
“Clara, kamu enggak perlu masak. Biar Bibi aja sini,” ucap Bibi Nani yang menahan agar Clara tak perlu memasak.
Clara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Enggak mau Bibi. Aku mau tetap masak. Lagian aku masak untukku kok. Udahlah, ini cuman nasi goreng biasa,” tolak Clara
Bibi Nani hanya bisa pasrah karena Clara tak ingin ia bantu.
Setelah ia selesai membuat sarapan untuknya, langsung saja ia beranjak ke meja makan dan duduk di sana. Di tengah keasyikannya memakan sarapannya itu, tiba-tiba suara sepatu pantofel terdengar menuruni tangga. Tentu saja Clara sudah bisa menangkap siapa itu. Siapa lagi kalau bukan suami super arogannya, Keenan.
Tapi Clara lebih memilih untuk diam saja. Seolah ia tak menganggap keberadaan pria itu. Mungkin karena efek dia masih kesal karena kejadian semalam di mana Keenan menghinanya.
Keenan berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana. Ia memperhatikan Clara yang asyik memakan sarapannya itu. Sedangkan wanita itu seperti tak menganggap keberadaannya.
“Apa kau hanya membuat sarapan untuk dirimu sendiri?” tanya Keenan
Clara hanya diam saja seolah tak mendengar apa yang dikatakan oleh Keenan. Hal itu cukup membuat Keenan jadi kesal. Sebuah ide licik muncul di dalam otaknya. Senyum miring pun terlihat di wajahnya.
Dengan cepat ia menarik piring yang ada di depan Clara dan langsung memakan makanan itu. Clara melebarkan mulutnya atas apa yang dilakukan oleh Keenan.
“Ihh, kenapa kau mengambilnya?! Itu punyaku!” protes Clara dengan alis yang menukik.
“Ini rumahku. Jadi, semua yang ada di sini adalah milikku,” timpal Keenan dengan angkuh sambil kembali memakan makanan itu tanpa bersalah.
Clara langsung menggeram kesal. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Keenan yang masih asyik memakan makanan yang ia buat.
“Bawa sini enggak makanannya. Aku yang membuatnya. Jadi itu milikku!” protes Clara kembali.
Keenan menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan wajah ingin sekali ditonjok oleh Clara.
“Enggak mau. Makanan ini aku punya,” tolak Keenan
Clara menghentakkan kakinya dengan kesal. “Ihh, jahat banget sih. Balikin makanannya. Balikin!” keluh Clara yang ingin meraih nasi goreng itu, namun Keenan malah menahannya.
“Ah!”
Tatapan mata keduanya terpaku satu sama lain saat Clara hampir saja jatuh menimpa Keenan yang masih duduk di kursi. Jarak wajah keduanya sangat dekat. Baik Keenan maupun Clara tak ada yang ingin memutus kontak mata itu.
Dia nampak sangat cantik jika dilihat sedekat ini. Bulu matanya sangat lentik dan apalagi bibir itu. Kenapa aku tiba-tiba jadi sangat ingin menciumnya saat ini? ~ batin Keenan
Begitu pula dengan Clara yang entah mengapa tak ingin melepas tatapannya dengan Keenan. Wajah tampan pria itu membuatnya tak ingin berpaling.
__ADS_1
Namun, suara telpon rumah yang berdering, membuat keduanya langsung melepas kontak mata itu. Clara nampak salah tingkah. Begitu pula dengan Keenan yang berdehem kecil untuk mengendalikan dirinya.
“A-Aku akan mengangkatnya,” ucap Clara dengan nada yang sedikit gagap seraya berlalu dari hadapan Keenan.
Keenan hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Clara langsung beranjak menuju ke ruang tengah untuk mengangkat telpon rumah yang terus berdering.
“Halo. Ini siapa yah?” tanya Clara saat mengangkat panggilan telpon itu.
[“Halo Clara. Ini Mama sayang,” ucap Maya yang ternyata menelpon.]
“Oh Mama! Iyah Mama. Ada apa?” tanya Clara kembali.
[“Begini, Mama mau mengajak kalian berdua untuk datang ke rumah malam ini. Soalnya, adik Keenan sudah pulang dari Kanada,” jelas Maya]
Clara mengerutkan keningnya. Karena sebenarnya ia tak tahu jika Keenan memiliki seorang adik.
