
“Hati-hati yah, Aida! Semangat kuliahnya!” ucap Clara melambaikan tangannya pada Aida yang sudah berada di atas motornya.
“Iyah! Kau juga hati-hati yah di rumah! Ingat yang aku katakan tadi!” sahut Aida
Clara menganggukkan kepalanya kuat. “Iyah! Aku ingat!” balas Clara
Aida mulai menjalankan motornya meninggalkan Clara yang masih terdiam di depan pintu rumah. Tatapan Clara berubah sendu. Ia masih memikirkan perkataan Aida tadi.
Aida benar! Aku harus yakin dengan apa yang aku putuskan. Aku tak boleh goyah lagi ~ batin Clara
“Clara? Kenapa kamu diam di depan pintu? Apa temanmu sudah pulang?” tanya Bibi Nani yang muncul di belakang Clara.
Clara membalikkan tubuhnya untuk menatap ke arah Bibi Nani. “Oh, Bibi. Yah, temanku baru saja pulang. Bibi, mau ke mana?” tanya Clara
“Bibi mau ke supermarket bentar. Bibi lupa beli kecap dan garam untuk di dapur tadi,” jawab Bibi Nani
“Oh gitu. Ya udah, biar aku aja yang pergi beli ke supermarket,” timpal Clara
“Eh? Janganlah! Kamu di rumah aja. Biar Bibi yang pergi,” tolak Bibi Nani
“Aihh, Bibi! Biar aku aja yah. Ada yang mau aku beli juga. Aku bosan tau di rumah terus. Yahh, biar aku aja yahh. Please!” pinta Clara menangkupkan kedua tangannya dengan tatapan memohonnya.
Bibi Nani menghela napas pasrah. “Ya udah. Kamu boleh pergi. Tapi, harus hati-hati yah di jalan,” timpal Bibi Nani
Clara tersenyum sumringah seraya menganggukkan kepalanya kuat. “Siap Bibi Nani! Aku pergi dulu yah. Sampai jumpa,” balas Clara seraya melambaikan tangannya pergi keluar rumah.
Bibi Nani terkekeh pelan melihat kelakuan Clara.
“Dia masih seperti anak kecil. Padahal biasanya perempuan itu tak akan suka keluar rumah panas-panas begini. Clara benar-benar berbeda dengan perempuan pada umumnya,” gumam Bibi Nani seraya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di lain tempat, terlihat Clara berjalan dengan riang menuju ke supermarket. Mungkin jika orang yang melihatnya pasti akan mengira jika dirinya bukan perempuan yang berumur 19 tahun. Tapi, itulah Clara. Umurnya yang memang akan beranjak dewasa, tapi pemikiran dan sikapnya terkadang masih seperti anak kecil.
Akhirnya ia sampai di depan supermarket. Ia masuk ke dalam dan mengambil barang yang dipesan oleh Bibi Nani. Sebenarnya ia tak ingin membeli apa pun, karena ia hanya ingin berjalan-jalan keluar dari rumah karena rasa bosannya itu.
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Clara langsung beranjak menuju ke kasir untuk membayar barang yang ia beli. Setelah membayar, ia segera keluar untuk kembali ke rumah.
“Clara!”
Sontak Clara menghentikan langkahnya kalau ia mendengar suara dari seseorang yang ia kenal. Dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya dan pada saat itulah ia terkejut kala melihat sosok Gibran di hadapannya.
“Gib-Gibran?!”
Gibran berjalan mendekati Clara. “Akhirnya aku menemukanmu di sini,” ucap Gibran dengan senyuman lebar.
Clara mengeryitkan dahinya. “Kenapa kau mencariku?” tanya Clara dengan tatapan bingung.
Clara cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Gibran. Seperti apa yang dikatakan Aida tadi. Ternyata Gibran benar-benar ingin membawanya pergi.
Clara memundurkan langkahnya. Hal itu membuat Gibran memandang heran padanya.
