
Bukan Putri Keluarga Lyman
“Iyah, Kak. Aku akan sampai sebentar lagi,” ucap Clara seraya mematikan panggilan telpon itu.
Clara mempercepat langkah kakinya untuk berjalan ke arah Cluster Publisher. Gara-gara mengurusi Keenan tadi, ia sampai lupa kalau dirinya sudah punya janji untuk pergi ke penerbit. Ia perlu menemui editor yang menangani naskahnya. Karena ada beberapa perbaikan yang diperlukan dalam naskah novelnya itu.
“Kak Yanti! Maaf aku lama datang. Ada urusan tambahan di rumah tadi,” ucap Clara saat ia sudah sampai di dalam kantor penerbit. Jujur, ia harus hati-hati saat memasuki kantor penerbit. Karena ia khawatir akan bertemu dengan Axel nanti. Ia malas untuk ditanya banyak hal nanti.
“Enggak apa-apa kok. Enggak lama juga kamu datangnya. Ayo, masuk,” ajak Yanti menuntun Clara masuk.
***
“Kamu mau makan siang denganku, gak?” ajak Yanti saat pembicaraan mengenai naskah selesai.
“Emm, boleh Kak. Ayo,” jawab Clara dengan anggukan pelan.
Yanti dan Clara berjalan bersama menuju sebuah restoran. Mereka memlih restoran di dekat kantor penerbitan supaya cepat.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Yanti saat mereka sudah duduk di kursi dan seorang pelayan menghampiri mereka.
“Emm, aku mau spaghetti dan jus stroberi aja deh,” jawab Clara
“Okey Mba! Kami pesan dua spaghetti, satu jus troberi, dan satu jus alpukat yah,” ucap Yanti pada pelayan itu.
“Baik Mba! Silahkan ditunggu pesanannya!” Pelayan itu segera berlalu dari hadapan keduanya.
“Bagaimana dengan pembicaraan dengan editor tadi? Apakah kau cukup kesal?” tanya Yanti tiba-tiba.
“Kesal? Kesal kenapa?” tanya Clara dengan tatapan bingung.
“Banyak penulis kami yang mengatakan jika Kak Tony itu terlalu ketat dalam penulisan. Mereka harus ekstra sabar dalam menyunting naskah,” ungkap Yanti
Clara mengangguk paham. “Iyah sih. Kak Tony itu emang sangat ketat. Tapi, menurutku itu wajar aja sih. Bukankah itu bagus jika naskah kita diberitahu ada yang salah? Aku malahan senang jika naskahku diberitahu ada yang salah. Itu membuatku bisa memperbaiki lagi kualitas tulisanku,” jelas Clara
__ADS_1
Sontak Yanti bertepuk tangan untuk Clara. “Wah, baru kali ini aku menemukan penulis yang bisa dengan sabar dikritik. Banyak penulis yang malah mengeluh dan bahkan mengumpat karena tak terima tulisannya dikritik seperti itu. Tapi, kau justru senang. Memang bagus Cluster Publisher merekrutmu untuk menjadi penulis,” timpal Yanti dengan senyuman lebar.
Clara terkekeh pelan. “Ahh, Kak Yanti jangan gitu dong. Aku jadi malu tau,” balas Clara
Yanti jadi ikuta terkekeh pelan. Tak lama kemudian pelayan datang dengan pesanan mereka. Keduanya mulai memakan pesanan mereka dengan beberapa obrolan ringan. Sebelum suatu masalah tiba-tiba menghampiri.
“Clara!”
Sontak Clara mengalihkan pandangannya pada sosok ibu tirinya yang datang menghampirinya.
“Ada apa?” tanya Clara yang bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Jina.
Jina dengan cepat mengangkat sebuah gelas di atas meja dan langsung menyiramkan isi minuman itu pada Clara. Membuat Clara bahkan pengunjung restoran menatap ke arah mereka.
“Hei Nyonya! Apa yang kau lakukan?!” protes Yanti yang langsung bangkit dari duduknya.
Clara memandang geram pada sosok Jina. “Apa kau tak malu melakukan hal ini di depan banyak orang? Kau akan mencoreng nama baik keluarga, Nyonya Lyman,” desis Clara
Yanti sungguh terkejut dengan perkataan Clara. Ia tak menyangka jika wanita paruh baya di dekatnya itu adalah ibu dari Clara. Meskipun tak diketahui sebenarnya jika Jina bukanlah ibu kandungnya.
