Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
39. Terima Kasih, Keenan!


__ADS_3

Terima kasih, Keenan!


Keenan membalikkan tubuhnya menatap ke arah Jina. Tatapn Keenan yang begitu dingin membuat Jina tak dapat berkata-kata.


“Kalau ada satu orang pun yang berani mengganggu Clara, aku akan pastikan orang itu mendapatkan balasan yang berkali-kali lipat,” ancam Keenan seraya berlalu dari hadapan Jina.


Sedangkan Jina memegang tangannya yang mengeluarkan keringat dingin dan gemetar itu. Aura Keenan benar-benar mengerikan, seperti yang sering dibicarakan banyak orang.


“Tak kusangka anak haram itu akan menjadi sangat penting untuk Keenan. Kalau berani menyinggungnya lagi, aku pasti akn terkena masalah besar,” desis Jina sambil menggigit jempol jarinya.


Sedangkan di tempat lain, terlihat Clara yang terus berlari. Air mata bahkan telah membasahi wajahnya itu. Hatinya benar-benar sakit saat ini. Clara menghentikan langkahnya kala rasa lelah menghampirinya. Tapi tangisannya itu tak pernah berhenti.


“Ter-Ternyata aku emang hanya alat yang dijadikan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan saja. Mereka tak akan pernah menganggapku ada. Mereka sangat jahat sekali,” lirih Clara


“Jangan menangis lagi. Kau tampak sangat jelek jika menangis tau,” celetuk Keenan yang berjalan mendekati Clara.


Clara langsung menolehkan wajahnya pada Keenan seraya memandang sinis pada pria itu.


“Bisakah kau diam saja?” tukas Clara


Dasar pria ini! Bukannya menghiburku yang tengah sedih ini, dia malahan mengejekku. Apa dia tak bisa baik sedikit disaat seperti ini? ~ batin Clara yang cukup kesal dengan perkataan Keenan.


Keenan tersenyum tipis. Ia berjalan semakin mendekati Clara. Ia menangkup wajah wanita itu. Membuat Clara cukup terkejut dengan tindakan Keenan yang tiba-tiba.


“Aku bisa saja diam. Tapi, kau enggak boleh menangis lagi,” ucap Keenan dengan nada lembut seraya mengelus dengan pelan pipi Clara yang masih terdapat bekas air mata.


Karena rasa gugupnya itu, Clara langsung menepis tangan Keenan dari wajahnya. “A-Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Clara

__ADS_1


“Hmm, kau dan Mamamu itu sedang rebut apa sih tadi?” tanya Keenan


Clara tertegun karena Keenan yang tiba-tiba menanyakan soal tadi. “Tidak ada apa-apa. Tak ada hubungannya denganmu kok,” jawab Clara yang lebih memilih untuk tak mengatakan apa pun.


Keenan tampaknya tak mempercayai apa yang dikatakan oleh Clara. Ia menyentuh dagu Clara dan mengangkatnya perlahan agar bisa menatap tepat pada wajahnya. “Aku mendengar namaku dalam pembicaraan kalian tadi. Apa kalian bertengkar karena diriku?” tanya Keenan kembali


Clara tak kuasa lagi menahan air matanya itu. Dengan lancar air matanya itu menuruni kembali pipinya. Bahkan semakin deras. Keenan jadi agak terkejut ketika Clara kembali menangis.


“Clara, kau enggak perlu pura-pura tegar di hadapanku. Kau tak perlu menyembunyikan apa pun,” jelas Keenan


Sontak Clara melebarkan matanya kala Keenan yang tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tapi, ia tak bisa mendorong tubuh itu ketika ia merasakan kehangatan di sana.


“Tak apa-apa, Clara. Aku ada di sini. Aku tak akan membiarkan orang lain menindasmu lagi,” ucap Keenan dengan usapan lembut pada rambut Clara.


Clara menenggelamkan kepalanya di dada Keenan. Ia bahkan menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu. “A-Aku capek sekali. Bisakah kau bawa aku pulang saja?” pinta Clara dengan nada lirih.


Keenan menggenggam tangan Clara untuk menuju ke mobilnya. Ia menatap ke arah Clara yang menundukkan wajahnya itu dengan tatapan sendunya.


