
Clara masih memandangi Keenan dengan tatapan terkejut.
“Kenapa kau bisa datang ke sini?” tanya Clara
Keenan tak membalas perkataan Clara. Justru pria itu sedang memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh istrinya itu.
Menghadiri acara seperti ini, apa perlu menggunakan pakaian yang terbuka seperti ini? Padahal sudah menikah, kenapa masih berpakaian seperti ini? Apa dia tak melihat tatapan lapar dari para pria itu?! ~ batin Keenan yang menggeram kesal.
Apalagi yang membuat Keenan kesal adalah ketika ia melihat bahu Clara yang terlihat mulus. Yang dapat ia yakini menjadi santapan para pria hidung belang. Untuk itu, ia langsung melepaskan jasnya dan menyampirkan pada tubuh Clara.
“Sayang, apa kau dingin? Angin di sini terlalu kencang tau. Jangan sampai kau jadi sakit karena kedinginan,” ucap Keenan dengan nada lembut.
Clara benar-benar tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Keenan. Sikap gentle pria itu membuat hatinya berdesir, meskipun ia harus sadar jika Keenan sengaja melakukan itu untuk mencari perhatian.
Para wanita di sekeliling Clara tadi, menatap kagum pada apa yang dilakukan oleh Keenan. Mereka bahkan merasa iri karena Clara mendapatkan perlakuan lembut dari sang Tuan Muda Gibson.
“Clara, bukankah tadi kau mengatakan jika Tuan Muda Gibson tak akan datang ke sini?” tanya Meissa yang sengaja mencari perhatian dari Keenan.
“Hmm, semalam aku tak sengaja membuat istriku ini kesal. Makanya dia datang sendirian tanpa menungguku. Tapi, kalian tenang saja. Masalah kami sudah selesai dengan baik. Iya kan, sayang?” jawab Keenan sambil mengelus bahu Clara.
Clara hanya bisa tersenyum tipis mengikuti akting yang dilakukan oleh Keenan. Sungguh, pria ini benar-benar bisa mengikat wanita dengan mudah, hanya dengan senyuman lebar itu.
“Menantuku, kamu sudag datang rupanya,” sapa Bayu yang menghampiri mereka dengan Jina di sampingnya.
“Maafkan aku yang terlambat datang. Jalanan sedikit macet. Saya juga minta maaf karena tak datang ke acara ulang tahun Papa Mertua waktu itu,” ucap Keenan
“Aihh, enggak perlu sungkan begitulah. Kita ini kan sudah menjadi keluarga. Lain kali, sering-seringlah datang bersama Clara ke sini. Sudah lama kalian tak ke sini bukan,” timpal Jina dengan senyuman lebar.
Clara berdecih di dalam hatinya. Ia merasa jijik dengan mama tirinya itu. Lain di depan, lain di belakang.
__ADS_1
“Tentu saja kami akan sering datang ke sini jika Clara mau untuk datang ke sini,” balas Keenan
Jina berjalan mendekati Clara. “Clara, ada yang mau Mama bicarakan denganmu. Ayo, ikut Mama sebentar,” ajak Jina sambil menggenggam erat tangan Clara dengan senyuman lebar yang diyakini oleh Clara sebagai senyuman kepalsuan.
Keenan memandangi dengan tatapan yang sulit diartikan kala Jina menarik tangan Clara tuk pergi menjauh.
Jina menarik tangan Clara sampai ke tempat di mana tak ada orang di sana. Clara pun langsung melepaskan pegangan tangan itu.
“Sudahlah! Di sini sudah tak ada orang. Kita tak perlu berpura-pura lagi bukan? Ada hal apa mengajakku ke sini?” tanya Clara dengan tangan yang ia lipat di dada.
Jina tersenyum miring. Ia menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat pada Clara. “Kamu memang sangat peka. Ini,” jawab Jina
Clara mengeryitkan dahinya memandangi amplop coklat itu. “Apa ini?” tanya Clara dengan tatapan bingung.
“Kamu liat saja sendiri isinya,” jawab Jina
Clara berdecih pelan. “Kamu ingin Keenan membantumu dengan hal ini?” sarkas Clara dengan tatapan sinis.
