
Pukul tujuh malam, itulah waktu Clara baru sampai ke rumahnya. Eh? Bukan rumahnya sih kayaknya. Itu adalah rumah Keenan saja, karena sepertinya ia hanya menumpang saja di situ. Ia memang baru pulang karena sehabis pertemuannya dengan pria bernama Agler itu, ia berpikir untuk bertemu dengan sahabatnya yang bernama Indira Kalila Harish.
Sejak ia menikah, ia jarang berhubungan dengan sahabatnya itu. Lagipula, sahabatnya itu kan kuliah. Yang pastinya akan sangat sibuk saat ini.
Ia berpikir, pasti Keenan belum pulang ke rumah seperti biasa. Karena pria itu biasanya akan pulang saat malam hari atau paling tidak pulang ke rumah. Sebenarnya itu cukup bagus dengan tidak adanya keberadaan pria itu di rumah. Ia jadi lebih bebas.
Clara memasuki rumah dan bertemu dengan Bibi Nani di sana.
“Bibi Nani!“
“Clara, kenapa kamu baru pulang?“ tanya Bibi Nani dengan raut khawatirnya.
“Itu, aku....“
Ucapan Clara langsung terhenti kala suara langkah seseorang turun dari tangga disertai dengan suara dari seseorang.
“Sepertinya sangat mengasyikkan di luar sana yah,” celetuk Keenan yang berjalan menuruni tangga dan menghampiri Clara.
Clara mengernyitkan dahinya atas perkataan Keenan. Ia sebenarnya cukup terkejut karena pria itu ada di rumah saat ini. Karena biasanya pria itu tak pulang jam segini.
“Maksudnya?“ tanya Clara dengan tatapan bingung.
Keenan berdecih pelan. “Kau sepertinya pura-pura bodoh yah. Tak kusangka jika kau adalah wanita yang gampangan. Tak sepolos yang aku kira,” sarkas Keenan dengan tatapan menghina.
Clara semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria di depannya itu. “Aku sama sekali tak mengerti maksudmu apa? Kenapa kau mengatakan semua itu?“ protes Clara
Keenan tersenyum miring. “Ikuti aku!“ sentak Keenan yang langsung menarik tangan Clara untuk naik ke atas tangga.
“Tu-Tuan Muda, mohon jangan menyakitkan Nyonya Muda,” tahan Bibi Nani yang terlihat sangat khawatir. Ia hanya takut kejadian seperti waktu itu terjadi kembali.
Keenan menghentikan langkahnya. Ia memandang dingin pada kepala pelayan rumahnya itu.
“Ini urusan keluargaku yang tak perlu diikut campurkan oleh orang lain,” tukas Keenan seraya kembali menarik tangan Clara.
Clara menolehkan wajahnya pada Bibi Nani. Ia menganggukkan kepalanya pelan untuk mengatakan jika ia akan baik-baik saja.
“Semoga Tuan Muda tak menyakiti Clara. Kalau sampai itu terjadi, aku tak ada pilihan untuk langsung menghubungi Nyonya,” gumam Bibi Nani
Sedangkan di lain tempat, Keenan membawa Clara untuk masuk ke kamarnya. Ia mendorong Clara ke atas ranjang. Hal itu membuat Clara memandang waspada pada pria di hadapannya itu. Meskipun mereka pernah melakukannya sekali, tetap saja itu bukan malam yang indah. Melainkan malam yang begitu menyakitkan hatinya.
“A-Apa yang ingin kau lakukan?“ tanya Clara dengan kepala yang ia tundukkan.
Keenan kembali berdecih. Ia mengangkat wajah Clara agar melihat ke arahnya. “Kenapa? Kau takut denganku? Tapi kenapa saat bertemu dengan pria itu kau malah tak takut? Dengan pria asing kau bisa langsung akrab, tapi denganku kau tak bisa, hah?!“ geram Keenan dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Clara cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. “A-Apa maksudmu?“ tanya Clara
Keenan langsung tertawa sarkas. “Kau benar-benar membuatku muak dengan sikap polosmu itu. Kau menipu orang tuaku dengan sikap menjijikkanmu itu. Jika saja mereka tau kelakuanmu yang sebenarnya, pastinya mereka akan membencimu. Itu sangat bagus bukan,” sindir Keenan dengan tatapan sinis sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Hentikan! Kenapa kau selalu menghinaku?! Apa salahku padamu?! Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu?!“ geram Clara
Keenan memandang penuh keangkuhan pada Clara. Ia berjalan ke sisi meja dan langsung melempar beberapa foto pada Clara.
