Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
37. Dia Datang?!


__ADS_3

“Hah, hah...”


Keenan melepaskan bibirnya pada Clara saat merasa wanita itu sudah akan kehabisan napas. Keenan menatap Clara dengan tatapan dalam. Clara yang telah sadar langsung mendorong tubuh Keenan untuk menjauh.


“Keenan! Apa yang kau lakukan?!” protes Clara yang menutup mulutnya dengan tatapan kesal.


Keenan sedikit tertegun kala Clara yang memanggilnya tanpa embel-embel ‘Kak’ atau ‘Mas’. Tapi, bukannya menjawab apa yang dikatakan Clara, jusru Keenan malah menarik tangan Clara untuk mengikutinya.


“A-Keenan, kau mau bawa aku ke mana?!” protes Clara kembali karena Keenan yang tiba-tiba menarik tangannya.


Keenan tak mendengarkan perkataan Clara. Ia terus menarik tangan Clara hingga masuk ke dalam kamarnya Clara.


“Keenan berhenti! Kau benar-benar mabuk saat ini. Lepaskan aku!” protes Clara yang berusaha melepaskan diri dari Keenan.


“Aku tau apa yang aku lakukan!” timpal Keenan yang semakin mengeratkan pegangannya pada tangan Clara.


Keenan membanting tubuh Clara di ranjangnya. Membuat wanita itu memekik tertahan. Clara menatap Keenan dengan tatapan waspada.


“Keenan, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” geram Clara saat Keenan malah menindih tubuhnya saat ini.


Bukan hanya menindih, Keenan juga bahkan merobek baju yang dikenakan oleh Clara hingga membuat belahan dadanya terlihat. Keenan tak mendengarkan rintihan dari Clara. Ia justru menggigit leher Clara hingga menimbulkan bekas di sana-sini.


“Le-Lepaskan aku, Keenan! Hiks, le-lepaslah....”


Air mata mulai membasahi wajah Clara hingga sesenggukan. Membuat Keenan langsung menghentikan aktivitasnya itu. Ia menghela napas kasar. “Apa kau begitu membenciku?” tanya Keenan menatap Clara yang mengalihkan pandangan darinya.


Keenan menggeram kesal melihat Clara yang hanya diam saja. Untuk itu ia langsung bangkit dari tubuh Clara dan beranjak pergi dari sana. Sedangkan Clara terus menangis di dalam tidurnya.


“Tak apa, Clara. Malam seperti ini akan terlewati...”


Pagi kembali disambut oleh Clara. Dengan perlahan ia bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Clara meringis melihat penampakan dirinya yang sangat menyedihkan. Dengan kantung mata yang hitam. Ia juga bias melihat lehernya yang dipenuhi dengan bercak merah bekas gigitan Keenan.


Clara menghela napas kasar. “Kau benar-benar menyedihkan, Clara. Kenapa kau bias hidup seperti ini?” gumam Clara dengan tatapan sendu.


Sejak hari itu, baik Clara dan Keenan tak saling berbicara hingga sebulan lamanya. Keenan yang akan selalu berangkat pagi-pagi untuk menghindari Clara. Dan Clara tentunya akan bersyukur akan hal itu. Karena ia jadi tak perlu bersikap canggung saat bertemu dengan Keenan.


Saat ini Clara tengah sibuk di depan laptopnya. Matanya terfokus untuk menyelesaikan cerita barunya. Karena pihak Cluster Publisher ingin dirinya membuat cerita baru. Tentunya ia sambut baik hal itu. Meskipun resikonya ia harus begadang setiap malam.

__ADS_1


“Clara?”


Clara menolehkan wajahnya pada sosok Bibi Nani yang menghampiri dirinya. “Bibi Nani? Ada apa?” tanya Clara


“Di depan ada Mamanya,” jawab Bibi Nani


“Mama Maya?”


Bibi Nani menggelengkan kepalanya. “Bukan. Maksudnya Mama yang satunya,” jawab Bibi Nani kembali.


Raut wajah Clara langsung berubah. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Bibi Nani. Ia pun segera bangkit dari duduknya.


“Aku akan menemuinya dulu, Bi,” ucap Clara seraya berjalan ke arah depan.


Raut wajah Clara membuat Bibi Nani nampak heran.


Saat ia sampai di ruang tamu, ia dapat melihat sosok Jina yang sedang duduk dengan kaki yang diangkat satu.


“Untuk apa Anda datang ke sini?” tanya Clara yang membuat Jina langsung menoleh ke arahnya.


Clara berdecih pelan. “Aku sudah pernah mengatakannya padamu kalau aku tak dapat menjamin Keenan akan ikut. Karena itu semua tergantung dengan kemauannya,” timpal Clara


“Sebaiknya kamu penuhi, atau kamu bisa melihat apa yang akan aku lakukan padanya,” desis Jina seraya berlalu dari hadapan Clara.


