Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
8. Keenan yang Belum Berubah


__ADS_3

Pagi kembali disambut Clara yang baru saja habis membersihkan tubuhnya. Bisa dibilang ia sudah bangun pagi-pagi sekali. Entah kenapa ia jadi antusias karena Keenan yang memintanya membuatkan sarapan pagi ini. Untuk itu ia ingin bersiap-siap membuatkan Keenan sarapan yang spesial. Bahkan, ia sudah banyak melihat di internet mengenai sarapan yang bagus.


Clara berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah yang riang. Ia berjalan menuruni tangga dan menuju ke dapur. Di dapur, ia melihat sosok Bibi Nani di sana.


“Selamat pagi Bibi!“ sapa Clara


Bibi Nani menolehkan wajahnya pada Clara. “Selamat pagi juga Clara! Wah, sepertinya kamu sedang bahagia banget saat ini. Ada apa?“ tanya Bibi Nani


Clara tertegun dengan pertanyaan itu. Ia jadi gugup saat ini. Apa ia harus mengatakan yang sejujurnya?


“Hmm, enggak ada apa-apa kok, Bi. Bukankah aku biasanya seperti ini?“ jawab Clara


“Hei, kamu enggak bisa bohong sama Bibi. Bibi tau ada yang terjadi. Ayo, katakan saja pada Bibi,” timpal Bibi Nani


“Ya deh, aku kasih tau ini. Sebenarnya aku cukup seneng karena Kak Keenan ingin aku membuatkannya sarapan. Makanya aku jadi sedikit senang aja,” jelas Clara yang menundukkan wajahnya karena malu.


“Hah? Iyakah? Kapan Tuan Muda meminta hal itu?“ tanya Bibi Nani


“Kak Keenan memintanya tadi malam saat aku membuatkannya makan tadi malam karena dia lapar,” jawab Clara


“Tapi, Tuan Muda tadi sudah berangkat ke kantor. Tadi Bibi juga sudah tawarkan untuk sarapan. Tuan Muda bilang tak mau,” jelas Bibi Nani


Clara cukup terkejut mendengar hal itu. Apa Keenan hanya ingin mempermainkannya saja dengan meminta hal itu padanya? Tapi, tadi malam Keenan memintanya dengan wajah yang sangat serius sehingga ia berpikir jika itu benar.


“Apakah sudah lama Kak Keenan pergi?“ tanya Clara


“Enggak lama juga sih. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu. Clara, maaf jika Bibi berkata begini. Kamu jangan terlalu mempercayai apa yang Tuan Muda katakan. Bukannya Bibi ingin memprovokasi dirimu. Tapi Bibi cukup mengenal sifatnya bagaimana,” papar Bibi Nani


Clara memikirkan apa yang dikatakan oleh Bibi Nani. Apa yang dikatakan Bibi Nani juga benar? Harusnya ia tak langsung mempercayai perkataan pria itu.


Suara telpon rumah tiba-tiba berdering. Membuat keduanya saling pandang.


“Biar aku yang mengangkatnya, Bi,” ucap Clara seraya berjalan ke arah telpon rumah.


Ia mengambil telpon itu.


“Halo. Ini siapa yah?“ tanya Clara


[”Ini aku, Keenan,” jawab Keenan]


Clara cukup tertegun karena Keenan yang menelpon. Ia tahu kenapa Keenan menelpon lewat telpon rumah. Karena pria itu tak tahu berapa nomor ponselnya. Karena pria itu juga tak pernah menanyakannya. Apalagi saat ini nada bicara pria itu sudah kembali seperti semula. Sangat dingin, tak seperti tadi malam.


“Oh, ya. Ada apa?“ tanya Clara


[”Bawakan aku makan siang nanti. Bawa makanan itu ke kantor,” jawab Keenan]


Clara mengeryitkan dahinya kala Keenan meminta hal itu.


Apa pria ini sedang ingin mempermainkanku lagi? ~ batin Clara


“Apa kau hanya ingin mempermainkanku lagi seperti pagi ini? Kau mengatakan ingin aku membuatkanmu sarapan. Tapi kau malahan sudah pergi ke kantor sekarang. Maaf, aku tak bisa ditipu untuk kedua kalinya,” jelas Clara


[”Aku bukan sengaja tak mau sarapan tadi pagi. Aku tadi harus buru-buru karena ada rapat penting,” timpal Keenan]

__ADS_1


Clara jadi terdiam mendengar perkataan Keenan. Ternyata alasannya seperti itu. Tapi apa itu bisa dipercaya? Keenan tak bohong bukan?


