Hanya Istri Pengganti

Hanya Istri Pengganti
40. Keenan yang Manja


__ADS_3

Keenan yang Manja


“Enghh, hoam!” Clara terbangun dari tidurnya kala jam di atas nakasnya berbunyi. Ia mengerjapkan matanya pelan seraya meregangkan tubuhnya itu. Ia mengedarkan pandangannya dan mekihat dirinya yang berada di kamarnya sendiri.


Ia kembali teringat saat Keenan yang menggendong tubuhnya ke kamarnya. Entah mengapa saat mengingat hal itu, membuat hati Clara berdegup begitu kencang. Ia juga bisa merasakan wajahnya yang memanas. Namun, buru-buru ia menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir pemikirannya yang mulai kotor itu.


“Apasih yang aku pikirkan? Lebih baik, saat ini aku membasuh wajahku dulu,” gumam Clara yang berjalan kea rah kamar mandi.


Setelahnya, ia berjalan untuk keluar dari kamarnya itu. Namun, saat ia berjalan menuruni tangga, ia melebarkan matanya saat melihat Keenan yang hampir terjatuh di dekat ruang tengah. Dengan cepat ia menahan tubuh pria itu.


“M-Mas Keenan, kenapa?! Apa yang terjadi?” tanya Clara dengan raut khawatirnya.


Clara semakin khawatir kala melihat wajah Keenan yang memucat. Bahkan, tubuh pria itu juga gemetar.


“Kau jangan menakutiku, dong! Aku antar ke rumah sakit aja yah,” ucap Clara yang memapah tubuh Keenan.


Keenan menggelengkan kepalanya lemah. Ia memegangi perutnya dengan kuat. “Ja-Jangan. Ini hanya maagku yang kambuh. Ini hanya sakit sebentar saja. Ini akan segera membaik. Kau tak perlu membawaku ke dokter. Ada obat di kamarku,” tahan Keenan yang menaruh kepalanya di pundak Clara seraya berucap lirih.


“Kalau gitu, kau duduk aja di sini dulu yah. Aku akan kembali dengan obatmu,” timpal Clara yang menuntun Keenan untuk duduk di sofa ruang tengah.


Clara segera menaiki tangga menuju ke kamarnya. Ia mulai mencari obat suaminya itu. Setelah mendapatkan obat itu, Clara segera kembali pada Keenan dengan segelas air di tangannya.


“Ini, cepat minum obatnya,” ucap Clara menyerahkan obat dan segelas air itu pada Keenan.


Keenan segera menerima obat itu dan meminumnya. Setelah meminum obat itu, tiba-tiba saja Keenan membaringkan kepalanya di paha Clara. Membuat wanita itu terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Keenan.


“K-Kau ngapain?!” pekik Clara dengan mata yang agak melebar.


“Aku hanya ingin bersandar padamu sebentar. Dengan begini aku akan sembuh lebih cepat,” jawab Keenan yang mulai menutup matanya untuk menyamankan diri.


Clara hanya bisa menghela napas pelan. Ia membiarkan suaminya itu membaringkan diri di pahanya itu. Clara tersenyum tipis menatap Keenan yang nyaman di pa


Sudahlah, dia kelihatan benar-benar sakit saat ini. Biarkan saja dia bersandar di sini sebentar ~ batin Clara


Akhirnya Clara hanya diam saja membiarkan Keenan yang terbaring di pahanya. Sedangkan dirinya lebih memilih untuk membaca sebuah buku di tangannya. Namun, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Ia melirik ke arah Keenan yang masih menutup matanya.

__ADS_1


“I-Ini seperti….”


Kenapa aku malah merasa kalau aku ini mamanya saja yah dibandingkan dengan istrinya? Dasar! ~ batin Clara


Perlahan Keenan membuka matanya itu. Ia menatap tepat ke arah wajah Clara yang sedang membaca buku. Entah kenapa, ia jadi terpesona menatap betapa serius istrinya itu ketika membaca buku. Wajah serius Clara benar-benar cantik!


“Clara?” panggil Keenan tanpa sadar.


Clara langsung menolehkan wajahnya pada Keenan ketika pria itu tiba-tiba memanggil namanya.


“Ada apa? Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Clara sambil mengelus kepala Keenan.


Bukannya menjawab, justru Keenan malah menarik tengkuk Clara agar mendekat pada wajahnya. Ia langsung mengecup dengan pelan bibir tipis Clara. Membuat Clara sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Keenan. Tak ayal, saat ini dadanya berdegup dengan kencang.


“Ini adalah hadiah terima kasih karena sudah merawatku,” ucap Keenan dengan senyum yang lebar.


Karena sangat malu, Clara langsung bangkit dari duduknya. “A-Aku akan membuatkan bubur untukmu,” gagap Clara seraya beranjak dari hadapan Keenan.


