
“Enghh!”
Keenan mengerjapkan matanya pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Ia menyipitkan matanya untuk melihat di mana ia berada saat ini.
“Ini kan kamar Clara. Kenapa aku bisa ada di sini? Auch! Kepalaku sakit,” keluh Keenan memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
Keenan sedikit terkejut kala melihat ia bertelanjang dada. Senyum kecil terbit di wajahnya kala membayangkan Clara yang membuka baju yang ia kenakan.
“Pasti wajahnya memerah. Coba saja aku bisa melihatnya. Tapi, apa yang terjadi kemarin yah. Seingatku, aku pergi ke klub sebentar untuk menemui Vincent. Terus, apa yang terjadi yah?” gumam Keenan yang berpikir keras tentang apa yang terjadi.
Pintu kamar itu terbuka dan membuat Keenan langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia melihat sosok Clara dengan sebuah nampan.
Clara berjalan ke arah Keenan dan menyerahkan nampan itu padanya. “Minumlah!”
Keenan mengeryitkan dahinya. “Ini apa?” tanya Keenan dengan tatapan bingung.
“Ini obat pengar untuk meredakan mabukmu,” ucap Clara
Keenan menerima nampan itu. Setelah Keenan menerimanya, Clara beranjak dari sana. Namun, tangannya langsung ditahan oleh Keenan untuk pergi.
“Kau mau ke mana?” tanya Keenan
“Aku mau keluar lah. Bukankah kau harus bersiap ke kantor?” tanya Clara balik.
“Hmm, apa kau membuat sarapan untukku?” tanya Keenan kembali.
Clara menautkan kedua aslinya sejenak. “Kau mau sarapan di rumah?” tanya Clara
Keenan mengangguk pelan.
“Ya udah, aku akan buatkan. Kau bersiaplah dulu,” jawab Clara seraya beranjak dari sana.
Senyum lebar langsung terbit di wajah Keenan mendengar jawaban itu.
“Apa sesuatu terjadi tadi malam?” tanya Keenan yang membuat Clara langsung berhenti melangkah.
Clara ingin sekali menonjok wajah Keenan saat ini. Bagaimana bisa pria itu lupa dengan kejadian semalam?! Apalagi pria itu melupakan janji untuk makan malam dengannya?! Dasar pria yang tak bisa pegang janji!
Clara membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar. Namun, itu bukanlah senyuman ketulusan.
“Aku enggak tau apa-apa. Bibi Nani yang membawamu ke kamar dan memberitahukan padaku kalau kau mabuk,” jelas Clara seraya membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Keenan yang menatapnya dengan bingung.
__ADS_1
“Aku pikir Clara yang melepaskan bajuku. Kenapa aku malah jadi sedih yah? Eh? Tapi, kayaknya Clara menyembunyikan sesuatu deh? Apa benar tak ada yang terjadi malam itu?” gumam Keenan
Keenan meminum obat pengar itu. Benar saja, rasa pusingnya agak hilang sehabis meminumnya. Setelahnya, ia beranjak menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Suara ponsel yang berdering di atas meja samping ranjang. Membuat Keenan yang baru saja habis mengenakan dasinya langsung mengambil ponsel itu. Ia melihat nama ‘Vincent’ di sana.
“Halo Vin! Ada apa kau menelponku pagi-pagi begini?” tanya Keenan
[“Halo Sel! Kau ada di mana saat ini?” tanya Vincent balik.]
“Aku di rumah lah. Emang kenapa?” tanya Keenan kembali.
[“Oh, aku pikir kau ada di hotel saat ini,” jawab Vincent]
“Kenapa aku harus ada di hotel?” tanya Keenan dengan tatapan bingung.
[“Eh?! Kau kan balik dengan Cherry tadi malam habis dari klub,” jawab Vincent]
Keenan tertegun karena hal itu. “Apa?! Aku balik dengan Cherry? Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya Keenan yang jadi semakin bingung.
Keenan menepuk jidatnya pelan. Ia baru ingat kalau tadi malam Cherry ada di klub. Setelah itu ia tak mengingat apa pun yang terjadi selanjutnya.
“Aku enggak tau, Vin. Tapi, yang jelas tak ada terjadi sesuatu padaku dan Cherry. Aku pulang ke rumah dengan selamat,” jelas Keenan
[“Ya udah kalau gitu. Aku tutup dulu yah. Sampai ketemu nanti,” timpal Vincent]
“Hm”
Keenan jadi memikirkan reaksi Clara tadi.