Di ujung sana, Keenan memandang bingung karena Clara tak kunjung menjawab menjawab permintaannya.


[”Clara? Apa kau masih di sana?“ tanya Keenan]


Clara langsung tersadar dari lamunannya itu.


“O-Oh iya. Aku masih di sini. Baiklah, aku akan membawakan makan siang untukmu nanti. Aku tutup sulu,” jawab Clara seraya mematikan panggilan dari Keenan.


Clara kembali ke arah dapur dengan wajah penuh kebimbangan. Hal itu membuat Bibi Nani jadi heran kenapa Clara seperti itu.


“Clara, ada apa? Siapa yang menelpon tadi?“ tanya Bibi Nani


“Kak Keenan yang baru saja menelpon, Bi,” jawab Clara


“Tuan Muda?! Apa yang Tuan Muda katakan?“ tanya Bibi Nani yang cukup terkejut karena sang Tuan Muda yang menelpon. Karena sang Tuan Muda itu tak pernah sekalipun melakukan hal itu.


“Kak Keenan memintaku untuk membuatkannya makan siang dan menyuruhku untuk mengantarkannya ke kantor nanti,” jawab Clara


Bibi Nani kembali terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Clara. “Apa kamu mau membuatkannya?“ tanya Bibi Nani


Clara menganggukkan kepalanya pelan. “Iyah Bi. Tentu saja aku mau. Kak Keenan kan suamiku. Aku harus mengikuti perkataannya bukan,” jawab Clara


“Tapi, Clara. Apa kamu enggak takut jika Tuan Muda akan melakukan sesuatu padamu?“ tanya Bibi Nani yang memasang wajah khawatirnya.


Clara tersenyum tipis. Ia menyentuh baju Bibi Nani. “Bibi tenang aja yah. Tak akan terjadi apa pun padaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri kok,” jawab Clara yang meyakinkan Bibi Nani kalau ia bisa pergi sendiri.


Clara menganggukkan kepalanya pelan. “Iyah, Bi. Aku akan mengingat hal itu. Makasih sudah mengkhawatirkanku. Oh ya, aku minta pada Bibi tolong jangan kasih tau hal ini pada Mama yah,” balas Clara


Bibi Nani mengeryitkan dahinya. “Emangnya kenapa?“ tanya Bibi Nani


“Sebaiknya Mama jangan tau hal ini. Aku yakin jika Mama mengetahui hal ini, pasti Mama akan langsung menyusulku. Aku khawatirnya jika nanti Kak Keenan berbuat ulah, malah dilihat oleh Mama nanti. Akan jadi kacau kalau sampai itu terjadi,” papar Clara


Bini Nani terkejut kembali. “Bagaimana bisa kamu mementingkan reputasi Tuan Muda? Jika Nyonya mengetahuinya, biarkan saja. Biar Nyonya tau kelakukan anaknya itu,” protes Bibi Nani


Clara menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Jangan Bibi! Aku tak mau Mama malah kepikiran nanti. Mama sudah meminta padaku untuk merubah sifat Kak Keenan. Aku sudah menyanggupi hal itu. Aku tak mau adalah masalah besar muncul karena masalah yang kecil,” papar Clara


Bibi Nani menatap sendu pada Clara. Ia memeluk tubuh Clara dengan erat.


“Kamu ini terlalu baik, Clara. Bibi bangga denganmu. Bibi senang karena kamu yang ada di sini. Kamu tak pernah balas dendam atas apa yang orang lain lakukan padamu. Tapi, Bibi hanya ingin kamu juga memperhatikan dirimu sendiri,” jelas Bibi Nani


Clara melepaskan pelukan itu dan menatap Bibi Nani dengan senyuman lebar. “Aku akan mengingat apa yang Bibi katakan padaku. Makasih yah,” timpal Clara


Bibi Nani hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Tepat pukul sebelas siang Clara telah sampai di kantor Keenan, Desmond Group. Clara segera berjalan masuk ke dalam. Terlebih dahulu ia pergi ke arah meja resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan Keenan karena pria itu sama sekali tak memberitahu dirinya.


