Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
23. Aida Terpesona


__ADS_3

Clara terheran karena Aida hanya diam saja ketika ia menanyakan perihal Gibran.


“Aida? Kenapa kau hanya diam saja?” tanya Clara


Aida tersadar dari lamunannya. “Dia marah karena tau kalau pernikahanmu hanyalah sebuah paksaan. Gibran tak ingin kau berada di dalam keterpaksaan ini,” jelas Aida


Clara semakin menjadi heran karena penjelasan Aida. “Apa maksudmu?” tanya Clara


“Dia ingin kau mengakhiri pernikahan ini. Dia ingin membawamu pergi,” jawab Aida hati-hati.


Clara melebarkan matanya atas apa yang dikatakan oleh Aida. “A-Apa? Bagaimana bisa....”


“Siapa yang akan pergi?”


Sontak Clara dan Aida menolehkan wajahnya pada sosok pria yang berdiri di ujung sana.


“Agler?!” panggil Clara dengan tatapan terkejut.


Aida menatap heran pada Clara karena mengenal sosok pria tampan itu. Ia kembali melirik ke arah Agler yang menatap ke arah Clara.


Agler berjalan ke arah Clara. “Clara, siapa yang akan pergi?” tanya Agler kembali.


Clara jadi tergugu. Tak mungkin ia katakan yang sebenarnya pada Agler mengenai Gibran.


“E-Eh, enggak ada yang pergi kok. Ya kan, Aida?” timpal Clara sambil melihat ke arah Aida.


Tatapan heran ia berikan kala melihat Aida yang malah terpaku menatap ke arah Agler.


“Aida? Kau kenapa?” tanya Clara menyentuh tangan Aida.


Aida terkesiap di tempatnya. “O-Oh, iya. Anda pasti salah dengar,” ucap Aida


Clara tersenyum penuh arti. Dia sepertinya mengerti satu hal. Aida terpesona oleh ketampanan Agler. Iyah sih, Agler memang pria yang tampan. Tapi, kenapa ia merasa biasa saja yah? Tiba-tiba saja ia memikirkan wajah dari Keenan. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya itu untuk mengusir pemikirannya tentang Keenan.


Apa yang aku pikirkan? Bagaimana bisa aku tiba-tiba malah memikirkan wajah pria pervert itu?! ~ batin Clara


“Ada apa kau ke sini?” tanya Clara


“Mama memintaku mengantarkan ini padamu,” ucap Agler memberikan sebuah laper bag pada Clara.


“Hmm, aku akan menelpon Mama untuk mengucapkan terima kasih. Terima kasih juga karena kau sudah repot-repot mengantarkan ini,” balas Clara dengan senyuman tipisnya.

__ADS_1


Agler juga ikutan tersenyum tipis. “Kau tak perlu terima kasih lah padaku. Aku seneng kok mengantarkan ini padamu. Lagian, kita sudah lama tak ketemu tau,” timpal Agler


“Cih, kau ini bisa aja sih,” balas Clara


Aida jadi memandang heran pada interaksi kedua orang itu.


Tak mungkin Clara selingkuh kan? Aku sangat tau bagaimana sifat sahabatku itu ~ batin Aida


Clara menyadari wajah bingung dari Aida. Sepertinya ia tahu kenapa Aida memasang wajah seperti itu.


“Oh ya, Agler. Perkenalkan, ini temanku. Namanya Aida,” ujar Clara mengarahkan Aida pada Agler.


Agler mengangguk mengerti. Ia mengulurkan tangannya pada Aida. “Oh, salam kenal. Namaku Agler Ethan Gibson,” sapa Agler dengan senyuman lebar.


Aida menerima uluran tangan itu. “Salam kenal juga. Namaku Aida Kalila Harish,” ucap Aida


Uluran tangan itu terlepas. Clara bisa melihat wajah malu dari Aida.


“Agler, apa kau sudah mendapat pasien di tempatmu saat ini? Maaf yah, aku tak bisa datang saat itu,” celetuk Clara


Agler menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak apa-apa kok. Aku tau alasanmu tak bisa datang. Bisa dibilang sangat banyak sih. Baru hari pertama, sudah banyak yang datang,” jelas Agler


“Itu sudah pasti sih. Lihat saja dokternya ini tampan. Palingan juga mencari alasan untuk datang biar bisa ketemu dengan dirimu,” timpal Clara dengan kekehan pelan.


“Kau seorang dokter?” tanya Aida


Agler mengangguk pelan. “Iyah, aku seorang dokter psikologi,” jawab Agler


Aida cukup terkejut mendengar hal itu.