“Apa mungkin Clara melihatku pulang dengan Cherry yah?” gumam Keenan
Keenan segera meraih jasnya dan keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuruni tangga dengan cepat untuk sampai ke dapur.
“Tuan Muda. Selamat pagi!” sapa Bibi Nani
“Selamat pagi Bi! Clara mana?” tanya Keenan yang tak melihat keberadaan Clara di meja makan.
“Oh, tadi Nyonya Muda baru saja pergi keluar. Katanya temannya yang bernama Aida datang menjemputnya,” jawab Bibi Nani
Keenan mengernyitkan dahinya. Ia seperti merasa jika Clara sengaja menghindarinya.
__ADS_1
“Bibi, saya mau tanya sesuatu. Tapi, Bibi harus janji untuk jawab dengan jujur yah,” pinta Keenan dengan tatapan serius.
Bibi Nani merasa terintimidasi dengan tatapan itu. “Tentu Tuan Muda! Anda ingin menanyakan apa?” tanya Bibi Nani
“Tadi malam, apa Bibi yang membawa saya ke kamar?” tanya Keenan
Bibi Nani nampak mengeryitkan dahinya. “Tadi malam saya ada di belakang rumah, Tuan. Saya tak ada ke rumah. Mungkin Nyonya Muda yang membawa Tuan Muda ke dalam rumah. Tuan Muda memangnya pulang jam berapa?” tanya Bibi Nani
Keenan menggeleng pelan. “Saya tak ingat jam berapa pulang karena pada saat itu saya mabuk. Tapi, kenapa Clara berbohong yah?” gumam Keenan
“Hm, tadi malam Nyonya Muda membuatkan makam malam yang cukup banyak. Katanya Tuan Muda akan pulang untuk makan malam,” ungkap Bibi Nani
Sontak Keenan melebarkan matanya atas apa yang ia dengar. Ia menepuk jidatnya dengan keras. Bagaimana bisa ia melupakan hal itu? Pasti itu alasan dari sikap Clara yang aneh tadi, sekaligus sengaja menghindarinya saat ini.
“Tuan Muda, ayo sarapan dulu. Nyonya Muda sudah buatkan ini semua untuk Tuan Muda,” celetuk Bibi Nani
Keenan melihat ke arah meja makan di mana sudah ada sarapan untuk dirinya. Ia jadi merasa bersalah pada Clara. Apa mungkin Clara akan berpikir jika dia sengaja tak mengingat janjinya untuk makan malam itu? Seperti ia harus melakukan sesuatu saat ini.
“Kesel! Kesel! Kesel!”
“Hei, jangan teriak-teriak dong sayangku. Kau ini membuat semua orang menatapmu tau,” keluh Aida karena sedari tadi Clara terus berteriak tak jelas.
“Biarin aja! Aku kesel tau dengannya. Dasar pria yang tak bisa pegang janji!” protes Clara menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.
“Kau menyukainya kan?” tanya Aida tiba-tiba.
Sontak Clara mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Mana mungkin aku menyukainya, Aida! Pria seperti itu bukan tipeku sama sekali. Dia tak akan masuk ke dalam daftar pria yang aku sukai,” sanggah Clara menggembungkan pipinya kesal.
Aida menghela napas kasar. “Kalau kau tak suka, kenapa kau bersikap kayak gini? Kau harusnya tak peduli tau dengannya,” timpal Aida
“Ihh, Aida! Coba saja kau berada di posisiku. Aku itu paling enggak suka dengan pria yang tak bisa memegang janjinya. Aku enggak suka dengan pria yang pembohong. Apalagi aku sudah capek-capek buat makan malam itu, tapi ia tak menghargainya sama sekali. Jika emang ia tak jadi makan malam, dia bisa kasih tau aku kan? Jadinya aku enggak perlu banyak masak. Yang membuatku lebih kesel lagi, pria itu sama sekali tak mengingat apa kesalahannya,” protes Clara panjang lebar.
Aida mengelus tangan Clara pelan. “Iyah, aku tau apa yang kau alami. Aha! Aku tau caranya untuk membalas suamimu itu,” sahut Aida dengan senyuman misterius.
Clara mengernyitkan dahinya. “Hm? Apa itu?” tanya Clara dengan tatapan penasaran.
“Sini, aku bisikkin,” ucap Aida menyuruh agar Clara mendekat padanya.
Clara segera mendekati Aida. Aida mulai membisikkan sesuatu pada Clara. Sontak mata Clara melebar mendengar hal itu.
__ADS_1