Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
13. Keenan yang Cemburu


__ADS_3

“Berarti kau sudah S2 dong kalau mau buka praktik di sini?” tanya Clara saat mendengar Agler yang akan membuka praktik di Jakarta.


Agler menganggukkan kepalanya. “Iya, di umurku yang ke-21, aku bisa membuka tempat praktik,” ucap Agler dengan tangan yang ditangkupkan di atas meja makan.


Terlihat Clara yang cukup terkejut dengan perkataan Agler. “Umurmu 21 tahun?! Bukankah menyelesaikan pendidikan S1 itu minimal berusia 22 tahun?” tanya Clara dengan tatapan bingung.


Tatapan bingung dari Clara menimbulkan tawa pada Agler, karena menurutnya Clara sangat lucu dengan wajah seperti itu.


“Perkataanmu tidak salah, sih. Tapi itu tak berlaku untukku. Aku mengikuti kelas akselerasi, makanya bisa lulus lebih cepat,” papar Agler


Clara mengangguk paham dengan penjelasan itu.


“Oh, begitu rupanya,” timpal Clara


“Kau harus sering datang ke tempatku nanti,” sahut Agler


Keenan langsung memandang tak suka pada apa yang dikatakan adiknya itu. “Untuk apa Clara datang ke tempatmu?” tanya Keenan dengan tatapan dingin.


Semua orang langsung menatap ke arah Keenan yang sedang memandang lurus ke arah Agler.


“Apa salah jika aku menyuruh kakak iparku ini untuk datang ke tempatku? Bukankah bagus jika Clara bisa ke tempatku? Dia enggak akan sendirian terus di rumah, apalagi Clara sampai menangis seperti kemarin,” jelas Agler dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Apa maksudmu mengatakan hal itu?! Maksudmu. Aku enggak bisa menjaga istriku dengan baik?!” protes Keenan.


Clara merasakan aura yang sangat mencekam di meja makan saat ini. Perdebatan dua bersaudara itu membuatnya teringat dengan sang kakak, yang akan selalu mengajaknya untuk bertengkar.


“Aku tak pernah bilang begitu. Aku hanya ingin membantumu yang sangat sibuk ini,” timpal Agler.


Keenan menggeram. “Kau....”


“Hentikan! Apa kalian tak malu bertengkar di depan makanan?! Di sini juga ada Clara. Kalian enggak malu bertengkar padahal sudah dewasa?!” murka Andy.


Baik Keenan dan Agler hanya bisa menundukkan wajahnya atas apa yang dikatakan oleh papanya itu. Clara pun jadi ikut merasa bersalah karena secara tak langsung dialah penyebab keduanya berdebat seperti itu.


“Aku sudah selesai. Aku akan langsung ke kamar,” celetuk Agler seraya beranjak dari sana.


Clara melihat ke arah Agler yang menaiki tangga menuju kamarnya.


Keenan dapat merasakan tatapan Clara di balik punggungnya. Sesaat ia berpikir, apakah istrinya itu tak rela Agler pergi? Ia berdeham dan membuat Clara melanjutkan kembali makanannya yang tertunda.


“Ma, aku benar-benar minta maaf soal tadi,” ucap Clara saat ia dan mertuanya itu ada di ruang tengah.


Clara dan Keenan memang belum pulang karena Mama Maya meminta mereka untuk menginap.


“Untuk apa kamu minta maaf, Sayang? Kamu enggak salah apa pun. Mereka memang sering seperti itu. Dulu ada yang bisa melerai mereka berdua, tapi saat ini sudah tak ada lagi. Jadi, kamu jangan merasa bersalah. Mereka berdua itu memang kekanakkan. Harusnya Mama yang merasa bersalah padamu karena melihat pertengkaran tadi,” papar Maya.


Clara menggelengkan kepalanya pelan. “Aku enggak apa-apa. Aku juga sering bertengkar dengan kakak. Oh ya, tadi Mama bilang ada yang melerai mereka berdua. Siapa itu?” tanya Clara dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


Terlihat Maya terkesiap kala Clara menanyakan hal itu. Namun, dengan cepat menutupinya.


“Aduhh, Mama lupa untuk memeriksa persediaan di dapur. Nanti kita bicara lagi, ya,” ujar Maya seraya berlalu dari hadapan Clara.


“Eh? Ma....”


Clara jadi bingung mengapa Mama Maya menghindari pertanyaannya. Terlihat sekali jika mertuanya itu tak ingin membahasnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Clara.


Tatapan Clara terhenti kala melihat Agler yang berjalan menuruni tangga.


“Agler!” panggil Clara.


Agler yang tadinya memasang wajah dingin langsung mengubah ekspresinya jadi tersenyum lebar dan menghampiri Clara.


“Hai, kau masih ada di sini?” tanya Agler.