Pantas saja senyumnya menenangkan hati ~ batin Aida


“Oh ya, aku belum kasih tau padamu yah. Agler ini adalah adik iparku juga,” sahut Clara


Sontak Aida menatap ke arah Clara dengan tatapan terkejut. “A-Adik ipar?!” pekik Aida


“Iyah, Agler adalah adik dari Kak Keenan,” jawab Clara


Agler hanya diam saja ketika Clara memperkenalkan dirinya sebagai seorang adik ipar pada temannya. Padahal ingin sekali ia mendengar jika Clara memperkenalkan dirinya sebagai seorang pacar.


“Clara benar. Aku adalah adik iparnya sekaligus teman dekatnya,” celetuk Agler

__ADS_1


“Wah, aku benar-benar terkejut. Karena kau tak mirip dengan si Keenan....”


“Aida!” tegur Clara menyikut lengan Aida karena telah salah berucap.


“Eh?! Maaf, aku tak sengaja mengatakan itu. Aku....”


Agler menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak apa-apa kok. Lagian, bukan hanya kau yang mengatakan hal itu. Semua orang yang melihat kami juga pasti akan mengatakan hal itu. Oh ya, Clara. Aku harus balik ke tempatku. Aku pergi dulu yah. Sampai jumpa lagi,” pamit Agler seraya berlalu dari hadapan dua wanita itu.


“Hati-hati!” teriak Clara


Selepasnya Agler pergi, Clara langsung menatap ke arah Aida dengan alis yang menukik.


“Kau ini bagaimana sih langsung mengatakan hal itu?” protes Clara dengan tangan yang ia lipat di dada.


“Y-Ya, maaf. Aku enggak tau tentang hal itu. Kau kan tau kalau aku ini suka langsung nyeplos kalau ngomong,” timpal Aida dengan tampang bersalah.


“Udahlah, sebenarnya kau tak salah juga. Lagian, dulu aku juga tak nyangka jika Agler adalah adik dari Kak Keenan. Rasanya mereka sangat berbeda. Baik dari wajah maupun sifat yang sangat berbanding terbalik,” papar Clara


“Tapi, aku jadi merasa bersalah tau dengannya. Harusnya aku tak menanyakan hal itu,” timpal Aida


Clara menepuk pelan bahu Aida. “Hei, kau tak salah tau. Bagaimana kalau besok ke tempatnya Agler? Kita ajak dia makan siang supaya kau bisa tak merasa bersalah,” ajak Clara


Aida tersenyum sumringah. “Kau benar juga sih. Besok kau temani aku ke sana yah,” jawab Aida


Clara mengangguk pelan. “Iyah, aku pasti temani kok. Kau kan sudah kepincut olehnya,” timpal Clara dengan senyuman menggoda.


Sontak Aida melebarkan matanya atas apa yang dikatakan oleh Clara. “A-Apa maksudmu?! Si-Siapa yang kepincut?!” sanggah Aida sambil mengalihkan pandangannya dengan wajah yang nampak memerah semu.


Clara terkekeh pelan melihat hal itu. “Hahaha, kau malah semakin terlihat kepincut tau dengan Agler. Kau tenang aja, aku bakal mendukungmu dengannya tau,” kelakar Clara


“Ihh, Clara! Jangan gitu dong! Lagian, tak mungkin tau aku dengannya,” timpal Aida


Clara menghentikan kekehannya. “Kenapa? Kenapa kau malah berpikiran seperti itu?” tanya Clara dengan wajah bingung.


“Sepertinya si Agler itu menyukaimu deh,” jawab Aida


Clara sedikit terkejut dengan ucapan sahabatnya itu. “Itu tak mungkin tau. Agler hanya menganggapku seperti kakak iparnya saja. Tak lebih dari itu. Kau sudah salah paham tau,” sanggah Clara


Aida hanya terdiam. Ia bisa melihat tatapan Agler yang seperti memuja Clara. Ia bisa merasakan jika Agler itu menyukai Clara.


“Yahh, terlepas dari dia menyukaimu atau tidak. Yang penting saat ini, bagaimana caramu menghadapi Gibran nanti? Apa kau akan menerima ajakannya jika dia mengajakmu untuk pergi dari sini?” tanya Aida dengan tatapan serius.

__ADS_1


Sontak Clara terdiam dengan pertanyaan itu. Itu benar juga. Apa yang harus ia lakukan saat Gibran melalukan itu? Apa ia harus menerimanya?


__ADS_2