Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 15


__ADS_3

Banyak sekali pedagang makanan yang menjajakkan aneka makanan dagangannya. Beraneka ragam makanan yang ingin dibelipun ada.


Karena ada uang yang banyak ditangannya, Mikha jadi kalap. Dia membeli setiap makanan yang di jual setiap pedagang di tepi jalan.


Mikha beralih dari penjual satu ke penjual yang lainnya. Seperti seorang juri yang mencicipi dan menilai rasa masakan para peserta kompetisi memasak.


Mikha terlihat sangat bahagia. Kerena berkat uang yang diberikan Leon Mikha bisa membeli apapun yang dia mau. Kalau dulu pasti harus menunggu ditraktir Rima dulu baru bisa makan enak. Sekarang Mikha tahu rasanya punya uang itu bagaimana. Uang memang yang paling bisa membahagiakan orang.


"Hidup uang! Uang yang terbaik!", Teriak Mikha sambil duduk menikmati seporsi sate ayam dan makanan lainnya di kursi meja sebuah restaurant serba ayam.


Sampai waktu bergulir tanpa Mikha sadari. Dia sudah menghabiskan banyak makanan. Perutnya jadi terasa seperti balon karet yang dipenuhi aneka makanan. Mikha makan sampai melupakan laki-laki yang tadi bersamanya sampai dia tepar menjatuhkan kepalanya diatas meja.


Perutku kenyang banget! Rasanya aku mau pingsan! Keluh Mikha lemas kekenyangan. Dia baru bangun setelah Leon datang.


"Ternyata kamu disini? Aku mencarimu dari tadi.", suara Leon terdengar aneh.


Mikhailla tidak menoleh dan masih menyandarkan kepala dimeja sambil menjawab,, "Kamu sudah datang. Ayo sini makan dulu."


"Kamu kenapa begitu? Mabuk?"


Mikhailla tidak menjawab.


"Hei, kamu beneran mabuk ya? Kamu gunakan uang yang ku berikan untuk membeli minuman alkohol?"


Mikha langsung bangun mengangkat mukanya menatap Leon yang sudah duduk di depannya.


"Kamu ngomong apasih? Aku kekenyangan tahu! Haah?", Mikha terkejud saat melihat luka dan darah dileher Leon. Seketika rasa kenyangnya hilang.


"Kenapa lagi sekarang?", Tanya Leon bingung dengan tatapan Mikha.


Mikha lamgsung berlari memutari meja kearahh Leon.


"Apa ini? Leon, kamu terluka? Lihat lehermu mengeluarkan banyak darah!", kata Mikha panik melihat darah. Dia kembali teringat akan peristiwa yang merenggut nyawanya dan Mamanya.


"Aku baik-baik saja. Nanti juga pasti sembuh.", jawab Leon biasa-biasa saja.


"Tidak! Ayo kita ke dokter! Sekarang!", sentak Mikha khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir!"


Mikha menghembuskan napas beratnya dengan kasar, Huh! "Yasudah. Terserah kamu. Tapi kita harus mengobatinya kan? Ayo keluar beli obat dan plester."


Leon menatap Mikha seksama tanpa bicara apa-apa lagi. Dia mengikuti langkah Mikha dibelakangnya.

__ADS_1


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


"Ayo, duduk dan baringkan kepalamu di pangkuanku!"


Mikha duduk diatas rumput dibawah pohon kepayang besar di tepi jalan menuju saat perjalanan pulang menuju istana pengasingan.


Sebelumnya Leon menolak untuk berhenti. Tetapi Mikha memaksa. Mikha tidak tega melihat wajah Leon yang pucat dan tubuh lemah karena luka dilehernya mengeluarkan darah terus walaupun sudah di plester. Kemeja yang dikenakan Leon juga sudah tidak berwarna putih lagi.


"Beneran, aku nggak apa-apa kok.", jawab Leon lesu. Cara berdirinya sudah tidak sempurna dan terhuyung.


"Ayo istirahatlah dulu! Kamu pucat sekali tahu!", sentak Mikha ngotot


Leon tidak bisa melawan lagi. Dia mulai duduk disamping Mikha sambil terus menatapnya. Dia berbaring diatas rumput dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Mikha.


"Bagaimana aku tidak salah faham kalau sikap dia begini padaku?", fikir Leon cemas. Matanya terus menatap wajah cantik Mikha.


Mikha juga terus menatap Leon. Tangannya dengan lembut mengusap-usap kepala Leon. Dia merasa takut terjadi hal buruk pada Leon sahabatnya.


Mikha merasa sedih. Baru kali ini dia melihat Leon sakit dan terluka. Mikha tidak tega.


