Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
30. Hanya Karena Foto


__ADS_3

“Aku mau makan malam denganmu di rumah nanti. Bisakah kau memasakan aku makan malam saat pulang nanti?” pinta Keenan


Clara berdecih pelan. “Ogah ah! Nanti yang ada kau tak akan pulang kayak tadi malam. Aku malah membuang banyak makanan karena dirimu yang tak jadi pulang,” tolak Clara melipat kedua tangannya di dada.


“Clara, aku kan sudah mengatakan alasanku. Aku janji, kali ini aku akan langsung pulang sehabis dari kantor. Aku akan langsung menelponmu begitu pulang nanti. Atau, kalau enggak percaya, kau bisa menungguku di sini,” jelas Keenan


Dengan cepat Clara menggelengkan kepalanya. “Enggak mau! Kau pasti masih lama kerjanya. Aku pasti bisa mati kebosanan di sini. Mending aku pulang aja,” timpal Clara


Keenan terkekeh pelan melihat ekspresi Clara yang lucu menurutnya. “Ya udah, kau pulang aja duluan. Aku pasti akan pulang cepat untuk makan malam. Kau tunggu aku yah,” balas Keenan dengan senyuman lebar.


Clara mengangguk kikuk. “Kalau gitu, aku balik dulu. Sampai jumpa,” pamit Clara seraya berlalu dari hadapan Keenan.


“Clara!” panggil Keenan yang memiliki Clara langsung membalikkan tubuhnya menatap ke arah Keenan.


“Ada apa?” tanya Clara


“Bisakah kau panggil aku dengan sebutan ‘Mas’?” pinta Keenan


“Enggak mau! Wlee!” tolak Clara sambil menjulurkan lidahnya. Clara langsung menghilang dari hadapan Keenan yang menggelengkan kepalanya atas sikap Clara.


“Wanita itu benar-benar nakal,” gumam Keenan


Ponselnya berdering. Segera ia mengambil ponselnya itu. Ternyata Clara mengirimkan voice note padanya. Segera ia mendengar voice note itu.


“Cepat pulang yah Mas Keenan!”


Sontak Keenan terkejut mendengar voice note itu. Tak ayal senyum yang lebar langsung terbit di wajahnya. “Aku jadi tak sabar untuk segera pulang dan memeluk kucing kecilku itu,” gumam Keenan


Clara sudah sampai di dalam rumah. Sedari tadi ia terkikik geli karena membayangkan bagaimana wajah suaminya itu ketika ia mengirimkan voice note tadi.


“Apa wajahnya akan memerah? Atau dia akan malu? Uhh, coba saja aku melihat ekspresinya itu,” gumam Clara


“Clara, udah pulang?” sapa Bibi Nani


“Bibi!”


“Hei, wajahmu kelihatan berseri sekali. Sepertinya Nyonya Muda ini sedang bahagia yah,” kelakar Bibi Nani dengan candaan.


Sontak Clara jadi salah tingkah dengan hal itu.


“Ihh, Bibi Nani! Kenapa jadi malah menggodaku?” keluh Clara dengan pipi yang ia gembungkan.


Bibi Nani jadi malah terkekeh melihat wajah Clara yang nampak memerah samar. Sepertinya Nyonya Mudanya ini benar-benar tengah malu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi.


“Tadi, kami habis dari mana?” tanya Bibi Nani


“Hm? Tadi aku diminta Mama Maya untuk mengantarkan makan siang untuk Mas Keenan. Katanya dia punya penyakit maag,” jelas Clara

__ADS_1


Sontak Bibi Nani mengeryitkan dahinya.


“Hm? Sejak kapan kamu panggil Tuan Muda dengan sebutan ‘Mas’? Biasanya yang Bibi dengar itu kamu panggil ‘kakak’ aja?” komentar Bibi Nani


Clara jadi tergugu. Ia keceplosan karena tadi mengirimkan voice note itu. Jadi kebiasaan. Padahal baru sekali ia mengucapkan panggilan Mas Keenan.


“A-Ah, itu ... dia minta padaku untuk memanggilnya seperti itu. Apakah aneh Bibi?” tanya Clara


Bibi Nani menggeleng pelan. “Enggak aneh sama sekali. Malahan itu bagus kamu panggil kayak gitu. Terus aja panggil Tuan Muda seperti itu,” jawab Bibi Nani menepuk bahu Clara seraya berlalu.


Clara tersenyum lebar setelahnya. Ia jadi sangat senang. Atau mungkin terlalu senang?


“Aku harus bersiap-siap sebelum Mas Keenan pulang. Aku harus tampil bagus di depannya. Hmm, kok aku jadi narsis gini sih?” gumam Clara


Clara segera menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Langkahnya terhenti di depan ruang kerja Keenan. Tak pernah sekalipun ia datang memasuki ruang kerja ini.


Entah kenapa pintunya yang tak tertutup rapat membuat Clara jadi agak penasaran untuk masuk. Dengan perlahan ia membuka pintu ruangan kerja itu dan masuk ke dalam.


Tatapan takjub ia berikan kalau melihat interior ruangan yang sangat bagus. Desainnya tak terlalu mewah, tapi sangat nyaman untuk ditempati.


“Jika aku nulis di sini, pasti akan sangat menyenangkan. Ideku akan mengalir seperti air. Tapi, tak mungkin pria itu mengizinkan aku nulis di sini. Lagipula, dia tak boleh tau jika aku ini seorang penulis,” gumam Clara


Clara memperhatikan sekelilingnya, di mana terdapat banyak buku di ruangan itu.


Pandangan matanya terhenti pada sebuah benda di atas meja. Ia melihat sebuah pigura dengan kaca yang berserakan di atas meja itu.