Jina melipat kedua tangannya di dada. “Keenan adalah menantu keluarga Lyman. Aku juga melihat Keenan itu sangat menyukaimu. Minta tolong hal seperti ini bukanlah hal yang sulit bukan,” timpal Jina dengan senyum remehnya.
Clara memutar bola matanya jengah. “Kamu salah! Keenan sama sekali tak menyukaiku. Aku tak bisa meminta bantuan padanya,” jawab Clara dengan genggaman erat pada amplop coklat itu.
Jina semakin memandang remeh pada Clara. “Kamu tidak bisa atau kamu emang tak mau membuka mulut? Cih, kamu kira kami menjemputmu dari desa untuk membiarkanmu menikmati kekayaan? Kamu harus membantu keluarga Lyman untuk mendapatkan hak dan keuntungan yang semestinya kami dapatkan,” jelas Jina
Clara tersenyum miris mendengar hal itu. Ia jadi mengingat kala ia dijemput dari desa oleh Papanya itu.
“Iyah, itu memang benar. Kalian hanya menganggapku alat untuk memeras Keenan,” lirih Clara
Jina tersenyum miring. “Kalau bukan karena kami, kau masih tinggal di desa kumuh itu bersama dengan nenek tua bangkamu itu!” hina
__ADS_1
“Diam! Kamu tak boleh menjelekkan nenekku!” geram Clara dengan tatapan tajam.
Yahh, alasan lainnya kenapa Clara sampai mau menerima pernikahannya dengan Keenan adalah kelaurga Lyman yang mengancam akan menghentikan pengobatan untuk neneknya itu. Oleh karena itu, Clara rela melakukan apa pun agar neneknya itu selamat. Ia sudah dijemput dari sejak ia masih duduk di bangku SMA.
Jina agak tertegun kala Clara menggunakan nada tingginya padanya.
“Apa aku salah bicara, huh?! Nenekmu itu sudah melahirkan seorang siluman yang merusak pernikahan orang lain. Dia itu juga bukan orang yang baik!” desis Jina dengan tatapan tajam.
“Jina, kamu jangan keterlaluan yah! Aku masih sedikit menghormatimu karena Papa. Aku tak akan membiarkan Keenan menandatangi perjanjian ini. Dia tak akan pernah membantu kalian!” geram Clara yang juga menatap tak kalah tajam.
“Aku tak berutang apa pun pada keluarga Lyman dan aku juga tak ingin menjadi alat yang bisa kalian gunakan seenak hati kalian!” murka Clara sambil merobek amplop itu menjadi berkeping-keping, lalu membuangnya tepat di depan wajah Jina.
Aku sama sekali tak ingin hubunganku dengan Keenan benar-benar menjadi sebuah kesepakatan. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku tak ingin menjadi orang yang selalu terkekang ~ batin Clara
Jina memandangi dengan tatapan terkejut pada amplop yang sudah dirobek oleh Clara. Tatapan terkejut itu langsung berubah menjadi tatapan murka.
“Dasar anak tak berguna!” teriak Jina sambil ingin melayangkan sebuah tamparan pada wajah Clara.
Clara sudah siap dengan rasa panas pada pipinya itu. Namun nyatanya ia tak merasakan apa pun. Hingga ia harus meleabarkan matanya itu kala melihat sosok Keenan yang memengangi tangan Jina yang akan menamparnya itu.
Jina pun tak kalah terkejut melihat sosok Keenan. Apalagi tatapan pria itu sangat dingin hingga membuatnya tak dapat bernapas.
“Apa yang mau anda lakukan pada istriku, huh?!” protes Keenan sambil menghempas tangan Jina.
Clara yang terkejut dengan kedatangan Keenan, langsung saja memilih untuk beranjak pergi dari sana. Bahkan, tubuhnya menjadi gemetar melihat kehadiran Keenan. Apakah pria itu sudah mendengar semua pembicaraanya?
“Clara!” panggil Keenan yang tak digubris sama sekali oleh Clara.
Sepertinya aku tau alasan dari semuanya. Termasuk sumber kesedihanmu itu ~ batin Keenan
__ADS_1