Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
9. Love At First Sigh


__ADS_3

Clara berlari dengan cepat menuruni lantai dasar. Hatinya sangat terasa sesak saat ini. Kenapa ia tak pernah memiliki kisah cinta yang baik? Selalu saja seperti ini. Apakah karena ia sudah memiliki rasa pada suaminya itu, sehingga tak bisa melihat Keenan bersama dengan wanita lain?


Tapi ia bisa berbuat apa? Keenan itu tak menyukai dirinya. Ia tak akan mungkin menegur atau memarahi suaminya itu karena telah berselingkuh darinya. Karena sejak awal pernikahan mereka hanyalah perjanjian antara kedua orang tua yang menjalankan suatu bisnis.


Clara terus berlari dengan kencang hingga membuat orang-orang yang ada di perusahaan itu memandang aneh padanya. Hingga karena tak melihat keadaan di sekitarnya, membuat dirinya tak sengaja menabrak seseorang di depannya.


“Ah!“


Clara sudah bersiap untuk merasakan kerasnya tanah yang keras itu. Tapi, sudah lama ia menutup matanya untuk menahan rasa sakit itu, tapi rasanya tak kunjung ia rasakan. Untuk itu ia mulai membuka matanya secara perlahan untuk melihat apa yang terjadi.


Sontak mata Clara melebar kala melihat sosok pria tampan di depan matanya. Wajah mereka sangat dekat hingga membuat keduanya terpaku satu sama lain. Hingga akhirnya Clara sadar dengan posisinya dan langsung melepaskan diri dari pria itu.


“Ma-Maafkan saya! Saya tak melihat jalan dan langsung menabrak anda,” ucap Clara yang merutuki kebodohannya karena sudah menabrak sembarangan orang.


“Anda tak perlu minta maaf. Anda tak sengaja bukan menabrak saya karena anda saat ini tengah kalut,” ujar pria itu.


Clara tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu. Ia mengeryitkan dahinya karena cukup bingung dengan apa yang dikatakan pria itu.


“Maksud anda?“ tanya Clara


“Yang saya katakan benar bukan? Anda saat ini tengah sedih dengan sesuatu yang menimpa Anda. Sehingga Anda menjadi kalut. Saya yakin Anda melihat sesuatu yang tak ingin Anda liat sehingga membuat Anda langsung berlari tidak jelas seperti tadi,” papar pria itu dengan jelas.


Clara jadi tak bisa berkata-kata. Kenapa pria di hadapannya ini sangat mengetahui apa yang terjadi padanya?


“A-Apa anda seorang cenayang?“ tanya Clara dengan tatapan polos.


Sontak pria itu tertawa atas apa yang ditanyakan padanya. “Anda ini lucu juga yah. Saya bukan cenayang. Tapi saya sedikit mengetahui tentang wanita. Oh ya, apa Anda mau mengikuti saya untuk menenangkan diri? Karena sepertinya Anda masih kalut saat ini,” ajak pria itu.


Clara menatap waspada pada pria itu. Ia masih mengingat pelajaran untuk tak menerima dengan mudah pertolongan dari orang asing.


Melihat tatapan Clara, membuatnya tahu apa yang tengah dipikirkan oleh wanita itu.


“Anda tenang saja. Saya bukan seorang penculik tau. Oh ya, biar lebih akrab sebaiknya saya memperkenalkan diri saya dulu deh. Perkenalkan nama saya Agler. Kalau Anda?“ tanya pria bernama Agler itu sambil mengulurkan tangannya di hadapan Clara.


Dengan ragu Clara meraih tangan pria itu. “Clara”


“Wah, nama Anda bagus yah. Apa Anda tau arti dari nama Anda itu?“ tanya Agler


Clara menggelengkan kepalanya karena memang ia tak tahu apa arti dari namanya itu.


“Apa itu penting?“ tanya Clara


Agler menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Seperti nama saya Agler, yang berarti kedamaian. Nama Anda juga punya arti tau. Clara, yang berarti perempuan yang melindungi banyak orang bagaikan malaikat bersayap,” papar Agler


Clara cukup terkejut mendengar arti dari namanya itu. “Wah, iyakah? Tapi sepertinya arti itu tak cocok untuk saya,” timpal Clara


Agler langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak! Arti itu cocok untuk Anda. Mungkin Anda belum menyadarinya saja arti dari nama itu. Bagaimana? Kita sudah cukup akrab bukan? Saya ingin Anda melepas beban di hati Anda saja. Kita bisa mengobrol di kafe depan kalau Anda masih belum percaya,” jelas Agler dengan senyum tipis.


