
“Nyonya Muda Gibson akan datang sendirian ke acara ulang tahun Papanya. Pasti akan menjadi perbincangan yang sangat hebat. Dia memang harus tau posisinya,” gumam Cherry seraya menghapus riwayat telpon dari Clara.
“Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini?” Sosok Keenan masuk ke dalam ruangannya dengan tatapan datar.
Keenan langsung merebut ponselnya yang berada di tangan Cherry.
“Aku sudah bilang padamu untuk tak menyentuh ponselku. Aku sama sekali tak menyukainya,” desis Keenan
“Emm, maafkan aku Keenan. Oh ya, malam ini Nayla mau ajak kita party di tempat biasa. Kau harus datang yah,” ujar Cherry sambil mengelus dada Keenan.
Keenan terdiam sebentar. “Sepertinya tak ada masalah jika aku pergi. Lagian, ada waktu senggang juga,” timpal Keenan
“Ehm, Presdir. Hari ini mertua Anda akan berulang tahun. Banyak orang yang akan hadir di sana. Apa Anda tak akan pergi ke sana?” tanya Darel yang tiba-tiba datang.
Keenan kembali terdiam dengan perkataan Darel. Ia melihat ke arah ponselnya di mana tak ada sama sekali panggilan dari Clara.
Cherry jadi kesal dengan Darel yang tiba-tiba mengatakan hal itu. Ia harus membuat Keenan tak bisa pergi ke sana.
“Keenan, jangan lupa datang nanti yah. Jangan buat kecewa temanmu. Sampai jumpa di sana nanti,” ucap Cherry melambaikan tangannya pada Keenan. Tak lupa ia memberikan tatapan sinis pada Darel yang hanya dibalas oleh Darel dengan tatapan dinginnya.
“Keenan, kau akan pergi ke sana atau tidak?” tanya Darel yang mendekati Keenan.
Keenan mendengus kesal. Keenan tahu arah pembicaraan sahabatnya itu. “Untuk apa? Dia saja tak mengajakku. Aku tak akan pergi ke sana,” jawab Keenan seraya berlalu dari hadapan Darel.
Melihat hal itu, Darel hanya bisa menghela napas kasar. “Sampai kapan kau akan gengsi seperti ini? Kau akan menyesal pada akhirnya,” gumam Darel
Berkali-kali ia menghela napas kasar. Ia dapat merasakan keringat dingin pada tangannya. Itulah yang dirasakan Clara saat ini. Ia memutuskan untuk tetap datang ke acara ulang tahun Papanya itu meskipun ia tak bersama dengan suaminya itu. Karena sang suami yang sudah sibuk dengan urusan lain. Dan ia tak mau peduli dengan hal itu.
“Aku harus menghadapinya. Terserah mereka mau mengatakan apa,” gumam Clara yang akhirnya meyakinkan hatinya untuk masuk ke dalam mansion itu.
Saat ia masuk ke dalam, ia bisa melihat begitu banyak orang yang datang. Bagaimana tidak, bisa dibilang Papanya itu cukup dikenal banyak orang. Banyak rekan bisnis yang datang.
Para tamu undangan yang datang itu langsung melihat ke arahnya. Ia bisa cukup menangkap apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang itu.
“Kenapa Nyonya Muda Gibson hanya datang seorang diri? Mana Tuan Muda Gibson?”
“Hei, mana mungkin Tuan Muda Gibson mau datang. Tuan Muda Gibson itu tak menginginkan pernikahan ini sama sekali”
“Oh iya, kau benar juga. Masih ada sosok Nona Givatri di hati Tuan Muda Gibson”
Clara berusaha untuk tak mendengarkan apa pun yang mereka katakan. Karena ia tak ingin peduli. Ia tetap berjalan sampai ke depan Papanya yang ternyata sedang berbicara dengan mertuanya.
“Selamat ulang tahun Pa!” ucap Clara memeluk Papanya itu.
“Terima kasih yah sayang!” balas Bayu
__ADS_1
“Ini, hadiah untuk Papa,” ucap Clara kembali menyerahkan sebuah kado untuk Papanya.
“Wah, terima kasih yah, sayang. Kamu seharusnya tak perlu repot melakukannya,” balas Bayu kembali.
Clara tersenyum lebar. Ia tahu Papanya bersikap seperti ini karena ada mertuanya. Karena sesungguhnya Papanya itu tak bersikap seperti ini padanya.
“Emm, suamimu di mana Clara? Apa dia tak datang bersamamu?” tanya Jina mengedarkan pandangannya ke belakang.
“Iyah, sayang. Keenan ada di mana? Apa dia tak datang bersamamu?” tanya Maya
“Itu, Kak Keenan tak bisa datang karena masih sibuk dengan pekerjaan di perusahaannya. Banyak hal yang mesti dia urus katanya,” jelas Clara
Tak mungkin bukan ia mengatakan yang sebenarnya. Walaupun suaminya itu bersikap jahat padanya, ia tak ingin berperilaku sebaliknya. Karena pada kenyataannya mereka bukanlah pasangan suami istri sesungguhnya.
“Aduhh, anak itu kalau sudah bekerja tak bisa kenal waktu. Maafkan Keenan yah tak bisa datang ke acara ulang tahunmu,” ucap Andy menyentuh bahu Bayu.
