Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 3


__ADS_3

Andin masih tampak bingung dengan apa yang terjadi padanya. Awalnya dia ketiduran karena kelelahan membersihkan rumah. Lalu tiba tiba dia terbangun dan kamarnya jadi gelap. Saat membuka pintu kamar dia malah berada di tempat yang bukan kamar dan rumahnya. Andin berfikir bahwa dirinya sudah mati. Tetapi kalau mati pasti dia sudah ada di surga (kalau amal kebaikannya banyak).


Andin terduduk di lantai di pojokkan kamar dengan kedua lutut ditekuk bersila dan menyandarkan punggungnya di tembok. Andin seperti orang linglung yang sedang tersesat. Beberapa kali dia mengetuk ketukkan jemari tangan kanannya di lantai seolah memainkan musik.


"Duh, sebenarnya aku dimanasih?"


Hanya pertanyaan itu yang Andin fikirkan. Andin ingin bertanya, tapi dua orang yang ada didekatnya tadi tidak melihat Andin sama sekali. Apalagi mendengar suara Andin.


Akhirnya setelah beberapa saat melamun, Andin mulai berfikir rasional. Dia memilih untuk menerima apa yang dia alami.


Andin berdiri lalu berjalan mendekati bayi perempuan yang sedang tertidur di ranjang bayi. Andin menatap bayi itu dengan tatapan yang rumit.


"Eh, dedek bayi! Kamu ini imut banget! Kulitmu halus. Pipimu juga merah. Ya ampuuun! Tidurnya pulas banget. Kayak anak kucing. Huuh, aku jadi pengin nyubit pipinya!", gemeesssiiiinnn


Andin berteriak girang. Dia geregetan ingin mencubit pipi bayi itu. Tetapi saat tangannya hendak menyentuh pipinya, Lagi-lagi dia tidak berhasil. Tangan Andin seperti udara yang tidak bisa disentuh dan menyentuh.


"Haaah, lagi-lagi gak bisa. Sorry ya debay. Kakak nggak bisa nyentuh kamu. Jadi kamu selamat dari cubitan ku.", kata Andin kecewa lalu berbicara dalam hati, "Sialan! Bahkan nyentuh bayi aja nggak bisa! Aku bosan lama-lama disini. Tidak bisakah aku kembali ke duniaku?"

__ADS_1


Kriiieeett!


Tiba-tiba ada yang datang. Andin kaget keteteran mencari tempat sembunyi. Dia lupa kalau dia tidak bisa dilihat oleh orang lain karena kagetnya.


Ternyata yang datang Marrie. Dia datang membawa perlengkapan mandi bayinya.


Marrie berdiri disamping ranjang bayinya. Dia terus memandang bayinya dengan tatapan yang sulit di mengerti. Kadang tampak sedih. Kadang juga bahagia.


"Putri ibu yang cantik, maafkan ibu karena kamu harus lahir di tempat terpencil seperti ini. Ibu melakukan ini karena ibu sangat menyayangimu.. Ibu tidak mau kehilangan mu, sayang.", kata Marrie dengan suara tak bersemangat. Dia belai dengan lembut pipi bayinya yang begitu halus dan rapuh itu.


"Kamu sangat beruntung Mikhailla. Meskipun Ayahmu tidak ada disampingmu, tapi kamu memiliki Ibu yang begitu mencintaimu. Andai itu juga terjadi padaku! Aku pasti akan sangat bahagia. Bisa di peluk sama Mama, disayang. Aku lupa kapan terakhir Mama pernah memelukku. Mungkin aku masih bayi sehingga aku tidak bisa mengingatnya.", aku iri.


Andin kembali bersedih. Dia terus menatap Marrie yang terlihat begitu menyayangi bayinya, dengan menahan airmatanya agar tidak menetes.


"Nona, apa Tuan Putri sudah bangun?", tanya Lisa yang baru datang.


"Belum. Dia pasti lelah karena menagis terus. Biarkan saja."

__ADS_1


"Tuan Putri lucu sekali saat tidur. Hidungnya kembang kempis."


"Iya, benar. Dia mirp seperti Yang Mulia kaisar saat tidur hidungnya begitu."


"Apa Yang Mulia kaisar tidak ingin melihat putrinya ya?", kata Lisa pada Marrie.


"Tidak, Lisa. Lebih baik beliau tidak usah melihat putrinya. Aku takut saat melihat Mikhailla, keyakinannya akan goyah. Orang-orang akan mengetahui keberadaan Mikhailla. Apalagi kalau Yang Mulia Ratu mengetahui aku diusir dari istana karena mengandung anak kaisar, beliau pasti akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Mikhailla. Aku tidak mau itu.", jawab Marrie kemudian.


"Nona, aaya bersumpah demi kekaisaran Hiton, saya akan selalu menemani dan melayani Nona sampai maut saya tiba."


"Terimakasih, Lisa."


Andin yang masih bersembunyi itu jadi tersentuh melihat adegan mengharukan itu. Andin juga baru tau kalau nyawa Mikhailla dalam bahaya.


"Tenang saja, Kakak yang cantik, aku juga akan melindungi Mikhailla selama aku masih disini."


* * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2