Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
6. Menyembunyikan Kebenaran


__ADS_3

Sontak Clara dan Bini Nani melempar pandangan pada sosok wanita paruh baya yang merupakan mertua Clara. Clara segera beranjak dan menghampiri sang mertua.


“Mama datang ke sini kenapa enggak bilang dulu. Kan Clara bisa siapkan sesuatu untuk Mama,” ucap Clara


Maya menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengambil tangan Clara yang terluka. “Ini kenapa sayang? Kenapa tanganmu sampai diperban gini?” tanya Maya dengan tatapan yang sangat khawatir.


“Itu, Nyonya....”


“Tanganku tak sengaja terkena pecahan kaca. Tadi aku tak sengaja menjatuhkannya karena tanganku yang licin. Tapi ini sudah tak apa-apa kok. Bibi Nani sudah mengobatinya. Mama jangan khawatir yah,” jelas Clara


Bibi Nani hanya bisa menghela napas pelan kala Clara yang malah menyembunyikan kebenaran yang ada. Padahal ia mau memberitahukan yang sebenarnya pada majikannya itu. Tapi jika Clara sepertinya tak ingin memberitahukan yang sebenarnya, sebaiknya dia ikuti saja.


“Aduh, sayang. Kenapa kamu enggak hati-hati sih? Kita bawa ke dokter aja yah. Mama takut ada yang infeksi nanti,” timpal Maya yang masih memasang raut khawatirnya.


Clara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Jangan Ma! Aku beneran enggak apa-apa kok. Bibi Nani sudah mengobatinya dengan baik. Mending sekarang kita pergi ke ruang tengah aja yah. Kita ngobrol bareng,” tolak Clara yang berusaha agar Mertuanya itu tak perlu membawanya ke dokter. Bukankah itu terlalu berlebihan?


Maya menghela napas pelan. “Ya udah deh kalau emang enggak apa-apa. Tapi jika masih sakit harus kasih tau Mama yah. Mama enggak mau menantu kesayangan Mama ini jadi sakit. Bibi, tolong bersihkan bekas pecahan itu yah. Jangan sampai ada pecahan yang kecil sedikitpun, nanti malah diinjak oleh Clara,” jelas Maya


“Baik Nyonya!”


Maya segera menggenggam tangan Clara untuk berlalu. Clara melirik ke arah belakangnya, tepatnya pada Bibi Nani. Ia menggumamkan kata ‘maaf’ pada wanita paruh baya itu. Bibi Nani menggelengkan kepalanya yang menandakan kalau ia tak apa-apa.


Clara dan Mertuanya duduk saling berhadapan. Jujur saja, awalnya Clara agak takut jika ia akan mendapatkan mertua yang jahat. Seperti dari buku yang banyak ia baca. Nyatanya semua itu tak seperti yang ia duga. Ia bersyukur bisa mendapatkan mertua seperti Mama Maya. Wanita itu begitu menyayangi dirinya. Ia jadi merasakan kehangatan dari seorang Ibu dari mertuanya itu.


“Apakah kamu baik-baik saja di sini? Apa Keenan ada membuatmu susah? Atau menyakitimu gitu?” tanya Maya


Clara terdiam sebentar. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Mama Maya tentang perilaku Keenan padanya selama di sini?


Melihat Clara yang terdiam, menimbulkan pertanyaan di benaknya. Ia menggenggam tangan menantunya itu.

__ADS_1


“Clara, ada apa?” tanya Maya


Clara tersadar dari lamunannya. “Maaf yah, Ma. Aku malah melamun. Mama tenang saja. Keenan tak ada menyakitiku kok. Emang sih dia agak acuh padaku. Tapi dia tak menyulitkanku sama sekali,” papar Clara yang memilih menyembunyikan kebenaran yang ada.


Maya terdiam. Ia menatap serius pada Clara.


“Sayang, jika Keenan benar-benar menyakiti dirimu, katakan saja yah. Mama malahan akan sangat senang jika kamu bisa jujur pada Mama. Kalaupun Keenan mengancammu untuk tak mengatakannya, jangan dihiraukan yah. Katakan saja pada apa pun yang terjadi,” timpal Maya dengan senyuman lebar.


Clara sungguh merasakan hangat di hatinya karena perhatian dari mertuanya itu. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari Mama Tantri. Karena Mama Tantri akan selalu membedakan kasih sayang antara dirinya dan kakaknya itu. Clara tak mau berburuk sangka pada orang tuanya sendiri.


Clara menganggukkan kepalanya dengan kuat. “Iyah, Ma. Aku pasti akan selalu jujur pada Mama. Makasih yah, Mama. Mama sangat perhatian padaku,” balas Clara dengan senyuman yang lebar pula.


Maya memeluk Clara dengan erat. “Selalu andalkan Mama yah jika kamu butuh sesuatu ataupun ada seseorang yang menyakiti dirimu. Mama akan selalu ada buat Clara,” ujar Maya sambil mengelus pelan surai dark brown milik Clara.


Clara sungguh senang diperhatikan seperti ini. Perhatian yang tak pernah ia dapatkan. Bahkan pada keluarganya sendiri. Jadi sejak kecil, Clara hanya bisa menyayangi dirinya sendiri saja.