“Aku tak bisa pergi, Gibran,” ucap Clara
Gibran mengeryitkan dahinya. “Kenapa? Kenapa kau tak bisa pergi? Kau tak bahagia di sini Clara,” timpal Gibran
“Siapa kau yang tau kalau aku bahagia atau tidak di pernikahan ini?! Kau tak berhak mengatur hidupku. Karena kau sendiri saja tak bisa memegang janjimu padaku,” sarkas Clara dengan tatapan tajam.
Gibran tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Clara. Ia menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap tepat ke arah wajah Clara.
“Aku tau, aku telah melakukan kesalahan dulu padamu. Tapi, aku belum menjelaskan alasanku yang sebenarnya padamu bukan. Tapi, yang penting adalah, kau tak boleh bersama dengannya. Dia adalah pria yang tak baik untukmu. Dia adalah pria yang suka mempermainkan hati seorang wanita. Sudah banyak wanita yang dikencani olehnya. Kau akan sengsara bersamanya. Aku janji padamu untuk tak mengulangi kesalahan yang sama. Kau akak bahagia bersama denganku, Clara,” jelas Gibran menyentuh kedua tangan Clara.
__ADS_1
Clara melepas genggaman tangan itu. “Aku enggak mau, Gibran. Aku sudah hilang padamu untuk tak ikut campur dalam urusanki lagi. Aku sudah berbaik hati dengan memaafkan kesalahan yang kau perbuat padaku. Tapi, aku tak bisa bersama denganmu. Asal kau tau, aku bahagia dengan pernikahanku ini. Aku tak sengsara seperti yang kau katakan,” tukas Clara dengan tatapan serius.
Gibran menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Enggak! Kau berbohong padaku, Ra! Kau pasti diancam olehnya kan untuk tak mengatakan yang sebenarnya. Katakan padaku, Clara! Katakan padaku!” ucap Gibran yang mendesak Clara sambil menggenggam erat kedua bahu Clara.
“Gibran, ini sakit! Apa yang kau lakukan?!” geram Clara sambil menghempas pegangan tangan Gibran.
Clara memandang kesal pada sosok Gibran.
“Seperti yang kau katakan tadi. Suamiku itu adalah orang yang sangat berpengaruh di sini. Kau tak akan bisa lolos jika kau berani menggangguku. Selain itu, perlu kau ingat hal ini. Suamiku itu, tak pernah mengancamku tentang hal apa pun. Jadi sebaiknya, kau jangan berspekulasi buruk tentangnya. Karena aku, tak akan pernah mau denganmu lagi, Gibran. Kita sudah berakhir!” sarkas Clara seraya berlari meninggalkan Gibran.
“Clara!” teriak Gibran
Gibran mengacak kasar rambutnya. Terlihat sekali wajah frustasi pada dirinya. Ia menggelengkan kepalanya kuat.
“Enggak Clara! Enggak! Aku enggak percaya apa pun yang kau katakan. Aku yakin kau sudah diancam oleh pria itu. Kau tenang saja yah, sayang. Aku akan menyelamatkanmu dari siksaan ini. Kau akan aman bersamaku. Tunggulah! Aku akan segera membawamu pergi,” gumam Gibran
Clara menghentikan lariannya kala napasnya hampir hilang. Clara berusaha menetralkan degup jantungnya itu. Ia melihat ke arah belakang dan menghela napas lega karena Gibran tak mengejar dirinya.
“Syukurlah dia tak mengejarku. Gibran benar-benar deh. Bagaimana bisa dia mengatakan itu semua. Aku tak bisa menemuinya lagi. Atau tidak, ia akan lebih agresif lagi,” gumam Clara
Clara berjalan masuk ke dalam rumah dengan keadaan lesu.
“Clara, kamu sudah kembali rupanya,” sapa Bini Nani saat melihat Clara yang sudah datang.
“Ini Bibi barang yang dipesan. Aku mau ke kamar dulu yah, Bi,” ucap Clara seraya berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Bibi Nani memandang heran pada sikap Clara.
“Ada apa dengan, Clara? Kenapa tiba-tiba wajahnya jadi sedih gitu?” gumam Bibi Nani
__ADS_1