
Andin sedang berjalan bersama dua orang sahabatnya. Mereka masih memakai seragam sekolah. Mereka baru pulang dari sekolah.
Sekarang sudah jam 4 sore
Tiga gadis yang sama-sama berusia 18 tahun itu terlihat berjalan beriringan. Mereka tampak riang gembira walaupun di raut wajah mereka terlihat kelelahan.
"Syukurlah, ujian Nasional sudah selesai dengan lancar!" yah, biarpun agak susah...
Kata Andin, gadis berambut hitam gelombang yang diurai panjang sepinggangg dengan diakhiri desahan lesunya.
"Iya. Aku juga lega, sebentar lagi acara kelulusan, terus libur panjang deeh!", sahut seorang teman yang lainnya. Yang memiliki lesung pipit. Namanya Eka.
Seorang teman yang lain juga menyahut dengan suara nyaring dan renyahnya, "Yeeeyyy, liburaaannn! Orangtuaku udah pesen tiket buat liburan ke Sidney, looh!", pamer. Namanya Rima
;Waaah, enak ya jadi anak orang kaya?!", sombong ga masalah.
Eka nyeletuk tanpa disaring sambil ketawa
"Kalian mau ikut?", tanya Rima tersenyum ramah. Rima terlihat sangat tulus.
Tanpa basa-basi, Eka menyahut, "Aku mau doong!", menjawab secepat kilat
"Kalau kamu, An?"
__ADS_1
Wajah Andin terlihat murung. Sesaat kemudian dia menjawab dengan senyum, "Makasih, Rim. Tapi kayaknya aku nggak bisa. Soalnya Papa dam Mamaku sudah punya rencana buat pulang kekampung halaman Papa.", Andin menjawab berbohong.
Sebenarnya Andin ingin sekali ikut. Tetapi dia tau, orangtuanya tidak akan mengizinkan. Apalagi setiap hari orangtuanya selalu bertengkar.
"Yaaah, nggak seru dong kalau nggak ada kamu!", gumam Rima kecewa.
Andin menyisipkan senyum yang amat manis pada sahabatnya itu seraya merangkulkan kedua tangannya di pundak kedua teman di sisinya lalu berkata, "Lain kali deh aku ikut. Kalau kamu liburan ke bulan.", ahahaha
Mereka terus berjalan sambil berceloteh gembira menyusuri jalan-jalan perkomplekan menuju rumah mereka. Sampai akhirnya mereka berpisah di pertigaan jalan.
\*
Perlahan Andin membuka depan rumahnya. Seketika perasaan dingin itu muncul. Saat pintu terbuka, rumah itu dalam keadaan gelap. Andin berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dia berjalan perlahan mencari tempat saklar lampu. Namun tiba-tiba kakinya tersandung sebuah benda sampai membuatnya terjatuh.
"Kyaaaa!", Andin berteriak kaget sekaligus kesakitan.
"Aduuh, uuh apa ini?", gerutu Andin sambil melempar benda yang menyandungnya yang ternyata pecahan guci.
Andin kembli berdiri sambil memegangi lututnya yang tak sengaja tergores pecaha guci tadi. Dia berjalan terpincang-pincang mencari saklar lampu. Setelah meraba-raba tembok, Andin menemukan saklar dan menyalakan lampunya.
__ADS_1
Ketika lampu menyala terang, Andin tampak mendesah lesu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa kali Andin menghembuskan napas panjang seraya mengusap-usap dadanya. Melihat keadaan rumahnya yang sudah seperti kapal pecah.
Rumahnya berantakan. Beberapa guci dan vas bunga pecah berserakan di lantai. Meja dan kursipun terbalik tak beraturan.
*Haaah*, "Mereka pasti bertengkar lag?", *Aku taruh tas dulu deh, baru nanti membersihkan tempat ini*. Gerutu Andin bersedih
Setelah meletakkan tas dan mengganti seragamnya dengan kaos lengan pendek se siku berwarna merah dan celana bahan pendek sebawah lutut berwarna hitam, Andin lekas membersihkan dan merapikan rumahnya yang berantakan. Seorangdiri Andin membersihkan rumahnya sampai hari beranjak petang, baru selesai dan bersih.
*Huuuh*, "Akhirnya selesai juga!", keluh Andin setelah melempar tubuhnya di kasur didalam kamarnya. Andin terdiam berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya dan merenung. Matanya yang bening nan cerah terlihat sangat redup dan lelah.
Andin merenung meremang memikitmrkan semua yang dia alami. Semua kesedihan yang dia rasakan dan dia pendam seorang diri.
"*Kenapa hidupku harus seperti ini? Kenapa aku harus lahir ditengah keluarga yang berantakan seperti ini? Kenapa aku harus terlahir dari orangtua yang sedjikitpun tidak pernah menginginkanku? Yang tiap hari cuma bertengkar tanpa memperdulikan perasaanku. Kenapa Engkau tidak melahirkanku ditengah keluarga yang harmonis, yang mencintaiku? Hiks, aku ingin hidup bahagia! Aku juga ingin disayang seperti Rima dan Eka! hiks, setidaknya beri salahsatu dari Papa dan Mamaku perasaan sayang padaku! Bagiku itu sudah cukup. Aku tidak menginginkan yang lain*."
Ucap Andin dalam hati. Perlahan butir-butir air bening mengalir dari sudut kedua bola matanya yang makin lama makin terpejam.
Semakin lama, kelopak mata Andi makin terpejam. Kegelapan dimana-mana. Rasanya hening dan tenang. Sepi dan beku menyelimuti diri Andin.
*Hmm*..., "Kok gelap? Mati lampu ya?", fikir Andin sambil beranjak bangun dan turun dari tempat tidurnya. Andin berjalan meraba-raba tembok sampai tangannya berhasil memegang gagang pintu. Perlahan Andin membuka pintunya dan...
\*
__ADS_1