Melihat Clara yang salah tingkah, membuat Keenan sangat puas. “Clara sepertinya sengaja menghindar. Dia sepertinya tak akan tega pada orang lemah. Aku jadi ingin terus melakukannya. Agar aku bisa melihat ekspresi seperti itu terus,” gumam Keenan yang masih tersenyum lebar.


“Mas Keenan ini jelas-jelas sedang memanfaatkan kondisinya yang lemah. Dasar pria licik!” keluh Clara yang menggembungkan pipinya kesal seraya menghentak-hentakkan kakinya.


“Clara?”


Clara segera menolehkan wajahnya pada Bibi Nani yang menghampirinya. “Pagi Bibi Nani!” sapa Clara dengan senyuman lebar.


“Untuk apa kamu membuat bubur? Kamu sakit kah?” tanya Bibi Nani yang langsung menempelkan tangan pada dahi Clara.


Clara terkekeh pelan. Ia sangat senang mendapatkan perhatian dari Bibi Nani. Perhatian selayaknya ibu kandung. Hal yang tak pernah ia dapatkan di keluarga Wesley.


“Aku enggak sakit Bibi. Yang sakit itu Mas Keenan. Maagnya kambuh, jadi aku membuatkan bubur untuknya,” jawab Clara


Bibi Nani tersenyum penuh arti mendengar perkataan Clara. “Wah, baguslah! Bibi senang melihat dirimu yang perhatian dengan Tuan Muda. Bibi senang melihat hubungan kalian selalu baik,” timpal Bibi Nani sambil mengusap pelan bahu Clara.


Clara hanya tersenyum tipis. Apakah hal seperti itu bisa ia dapatkan? Disaat posisinya yang hanya sebagai istri pengganti. Ia sangat tahu jika hubungannya dengan Keenan tak akan berjalan lama.

__ADS_1


“Ya udah, kamu lanjutkan saja yah. Bibi mau urus yang lain dulu. Jika ada yang kamu butuhkan, panggil Bibi yah,” ujar Bibi Nani yang berlalu dari hadapan Clara.


Clara kembali memikirkan perkataan Bibi Nani barusan. “Apakah pernikahanku dengan Keenan akan baik? Aku takut membayangkan hal seperti itu. Aku takut keinginanku itu tak akan menjadi kenyataan,” gumam Clara


Ia menghela napas kasar. Ia mengambil nampan untuk menaruh bubur itu dan segera membawanya ke hadapan Keenan.


“Kalau kau sudah merasa agak baikan, makanlah bubur ini,” ucap Clara


“Tanganku masih tak bertenaga untuk mengangkat sesuatu. Bisakah kau menyuapiku?” pinta Keenan dengan nada manja.


Clara yang ingin mengumpat langsung mengurungkan niatnya itu. Pria ini sedang sakit. Jadi, ia tak boleh emosi. Clara menghela napas kasar. Ia mengambil langkah untuk duduk di samping pria itu.


“Apakah saat sakit, kau akan jadi manja gini?” tanya Clara dengan nada protes seraya mengambil nampan berisi bubur.


“Makanya kau harus ada di sini untuk menemaniku,” jawab Keenan dengan nada santai.


Clara mengambil satu sendok bubur dan meniupnya terlebih dulu. “Kau harus menjaga lambungmu dengan baik. Bagaimana kalau sakit lagi nanti?” timpal Clara yang mulai menyuapi Keenan.


Keenan menerima suapan itu dengan senang hati. “Bukannya ada kau di sisiku? Kau kan istriku?” tanya Keenan


Clara kembali menghela napas kasar. “Mas Keenan, kau yang paling tau tentang hubungan kita berdua. Kau kan tau kenapaaku bisa berakhir bersama denganmu. Aku tak akan mungkin selamanya ada di sampingmu,” jelas Clara yang menundukkan kepalanya sejenak.


Clara mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya itu.


“Suatu saat, kau pasti akan menemukan seseorang yang berarti untukmu. Seseorang yang akan kau sukai dan kau perjuangkan. Dia akan berada di sisimu selamanya,” tambah Clara. Itulah pemikiran Clara tentang hubungannya dengan Keenan. Hubungan yang ia yakini pasti akan berakhir.


Namun, tiba-tiba tangannya digenggam erat oleh Keenan. “Clara, apa kau begitu yakin jika orang yang kusukai itu … bukan dirimu?” tanya Keenan dengan tatapan kesal.


Clara tertegun mendengar ucapan Keenan. Tapi, ia tak mau menganggap itu serius. Untuk itu, ia langsung mengalihkan pembicaraan.


“Sepertinya kau sudah sembuh yah. Kau hanya berpura-pura bukan di hadapanku?” sindir Clara dengan senyum miringnya.


Sontak Keenan tertegun mendengar sindiran itu. Dengan cepat ia mengubah ekspresinya itu.


“E-Ehm, aku masih belum sembuh!”

__ADS_1


Clara terkesiap dengan perubahan yang sangat cepat itu. Ia pun langsung menggelengkan kepalanya melihat sikap Keenan yang seperti mempunyai dua kepribadian.


__ADS_2