“Permisi!“


“Iyah, Nona. Ada apa?“ tanya karyawan resepsionis itu.

__ADS_1


“Saya ingin bertemu dengan Kak Keenan. Eh? Tuan Muda Desmond. Ruangannya ada di mana yah?“ tanya Clara


Terlihat karyawan wanita itu menatap dirinya dari atas sampai bawah. “Apa anda ini adiknya?“ tanyanya


Clara menggelengkan kepalanya. “Saya bukan adiknya, saya istrinya,” jawab Clara


Sontak karyawan itu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Clara. Detik kemudian tiba-tiba ia tertawa dengan keras.


“Hahaha, Hei, Nona. Jangan bercanda dong. Kalau mau ngaku jangan gini juga lah. Ini terlalu berlebihan tau. Hei, semuanya! Lihat ini, gadis kecil ini mengatakan jika dia adalah istri dari presdir,” jelasnya yang membuat semua orang langsung berjalan mendekati dirinya.


“Wah, mana mungkin presdir mau dengan anak kecil begini!“


“Walaupun wajahnya sangat cantik tapi dia tukang tipu. Main ngaku-ngaku aja!“


“Hei, sadar diri dong. Mana mungkin presdir kami itu suaminya dirimu. Ngaco banget sih!“


Clara mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia tak menyangka akan mendapatkan hal seperti ini saat datang ke kantor Keenan.


Apa Keenan sengaja menyuruh orang-orang itu untuk menghina diriku? Apa mungkin dia tak mau orang tahu kalau aku ini adalah istrinya? ~ batin Keenan


“Nyonya Muda!“


Semua orang langsung menatap ke arah sosok pria yang menghampiri Clara. Clara mengingat siapa pria di hadapannya ini. Dia adalah asisten pribadi Keenan, Darel.


“Darel?“ panggil Clara


“Kenapa Nyonya Muda ada di sini?“ tanya Darel


“Kak Keenan menyuruhku untuk datang ke sini untuk membuatkannya makan siang,” jawab Clara menunjukkan paper bag yang ia bawa pada Darel.


“Oh gitu. Ya udah, mari saya antarkan ke ruangan presdir,” ajak Darel


Clara menganggukkan kepalanya. “Boleh!“


Darel mulai menuntun Clara untuk naik lift menuju ruangan Keenan. Sebelum pintu lift itu tertutup rapat, Darel memberikan tatapan mematikan pada kumpulan orang-orang itu.


“Kenapa anda dikelilingi oleh banyak orang tadi?“ tanya Darel


“Mereka tak percaya kalau aku ini adalah istri dari Kak Keenan. Makanya tadi terjadi seperti itu,” jawab Clara


Darel menghela napas kasar. “Mereka benar-benar keterlaluan. Mereka harus mendapatkan hukuman nanti,” keluh Darel


Clara menggelengkan kepalanya pelan. “Jangan kayak gitu. Jangan lakukan apa pun pada mereka. Lagian kan mereka tak tau yang sebenarnya. Makanya berpendapat seperti itu. Jangan mempersalahkannya lagi,” tahan Clara


Akhirnya mereka sampai di depan ruangan Keenan. Pintu itu tak tertutup rapat. Membuat Clara bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Sontak Clara melebarkan matanya melihat pemandangan di depannya itu. Di depannya, Keenan saling mencium satu sama lain dengan mesra. Clara bisa merasakan denyut jantungnya yang berdetak dengan cepat.


Clara berjalan ke dekat Darel yang belum beranjak. “Tolong berikan ini pada Kak Keenan nanti yah saat kegiatannya itu selesai. Aku permisi,” pamit Clara seraya berlalu dari hadapan Keenan.


Darel jadi langsung penasaran. Ia pun dengan perlahan mengikuti cara Clara untuk mengintip apa sebenarnya dilihat oleh wanita itu. Sontak matanya juga ikutan melebar melihat apa yang terjadi di depannya itu.


“Tuan Muda benar-benar belum berubah sama sekali,” gumam Darel

__ADS_1


__ADS_2