Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
31. Bukan Dunia yang Sama


__ADS_3

Clara terbangun dengan sembab di matanya. Ia menatap dirinya di pantulan cermin kamar mandi. Ia benar-benar nampak menyedihkan. Sedari semalam ia terus menangis karena kejadian kemarin. Di mana Keenan menyakiti dirinya. Bukan hanya fisik, melainkan psikisnya juga.


Berkali-kali ia menghela napas kasar. Ia berjalan keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan tubuhnya itu. Ia memilih menutup bekas sembabnya itu dengan bb cream agar tertutupi.


Clara meraih sesuatu di atas meja dan berjalan keluar dari kamarnya.


Sedangkan di tempat lain, terlihat Keenan yang sedari tadi melamun di ruang kerjanya. Wajah pria itu nampak datar. Pria itu juga nampak tak tidur nyenyak semalam. Hal itu terlihat dari kantung mata pria itu.


“Clara, sihir apa yang sebenarnya kau miliki? Kenapa aku bisa seperti ini padamu? Bukankah dari dulu hanya Rose yang bisa kucintai?” gumam Keenan dengan pijatan pada keningnya.


Iyah, foto yang dilihat oleh Clara. Foto yang membuat Keenan begitu marah padanya kemarin. Adalah foto wanita bernama Rose, yang merupakan mantan pacar dari Keenan.


Pintu ruang kerjanya terbuka dan menampilkan sosok Clara.


Clara berjalan mendekati meja kerja Keenan dan menyodorkan sebuah foto padanya.


“Maafkan aku. Lain kali, aku tak akan menyentuh barang-barangmu lagi,” ucap Clara dengan wajah datar.


Setelah menyerahkan foto itu, Clara berjalan menjauhi Keenan.


“A-Apa lukamu tak apa-apa? Aku terlalu emosi kemarin. Aku....”


Keenan terkejut ketika melihat perban di dahi Clara. Ia yakin itu akibat dari dirinya yang mendorong wanita itu karena emosi kemarin.


Clara menghentikan langkahnya. Tapi, ia tak membalikkan tubuhnya itu.


“Enggak apa-apa. Aku yang salah kok karena menyentuh barangmu sembarangan. Mungkin tak seharusnya kita terlalu dekat. Ke depannya, lebih baik kita menjaga jarak saja dan tak mengurusi urusan masing-masing seperti biasa,” kelas Clara seraya kembali berjalan meninggal Keenan yang cukup tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Clara.


“Aku benar-benar salah telah melakukan kesalahan itu,” gumam Keenan dengan tatapan sendu.


Clara berjalan ke kamarnya kembali. Ia meraih ponsel yang ada di saku celananya. Ia menekan nomor seseorang di sana.


“Halo Aida”


[“Halo Clara! Hei, kok suaramu kayak sendu gitu?” tanya Aida]


“Aida, aku kangen denganmu. Bisakah kita bertemu di tempat biasa?” pinta Clara


[“Hm? Tentu saja! Kau datang ke kafe di depan kampusku yah,” jawab Aida]

__ADS_1


Clara menutup panggilan itu. Air matanya terlihat menggenang di pelupuk matanya. Begitu ia menutup matanya itu, air mata yang menggenang itu langsung menuruni pipinya. Buku-buku ia hapus air matanya itu.


“Sudahlah, Clara. Untuk apa kau terus menangisnya. Tak akan ada gunanya bukan? Karena sepertinya duniaku dengannya tak akan pernah sama,” gumam Clara dengan nada lirih.


Sebuah motor berhenti di depan sebuah kafe bernama ‘Caitlyn Cafe’. Helm yang dikenakan oleh si pengendara dilepas dan segera berjalan masuk ke dalam kafe. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok itu.


“Aida!”


Wanita itu segera menolehkan wajahnya melihat ke arah seorang wanita yang memanggilnya itu.


Wanita bernama Aida itu segera menghampirinya dan duduk di depan wanita yang memanggilnya itu.


“Clara! Kau sudah lama datang kah?” sapa Aida


Clara menggeleng pelan. “Enggak kok. Aku baru juga sampai,” jawab Clara dengan senyuman tipis di wajahnya.


Sontak Aida melebarkan matanya saat melihat perban di dahi sahabatnya itu.


“Oh ya ampun, Clara! Ada apa dengan dahimu itu?! Kenapa terluka begini?! Apa yang terjadi padamu?!” pekik Aida, membuat beberapa pengunjung kafe menatap ke arah mereka.


“Enggak apa-apa. Aku hanya terpeleset waktu masak hingga membuat dahulu terbentur sedikit. Tapi, ini tak apa-apa kok,” jelas Clara yang lebih memilih menutup apa yang terjadi.