“Lihat sendiri bagaimana kelakuanmu itu,” tukas Keenan
Clara mengambil foto-foto itu dan melihatnya. Tatapan terkejut ia perlihatkan kala melihat gambar di foto itu. Bukankah ini saat dia bertemu dengan Agler tadi? Bagaimana Keenan tahu hal ini?
“Untuk apa kau melakukan semua ini? Kau menguntitku?“ protes Clara
“Cih, untuk apa aku menguntitmu. Aku ini bukan pria yang menyukaimu. Jangan kepedean. Foto-foto itu aku dapatkan dari karyawanku yang melihatmu bersama dengan pria asing itu. Kau benar-benar hebat yah. Kau sangat hebat ternyata dalam merayu pria di luar sana. Kurasa kau sangat cocok untuk pekerjaan seperti itu,” sarkas Keenan
Clara mengepalkan tangannya dengan kuat. Keenan benar-benar keterlaluan padanya. Ia menahan air mata yang sudah siap akan keluar sebentar lagi. Tidak! Ia tak boleh terlihat lemah di depan pria itu.
“Terus kenapa kalau bersama dengan pria itu? Apakah ada masalah untukmu?“ tanya Clara sambil melipat kedua tangannya di dada.
Keenan terlihat terkejut dengan jawaban dari Clara. Ia tak berpikir jika Clara akan menjawabnya seperti itu. Ia berpikir jika Clara akan menjelaskan alasannya bertemu dengan pria itu.
Clara hanya berusaha mempertahankan harga dirinya. Jika Keenan sudah salah paham padanya, biarkan saja sekalian salah paham terus. Bukankah tak ada hubungan yang pasti antara keduanya?
Marahlah! Aku yakin saat ini ia akan menyangkal dengan emosi ucapanku sekarang ~ batin Keenan
Ternyata di luar dugaan, bukannya marah, justru Clara hanya memasang wajah yang santai. Seolah ia tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Keenan.
“Oh, jika kau ingin mengatakannya pada Mama, katakan saja. Aku tak akan menghalangimu. Tapi ada dua hal yang perlu kau ingat saat akan mengatakannya pada Mama. Pertama, kau harus ingat jika saat ini Mama lebih mempercayai aku dibanding dirimu. Kalau enggak percaya kau bisa mencobanya. Dan yang kedua, sepertinya kita sudah sepakat untuk tak mengganggu kehidupan masing-masing. Kau sendiri yang mengatakannya jika aku bebas melakukan apa pun yang aku suka selama itu tak mengganggu dirimu bukan. Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Jadi pikirkan sendiri apakah kau akan mengatakannya atau tidak. Selamat malam,” papar Clara seraya berjalan keluar dari kamar Keenan.
Sedangkan Keenan masih terdiam di tempatnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Clara. Ia jadi tak ingin memberitahukan masalah ini pada Mamanya itu. Ia tak bisa menyangkal apa yang telah dikatakan oleh Clara tadi. Karena memang pada awalnya dia sendiri yang mengatakan jika mereka harus mengurusi urusan masing-masing dan tak boleh mengganggu urusan orang lain.
Keenan mengacak rambutnya dengan kasar.
“Sial! Aku tak menyangka jika wanita itu bisa mengatakan hal ini,” desis Keenan
Clara berjalan menuruni tangga karena saat ini tenggorakannya benar-benar kering setelah pembicaraan panjang dengan Keenan yang benar-benar menguras emosinya.
Sungguh, ia tadi merasakan jika dirinya sangat tenang menghadapi masalah dengan Keenan. Apa mungkin itu karena teh chamomile yang ia minum tadi sehingga ia sangat tenang menghadapi masalah yang datang padanya?