Clara memikirkan tawaran dari pria di hadapannya ini. Sepertinya tak ada salahnya ia menyanggupi ajakan Agler. Ia juga tak ingin balik ke rumah saat ini. Yang ada ia akan kepikiran dengan kelakuan Keenan yang sangat membuatnya kesal.

__ADS_1


Untuk itu Clara langsung menganggukkan kepalanya setelah berpikir lama. “Baiklah! Tak ada salahnya pergi dengan Anda,” jawab Clara


Agler terlihat senang karena Clara menyanggupi ajakannya itu. “Baiklah! Ayo, kita jalan ke sana,” ujar Agler


Clara dan Agler berjalan bersama menuju kafe yang ada di depan perusahaan. Sontak Clara tertegun kala tangannya digenggam oleh Agler saat mereka hendak menyembrangi jalan. Jujur saja, Clara tak pernah mengalami hal seperti ini. Karena ia tak pernah terlalu dekat dengan seorang pria.


Akhirnya mereka sampai di dalam kafe dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Seorang pelayan langsung mendekati keduanya. Clara dapat menangkap jika pelayan itu tersipu dengan Agler. Iyah sih, pria di hadapannya itu memang memiliki paras yang tampan.


“Pesan blacktea dan chamomile tea yah,” ujar Agler


“Baik! Mohon ditunggu pesanannya!“ Pelayan itu langsung beranjak pergi dengan langkah malu. Semakin terlihat jika pelayan itu menyukai Agler. Membuatnya langsung terkekeh pelan.


“Kenapa? Apa ada hal yang lucu?“ tanya Agler yang cukup bingung karena Clara tiba-tiba tertawa.


“Tidak ada! Hanya saja, saya merasa lucu pada pelayan tadi. Terlihat sekali dia menyukai Anda,” jawab Clara


Mendengar jawaban Clara, membuat Agler jadi ikutan terkekeh pelan. “Itu sudah biasa sih saya lalui. Oh ya, apa sebaiknya kita jangan bicara formal. Saya pikir kita seumuran walaupun saya bisa melihat sih kalau Anda lebih muda dari saya,” jelas Agler


Clara menganggukkan pelan kepalanya. “Boleh boleh saja sih. Itu lebih baik juga. Kau sudah menolongku tadi,” timpal Clara


“Menolong apa?“ tanya Agler dengan tatapan bingung.


“Yang tadi, kau menyelamatkanku agar aku tak jatuh ke tanah tadi. Aku sudah bisa membayangkan betapa sakitnya jika terjatuh tadu. Tapi untungnya tidak jadi,” jawab Clara dengan sedikit ringisan.


“Itu memang berbahaya sih. Jika kau sampai terjatuh tadi ke tanah kemungkinan kau akan mengalami cedera pada tulang ekormu yang akan berakibat kau akan susah duduk atau buang air,” ungkap Agler


Clara melebarkan sedikit mulutnya atas penjelasan dari Agler. “Kau cukup banyak mengetahui tentang kesehatan yah. Aku jadi takut ketika terjatuh nanti,” timpal Clara


Clara tersenyum tipis. Perkataan Agler membuatnya jadi agak tenang saat ini.


“Permisi! Ini pesanannya!“


Pelayan itu mulai menaruh dia cangkir di atas meja.


“Terima kasih!“ ucap Agler sambil tersenyum tipis pada pelayan itu.


Pelayan itu langsung terlihat gugup karena diberi senyuman oleh Agler. “I-Iyah, sama-sama. Si-Silahkan dinikmati!“ Dengan cepat pelayan itu beranjak pergi dengan wajah yang salah tingkah.


“Kau membuatnya salah tingkah lagi hanya dengan senyuman itu,” komentar Clara


“Aku hanya memberikan senyuman untuk menberikan apresiasi atas kerja keras mereka. Mereka kan berusaha untuk menghidupi diri mereka di sini. Kita sudah sepatutnya menghargai usaha mereka bukan,” jelas Agler


Clara tersenyum tipis. Agler benar-benar pria yang baik. Bahkan pria itu memperhatikan sekitarnya. Tak peduli dengan siapa, pria itu akan tetap bersikap baik dan akan selalu menunjukkan senyuman yang membuat orang tenang itu. Sangat berbeda dengan pria yang ia kenal itu.


“Oh ya, kenapa kau memesankan chamomile tea?“ tanya Clara dengan tatapan heran.


