Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter18


__ADS_3

Mikha sedang sibuk didapur membuat kue untuk ulang tahun Lisa. Mikha bekerja sendirian. Dia melarang Marrie untuk membantunya. Ditambah lagi tidak ada pelayan yang lain di istana pengasingan selain Lisa. Jadi tidak mungkin ada yang bisa membantu Mikha.


Kalau tahu akan repot begini, mending tadi aku nungguin Leon. Kan lumayan ada yang membantu mengaduk adonan. Fikir Mikha dalam.hati sembari memcuci peralatan memasaknya.


Sudah hampir dua jam Mikha membuat kue dan memasak didapur. Dia mempersiapkan segalanya sendirian.


Setelah masakannya jadi, Mikha memutuskan pergi ke pondok kecil di belakang istana.


Sebuah rumah yang sangat sederhana dengan atap dan yang terbuat dari kaca transparan. Mikha menyebutnya rumah kaca. Karena dibawah pondok itu sengaja di tanami beberapa macam bunga yang cantik.


Di pondok itu, Mikha menata meja dan kursi dengan susah payah. Dia juga menghias pondok itu dengan lampu dan juga hiasan balon-balon kecil.


Aduh, itu tinggi bamget?!, gerutu Mikha saat naik tangga untuk memasang lampion di tengah-tengah langit-langit pondok. Kaki Mikha sedikit gemetaran. Mikha terdiam mengamati atap itu. Atapnya sangat tinggi. Mikha tidak berani menggantung lampionnya.


Gak aku kasih lampion aja kali ya? fikir Mikha bimbang. Tapi kan.yang namanya ulang tahun harus ada lampion biar rame.


Akhirnya dengan modal nekat, Mikha naik keatas tangga. Di tangan kanannya memegang lampion dan seutas tali pengait.


Semakin naik, kaki Mikha semakin gemetaran. Dia sampai tak berani menatap kebawah. Perlahan-lahan kakinya memanjad satu demi satu anak tangga. Akan tetapi saat memcapai anak tangga yang terakhir, kaki Mikha tidak sengaja tersandung anak tangga. Seketika tubuh Mika terhuyung dan terpanting ke belakang.


"Kyaaaa!!!", teriak Mikha kencang.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Leon dan Diego baru saja tiba di istana pengasingan. Mereka segera mengikat kuda mereka kemudian berjalan masuk ke dalam istana.


Diego ikut pergi ke istana pengasingan karena dia sudah sangat merindukan Marrie dan juga keponakannya yang cantik. Dia ingin tahu, apakah Mikha sudah mengingat dirinya atau belum.


Mereka menemui Marrie yang sedang mengobrol bersama Lisa di taman di samping kamar Marrie.


"Selamat sore, Nyonya!", suara Leon lebih dulu menyapa Marrie.


Marrie tersenyum, "Selamat sore, Leon!"


"Marrie!", datang Diego dari arah yang sama dengan Leon.


"Kakaaak?", Marrie terkejud melihat kakaknya yang tiba-tiba datang. Dia terlihat amat senang. Wajahnya langsung bersinar seperti piring yang habis dicuci bersih.


Marrie segera bangkit dari duduk dan menarik kursi untuk kakaknya itu.


"Silakan duduk, Kak!"

__ADS_1


"Terimakasih. Kamu sedang apa disini? Mana Mikailla?", tanya Diego selekas duduk.


"Mikha? Oh dia sesang sibuk. Tidak tahu mau buat apa. Dari tadi nggak mau di bantuin."


Dengan mata yang berkeliaran mencari Mikha, Leon mengatakan, "Saya akan menemui Tuan Putri dahulu, Nyonya. Mohon izin."


"Iya mungkin dia sedang butuh bantuanmu sekarang."


Leon bergegas melangkah menuju dapur. Tetapi ketika tiba didapur, dia tidak.menemukan keberadaan Mikha. Dia memcari Mikha di kamar gadis itu, tetapi tidak ada juga. Leon mencari disekeliling istama. Sampai dia melihat Mikha tengah gemetar ketakutan diatas sebuah tangga sambil.membawa lampion.


Leon berlari kecil mendekati tempat itu sambil.terus memgawasi Mikha. Dia kuatir gadis itu akan melakukan kecerobohan hang membahayakan dirinya sendiri. Leon paham sifat sembrono dan nekat Mikha.


"Dasar gadis bodoh!", gerutu Leon.


Dan ternyata benar. Mikha melakukan kesalahan. Dia takut naik tangga tapi masih tetap naik. Sampai kecelakaan itu hampir terjadi.


Kaki Mikha terpeleset karena menyandung anak tangga dan tubuhnya terjungkal kebelakang.


Leon mempercepat larinya sampai didekat Mikha.


"Kyyaaaa!", Mikha berteriak kencang. "Aku akan matiii!"


Tubuh Mikha terjatuh. Namun bukan ke lantai malainkan ke gendongan Leon.


Wajah mereka sangat dekat. Mungkin 3cm jaraknya. Muka Leon seketika memerah malu. Jantungnya berdebar tidak tentu.