“Tak apa, Besan. Aku tau seberapa sibuk menantuku itu. Tak apa, jangan dibawa serius,” timpal Bayu
“Itu benar, jangan dibawa serius. Yang penting kan Clara ada di sini,” timpal Jina pula.
Clara berdecih di dalam hatinya melihat kepalsuan dari wanita itu. Padahal siapa tadi yang menggebu-gebu agar Keenan datang ke acara ulang tahun ini. Jika saja ia bisa membuka topeng wanita berkedok ibu tirinya itu.
Sedangkan di tempat lainnya, terlihat pada sebuah baru seorang pria dengan kemeja hitamnya tengah memutar-mutar gelas yang berisi wine. Wajah pria itu nampak datar sedari tadi. Padahal orang-orang di sekitarnya nampak bersenang-senang sambil berdansa ria.
Dialah Keenan yang sedari tadi juga melihat ke arah ponselnya yang masih tak terdapat notifikasi dari Clara. Padahal dia sudah menunggu pesan dari wanita itu.
Di dekatnya, nampak Cherry yang sedari tadi memandangi ke arah Keenan dengan tatapan nakalnya.
Pria ini adalah milikku. Aku tak akan membiarkannya lepas dariku ~ batin Cherry
Cherry berjalan dengan langkah gemulai ke arah Keenan dan duduk di dekat pria itu.
“Keenan, kau kenapa kelihatannya muram sekali? Ada apa? Kau memikirkan sesuatu kah?” tanya Cherry dengan usapan lembut pada dada Keenan.
Tapi, nyatanya Keenan sama sekali tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Cherry karena pria itu masih sibuk dengan pikirannya pada Clara yang pergi sendirian ke acara ulang tahun mertuanya.
Aku harus membuat wanita itu menyadari kalau dirinya adalah wanita yang sudah bersuami. Masih menganggap dirinya itu belum menikah? Atau janda? Cih! Di acara seperti ini kenapa malah tak mengajakku pergi? ~ batin Keenan
Keenan menggenggam dengan erat ponsel di tangannya itu.
“Keenan, mau aku menemanimu malam ini? Aku selalu siap kok. Lagipula, kita sudah lama tak melakukannya bukan?” ajak Cherry dengan nada sensual.
“Lepaskan!” sentak Keenan yang langsung mendorong Cherry tuk menjauh.
Keenan tiba-tiba bangkit dari duduknya. Hal itu membuat Cherry memandanginya dengan aneh.
__ADS_1
“Keenan, kau mau ke mana?” tanya Cherry
Keenan tak menggubrisnya.
“Aku tak akan menemani kalian minum lagi. Malam ini aku yang akan traktir kalian semua,” ucap Keenan
“Hei, kau baru main sebentar tapi kau mau langsung pergi begitu saja,” celetuk Rafael
“Iyah, kayak bukan Tuan Muda Gibson saja,” timpal Vincent pula.
“Aku ini pria yang sudah berkeluarga. Ada yang akan menungguku di rumah,” balas Keenan yang beranjak dari sana.
Sedangkan Cherry memandang kesal pada hal itu. Ia yakin jika Keenan saat ini pasti ingin menemui Clara.
“Akhirnya sampai di rumah juga,” ucap Clara yang baru sampai di rumahnya setelah dari acara ulang tahun Papanya itu.
Keadaan rumah saat ini gelap karena para pelayan rumah pada jam segini memang sudah berada di rumah belakang.
Namun, baru beberapa langkah ia masuk ke dalam rumahnya itu, tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang.
“Hei, kau siapa?! Lepaskan aku! Atau tidak aku akan melaporkanmu ke polisi!” jerit Clara yang benar terkejut.
“Hei, kau ini sama sekali tak mengenal suara suamimu sendiri? Kau ini benar-benar tak berperasaan.” Sungguh Clara terkejut kala melihat sosok Keenan di depannya saat ini.
Clara menundukkan kepalanya saat Keenan menatapnya begitu dalam. Saat Clara ingin menjauh dari pria itu, Keenan langsung kembali memeluknya dengan erat.
“A-Aku pikir kau tak akan pulang malam ini,” ucap Clara yang kembali mendorong tubuh Keenan tuk menjauh.
Keenan tiba-tiba saja mendorong tubuh Clara ke belakang dan mengangkat satu tangan wanita itu ke atas. Keenan memandangi Clara dengan intens.
“Ini adalah rumahku sendiri. Kenapa aku tak boleh pulang ke sini?” tanya Keenan dengan nada sarkas.
Clara bisa mencium aroma alkohol dari tubuh pria itu. Ia jadi kesal karena pria itu kembali berbohong padanya. Karena ia masih mengingat dengan jelas ketika pria itu mengatakan tak akan meminum alkohol lagi.
“Lepaskan aku! Kalau kau sedang mabuk, carilah wanita lain untuk menemanimu bermain. Jangan mencari masalah di sini!” keluh Clara yang berusaha melepaskan diri dari genggaman Keenan.
Keenan berdecih pelan. “Kau sangat ingin aku bermain dengan wanita lain. Apa tak ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Keenan menyentuh dagu Clara.
“Tidak! Lepaskan aku!” jawab Clara
Keenan menggeram kesal. “Clara, kau hebat sekali! Kau ternyata tak pernah menganggapku sebagai suamimu, yah?!” desis Keenan
“Apa maksud....”
“Hmphhh!”
__ADS_1
Clara melebarkan matanya kala Keenan yang langsung mencium bibirnya dengan cepat.