Clara mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia tahu jika dirinya pasti akan diancam dengan alasan yang sama.


“Bagaimana mungkin aku mengajak pria itu pergi sedangkan kami saja masih bertengkar?” gumam Clara dengan wajah yang berpikir keras.


Gemerlapnya malam menjadi saksi langkah Clara yang memasuki sebuah ballroom hotel bintang lima. Ia hanya sendiri saja datang di ulang tahun perusahaan Papanya itu. Jika ditanya apakah ia sudah mengajak Keenan untuk pergi, ia sudah mengatakannya. Walaupun bukan lewat Keenan langsung, melainkan lewat sekretaris pria itu, Bagas.


Ia merasakan perasaan déjà vu. Ia pernah mengalami hal seperti ini saat ia datang sendiri ke acara ulang tahun Papanya itu. Cukup banyak yang datang ke acara itu. Beberapa orang pun juga tengah menatap ke arahnya.


Dengan gaun berwarna biru langit dengan belahan dada yang cukup rendah sehingga memperlihatkan bahunya yang mulus. Membuat banyak pria yang datang menatap ke arahnya.


“Clara, kamu sudah datang rupanya. Tapi, di mana Keenan? Kenapa kamu malah datang sendirian?” tanya Jina


Ia sudah tahu jika mama tirinya itu pasti akan menanyakan soal Keenan.

__ADS_1


Clara memutar bola matanya jengah. “Aku sudah bilang bukan kalau aku tak bisa memaksanya untuk ikut,” jawab Clara


“Clara! Dasar kamu ini tak berguna!” murka Jina dengan tatapan tajam.


Clara berjalan mendekati Jina dan berbisik padanya. “Suara Mama bisa lebih keras lagi. Yang ada keluarga Lyman yang akan menanggung malunya juga,” bisik Clara dengan tatapan dingin.


Jina berdecih pelan. “Meskipun tak kukatakan, semua yang hadir di sini juga akan bergosip dengan kamu yang hanya datang seorang diri. Dan ini bukan untuk pertama kalinya,” timpal Jina


“Hai Clara! Kamu datang sendirian aja kah?”


Clara menolehkan wajahnya pada sosok wanita dengan gaun merah maroon-nya. Wanita yang bernama Marissa Barry, adalah wanita yang dulu teman dekatnya. Tapi sekarang tak lagi. Senyum palsu wanita itu benar-benar membuat Clara jijik.


“Hai juga Marissa!”


“Clara, kau semakin cantik saja. Aura Nyonya Muda Gibson sangat terlihat pada dirimu. Pasti gaun yang kau kenakan ini buatan khusus yah. Tuan Muda Gibson sangat perhatian yah padamu. Tapi, kenapa dia tak datang bersamamu?” tanya Marissa dengan wajah yang terlihat menyindir.


“Itu benar bukan? Ini adalah acara yang sangat penting. Tak mungkin dia tak datang,” timpal wanita dengan gaun putihnya, Senna.


“Hmm, Tuan Muda Gibson pasti sangat sibuk, makanya datang terlambat. Jangan menekan Clara lagi. Dia juga sendirian masuk ke dalam keluarga yang sebesar itu. Itu pasti hal yang tak mudah,” ujar Marissa sambil menyentuh bahu Clara.


Clara langsung menepis tangan Marissa. “Hari ini dia tak datang. Aku saja sudah cukup untuk datang ke sini,” jawab Clara


“Hmm, Clara kalau boleh aku bilang nih yah. Kemarin aku melihat Tuan Muda Gibson ada di sebuah bar. Mungkin itu alasannya tak datang hari ini untuk menemanimu,” komentar Marissa


Clara menampilkan senyum miringnya.


“Dibandingkan dengan aku yang istri sahnya,kenapa kau lebih mengerti kegiatan suamiku?” tanya Clara dengan nada menyindir.


“Siapa yang lebih mengerti diriku dibandingkan istriku sendiri?”


Sontak mereka semua mengalihkan pandangan pada sosok Keenan yang terlihat berjalan mendekati Clara. Clara pun sungguh terkejut dengan kedatangan pria itu.


Kenapa baru sekarang dia datang? Apa yang sebenarnya dipikirkan pria ini? ~ batin Clara


“Kenapa kau tak menungguku datang dan malah datang sendirian?” tanya Keenan seraya memeluk erat pinggang Clara. Clara jadi sangat gugup dengan perlakuan Keenan saat ini. Ia bisa merasakan pipinya yang memanas.


Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Keenan? Bukankah selama sebulan ini Keenan sama sekali tak ingin mengajaknya bicara?

__ADS_1


__ADS_2