
Sinar matahari mulai menelunsup masuk melalui celah-celah tirai sebuah kamar. Hal itu membuat seorang wanita mengerjapkan matanya pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
“Enghh!”
Ia berusaha bangkit dari tidurnya. Namun, ia langsung merasakan nyeri pada pinggangnya.
“Auch! Ini cukup sakit. Aishh! Ini semua karena kebrutalan Kak Keenan yang bermain tak kenal ampun tadi malam. Dia tak memberikanku waktu untuk beristirahat sejenak,” keluhnya
Dialah Clara. Yang sejak kemarin, diajak ‘bermain’ oleh sang suami. Bermain yang berarti memberikan hukuman pada Clara karena ia yang dikira terlalu banyak berhubungan dengan pria lain.
Yang membuat Clara bingung adalah, kenapa pria itu mempermasalahkannya? Bukankah dia saja tak melarang pria itu berhubungan dengan wanita manapun? Kenapa dia harus menerimanya bukan?
Clara menghela napas kasar. Ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Menoleh ke samping di mana sudah tak ada keberadaan dari pria yang sudah membuatnya sangat kelelahan itu.
“Lihat pria itu! Bukannya menunggu aku bangun, dia malah sudah pergi duluan. Dasar! Enggak bertanggung jawab sama sekali untuk membantuku membersihkan diri ini. Tubuhku benar-benar sangat lelah. Dia terlalu lama bermain,” protes Clara dengan bibir yang ia kerucutkan.
Ia menolehkan kepalanya ke samping. Pada saat itulah ia melihat sebuah kertas putih yang dilipat rapi. Karena penasaran, ia segera mengambil kertas itu dan membukanya. Ia membaca isi dari surat itu.
“Aku tau kau pasti lelah setelah permainan kita. Tapi, jangan anggap aku tak akan melakukan permainan itu lagi. Aku akan melakukannya lagi! Jika sampai aku melihat kau bersama dengan pria lain. Aku dengan senang hati akan melakukannya lebih dari yang tadi malam. Aku akan menunjukkan bagaimana kehebatan dari seorang Keenan. Kau mengerti kan? Makanlah yang banyak. Aku tau kau sangat membutuhkannya!”
Keenan
Clara meremat kuat kertas itu seraya menggulungnya kasar. Ia membuang sembarangan arah kertas itu dan menggeram kesal.
“Dasar Keenan menyebalkan! Kau pikir aku takut denganmu?! Lihat saja! Aku akan tetap melakukan apa pun yang aku suka. Dan kau tak bisa melarangku. Enak saja dia melarangku untuk berhubungan dengan siapapun. Sedangkan dia saja tak aku larang,” geram Clara dengan helaan napas kasar.
Clara menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi di kamar Keenan untuk membersihkan tubuhnya itu. Ia terkejut kala melihat begitu banyak bekas kissmark di sana. Keenan benar-benar memakan semua bagian tubuhnya. Di leher saja, sangat banyak.
“Pria itu benar-benar rakus. Aku seperti seekor kelinci yang dimangsa serigala tadi malam,” gumam Clara melihat lehernya.
Kembali ia menghela napas kasar. Ia berjalan ke arah bath up. Ia butuh rendaman di air aromaterapi saat ini untuk merilekskan tubuhnya yang letih.
“Ah, nyamanya,” gumam Clara saat ia sudah berendam di dalam bath up. Untuk sesaat, ia menutup matanya itu untuk beristirahat sejenak.
“Uhh, segarnya! Memang enak kalau habis berendam di wewangian,” gumam Clara saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang ia kenakan.
Clara mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Karena ia malas untuk berjalan ke kamarnya mengambil hair dryer.
Ia berjalan masuk ke dalam ruang ganti milik Keenan. Ia melihat banyak pakaian dari pria itu di sana. Ia melihat sebuah hoodie yang bagus dan langsung mengenakannya.
“Aku yakin jika ini adalah hoodie kesayangannya. Aku akan memakainya, biar tau rasa itu orang. Siapa suruh dia sudah membuatku capek kayak gini,” ujar Clara yang langsung mengenakan hoodie itu.
Setelah mengenakan hoodie itu, ia melihat dirinya di cermin. Di mana hoodie itu nampak kebesaran di tubuhnya. Hoodie itu hanya menutupi sebagian pahanya.
Tapi hoodie itu sangat nyaman. Membuat Clara memeluk dengan erat hoodie itu. “Ini milikku!”
__ADS_1
Clara berjalan keluar dari kamar. Ia menuruni tangga untuk menuju ke dapur. Karena saat ini ia benar-benar sangat lapar. Benar saja, karena aktivitas tadi malam, ia jadi sangat lapar saat ini.
Saat menuju ke dapur, ia melihat sudah ada banyak makanan di atas meja.
“Woah! Kenapa sudah ada banyak makanan di atas meja?” tanya Clara dengan tatapan takjub.
“Tuan Muda yang menyuruh Bibi untuk membuat semuanya,” celetuk Bibi Nani yang datang dengan sebuah mangkuk di tangannya.
Bibi Nani menaruh mangkuk berisi sup itu di atas meja makan. Clara memandang bingung pada Bibi Nani.