"Lagi-lagi, jantung sialan!", desis Leon pelan.


Mata Mikha memejam karena ngeri. Tubuhnya gemetaran. Mukanya memucat. Bayangan-bayangan ketika dia jatuh dari tebing itu muncul kembali sekilas sebelum suara Leon menyadarkan Mikha.


"Kamu tidak apa-apa?", tanya Leon khawatir.


Mikha langsung membuka matanya yang mengilatkan cahaya ketakutan. Dia merasa sangat lega ada Leon disampingnya. Entah mengapa saat ada Leon, Mikha jadi merasa aman dan terlindungi.


"Leon?", gumam Mikha pelan. Dia tampak lega dan tenang.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Hmmm? Iya. Aku baik-baik saja. Terimakasih kamu sudah menyelamatkanku.!"


"Tidak masalah. Itu memang sudah tugasku sebagai ksatriamu. Kamu juga sahabatku kan?"

__ADS_1


Mikha tersenyum manis dengan muka bingung dan pucatnya. "Iya. sahabat ya."


"Kalau begitu cepat turun dari gendonganku! Badanmu ini berat tahu!", ketus Leon meledek Mikha. Dia ingin memghibur Mikha yang tadi sempat shock.


"Iya-iya. Dasar kamu nya saja yang lembek kayak karet! Huh!", dengus Mikha saat Leon.menurunkannya.


"Terserah! Minggir! Biar aku yang pasang lampionnya!", sergah Leon sembari memungut lampion yang tadi sempat terlepas dari cengkraman tangan Mikha saat terjatuh. Dia mendorong bahu Mikha menyingkir.


"Aduh! Kasar bangetsih pada seorang putri kaisar?!"


"Putri Kaisar?", langkah Leon terhenti. Dia kembali menatap Mikha tajam.


"Ya? Bukankah itu sudah pasti?"


"Mikha, dengarkan aku! Kalau kamu benar Putri kaisar, mengapa Kaisar membuangmu dan ibumu ketempat terpencil seperti ini dan mengurungmu bersama ibumu, aku dan Lisa? Apakah dia benar-benar Ayahmu,?"


Mikha tidak bisa berkata apa-apa.


"Dia yang dikabarkan menyayangi seluruh rakyatnya melebihi dirinya sendiri bahkan membuang Putri kandungnya sendiri? Kamu masih menyebutnya Ayah? Aku tidak tahu apa yang kamu fikirkan. Tetapi Mikha, aku tidak pernah setuju dengan keputusan kaisar mengasingkan mu dan juga Nyonya disini. Padahal kalian punya hak.yang sama dengan anggota kekaisaran yang lain. Apalagi kamu memiliki darah kekaisaran. Kamu berhak hidup layak diistana kekaisaran. Bukan disini.", kata Leon serius. Setelah mengatakan itu, Leon kembali melanjudkan pekerjaannya memasang lampion.


Mikha masih terdiam. Matanya tampak kosong memikirkan ucapan Leon barusan. Dalam hati, Mikha juga selalu memikirkan hal itu. Dalam diam setiap malam menjelang tidurnya. Mikha selalu berfikir merenungkan semua itu.


Apa alasan Kaisar sampai tega membuang putri kandungnya sendiri. Padahal Mikha adalah Putri pertamanya.


Apa karena Mikha hanyalah seorang putri yang lahir dari seorang selir? Apa yang membuat Mikha berbeda? Apakah menjadi putri selir itu termasuk hinaan untuk kaisar? Kalau iya kenapa Mikha di lahirkan? Kenapa tidak dibunuh saja? fikir Mikha sedih. Matanya yang hampa selalu mengawasi Leon yang sedang sibuk memasang lampion.


"Dia melamun! Pasti memikirkan ucapanku tadi.", gerutu Leon menyadari Mikha tengah memikirkan sesuatu.


Leon segera turun setelah selesai memasang lampion. Perlahan dia menghampiri Mikha.


"Kamu baik-baik saja? Aku minta maaf soal yang ku katakan tadi. Tolong jangan di masukkkan ke dalam hati ya. Aku tadi cuma asal bicara."


"Tidak Leon. Ucapanmu tadi juga sering ku fikirkan. Aku juga selalu bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku ini disebut anak haram karena lahir dari seorang selir? Aku ingin bertanya pada orang lain. Tapi siapa? Tidak ada yang bisa ku tanyai. Aku takut jawaban mereka malah menyakiti perasaanku. Aku hanya anak haram. Iya kan Leon?"


"Tidak, Mikha. Kamu bukan anak haram. Yang Mulia mungkin punya sebuah alasan mengapa beliau menyembunyikanmu. Dan alasan itu tudak bisa beliau katakan pada siapapun. Walaupun aku tidak setuju dengan keputusan beliau. Tapi aku yakin kaisar menyayangimu dan Nyonya."


Kata Leon sambil beberapa kali tersenyum licik.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


__ADS_1


__ADS_2