Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
35. Dasar Pembohong!


__ADS_3

Sinar matahari mulai masuk ke dalam celah tirai sebuah kamar. Membuat seorang wanita terbangun dari tidurnya.


“Enghh! Hoamm!”


Dialah Clara yang berusaha bangkit dari tidurnya. Ia tertegun kala merasakan kehangatan di sampingnya.


“Apa mungkin Mas Keenan tidur di sini yah?” gumam Clara, entah mengapa saat ini hatinya jadi menghangat ketika membayangkan sang suami yang tidur dengannya tadi malam.


Namun, buru-buru ia menepuk kedua pipinya itu. Ia harus sadar saat ini. Ia tak boleh jatuh untuk kedua kalinya.


Clara segera turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, ia segera keluar dari kamarnya dengan laptop di tangannya. Ia perlu melanjutkan pekerjaannya sebagai penulis.


Saat ia sampai di meja makan, ia melihat sebuah sandwich dan segelas susu di sana. Ia juga melihat secarik kertas di bawah piring. Ia membuka lipatan kertas yang ternyata ada tulisan di sana.


‘Selamat pagi istri! Maaf aku hanya bisa membuat sarapan yang sederhana untukmu. Semoga kau menyukainya. Kau tak perlu menungguku nanti malam karena aku akan sibuk dengan lembur’


Clara tersenyum lebar membaca surat yang ditulis oleh Keenan itu. Perhatian kecil seperti ini saja sudah sangat membuatnya bahagia.


“Apa perkataannya itu benar yang ingin memulai semuanya dengan baik?” gumam Clara


“Clara?”


Clara menoleh ke arah Bibi Nani yang menghampirinya. “Selamat pagi Bibi Nani!” sapa Clara dengan senyuman lebar.


“Hmm, sepertinya Nyonya Muda ini senang yah. Apa karena Tuan Muda yang membuatkan sarapan yah?” duga Bibi Nani dengan tatapan menggoda.


Clara jadi salah tingkah dengan godaan itu.


“Ihh, Bibi ini malah menggoda sih. Jadi, benar ini dibuat olehnya?” tanya Clara menunjuk ke arah sarapan di atas meja makan. Jujur, sebenarnya ia belum percaya jika Keenan lah yang membuatkan sarapan itu untuknya.

__ADS_1


“Sarapan itu memang Tuan Muda yang membuatnya. Tadi pagi, Bibi yang ingin membuatkan sarapan. Ternyata Tuan Muda sudah duluan yang membuatkannya untukmu,” ungkap Bibi Nani


“Hmm, apa dia sudah sarapan?” tanya Clara


“Kalau untuk itu Bibi enggak tau sih. Soalnya Tuan Muda langsung pergi bekerja saat sudah membuatkan sarapan untukmu,” jelas Bibi Nani


Clara jadi terdiam sejenak. Entah kenapa ia jadi merasa tak enak saat ini.


“Kalau kamu enggak enak, mending nanti bawakan makan siang untuknya,” sahut Bibi Nani yang menyadarkan Clara dari keterdiamannya.


“A-Ah, iya Bibi benar. Nanti aku akan bawakan makan siang untuknya,” jawab Clara sedikit gugup.


Bibi Nani menepuk pelan bahu Clara seraya berlalu dari hadapannya. Sedangkan Clara memilih duduk di meja makan dan memulai sarapannya. Selama ia memakan sarapannya itu, senyum yang lebar senantiasa nampak di wajahnya.


Suara ponsel yang terus berdering, membuat perhatian Clara yang sedang sibuk mengetik teralihkan. Ia melihat nama ‘Jina’. Clara menghela napas kasar saat melihat nama itu.


“Halo. Ada apa menelponku?” tanya Clara dengan suara yang terlihat ogah-ogahan.


Keenan menampilkan senyum miringnya. “Papa saja tak pernah mengatakan padaku tentang hal. Apa kamu tak malu mengatakannya padaku saat ini kalau aku lupa atau tidak?” sindir Clara


[“Clara! Apa maksud dari ucapanmu ini?! Biar bagaimanapun, aku ini Ibumu secara hitam di atas putih!” geram Jina]


Yahh, Jina Lyman, bukanlah Ibu kandung dari Clara. Melainkan hanya ibu tirinya. Oleh sebab itu, hubungan keduanya tak pernah baik sama sekali.