Jelas-jelas dia adalah wanita yang sangat baik dan lembut. Tapi, bisa-bisanya ia malah bertingkah tegar di depan semua orang. Entah sudah berapa lama ia mengalami hal ini. Dia pasti sangat kelelahan bukan ~ batin Keenan


“Kalau hatimu masih sakit, maka menangislah. Luapkan segala emosi yang ada di dakan hatimu. Menangis bukan berarti kau cengeng, tapi menangis akan membuat hatimu merasa lebih baik,” celetuk Keenan


Clara langsung menatap Keenan dengan senyum miringnya. “Kak Keenan, tadi kau menyuruhku untuk tak menangis karena aku akan kelihatan jelek. Tapi, kenapa sekarang kau malah menyuruhku menangis? Kok kau jadi plin-plan gini sih?” keluh Clara dengan tangan yang ia lipat di dada.


Keenan tertegun dengan jawaban Clara. “Menangis atau tidak, terserah kau aja deh. Kau ini tak manis sama sekali. Enggak peka! Aku jadi malas mengurusimu lagi,” timpal Keenan yang mengalihkan pandangannya.


Sontak Clara jadi tertawa keras melihat reaksi Keenan yang lebih terlihat malah salah tingkah. “Kau malah mengataiku saat ini. Kau yang seperti ini justru lebih manis tau,” balas Clara yang terus melanjutkan tertawanya.

__ADS_1


Melihat Clara yang tertawa membuat Keenan tersenyum lebar. Ia senang melihat Clara yang jadi tertawa karena dirinya.


Dia memujiku seperti itu, rasanya lumayan juga yah. Aku tak pernah merasa seperti ini ~ batin Keenan


Keenan terus memperhatikan bagaimana Clara yang terus tertawa.


Entah mengapa saat ini aku merasa hubungan dengan Clara yang hanya seorang istri pengganti tak buruk juga. Aku merasa bisa membuat hubungan kami jadi lebih dekat. Aku sepertinya tak keberatan dengan perubahan ini ~ batin Keenan kembali.


Saat sampai di depan rumah mereka, Keenan melihat kea rah Clara yang ternyata sudah tertidur pulas. Senyum lembut terlihat di wajahnya. Keenan membuka pintu mobilnya dan berjalan kea rah kursi Clara. Ia menatap wajah polos Clara yang tertidur itu.


“Dia pasti sangat kelelahan,” gumam Keenan yang mengangkat tubuh Clara ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam.


Seperti biasa, rumahnya akan sepi karena para pelayan yang sudah berada di belakang rumah. Untuk itu, Keenan memang selalu membawa kunci cadangan bersamanya. Dengan perlahan ia menaiki tangga dengan Clara yang berada di gendongannya.


“Emhhh….”


Clara menelunsupkan kepalanya di dada Keenan untuk mencari kenyamanan. Hal itu membuat Keenan tanpa sadar terkikik geli dengan tingkah Clara.


Keenan membaringkan Clara di kamar wanita itu. Ia melepaskan jas yang dikenakan oleh Clara dan menyelimuti tubuh wanita itu. Tak lupa ia juga melepaskan sepatu yang dikenakan Clara. Sungguh, ini pertama kalinya dalam hidupnya melepaskan sepatu di kaki orang lain.


“Emhh, Mas Keenan. Apakah kita sudah sampai di rumah?” tanya Clara dengan nada serak.


Keenan agak tertegun dengan panggilan ‘Mas’ itu. Jarang-jarang Clara akan memanggilnya seperti itu.


“Iyah, kita sudah sampai di rumah. Sekarang, kau jangan berpikir apa pun lagi yah. Tidurlah dengan nyenyak. Saat kau bangun nanti, semuanya akan baik-baik aja,” jawan Keenan mengelus dengan lembut rambut Clara.


Clara menganggukkan kepalanya pelan seraya kembali menutup matanya. Keenan dengan pelan mencium kening istrinya itu seraya berjalan keluar dari kamar istrinya itu.

__ADS_1


Clara tersenyum lebar di dalam tidurnya. “Terima kasih Keenan!”


__ADS_2