
Seketika Keenan menghentikan mobilnya tiba-tiba. Membuat Clara jadi terantuk dengan dasbor di depannya.
“Auw!” keluh Clara yang memegangi kepalanya yang terantuk.
Hal itu membuat Keenan jadi terkejut. Dengan sigap ia meraih kepala Clara. Ia mengusap dengan pelan dahi Clara itu. Ia bahkan meniup berulang kali bagian yang terantuk.
Sungguh, hal itu membuat Clara tertegun. Apalagi saat ini wajah keduanya sangat dekat. Namun, karena sikap pria itu membuat Clara sadar. Dengan cepat ia mendorong tubuh Keenan untuk menjauh darinya.
“Hentikan! Ini semua karena dirimu tau. Bagaimana bisa kau mengerem mendadak?!” protes Clara yang mengalihkan pandangannya.
“Makanya aku mau tanggung jawab. Sini dulu, nanti itu jadi bengkak tau,” tutur Keenan yang kembali menarik kepala Clara dan meniup dahi wanita itu.
“Udah ah! Udah enggak sakit,” ucap Clara, ia melakukan itu karena malu terlalu berdekatan dengan Keenan.
“Maafkan aku! Aku hanya emosi karena kau mengatakan hal tadi,” timpal Keenan
“Bukankah yang aku katakan itu benar? Kita memang tak seharusnya dekat. Karena kita....”
“Hentikan Clara! Aku tak ingin mendengarnya. Bisakah kita menghentikan pembicaraan ini? Aku menjemputmu untuk minta maaf soal kemarin. Maafkan aku yang bersikap kasar padamu kemarin. Untuk itu, aku ingin menebusnya dengan mengajak kau makan siang bersama-sama. Kau mau kan?” ajak Keenan
Clara agak tertegun dengan anak-anak itu. Kenapa tiba-tiba pria ini malah jadi baik gini? Tak seperti biasanya.
Keenan menyentuh bahunya Clara. “Kau mau kan?” ajak Keenan
Entah kenapa tatapan Keenan membuatnya tersihir untuk menganggukkan kepalanya.
“Baguslah! Kita pergi sekarang yah,” ujar Keenan yang kembali menjalankan mobilnya.
Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah memaafkan pria ini? Padahal harusnya aku masih marah pada pria ini dan berusaha menjauhinya. Tapi, senyuman tampan itu benar-benar mengalihkan segalanya ~ batin Clara
Clara memilih mengalihkan pandangannya pada jendela mobil. Ia sedikit melirik ke arah Keenan yang ternyata sedang tersenyum, walau tipis.
Akhirnya mereka sampai di depan sebuah restoran. Clara agak tertegun dengan restoran. Bukan tanpa alasan, ia tahu karena restoran ini adalah sebuah restoran bintang lima. Yang katanya sangat susah untuk memesan tempat.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Clara dengan tatapan bingung.
Keenan malah balik menatapnya bingung. “Bukankah aku udah bilang kalau akan mengajakmu makan siang? Yah, kita ke sini lah,” jawab Keenan
“Tapi, kenapa harus restoran ini? Bukankah....”
“Udahlah, nanti aja tanyanya. Kita masuk dulu. Ayo,” potong Keenan yang langsung menggenggam tangan Clara untuk masuk ke area restoran.
__ADS_1
Beberapa orang menatap ke arah mereka. Siapa yang tak mengenal Tuan Muda Gibson? Pebisnis handal yang tak pernah absen untuk masuk ke dalam majalah Forbes.
Clara sebenarnya tak biasa dengan perhatian banyak orang. Untuk itu, ia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya itu.
“Nyonya Muda Gibson tak boleh menundukkan wajahnya. Kau itu wajah bagi menantu keluarga Gibson,” bisik Keenan yang langsung membuat Clara mengangkat wajahnya ke atas.
Mereka di arahkan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang ternyata sudah di desain khusus untuk sang Tuan Muda.
Keenan menuntun tangan Clara untuk duduk di kursi. Jujur, Clara jadi merasa spesial dengan perlakuan Keenan saat ini. Tapi, ia harus tetap sadar jika tak akan ada masa depan antara mereka.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan datang dan membawakan beberapa makan di atas meja.
“Ayo, kau makanlah,” ucap Keenan
Dengan perlahan Clara mulai memakan makanan di atas meja. Ia melihat Keenan yang fokus pada makanannya. Entah kenapa, ia merasa saat ini mereka seperti pasangan suami istri yang normal. Tapi, ketika ia kembali mengingat kejadian di mana Keenan begitu marah padanya kemarin, membuat Clara harus mengubur semua keinginannya untuk hidup normal. Karena tak akan ada hubungan yang pasti antara keduanya.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Keenan tiba-tiba.
Clara jadi terkesiap karena tiba-tiba Keenan berkata. “Aku hanya sedang berpikir. Mungkin jika kita tak menjadi suami istri, palingan kita bisa menjadi teman atau saudara yang baik,” jelas Clara
Sontak gerakan tangan Keenan yang sedang memegang sendok terhenti. Ia menatap ke arah Clara yang memakan makanannya.
