
Jebakan Cherry
“Maksudnya?” tanya Clara dengan tatapan bingung.
“Kau tau apa yang aku maksud, Clara,” jawab Keenan
Clara menghela napas kasar. “Bayu Lyman adalah ayah kandungku, tapi Jina bukanlah ibu kandungku. Ibu kandungku sudah meninggal,” jawab Clara dengan tatapan sendu.
“Clara.…”
Ternyata dia menghindari hubungan yang lebih dekat karena masalah identitas keluarganya, ya? Sungguh, aku tak menyangka bisa mendengar hal ini darinya. Banyak yang tak kuketahui tentang istriku sendiri ~ batin Keenan
“Emm, terima kasih sekali lagi untuk hari ini. Aku masih ada urusan dengan temanku yang tadi. Aku tak bisa menemanimu,” ucap Clara seraya membalikkan tubuhnya untuk keluar dari mobil.
“Clara!” panggil Keenan yang membuat langkah Clara terhenti. Ia membalikkan tubuhnya menatap ke arah Keenan yang berdiri di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Clara
“Tidak peduli siapa dirimu di keluarga Lyman, kau tetaplah nyonya muda Gibson,” jelas Keenan dengan tatapan serius.
Clara mengulum senyum. “Iyah!” balas Clara
“Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku jika terjadi sesuatu,” timpal Keenan
Clara menganggukkan kepalanya pelan. “Iyah!"
Keenan berjalan memasuki mobilnya kembali dan mulai meninggalkan sosok Clara. Selepas Keenan yang pergi, Clara menghela napas pelan. Masalah kali ini bisa diselesaikan dengan baik. Ia cukup bersyukur karena Keenan yang sudah datang menyelamatkannya.
“Dasar wanita penyihir! Bisa-bisanya dia datang dan menyalahkanku tentang apa yang terjadi,” geram Clara yang cukup kesal ketika mengingat kejadian tadi.
Saat ia akan menghubungi nomor Yanti untuk memberitahukan kondisinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia melihat nomor yang tak dikenal di sana. Clara awalnya terdiam sebelum akhirnya menjawab panggilan telpon itu.
Clara membiarkan orang itu berucap duluan.
[“Clara, aku mau bertemu denganmu sekarang!”]
Clara mengeryitkan dahinya mendengar nada ketus dari orang itu. “Kau siapa yah?” tanya Clara
Terdengar suara helaan napas kasar dari sana.
[“Dasar yah! Padahal kau sudah sering bertemu denganku. Aku Cherry Jovanka Calum. Sudah tau kan? Sekarang temui aku di Happiness Café. Ada yang ingin aku katakana padamu soal Keenan,” jelas Cherry]
Panggilan itu langsung dimatikan oleh Cherry setelah mengatakan hal itu. Sedangkan Clara memasang wajah berpikir.
__ADS_1
“Kelihatannya hari ini tak akan bisa tenang lagi. Aku yakin wanita itu punya maksud buruk dengan mengajakku untuk bertemu,” gumam Clara
Clara segera menghentikan sebuah taksi yang lewat.
“Ke mana Mba?”
“Happiness Café yah, Pak!” jawab Clara
“Baik!”
Taksi itu mulai berjalan. Selama perjalanan itu, Clara hanya melihat ke arah kaca mobil. Ia mengirim pesan untuk Yanti untuk mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Sekitar dua puluh menit, akhirnya taksi yang membawa dirinya sudah sampai di depan Happiness Café. Setelah membayar biaya taksinya, ia segera keluar dari taksi dan berjalan masuk ke dalam kafe itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Cherry.
“Apa pelanggan bernama Nona Cherry ada di sini?” tanya Clara pada salah satu pelayan.
“Oh, apakah anda ini Nona Clara?” tanyanya balik.
Clara menganggukkan kepalanya. “Iyah, itu saya. Dia ada di mana yah?” tanya Clara kembali.
“Mari saya antar, Nona”
Clara mengikuti langkah pelayan itu. Mereka menaiki tangga menuju ke area rooftop yang memang didesain untuk pelanggan juga. Saat sudah ada di atas, ia melihat Cherry yang sedang duduk di meja dekat pembatas rooftop. Segera ia mendekati wanita itu.
“Nona Cherry?” panggil Clara
Clara pun duduk di hadapan Cherry yang menatap angkuh padanya.
“Nona Cherry, apa yang mau kau katakan tentang suamiku?” tanya Clara sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Nyonya Muda Gibson memang to the point yah. Aku hanya mau mengatakan untuk tinggalkan Keenan. Menjauh darinya. Kartu ini akan menjadi milikmu,” jelas Cherry seraya menyodorkan sebuah gold card pada Clara.
Clara mengambil kartu itu dan tersenyum miring. “Hehe, di dalam kartu Nona Cherry ini isinya berapa yah? Puluhan juta atau mungkin ratusan juta? Apa kau bisa menggunakan otak kecilmu itu? Harga seorang Nyonya Muda Gibson tidak hanya segitu tau. Apa mungkin aku meninggalkan Mas Keenan hanya untuk uang sedikit ini?” tanya Clara dengan nada sarkas.