“Masak apa, hah?! Aku yakin pria itu yang membuatmu seperti ini. Pasti dia kan yang membuat dirimu terluka karena aku tau hanya dia saja yang bisa membuatmu seperti ini,” protes Aida dengan tatapan kesal.


Melihat Aida yang seperti itu membuat Clara terkekeh pelan. “Aida memang sangat mengenal diriku. Tapi, aku benar-benar tak apa-apa kok,” timpal Clara


Dengan sigap ia memeluk sahabatnya itu. Aida mengelus punggung Clara dengan pelan.


“Uhh, sahabatku ini kasihan banget sih. Apa kau sudah pesan sesuatu? Pesanlah apa pun yang kau inginkan, sayang. Kau jangan pikirkan pria jelek itu lagi. Dia memang tak pantas untuk kau pikirkan,” tukas Aida


Clara tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Memang sangat tepat untuk bertemu dengan sahabatnya itu.


“Terima kasih yah, Aida. Kau selalu ada disaat aku membutuhkanmu. Kau selalu bisa untuk menenangkan hatiku ini,” timpal Clara


“Hm, Clara? Apakah kau pernah memikirkan hubunganmu dengan Kak Keenan ke depannya?” tanya Aida dengan hati-hati.


Clara melepaskan pelukan itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Aku dengannya bukan berasal dari dunia yang sama. Tak akan mungkin ada hubungan yang jelas antara kami. Meskipun kami terikat dengan tali pernikahan,” jelas Clara dengan tatapan sendu.


Clara menghela napas kasar. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela kafe.

__ADS_1


“Ini tak akan berlangsung lama bukan? Hubunganku dengannya hanya sampai dua tahun saja. Setelah itu, hubungan ini akan berakhir. Pada saat itulah, aku harus menjauh darinya. Meskipun....”


Aku sudah mencintainya ~ batin Clara yang melanjutkan perkataannya itu di dalam hati.


Tangan Clara mengepal di bawah meja kafe. Ia harus menahan semuanya. Ia tak boleh mengatakan pada Aida tentang perasaannya yang sebenarnya. Entah kapan hal ini terjadi. Ia juga tak menyadarinya.


Aida bisa merasakan kesedihan temannya itu. Karena keterpaksaan, sahabatnya itu harus rela mengubur semua impiannya demi menyelamatkan keluarganya itu.


Ia menepuk dengan pelan bahu sahabatnya itu.


“Kau tenang saja yah. Aku ada di sini untukmu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu mendukung apa pun yang kau lakukan. Percayalah,” jelas Aida


Clara menganggukkan kuat. “Tentu saja! Aku tau hal itu. Makasih yah Aida,” timpal Clara


Tiba-tiba saja ponsel Clara berbunyi. Segera ia melihat siapa yang menelpon. Ia melihat nama ‘Kak Yanti’ di sana. Ia jadi gugup saat ini.


“Siapa yang menelpon?” tanya Aida


Clara tak mungkin mengatakan siapa yang menelpon pada Aida. Ia tak ingin ada yang tahu tentang identitasnya sebagai seorang penulis.


“E-Ehm, ini Mama Maya. Aku lupa kalau aku harus datang ke kediaman utama. Aku sudah berjanji pada Mama Maya untuk makan siang di sana,” jelas Clara dengan hati-hati.


Aida mengangguk mengerti. “Ah, gitu rupanya. Ya udah, kau pergi saja sana. Seenggaknya kau memiliki mertua yang baik. Meskipun suamimu itu jahat,” timpal Aida


“Iyah, kalau gitu aku pergi dulu yah. Nanti kita bertemu lagi,” balas Clara sambil bangkit dari duduknya.


“He’em. Aku juga akan balik ke kampus dulu. Kau hati-hati di jalan yah,” ujar Aida


Clara mengangguk pelan seraya berjalan keluar dari kafe. Selepas ia sudah berjalan menjauh dari area kafe. Clara baru bisa menghela napas lega.


Ia mengambil ponselnya yang tadi berdering. Ia menghubungi balik Kak Yanti.


“Halo Kak Yanti. Maaf yah tadi saya tak menjawab panggilan telpon dari kakak. Ada apa yah?” tanya Clara


[“Halo Clara. Apa kamu bisa datang ke kantor saat ini. Ada beberapa hal yang mesti kita bahas,” jelas Yanti]


“Oh gitu yah. Baik, saya akan segera ke sana. Sampai jumpa di sana,” timpal Clara seraya menutup panggilan itu.


Clara menghela napas kasar.

__ADS_1


Maafkan aku Aida. Aku tak bisa jujur dengan hal ini ~ batin Clara


__ADS_2