“Oh, ini untukmu. Apa kau sudah pernah mencoba meminum teh ini?“ tanya Agler


Clara menggelengkan kepalanya. “Aku bahkan baru tau jika bunga chamomile bisa dijadikan teh kayak gini,” jawab Clara

__ADS_1


“Kau beruntung bertemu denganku berarti. Kau harus mencoba meminum teh ini. Aku jamin kau akan menyukainya. Teh ini sangat berkhasiat untuk membuat orang tenang. Coba deh!“ lapar Agler


Clara langsung meraih cangkir berisi teh itu. Dengan perlahan ia meminum teh itu. Sebelum minum saja, ia sudah merasakan tenang kala menghirup wangi yang begitu harum dari teh itu. Apalagi saat ia mulai menyesap teh itu, ia bisa merasakan tenggorakannya jadi hangat. Tiba-tiba ia merasakan darahnya mengalir dengan baik hingga membuat dirinya merasakan ketenangan itu. Untuk sejenak, ia melupakan masalah yang terjadi padanya.


“Bagaimana? Apa kau menyukainya?“ tanya Agler


Clara menganggukkan kepalanya kuat. “Iyah, teh ini benar-benar enak. Bukan hanya enak, teh ini memang membuatku jadi tenang. Aku tak pernah merasakan teh seperti ini,” jelas Clara dengan senyuman lebar seraya kembali menyesap teh itu.


“Baguslah jika kau menyukainya. Kau emang harus sering meminum teh itu. Bukan hanya untuk menenangkan pikiran. Teh itu juga berkhasiat agar kita bisa tidur dengan nyenyak,” jelas Agler


“Wah, kau sangat hebat yah. Pengetahuanmu sangat luas,” puji Clara


Terlihat Agler yang mengulum senyum atas pujian pada dirinya. “Terima kasih atas pujianmu itu. Aku merasa senang saat kau memujiku seperti itu,” timpal Agler


“Ihh, apaan sih? Aku yakin pasti banyak yang mengatakan hal ini padamu,” balas Clara


Kau benar, Clara! Banyak yang memujiku seperti yang bilang. Tapi, entah kenapa saat kau yang mengatakannya rasanya sangat spesial. Rasanya sangat menyenangkan mendengarnya darimu langsung ~ batin Agler


Jika ada yang mengira Agler menyukai Clara. Jawabannya, iya! Itu benar! Agler memang sudah menyukai Clara sejak pertemuan pertama mereka tadi saat ia menolong Clara yang hampir saja terjatuh karena menabrak dirinya.


Entah kenapa ia senang melihat wajah cantik Clara. Saat wanita itu menangis tadi, ingin sekali ia menghapus air mata wanita itu. Mengatakan padanya jika dia tak perlu menangis, ada dirinya yang akan melindunginya. Love at first sight, itulah yang ia rasakan saat ini pada Clara.


“Apa kau masih SMA?“ tanya Agler tiba-tiba.


Clara terkesiap kala pertanyaan itu terlontar untuknya. “Tidak. Aku udah lulus tahun kemarin,” jawab Clara


“O-Oh, aku pikir kau masih anak sekolahan. Emamg umurmu berapa?“ tanya Agler


“Umurku 19 tahun,” jawab Clara


“Oh, kalau gitu, berarti kau saat ini tengah kuliah dong,” timpal Agler


Wajah Clara langsung berubah sendu kala mendengar kata ‘kuliah’. Ia langsung menggelengkan kepalanya lemah.


“Tidak juga. Aku tidak kuliah juga,” jawab Clara


Agler dapat melihat tatapan sendu. Sebenarnya ia ingin menanyakan alasan Clara yang tak kuliah. Tapi keburu Clara sudah bangkit dari duduknya.


“Aku permisi dulu yah. Terima kasih karena sudah mengajakku ke sini. Kau orang yang baik, Agler. Aku senang bisa bertemu denganmu. Sampai jumpa,” pamit Clara seraya berjalan keluar dari kafe.


“Eh?! Clara, tunggu!“ teriak Agler yang baru mengingat jika ia ingin meminta nomor Clara.


Tapi ternyata ia terlambat karena Clara sudah menaiki taksi dan pergi. Agler jadi menghela napas kasar.


Ia jadi penasaran kenapa saat ia menyinggung perihal kuliah, Clara langsung berubah.


“Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba seperti itu? Aku jadi semakin penasaran dengannya,” gumam Agler


Bunyi ponselnya terdengar di balik saku jaketnya. Segera ia mengambilnya lalu menjawabnya.

__ADS_1


“Iyah, Ma. Aku akan ke sana sekarang,” ucap Agler seraya mematikan panggilan itu.


Semoga kita bisa bertemu lagi, Clara. Kalau aku bertemu lagi denganmu nanti, aku akan menanyakan alasanmu itu ~ batin Agler


__ADS_2