike mencubit pipi Ella.
"Aww... Sakit!" Ella memukul pundak Mike pelan.
"Hahahahaha..." Ditto, Rara, dan Anna tertawa serempak melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
-000-000-
Sebuah patung kingkong tampak berdiri angkuh di hadapan wajah Ella dan ke empat sahabatnya. Pepohonan hijau berjejer di sana-sini membuat udara terasa lebih segar.
Dito antri membeli tiket, dan Mike? Cowok itu seperti makhluk purba yang baru saja mengenal kamera. Mike terus saja memainkan lensanya ke sana ke mari. Bahkan sampai satpam penjaga kebun binatang pun dia potret.
"Oke guys. Ayo masuk." Ditto berkomando.
"Jadi lo mau nemuin saudara lo yang mana dulu nih Mike?" Ella menepuk pundak Mike.
"Kita ke markas Dinosaurus aja dulu, La." jawab Mike masih dengan memainkan lensa kameranya.
Ella mengangkat sebelah alisnya, "Lo pikir, gue kantong Doraemon apa? Yang punya mesin waktu dan masuk ke abad 20?"
Lagi-lagi Dito menggelengkan kepala melihat tingkah Ella dan Mike. "Kalian berdua tuh ribet ya? Gini aja deh, kita pisah. Gue, Rara sama Ditto ke sana. Lo sama Mike terserah deh mau masuk ke abad 20 atau 21. Bebas! Kita ketemu lagi jam 1 siang di sini. Oke?" Anna meleos pergi, diikuti oleh Ditto dan Rara.
'Katanya mau jalan-jalan dan nyenengin gue, tapi gue malah ditinggal kayak orang kesasar. Cape deh!' raut wajah Ella merengut hingga keriput. Ia jadi terlihat seperti wanita berusia 170 tahun dibanding 17. Tiba-tiba saja Mike menarik tangan Ella dan mengajaknya ke suatu tempat. Dan di situlah jantung Ella kembali berulah
"Lo tenang aja, ada gue pasti aman." ucap Mike tersenyum manis.
Ada apa lagi ini? Please Ella, lo harus bisa menenangkan diri lo dari senyuman Mike. Senyuman yang bikin lo lupa bahwa lo berada di bumi.
Akhirnya Ella dan Mike pun menikmati perjalanannya. Mereka asik melihat berbagai jenis binatang, mulai dari jerapah, gajah, bahkan kuda nil, mereka jadikan bahan tertawaan. Tak ingin kehilangan momen seindah ini, Mike pun mengambil gambar dari kameranya yang ia ikatkan di leher.
"Mike, foto-in gue, yah." ucap Ella sambil mengekspresikan senyum dua jari, dengan background burung cenderawasih di belakangnya.
"Gimana kalau sekarang kita foto berdua?" pinta Ella sambil tersenyum manis.
"Boleh juga, nanti foto lo gue pasang di ruangan yang paling spesial." Mike terkekeh.
"Di mana tuh?"
"Di kamar mandi gue-lah."
"Mike! Lo rese....." Ella mengerang.
"Canda gue, La. Udah lo sekarang senyum, kita foto." Mike memerintah.
Ella memasang wajah senarsis mungkin, seketika Mike membidikkan kameranya dan beberapa detik foto mereka berdua terabadikan. Sebenarnya Mike sedikit gugup foto bareng Ella. Seperti ada perasaan aneh dan desiran panas. Yang jelas Mike senang, ia ingin menikmati momen ini lebih lama.
Mike memperlihatkan hasil jepretannya. Ella tersenyum, kontan Mike membeku seketika. Cewek itu benar-benar aneh, dia menyebalkan. Namun ajaib! Senyumnya mampu membuat Mike tak berkedip.
"Eh Mike, lo tau nggak kenapa burung dara itu selalu berpasangan?” tanya Ella sebari menunjuk sepasang burung dara.
"Mungkin karena takdir?" jawab Mike asal.
"Bukan, yang bener itu karena cinta. Cinta itu keajaiban yang membuat hidup lebih sempurna." ucap Ella menyisakan seulas senyum manis.
Dan Mike? ia hanya terdiam kaku. Efek kata-kata yang Ella lontarkan memberikan sensasi tersendiri. Seperti ada rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan. Mendengar ucapan itu, Mike jadi sedikit melupakan kebenciannya terhadap 'cinta'.
__ADS_1