“Teman?”
Tiba-tiba saja Keenan meraih tangan Clara. Membuat Clara memandang terkejut padanya.
“Clara, perlu kau ingat hal ini. Kita selamanya tak akan pernah menjadi teman. Apa kau mengerti?” timpal Keenan dengan tatapan tajam.
Saat Clara ingin berucap, Keenan lebih dulu kembali berucap.
“Kau adalah istriku, lantas untuk apa aku menjadi temanmu?” tanya Keenan
Clara mengalihkan pandangannya.
“Ta-Tapi, kau tau kan kalau hubungan ini hanya sebuah keterpaksaan. Kau sendiri yang mengatakan padaku untuk tak ingin hubungan ini ada,” jelas Clara
“Tapi, aku tak ingin kau anggap sebagai temanmu saja. Aku ini suamimu yang sah. Jadi, aku berhak untuk mengaturmu,” tukas Keenan yang bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan.
Melihat hal itu membuat Clara menghela napas kasar. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dipikirkan Keenan. Pria itu benar-benar plin-plan. Sebentar bilang begini, sebentar lagi bilang begitu.
“Aihh, sudahlah! Lebih baik aku pulang saja. Tak perlu memikirkan pria itu dulu. Aku mesti melihat novel yang sudah dikirimkan oleh Kak Yanti,” gumam Clara seraya menyusul Keenan yang sudah keluar duluan.
__ADS_1
Mobil Keenan tepat berhenti di depan rumah. Keenan berjalan keluar lebih dulu dari mobil. Membuat Clara yakin jika pria itu masih marah padanya. Clara pun ikut keluar dari dalam mobil untuk menyusul Keenan.
“Keenan, Clara! Kalian sudah pulang?”
Keenan dan Clara cukup terkejut karena kehadiran Mama Maya di sana.
“Mama? Kenapa enggak bilang akan datang ke sini?” tanya Clara seraya memeluk tubuh mertuanya itu.
“Mama ingin memberikan kejutan lah. Oh ya, Mama udah masakin sesuatu untuk kalian. Kalian mau makan siang sekarang kan?” ajak Maya
“Kami sudah....”
“Boleh kok, Ma! Kita memang belum makan siang,” potong Clara yang langsung merangkul lengan Keenan.
Keenan terkejut karena Clara yang tiba-tiba memotong ucapannya.
“Baguslah! Ayo, kita makan siang bersama,” ajak Maya menarik tangan Clara bersamanya.
Keenan hanya bisa menghela napas kasar. Mau tak mau ia harus ikut makan siang, walaupun saat ini ia sedang tak mood.
“Papa Andy ke mana, Ma? Apa enggak ikut ke sini?” tanya Clara
“Papamu itu sudah pergi main golf bersama temannya. Jadi, Mama ditinggal sendirian di rumah. Mending Mama datang ke sini untuk main dengan menantu Mama ini,” jelas Mama Maya sambil mengelus pipi menantunya itu.
Clara tersenyum lebar. “Makasih yah Mama. Aku sangat senang karena Mama ada di sini,” timpal Clara
“Kamu kan anak Mama juga. Mama sayang dengan anak perempuan Mama ini,” balas Maya
Keenan sedikit melebarkan matanya atas perkataan Mamanya itu. “Mama ini bagaimana sih? Clara itu menantu Mama, bukan anak Mama tau,” protes Keenan
“Eihh, apa salah Mama juga menganggapnya anak Mama? Clara memang menantu Mama. Makanya Mama juga menganggapnya sebagai anak Mama. Kenapa kamu malah tiba-tiba sensitif gini?” tanya Maya yang memandang Keenan dengan bingung.
Clara meringis pelan. Ia yakin Keenan pasti masih mempermasalahkan masalah yang tadi saat ia mengatakan jika hubungan mereka bisa menjadi teman saja. Tapi, kenapa Keenan harus kesal dengan hal itu? Bukankah itu yang dari dulu pria itu inginkan?
Keenan hanya diam saja. Ia lebih memilih melanjutkan makannya.
“Oh ya, Clara. Kamu juga suka membaca novel yah?” tanya Maya tiba-tiba.
Clara langsung menatap mertuanya itu. “Iyah, lumayan lah, Ma. Ada apa emangnya?” tanya Clara balik.
“Mama lihat kamu ada pesan novel berjudul Hope itu. Asal kamu tau, Mama juga suka dengan cerita itu. Bahkan saat cerita itu mau dinovelkan, Mama sangat senang. Tapi, yang Mama tau pre-ordernya saja belum dibuka. Darimana kamu bisa pesan novel itu?” tanya Maya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
Sontak Clara tertegun dengan pertanyaan dari mertuanya itu. Apa yang harus ia jawab saat ini? Tak mungkin ia mengatakan jika dirinya lah yang menulis novel itu!