“Adik? Kak Keenan punya adik?” tanya Clara hati-hati.
[“Eh?! Iyah, Mama sampai lupa ceritakan tentang adik Keenan. Dia itu....”
“Mama!”]
“Itu siapa Ma?” tanya Clara
[“Maaf yah sayang. Itu adik Keenan. Nanti kita bicara lagi yah. Mama tunggu nanti kalian berdua datang. Jangan lupa kasih tau Keenan. Bilang sama dia kalau tak mau datang, Mama akan hapus nama dia dari daftar keluarga,” papar Maya]
Clara meringis mendengar perkataan mertuanya itu.
“Iyah Mama. Nanti aku akan sampaikan pada Kak Keenan,” timpal Clara
[“Ya udah. Kalau gitu, Mama tutup dulu yah. Ma....
“Mama!”
“Iyah, tunggu sebentar. Sampai jumpa di rumah nanti sayang,” balas Maya]
Panggilan itu sudah dimatikan oleh sang mertua.
Sedangkan Clara masih terdiam di tempatnya. Entah kenapa ia seperti mengenal suara laki-laki yang merupakan adik Keenan itu.
__ADS_1
“Dia pasti anak yang manja. Lihat saja tadi cara dia memanggil Mama Maya kayak gitu. Apa mungkin sifatnya akan 11:12 dengan pria itu? Aihh! Ini akan menjadi bencana jika sampai itu benar-benar terjadi,” gumam Clara yang bergidik ngeri jika sampai adiknya Keenan akan sama dengan sifat Keenan.
“Hei!”
“Ahh!” pekik Clara saat tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya.
Clara melihat sosok Keenan yang memandangnya dengan bingung.
“Kau ini kenapa sih? Kayak habis melihat hantu saja,” keluh Keenan
Kau kan emang hantu yang selalu menakuti diriku ~ batin Clara
Keenan menjentikkan jarinya di depan wajah Clara.
“Hei, kok malah melamun? Tadi siapa yang menelpon?” tanya Keenan
“O-Oh, itu tadi Mama yang menelpon. Mama meminta kita untuk datang ke rumah nanti karena adikmu pulang dari Kanada,” jelas Clara
Terlihat tatapan yang terkejut dari Keenan walaupun tak terlalu ia perlihatkan.
“Kenapa dia tiba-tiba pulang yah? Apa ada hal penting dia pulang ke sini?” gumam Keenan
“Hm? Ada apa? Kau mengatakan sesuatu?” tanya Clara yang seperti mendengar Keenan berbicara dengan nada kecil.
Dengan cepat Keenan menggelengkan kepalanya. “Enggak ada apa-apa. Nanti aku akan menjemputmu untuk pergi ke rumah. Aku harus berangkat kerja,” ujar Keenan seraya berlalu dari hadapan Clara.
Sedangkan Clara hanya menunjukkan wajah bingungnya dengan sikap Keenan yang tiba-tiba menjadi aneh.
“Kenapa dengannya? Aneh banget sih,” keluh Clara seraya masuk ke dalam rumah.
Di dalam mobilnya, Keenan tiba-tiba teringat dengan pertengkaran kecilnya dengan Clara di mana mereka berebut makanan. Ia tersenyum lebar saat mengingat tingkah Clara yang seperti anak kecil dengan menghentakkan kakinya ke lantai. Entah kenapa itu sangat menghibur dirinya.
Sungguh, ia tak pernah merasa seperti ini pada wanita yang dekat dengannya. Tak pernah ia melihat wanita yang menunjukkan sifat aslinya seperti apa yang dilakukan Clara. Tanpa perlu takut menjadi image yang buruk di depan orang lain. Sepertinya mengganggu Clara akan menjadi list wajibnya setiap pagi nanti.
“Hmm, lucu juga,” gumam Keenan dengan senyuman lebar.
Sang supir, Pak Cahyo, cukup terkejut kala melihat tuannya yang tersenyum-senyum sendiri di belakang. Sungguh, ia tak pernah melihat tuannya yang seperti itu. Biasanya akan menunjukkan wajah datarnya saja.
Sungguh pemandangan yang sangat langka!
__ADS_1