Clara menganggukkan kepalanya. “Iya. Mama memintaku untuk menginap malam ini,” jawab Clara.


Agler mengangguk paham. “Aku mau ke supermarket untuk membeli sesuatu. Apa kau mau menitip sesuatu?” tanya Agler.


“Boleh. Aku mau makan es krim,” jawab Clara dengan senyuman lebar.


Agler tersenyum geli melihat tingkah Clara yang seperti anak kecil. Ingin sekali ia cubit pipi chubby wanita itu. Tapi ia harus menahannya karena Clara adalah kakak iparnya.


Clara menganggukkan kepalanya. “Boleh!”


Agler kemudian mengajak Clara sambil menarik tangannya untuk keluar dari rumah.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kamar Keenan.


Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, namun kondisi kamarnya kosong, bahkan di ranjangnya tidak ada jejak Clara sempat duduk atau tidur.


“Di mana dia? Apa dia masih bersama Mama?” gumam Keenan.


“Maaf, kau jadi bertengkar dengan Kak Keenan karena diriku tadi,” ucap Clara saat dirinya dan Agler sedang berjalan bersama menuju ke supermarket.


Agler tersenyum tipis. “Untuk apa kau minta maaf? Aku yang memancingnya untuk memulai pertengkaran tadi,” timpal Agler.


Clara langsung mengeryitkan dahinya. “Kenapa kau melakukannya?”


“Hanya rindu saja melihat kemarahannya itu,” jawab Agler.


“Cih, kau ini jail juga ternyata.” Clara baru melihat sisi lain dari Agler. Clara dapat merasakan sedikit perasaan Agler. Biar bagaimanapun ia juga sering membuat kakaknya marah.


Akhirnya mereka sampai di depan supermarket dan langsung masuk ke sana. Clara melihat pegawai kasir dan beberapa pelanggan di sana menatap terkejut dengan kehadiran Agler. Itu bisa jadi karena wajah Agler yang sangat tampan.

__ADS_1


Clara pergi ke sisi bagian tempat es krim, sedangkan Agler pergi ke bagian lain. Clara menatap binar pada banyak jenis es krim di sana.


“Bagaimana? Banyak, kan?” tanya Agler yang ternyata ada di belakang Clara.


Clara menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Agler. “Iya, sangat banyak. Sampai aku tak tau harus pilih yang mana,” jawab Clara.


“Pilih aja yang benar-benar kau suka. Atau, kau bisa memilih semuanya,” timpal Agler


Clara langsung menatap Agler. “Mana bisa kayak gitu. Nanti gigiku bisa sakit tau,” balas Clara.


Agler tertegun. Clara seperti anak kecil yang takut dimarah orang tuanya karena makan banyak es krim.


“Ya udah, pilih yang kau suka aja. Kau suka rasa apa?” tanya Agler membuka box es krim itu.


“Aku suka rasa cokelat!” jawab Clara dengan semangat.


Tangan Agler yang ingin meraih satu buah es krim, terhenti kala mendengar perkataan Clara. Ia merasakan deja vu ketika mendengar suara Clara. Namun, buru-buru ia usir pemikiran itu.


“Aku juga menyukai rasa cokelat. Kita beli yang ini aja ya,” timpal Agler.


Clara menganggukkan kepalanya dengan kuat. Setelahnya mereka pergi ke kasir untuk segera membayar belajaan mereka. Lagi dan lagi. Clara melihat sang kasir yang tersipu malu oleh Agler.


“Terima kasih!” ucap Agler dengan senyuman lebar.


“Sama-sama! Datang lagi!” ucapnya sambil melambaikan tangannya.


Agler dan Clara berjalan di malam dengan es krim di tangan mereka.


“Hmm, makan es krim di malam gini memang sangat enak,” ucap Clara yang sibuk menjilat es krimnya itu.


Agler terkikik geli melihat berapa antusiasnya Clara memakan es krim itu.


“Jika kau bertingkah seperti ini, tak ada yang akan percaya jika umurmu itu 19 tahun. Yang ada mereka akan mengira kau itu masih SD tau,” komentar Agler.


Mendengar perkataan Agler, Clara langsung memukul bahu pria itu. “Jangan meledekku! Aku ini bukan anak kecil. Aku ini sudah besar tau,” keluh Clara sambil kembali memakan es krimnya itu.


Setelah 15 menit kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah.


Saat Clara sudah masuk rumah dan menuju kamarnya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Agler.


“Agler, ada ap....”


Ucapan Clara terhenti kala Agler mengusap bibirnya itu.


Clara mendadak mematung, dan Agler juga hanya menatapnya.


Tanpa mereka sadari, Keenan yang berada di lantai atas, tengah melihat semua yang dilakukan oleh keduanya.

__ADS_1


Tangan Keenan mengepal dengan kuat, tatapan tajamnya tak berpaling dari Clara.


__ADS_2