Ia berjalan keluar dari ruangan kerja. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah plastik hitam dan sarung tangan yang ia kenakan. Dengan perlahan ia memasukkan pigura yang pecah itu ke dalam plastik hitam.


“Fyuhh! Sudah selesai. Mas Keenan pasti berterima kasih padaku karena sudah membantunya membereskan bekas pecahan ini,” gumam Clara dengan senyuman lebar.


Tepat pukul tujuh malam, Keenan sudah sampai di depan rumahnya. Ia memasuki rumahnya itu. Pada saat itulah ia mencium aroma masakan yang enak. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Saat sampai di dapur, ia melihat sang istri yang sedang memasak dengan apron di tubuhnya. Ia berjalan perlahan mendekati Clara dan memeluknya dari belakang.


“Ah!” pekik Clara kalau ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


Detik kemudian, ia langsung tersenyum lebar. Tentu saja ia tahu siapa pemilik aroma parfum itu. Aroma parfum yang akhir-akhir menjadi favoritnya.


“Hm? Sudah pulang?” sapa Clara


Keenan mencium pucuk kepala Clara. “Hm? Iyah. Aku taruh berkasku di ruang kerja dulu yah. Habis itu, aku akan makan malam denganmu,” ujar Keenan seraya berlalu dari hadapan Clara.


“O-Oke!”


Hati ini terasa sangat hangat. Rasanya seperti pasangan suami istri pada umumnya. Ini benar-benar bagus! ~ batin Clara


Baru sebentar Keenan pergi, tiba-tiba saja pria itu kembali dengan langkah yang menggebu juga panik.

__ADS_1


“Clara, apa kau melihat pigura yang ada di atas mejaku?” tanya Keenan


Clara mengeryitkan dahinya sejenak sebelum ia mengingat pigura yang tadi ia bereskan.


“Oh? Pigura yang sudah pecah itu kah?” tanya Clara


“Iyah, benar! Yang itu! Kau taruh di mana?!” tanya Keenan seraya mencengkram dengan kuat kedua bahu Clara.


“A-Aku liat udah pecah. Aku pikir itu hanya sampah jadi aku membereskannya dan membuangnya ke bak sampah,” jelas Clara dengan tatapan agak gugup karena melihat ekspresi Keenan yang seperti itu.


Tatapan Keenan berubah menjadi tajam. “Itu adalah barang yang sangat berharga bagiku. Kenapa kau bisa-bisanya membereskannya seenakmu?! Apa aku ada menyuruhmu melakukan?!” geram Keenan yang semakin mengeratkan cengkramannya pada bahu Clara.


“Sa-Sakit!”


“Untuk lain kalinya, jangan seenaknya menyentuh barangku sesuka hatimu! Kecuali aku menyuruhmu melakukannya!” desis Keenan sambil mendorong tubuh Clara cukup kuat ke belakang.


“A-Ah!” Kepala Clara terbentur dengan meja di belakangnya. Hal itu membuat darah mengalir di kepalanya itu.


Keenan tak memperdulikan Clara yang meringis kesakitan karena benturan di kepalanya itu.


Sebenarnya itu pigura apa sampai kau tak memperdulikan aku yang berdarah di sini? ~ batin Clara


Dengan perlahan ia bangkit dari jatuhnya itu. Ia berusaha melangkahkan kakinya ke belakang untuk melihat pigura yang sudah ia buang itu. Tapi, ternyata bak sampah di dapur sudah dibuang keluar.


Clara akhirnya memutuskan untuk melihat ke tempat sampah di luar. Tiba-tiba suara guntur terdengar, disertai dengan hujan yang langsung turun dengan deras. Tapi, Clara tak memperdulikan hal itu. Ia sangat penasaran dengan pigura yang membuat Keenan sangat marah.


Ia sampai di depan tempat sampah. Ia mulai mencari pigura yang ia buang itu. Tak ia pedulikan derasnya hujan yang menimpanya.


“Ah!” pekik Clara saat tangannya tak sengaja terkena dengan kaca dari pigura itu. Darah pun juga ikutan keluar dari bekas sayatan kaca itu.


Dengan perlahan ia membalikkan pigura itu untuk melihat foto siapa di sana. Sontak matanya melebar melihat foto di pigura itu. Seorang wanita cantik dengan rambut hitam legamnya tersenyum begitu indah di foto itu.


Air mata mulai keluar dengan deras. Clara menutup mulutnya untuk menahan isakan yang keluar. Clara jatuh terduduk di tengah derasnya hujan.


“Ter-Ternyata dia. Pantas saja pria itu sangat marah tadi. Dia masih saja menaruh perasaan para wanita ini. Di hatinya, wanita ini adalah bintang yang tak akan pernah pudar dan akan selamanya bersinar di hatinya. Dan aku ini, bukan apa-apa baginya,” gumam Clara dengan nada lirih.


Clara berusaha bangkit dari duduknya itu. Dengan perlahan ia berjalan memasuki rumah kembali. Berjalan masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya itu. Mengguyur tubuhnya dengan dinginnya air shower.


“Ini sangat sakit! Kepala sakit. Tanganku juga sakit


Tapi, dari semuanya ... inilah yang paling sakit,” lirih Clara sambil meremat dadanya itu.


Air matanya yang mengalir tertutupi dengan derasnya air shower itu.


Clara menundukkan kepalanya itu. Membiarkan air matanya mengalir dengan deras.


Kenapa? Kenapa aku harus seperti ini? Padahal aku harusnya tau jika posisiku tak akan pernah ada di hatinya. Harusnya aku bisa sadar diri jika pria itu tak akan pernah ada untukku. Dia sudah dimiliki oleh orang lain. Meskipun dia adalah suamiku sendiri ~ batin Clara

__ADS_1


__ADS_2