Clara berdecih pelan. Ia melipat kedua tangannya di dada. “Masalah di perusahaan, kenapa harus mencariku? Apa aku bekerja di sana?” tanya Clara dengan senyum sinis.
Orang-orang mulai bergunjing di sekitar mereka. Membuat Jina jadi semakin geram dengan Clara. Ia mendekati Clara yang sama sekali tak memandang takut padanya. “Kamu itu hanya anak haram kelaurga Lyman. Harusnya kamu tau posisimu itu di mana. Jangan pernah membantah perintah dari kami,” desis Jina
Tiba-tiba saja tubuh Clara ditarik ke belakang. Ia menatap terkejut saat melihat sosok Keenan yang ada di sampingnya. Bukan hanya dirinya saja yang terkejut, melainkan semua orang yang ada di sana juga menatap terkejut melihat sosok presdir dari Gibson Group.
“K-Keenan?!”
Jina menatap takut pada Keenan yang menatapnya begitu tajam. “Jangan berpikir aku akan membiarkan hal ini terjadi. Tak ada siapapun yang boleh menindas istriku. Ayo, Clara! Kita pulang,” ajak Keenan sambil menggenggam tangan Clara keluar dari restoran.
Keenan menuntun Clara untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelahnya, ia mulai menjalankan mobilnya itu. Selama perjalanan, hanya ada keheningan di antara keduanya. Hingga mobil itu tiba-tiba berhenti berjalan. Tanpa berucap, Keenan berjalan keluar dari mobilnya. Tak lama kemudian, Keenan kembali dengan sebuah paper bag di tangannya.
“Ini”
__ADS_1
“Ini apa?” tanya Clara dengan tatapan bingung.
“Apa kau tak ingin mengganti pakaianmu itu? Itu cukup transparan tau,” jawab Keenan
Clara melihat ke arah pakaiannya yang basah. Sontak ia langsung menutupi tubuhnya itu dengan kedua tangannya. “A-Aku akan menggantinya,” gagap Clara yang langsung pergi ke arah kursi belakang mobil.
“Jangan berbalik!” protes Clara saat Keenan akan menolehkan kepalanya ke belakang.
“Untuk apa kau malu? Aku sudah pernah melihat semuanya bukan?” timpal Keenan dengan nada santai.
“Ihh, pokoknya jangan berbalik!” protes Clara kembali.
“Iyah, iyah! Aku enggak akan berbalik kok. Kau ganti baju saja sana,” timpal Keenan
Clara mulai mengganti pakaiannya itu. Ia menatap ke arah Keenan yang tetap tak berbalik belakang.
“Bagaimana caranya kau tau aku ada di sini?” tanya Clara
Keenan terdiam sejenak. “Emm, aku tak sengaja lewat dan melihat dirimu di dalam restoran itu,” jawab Keenan, padahal yang sebenarnya tak lah seperti itu.
Clara hanya menganggukkan kepalanya paham. “Terima kasih sudah menolongku tadi,” ujar Clara
“Kau tak perlu berterima kasih padaku. Masalah yang tadi, apa kau tak berencana menjelaskannya padaku?” tanya Keenan menolehkan kepalanya sedikit.
“Bukan apa-apa kok. Sudah tak ada masalah lagi. Tak ada yang perlu dijelaskan,” jawab Clara dengan tatapan sendu.
“Emm, kau bilang kalau Jina itu bukan mamamu bukan? Saat acara waktu itu, sikap Jina padamu memang bukan sikap seorang ibu pada putrinya,” komentar Keenan
“Kenapa? Tiba-tiba merasa sudah menikahi putri keluarga Lyman yang palsu kah? Bukankah kau sudah tau hal ini?” timpal Clara
“Jujur saja, sebelum kau muncul, aku tak pernah sama sekali melihatmu ada di dalam keluarga Lyman. Aku jadi tak menyangka saja,” balas Keenan
Clara tersenyum miris. “Itu karena aku tak dibesarkan langsung oleh keluarga Lyman. Aku juga bukan putri dari keluarga Lyman,” jawab Clara dengan pandangan yang dialihkan. Terlihat tangan Clara yang mengepal setelah mengatakan hal itu.
__ADS_1
Keenan melihat Clara dari kaca spion depan. “Clara, bukan itu yang aku pedulikan,” ujar Keenan yang membuat Clara langsung menatap ke depan. Tepatnya pada kaca spion depan mobil sehingga keduanya saling tatap.