"Padahal aku baik-baik saja.", kata Leon dengan suara pelan. Sebenarnya dia baik-baik saja. Hanya kepalanya saja yang pening.


"Sudah, diam saja!"


"Kamu sangat baik."


"Tentu saja. Kapan aku pernah jahat?"


"Nggak pernah.", jawab Leon singkat lalu diam sejenak.


Leon kembali teringat mengenai kecelakaan yang menimpa Mikhailla beberapa hari yang lalu. Setelah meminta maaf kemarin, Leon belum membahas lagi insiden itu. Leon yakin ini pasti gara-gara mantel bulu yang Leon berikan pada Mikha dulu.


"Kenapa?", tanya Mikha merasa aneh dengan pandangan Leon yang kosong.


"Mengenai Tuan Putri ke-2 yang sengaja mendorongmu ke sungai kemarin."


"Nggak usah dibahas lagi, nggak pa-pa kok!", ucap Mikha menyela kalimat Leon.


"Mikha, aku percaya padamu."


"Kamu nggak perlu membelaku karena aku sahabatmu."


"Tuan Putri ke-2 memdorongmu itu semua salahku. Dulu dia pernah mwmberiku hadiah mantel bulu. Tapi aku malah memberikan mantel itu padamu. Dia juga pernah bilang menyukaiku."

__ADS_1


"Kenapa kamu memberikan mantel itu padaku? Kamu tidak boleh begitu! Kalau kamu tidak menyukai hadiahnya, kenapa tidak kamu kembalikan saja?"


"Sudah. Tapi dia bilang dia akan kecewa dan tidak akan berteman denganmu lagi. Kalau aku tahu kejadiannya akan membahayakan keselamatanmu, aku tidak akan pernah menerima hadiah itu."


"Sudah. Lupakan saja. Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu. Kalau keadaanmu sudah baik, baru kita lanjudkan perjalanan pulangnya."


Leon mengangguk. Hatinya merasa tenang ketika Mikha ada bersamanya.


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan luka ini?"


"Oh, tadi ada yang menyerangku tiba-tiba. Tapi untunglah, hanya leherku yang tergores sedikit."


"Ada yang menyerangmu? Kenapa?"


"Entahlah. Aku juga nggak tahu.", jawab Leon tidak jujur. Matanya memaling manatap ke arah lainnya.


Tempat itu semakin sepi setelah Mikha dan Leon tidak saling bicara lagi. Mikha terus mengusap kepala Leon, sedang Leon.sudah memejamkan matanya.


Setelah keadaan Leon sudah membaik, Mereka baru pulang ke istana pengasingan.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Sementara itu di istana kekaisaran Hiton. Kaisar Dimithri dikejudkan dengan kedatangan salah satu orang kepercayaannya yang tiba dengan mulut penuh dengan darah.


Setelah diperiksa ternyata lidahnya sudah terpotong. Dia datang dengan kesadaran yang hampir hilang.


Melihat orang kepercayaannya yang sekarat, Kaisar Dimithri benar-benar murka. Dia memerintahkan para tentaranya untuk mencari siapa pelaku yang menyerang orangnya itu.


Sebelum orang kepercayaannya itu, benar-benar pingsan. Dia sempat ditanyai oleh Dimithri, siapa pelakunya. Tetapi orang itu menjawab dengan menulis di sebuah papan bahwa dia tidak mengenal pelakunya. Dia benar-benar ketakutan melihat keganasan dan kekejiaman Leon. Leon terlihat seperri iblis tanpa ampun pada lawannya.


"Siapa orang yang berani-beraninya mengganggu orangku? Apa mungkin Ratu? Atau Permaisuri? Apa mereka sudah tahu mengenai keberadaan Putri pertamaku? Aku tidak boleh membiarkan hal ini terulang. Aku akan menambah lagi kesatria penjaga di istana pengasingan. Aku harus segera mengabari Arion."


(Arion\=Leon)


"William, beritahu putramu agar lebih waspada dalam menjaga putri. Beri tahu dia juga kalau aku akan menambahkan beberapa kesatria lagi untuk menjaga istana pengasingan!."


"Baik Yang Mulia."


Setelah mendapat perintah dari sang Kaisar. Marquess William Allan segera bergegas pergi ke istana pengasingan untuk menemui putranya. Dengan menunggang kudanya dia pergi ke istana pengasingan.


Namun sayang, saat dia tiba rupanya Leon sedang berbaring sakit dikamarnya. Leon tidak demam tetapi badannya masih lemas karena kehilangan banyak darah. Dia juga sudah mendapatkan pengobatan dari dokter yang sama yang memeriksa Mikhailla kemarin.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★

__ADS_1



__ADS_2