“Kenapa dia melakukan itu?” tanya Clara
“Katanya kamu pasti akan sangat kelaparan saat bangun nanti. Tuan Muda mengatakan kalian banyak bermain tadi malam. Makanya Tuan Muda menyuruh Bibi memasak banyak makanan pagi ini,” ungkap Bibi Nani
Sontak Clara tertegun dengan apa yang dikatakan Bibi Nani. Bagaimana bisa Keenan mengatakan hal sefrontal itu?! Pria itu benar-benar tak punya etika ketika berkata.
“I-Itu ... permainan itu....”
“Udah, udah. Kamu enggak usah jelaskan pada Bibi. Ayo, kamu duduk sekarang. Bibi udah buatkan khusus untuk si cantik ini,” potong Bibi Nani menuntun Clara untuk duduk di kursi.
Clara tersenyum tipis. “Makasih yah Bi. Bibi sudah buatkan semua makanan ini. Bibi, ayo makan saja denganku. Ini cukup banyak tau,” ajak Clara
Bibi Nani menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak perlu, Clara. Bibi sudah sarapan tadi. Kamu aja yang makan yah. Bibi mau ke dapur lagi. Ayo, makan yang banyak,” jawab Bibi Nani seraya beranjak pergi dari hadapan Clara.
“Clara!”
Clara segera menolehkan wajahnya pada sosok Aida yang berjalan ke arahnya. Senyum sumringah terlihat di wajahnya. Dengan cepat ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Aida juga.
“Aida! Kau ke sini ternyata,” ucap Clara memeluk erat tubuh Aida.
Pelukan itu terlepas. Aida memegang kedua bahu Clara seraya membalikkan tubuh wanita itu. Hal itu membuat Clara cukup bingung dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Clara
“Dia enggak apa-apa kan kau kan?” tanya Aida dengan tatapan khawatir.
Clara tahu ke mana arah pembicaraan Aida saat ini. Aida pasti mengira jika Keenan akan menyakiti dirinya karena kejadian kemarin. Jujur saja, ia juga berpikiran seperti itu kemarin saat melihat wajah datar dari Keenan. Nyatanya apa yang ia pikirkan tak terjadi.
Untuk itu Clara menggeleng pelan. “Aku enggak apa-apa kok. Aku baik-baik saja,” jawab Clara
“Kau yakin? Aku liat wajahnya sangat marah kemarin,” timpal Aida
Clara meringis pelan. Itu memang sih.
“Aku yakin lah. Kak Keenan enggak melakukan kekerasan padaku kok. Cuman....”
__ADS_1
Aida langsung memegang kedua bahu Clara. “Cuman apa? Dia menyakitimu kan?” tanya Aida dengan wajah yang khawatir.
Clara terkekeh pelan. “Enggak. Dia enggak menyakitiku. Cuman dia membuatku sangat lelah tadi malam. Makanya suaraku agak serak sekarang. Kau tau kan apa maksudnya itu,” ungkap Clara dengan wajah yang nampak malu.
Aida melebarkan sedikit mulutnya. Tentu saja ia tahu apa arti dari kalimat Clara itu.
“Jadi, kalian sudah melakukannya?” tanya Aida yang juga nampak malu.
Clara mengangguk kecil. “Sudah dua kali”
Aida melebarkan matanya. “Wah, aku pikir kalian tak akan melakukannya. Tapi, aku lega sih. Yang penting kau enggak kenapa-kenapa. Aku hanya sangat khawatir jika terjadi sesuatu padamu. Aku sampai tak tenang tidur tadi malam karena terus memikirkanmu,” papar Aida dengan helaan napas lega.
Clara kembali terkekeh pelan. “Maaf yah udah buat kau khawatir,” ucap Clara
“Jangan minta maaf, Clara. Ini bentuk kepedulianku padamu. Kita kan sahabat. Harus saling berbagi kesedihan dan kebahagiaan. Eh? Apa itu bekas permainan tadi malam?” tanya Aida sambil menunjuk ke arah leher Clara.
Sontak Clara menutup lehernya itu. Terlihat pipinya yang jadi memerah samar karena malu.
“I-Ini....”
“Udahlah, kau tak perlu menjelaskannya. Aku sudah tau,” kelakar Aida dengan tertawaan.
“Ihh, kau ini jangan menggodaku dong. Oh ya, kau mau sarapan di sini enggak? Ada banyak makanan yang dibuat,” ajak Clara
Aida mengangguk pelan. “Boleh!”
“Ayo!” Clara menarik tangan Aida untuk berjalan menuju ke arah meja makan.
Tatapan takjub langsung diperlihatkan Aida saat melihat begitu banyak makanan di atas meja.
“Woah, ini benar-benar cukup ramai sih,” timpal Aida
Clara terkekeh pelan. “Iyah. Oleh karena itu, kau harus membantuku untuk menghabiskan semuanya,” balas Clara
“Tenang saja! Ada Aida di sini. Tak akan ada makanan yang dibuang di sini,” balas Aida pula.
Clara dan Aida memulai sarapan itu. Hingga Clara membuka suara.
“Aida?” panggil Clara
Aida langsung melihat ke arah Clara. “Ada apa?” tanya Aida
Clara terdiam sejenak sebelum kembali berucap. “Hmm, bagaimana keadaan Gibran? Aku yakin dia sangat terkejut saat mengetahui tentang pernikahanku ini. Apa dia tak melakukan hal nekat?” tanya Clara
Aida ikutan terdiam sejenak. “Dia....”
__ADS_1