“Aku benar-benar harus berterima kasih pada Agler. Berkat dia aku tetap tenang menghadapi masalahku. Walaupun aku masih sangat sakit hati atas apa yang dikatakan oleh pria itu. Bagaimana bisa dia menuduhku seperti telah berselingkuh sedangkan dirinya saja terang-terangan berselingkuh di depanku waktu itu,” protes Clara dengan raut kesal.
“Clara!“
__ADS_1
Clara segera menolehkan wajahnya pada Bibi Nani yang menghampirinya.
“Bibi Nani belum tidur?“ tanya Clara
“Mana bisa Bibi tidur jika masih khawatir dengan keadaanmu. Apa Tuan Muda menyakitimu lagi?“ tanya Bibi Nani
Clara menganggukkan kepalanya lemah. Hal itu membuat Bibi Nani langsung memasang raut yang khawatir.
“Apa?! Di mana? Di mana Tuan Muda menyakitimu?“ tanya Bibi Nani dengan raut wajah yang khawatir.
“Di sini. Di sini bagian yang paling sakit,” jawab Clara sambil menunjuk ke arah dadanya itu.
Bibi Nani tahu apa maksud Clara. Untuk itu, ia langsung memeluk tubuh Clara untuk memberikan ketenangan pada wanita itu. Clara pun membalas pelukan Bibi Nani yang menurutnya sangat nyaman itu.
Pelukan itu terlepas dan digantikan dengan Bibi Nani yang menangkup wajah Clara.
“Kamu jangan terlalu memikirkannya yah. Jangan bersedih hati karena perkataan Tuan Muda,” timpal Bibi Nani
Clara menganggukkan kepalanya. “Iyah Bibi. Aku tau. Makasih yah karena sudah mengkhawatirkan diriku,” balas Clara dengan senyuman lebar.
“Oh ya, kamu ngapain ke dapur?“ tanya Bibi Nani
“Aku mau ambil air minum sih tadi karena tenggorokanku kering,” jawab Clara
“Mau Bibi buatkan jus?“ tawar Bibi Nani
“Jangan deh, Bi. Aku tak mau merepotkan dirimu. Bibi bisa balik untuk tidur saja,” tolak Clara
“Heih, Bibi enggak merasa kerepotan tau. Udah yah, kamu tunggu aja di sini,” jawab Bibi Nani seraya berlalu dari hadapan Clara untuk membuatkannya minuman.
Akhirnya Clara hanya pasrah dibuatkan minuman oleh Bibi Nani.
“Hufft! Segar juga habis mandi. Aku jadi bisa agak rileks dengan masalah yang aku hadapi,” gumam Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya itu.
Clara merebahkan tubuhnya di ranjang dan memandang langit-langit kamarnya. Pikirannya melalang buana. Ia jadi kepikiran dengan reaksi Agler yang mungkin akan bingung dengannya yang tadi siang tiba-tiba pergi saja. Padahal dia saja belum mengatakan apa pun pada Agler tentang masalahnya itu.
“Sudahlah! Untuk apa aku terus memikirkannya. Lagipula, kalau lagi kita bertemu nanti. Pastinya tak akan bertemu lagi,” gumam Clara
Ia kembali teringat dengan sikap Agler yang sangat baik dan gentle padanya. Siapapun wanita pasti akan cukup senang dengan perlakuan Agler.
“Jika saja Kak Keenan bisa seperti Agler pastinya akan sangat bagus. Hubungan pernikahan ini tak akan menyakitkan. Eh?! Ngapain juga aku memikirkan hal seperti itu? Aku juga enggak terlalu peduli dengan perubahan pria itu nantinya. Karena pada akhirnya tak akan ada kata bahagia dalam pernikahanku ini. Karena sejak awal ini bukanlah pernikahan yang diinginkan, baik itu diriku ataupun Kak Keenan sendiri,” gumam Clara
Karena terlalu lelah memikirkan semuanya, membuat Clara cukup lelah. Tak lama kemudian, ia sudah tertidur pulas karena rasa lelahnya itu.
__ADS_1