Pelukan itu terlepas. “Oh ya, apa kamu mau makan siang di luar bersama Mama?” ajak Maya


“Baguslah! Ayo, kita pergi sekarang. Sebelum kita makan siang, lebih baik kita jalan-jalan di mall yah,” ujar Maya


Clara yang ingin menolak pun tak bisa karena sang mertua yang malah langsung menarik tangannya keluar dari rumah.


Bibi Nani tersenyum melihat hal itu.


“Seenggaknya Nyonya ada untuk Clara jika dia susah,” gumam Bibi Nani


Mobil yang membawa Maya dan mertuanya sudah berhenti di depan sebuah mall. Seperti rencana awal, Maya akan mengajak menantunya itu untuk berkeliling mall sebelum makan siang bersama. Clara mengikuti dengan senang hati. Namun, ia cukup kewalahan karena mertuanya itu memaksanya untuk berbelanja. Mulai dari pakaian, aksesoris sampai membelikannya perhiasan. Padahal Clara tak membutuhkan itu semua. Ia hanya ingin berjalan bersama dengan mertuanya itu.


Tapi sekali lagi ia tak bisa menolak jika mertuanya itu akan sangat memaksanya. Ia juga takut nanti Mama Maya malah kesal dengannya karena menolak terus.

__ADS_1


Untung saja sang pengawal dengan sigap membawakan semua belajaan mereka.


“Ma, kita istirahat dulu aja yukk,” ajak Clara


Bukan hanya karena ia sudah cukup lelah, ia hanya berusaha mencari alasan agar Mama Maya tak perlu mengajaknya berkeliling lagi untuk membeli banyak barang.


Maya melihat ke arah arlojinya. “Ya udah, ayo. Lagian sudah akan masuk jam makan siang. Bagaimana kalau di restoran itu saja?” usul Maya sambil menunjuk ke salah satu restoran di dekat mereka.


“Boleh Ma. Di sana saja,” jawab Clara yang lebih memilih di mana saja mereka makan, yang penting Mamanya sudah teralihkan untuk tak membeli banyak barang lagi untuk dirinya. Walaupun Mama Maya itu mertuanya. Tetap saja ada rasa tak enak jika harus menerima begitu banyak barang. Apalagi ia harus mengurut dada ketika melihat harga-harga yang fantastis itu. Dunia orang kaya memang sangat berbeda.


Mereka memasuki sebuah restoran di mall itu. Setelah memesan makanan, Clara dan Mama Maya berbicara ringan.


“Mama tak seharusnya membelikanku banyak barang. Apalagi harganya yang sangat mahal gitu,” celetuk Clara


“Aduh, kamu ini jangan enggak enakan gitu, sayang. Mama melakukan ini untuk anak Mama sendiri tau. Enggak ada salahnya bukan. Lagian Mama sangat senang jalan-jalan denganmu,” timpal Maya


Clara cukup tertegun kala Mama Maya mengatakan jika dirinya sudah dianggap seperti anak sendiri. Pandangan Clara terhenti pada seorang pria dan wanita yang baru saja masuk ke dalam restoran. Ia cukup terkejut melihat seorang pria yang ternyata adalah suaminya sendiri, Keenan yang saat ini sedang berjalan berdua dengan seorang wanita yang tengah bergelayut mesra di tangannya.


Siapa saja yang melihat pasti akan mengira jika keduanya tengah menjalin suatu hubungan. Apa ini alasan Keenan tak menerima keberadaan dirinya? Karena pria itu sudah memiliki wanita lain. Ia bisa melihat jika wanita itu sangat cantik. Pantas saja Keenan akan menyukainya. Tak seperti dirinya, yang hanyalah wanita biasa dan lebih tepatnya hanya seorang istri pengganti.


Maya menatap bingung pada Clara yang hanya diam saja. “Clara, ada apa? Kenapa kamu kayak bengong gitu? Apa yang kamu liat?” tanya Maya


Saat Maya ingin menolehkan kepalanya ke belakang, dengan cepat Clara menghentikannya.


“Eh?! Mama! Apa menurut Mana anting yang aku pakai ini cantik?” tanya Clara


Maya tak jadi lihat ke belakang, justru ia melihat ke arah anting yang dikenakan oleh Clara. Ia menganggukkan kepalanya.


“Itu sangat bagus untukmu. Apa pun yang kamu pakai akan tetap bagus. Karena anak Mama ini sangat cantik,” jawab Maya sambil mencubit pelan pipi Clara.

__ADS_1


Clara hanya terkekeh pelan Dalam hatinya sangat lega karena Mama Maya yang tak jadi melihat ke belakang. Saat ia melirik ke belakang, ia cukup bersyukur karena sosok Keenan dan wanita itu sudah pergi. Walaupun dalam hatinya terasa sakit karena diduakan oleh suaminya sendiri.


Kau tak perlu sedih, Clara. Inilah jalan yang kau ambil. Terserah Kak Keenan mau melakukan apa. Aku enggak peduli ~ batin Clara yang tersenyum sendu.


__ADS_2