Cherry berdecih pelan. “Ternyata kau emang menikahinya hanya demi uang?! Tak kusangka kau begitu materialistis! Kau itu benar-benar tak cocok dengan Keenan. Keenan itu pria dewasa, sedangkan dirimu masih anak kecil. Pantas saja pemikirannya hanya untuk kemewahan saja,” hina Cherry dengan sindiran.
Clara tertawa sarkas. Ia bangkit dari duduknya dan memajukan wajahnya pada Cherry.
“Kalau Mas Keenan tidak punya uang, apakah kau masih berani bilang orang yang kau sukai adalah Keenan Gibson?” tanya Clara yang balik menyindir.
Cherry terpaku dengan apa yang diucapkan oleh Clara. Ia jadi tak dapat berkata apa-apa. Melihat hal itu membuat Clara tersenyum miring.
“Asal kau tau, Nona Cherry. Aku tak peduli seberapa banyak uang yang dia habiskan untukmu. Tapi kau jangan terlalu serakah dong. Ketahuilah batasanmu sendiri,” tukas Clara
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Clara mengambil tasnya dan berlalu dari hadapan Cherry. Namun, dengan cepat tangannya ditahan oleh Cherry untuk pergi.
“Clara, berhenti! Kalau kau pergi, kau benar-benar akan menyesal!” tukas Cherry dengan tatapan kesal.
“Nona Cherry! Jangan mencari masalah! Aku tak ingin berdebat lebih banyak denganmu!” protes Clara yang berusaha melepas tangan Cherry darinya.
Namun, tiba-tiba saja Cherry terlepas begitu jauh darinya hingga hampir saja wanita itu terjungkal ke bawah gedung kafe.
“Awas!” teriak Clara yang berhasil mencegah Cherry untuk jatuh.
Tak disangka, tiba-tiba saja banyak wartawan yang mengelilinginya.
“Nona Lyman, kenapa anda mau mendorong Nona Calum untuk jatuh dari atas sini?”
“Benar! Ada dendam apa antara kalian berdua? Sampai anda bisa setega itu padanya?”
Clara menatap terkejut pada para wartawan itu.
Kenapa tiba-tiba bisa muncul begitu banyak wartawan? Apa Cherry ini sengaja merencanakan semua ini? ~ batin Clara
“A-Aku juga tak tau apa yang membuatnya tersinggung. Dia langsung mendorongku jatuh. Untung saja Tuhan masih ingin aku hidup lebih lama. Atau tidak, aku tak tau apa yang bakal terjadi padaku,” lirih Cherry yang sudah memulai acting sedihnya.
Sungguh, Clara ingin sekali menampar wajah pura-pura Cherry. Tapi, akal sehatnya masih berjalan saat ini.
“Diamlah! Bukankah yang terpenting sekarang membawanya ke rumah sakit dulu?” protes Clara yang sudah cukup kesal karena terus didesak oleh banyak pertanyaan dari para wartawan.
“Apakah anda marah karena merasa malu?”
“Sekarang baru berpikir untuk mengantar orang ke rumah sakit? Apa anda tak merasa sudah terlambat?”
Clara semakin terpojok saat ini dengan berbagai pertanyaan itu. Apalagi saat ini semua pengunjung kafe sedang menatap ke arahnya. Banyak dari mereka terlihat mencibir ke arahnya. Seakan mempercayai apa yang mereka lihat.
Sedangkan di belakang kerumunan itu, terlihat beberapa orang yang berjas baru saja keluar dari sebuah ruangan.
“Kenapa di sana sangat ramai?”
“Tuan Muda Gibson tak perlu lah mengurusi hal seperti itu. Biasalah terkadang ada yang membuat keributan atau kehebohan”
Pria berjas biru donker yang ternyata Keenan itu terus saja menatap ke arah kerumunan itu sampai matanya melebar melihat sosok sang istri yang berada di tengah kerumunan itu. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju ke kerumunan itu. Membuat para kolega bisnisnya memandang terkejut padanya.
“Tuan Muda Gibson!”
Keenan sudah semakin dekat dengan kerumunan itu. Ia mendorong semua orang yang menghalangi jalannya. Ia sudah tepat berada di belakang Clara. Semakin dekat dengan Clara, semakin ia bisa melihat jika istrinya itu nampak ketakutan dengan intimidasi para wartawan itu.
__ADS_1
Dengan sekali gerakan ia menarik tangan Clara hingga membuat tubuh Clara menghadap padanya. Tatapan terkejut Clara berikan kala melihat sosok sang suami di hadapannya saat ini. Keenan langsung memeluk tubuh Clara dengan erat. Membuat Clara benar-benar tertegun dengan apa yang dilakukan istrinya itu.
“Aku sudah datang. Tidak apa-apa yah. Tak akan ada yang berani mengganggumu lagi,” bisik Keenan tepat di telinga Clara.