“Sejak kapan aku peduli dengan hal seperti itu?” sindir Clara kembali.


[“Kamu jangan sok yah! Kalau bukan karena putriku sudah tak ada di pernikahan itu, anak haram sepertimu ini tak akan mungkin bisa masuk ke dalam keluarga Gibson! Tak akan mungkin bisa menjadi Nyonya Muda Gibson menggantikan Sheina!” murka Jina]


Clara memutar bola matanya jengah. Clara berdecih pelan mendengar ucapan Ibu tirinya itu.

__ADS_1


“Heh, siapa juga yang mau posisi ini? Jika kamu sudah menemukan putrimu itu, lebih baik kamu segera membawanya pulang. Aku akan dengan senang hati menyerahkan posisi ini padanya. Udah yah aku sangat sibuk. Aku tutup dulu,” timpal Clara


[“Pokoknya kamu harus bawa Tuan Muda Gibson ke sini di acara besok. Jangan lupa!” balas Jina]


Clara mematikan panggilan itu. Sungguh telinganya jadi sangat panas saat ini karena mendengar ucapan ibu tirinya itu. Ia sangat tahu sifat ibu tirinya itu. Jina sengaja menelpon dirinya hanya untuk membawa Keenan ke acara ulang tahun Papanya besok.


Clara memandang datar pada ponselnya itu. Ia menghela napas kasar seraya membuang ponselnya itu di sampingnya.


“Wanita seperti itu, atas dasar apa menjadi ibuku. Hanya karena Papa saja aku bisa menerima dirinya. Jika tidak, aku tak akan sudi,” tukas Clara


Clara kembali meraih ponselnya itu. Ia terlihat menekan nomor seseorang di ponselnya. Namun, gerakan tangannya tiba-tiba terhenti.


“Apa aku harus kasih tau Mas Keenan atau enggak yah? Bagaimana kalau itu malah mengganggunya? Aihh, aku katakan saja deh. Lagipula terserah pria itu mau terima atau tidak. Yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya,” gumam Clara yang akhir memutuskan untuk menghubungi Keenan.


[“Halo Nyonya Muda Gibson! Aku Cherry. Keenan sedang sibuk di tempatku saat ini. Apa ada yang perlu kusampaikan padanya?”]


Sontak Clara melebarkan matanya ketika mendengar suara wanita itu. Tak ayal saat ini ia tangannya terkepal dengan kuat. Bahkan, ia bisa merasakan dadanya yang menjadi sesak saat ini.


Dasar pembohong! ~ batin Clara


Clara berusaha mengatur emosinya. Ia tak mau terdengar emosi saat ini.


“Oh, kalau begitu tolong sampaikan padanya. Besok ada acara ulang tahun mertuanya. Terserah dia mau datang atau tidak,” jelas Clara


[“Wah, sayang sekali kalau begitu. Keenan mau menemaniku besok. Mungkin Nyonya Muda Gibson harus datang sendiri ke sana,” timpal Cherry]


Clara langsung menutup panggilan itu. Ia membuang jauh ponselnya itu. Terlihat wajah Clara yang sedang menahan amarah.


“Dasar pembohong! Keenan pembohong! Dia mengatakan padaku kalau dia akan sibuk. Cih, ternyata dia sedang sibuk dengan wanita lain. Palingan saat ini ia sedang terbuai dengan lautan kenikmatan dan tak bisa keluar dari sana,” desis Clara

__ADS_1


Clara sudah tak ada mood untuk menulis lagi. Ia mengambil laptopnya dan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia lebih memilih untuk berendam di dalam bath up untuk mendinginkan tubuh dan pikirannya yang benar-benar gerah saat ini.


Clara menenggelamkan tubuhnya di dalam bath up seraya menutup matanya itu. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang benar-benar berkecamuk saat ini. Ia tak mau memikirkan siapapun saat ini.


__ADS_2